
Fin berjalan masuk ke dalam perusahaan sambil menggendong tubuh mungil Devin yang terlelap di atas bahunya. Lengan sebelah kanan menyangga tubuh Devin sementara lengan sebelah kirinya menenteng tas dinosaurus milik Devin yang sudah terisi penuh dengan buku-buku baru.
Para pegawai kantor di buat tersihir dengan ketampanan duda dua anak tersebut. Fin sosok sempurna dari seorang pria idaman wanita. Tampan, kaya, populer. Wanita mana yang dapat menolak pesonanya?
Siang ini Fin datang dengan kemeja hitam yang dua kancing teratas nya dia biarkan terbuka. Warna tersebut begitu kontras dengan warna kulit Fin yang putih.
Renal berjalan di belakang Fin sambil menjinjing tas kerja milik bos nya itu. Sementara Vera berjalan di depan Fin untuk membuka akses jalan yang akan membawa Fin menuju lantai atas tempat kantornya berada.
"Kerja woy!!" ucap Renal memperingatkan para pegawai yang mematung menatap kepergian Fin.
Para karyawan wanita itu kelabakan saat Renal memergokinya. Mereka dengan cepat membubarkan diri dan kembali pada kesibukan mereka masing-masing.
"Ckk... ckk... apa yang menarik dari Bapaknya si boy sih? Angkuh, iya! Sombong, juga iya! Mana sekalinya ngomong suka bikin sakit hati orang. Kalian di butakan harta!" gerutu Renal sambil masuk ke dalam lift yang juga di naiki oleh Fin.
"Kenapa?" tanya Fin saat mendapati Renal berbicara seorang diri.
Renal menekan tombol lift.
"Gak. Aku gak ngomong apa-apa!" elak Renal.
"Bagimana perkembangan hubungan kalian?" tanya Renal penasaran.
Fin tidak menjawab. Dia sendiri pun bingung mau memulai dari mana.
"Sebenarnya... aku punya sesuatu yang gak tau menurut mu penting atau tidak," ungkap Renal tiba-tiba.
Fin menatap Renal dengan sudut matanya. Kening Fin berkerut seolah bertanya "apa??"
__ADS_1
Seolah paham dengan kode yang Fin berikan.
"Mmmm... ini tentang si Karina," cicit Renal pelan.
"Vera, kamu bisa turun di lantai berikutnya?" tanya Fin yang lebih ke arah memerintah itu.
"Baik, Pak." jawab Vera sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
Vera tidak marah karena di minta turun begitu saja. Dia sudah mengetahui bagaimana perangai dari bos nya tersebut.
"Kenapa?" tanya Fin kembali saat mereka hanya berdua di dalam lift.
"Karina kenapa?" desak Fin tidak sabar.
"Ckk... sabar, Fin! Sebentar, aku nafas dulu," gurau nya.
"Oke-oke! kamu gak usah galak kaya gitu, Fin!"
"Berisik!! Anak ku lagi tidur! Langsung saja kenapa??" tanya Fin dengan nada datarnya. Dia pura-pura tidak perduli dengan apa yang akan Renal sampaikan.
"Ckk... Jadi, saat tadi si Ziko di rumah mantan istri mu, dia nanya sama aku..." ucap Renal memberi jeda.
Fin mendengarkan Renal dengan serius. Dia menyandarkan tubuhnya pada dinding lift dengan Devin yang masih dalam gendongannya.
"Dia bertanya tentang hubungan kalian berdua. Aku bilang hubungan kalian berdua sudah selesai." lanjut Renal dengan santainya.
"Kamu bilang apa?" tanya Fin penuh murka. Wajahnya merah padam dengan mata tajam yang mengintimidasi.
__ADS_1
"Kamu bilang jangan berisik! Tapi kamu ngomong lebih keras daripada aku," gerutu Renal.
"Aku bilang kalian sudah selesai!" jawab Renal kembali.
"Memang salah?" tanyanya seakan-akan tengah mengejek Fin.
Kurang ajar! Fin tidak dapat menjawab apa-apa lagi. Apa yang Renal katakan memang benar adanya. Tapi kenapa dia tidak terima?
"Lihatlah attitude buruknya! Dengan tidak sopan, dia bertanya tentang status seseorang!!" Fin menjatuhkan tas berisi buku milik Devin dengan cukup kencang membuat Renal terjengkat kaget. Tangan sebelah kiri Fin pun bertolak pinggang saat mengatakan itu.
Ting... pintu lift terbuka tepat di lantai yang Fin tuju. Dia keluar dari dalam lift membawa Devin menuju ruangannya. Wajah Fin masih memerah menahan amarahnya pada Alziko. Dia tidak suka saat pria lain bertanya tentang wanitanya. Wanitanya? Bukannya Karina hanya mantannya sekarang? Oh tidak! Karina masih menjadi wanitanya, karena Karina ibu dari kedua anaknya. Seharusnya begitu, pikir Fin.
"Si Fin... nambah kerjaan ku saja!" gerutu Renal sambil membawa tas berisi buku Devin yang Fin tinggalkan di dalam lift. Renal bergegas pergi menyusul Fin dengan langkah lebarnya.
Saat Renal masuk ke dalam ruangan Fin, Fin baru kembali dari kamar pribadinya untuk membaringkan Devin yang masih tertidur pulas.
Fin langsung ke mejanya dan mulai membuka satu persatu pekerjaan yang sudah menunggu di atas meja kerjanya itu. Dia terlihat tidak perduli dengan apa yang tadi Renal sampaikan. Bahkan dengan santainya Fin langsung bekerja.
Sementara itu, Renal menyimpan tas Devin di atas meja tamu yang masih ada di ruangan Fin. Secara diam-diam Renal memperhatikan Fin yang seolah tidak terganggu dengan apa yang di sampaikan nya.
Renal berjalan mendekati kaca besar yang ada di samping meja kerja Fin. Renal berdiri di sana dengan kedua tangan yang dia simpan di dalam saku celananya. Matanya menatap kesibukan yang ada di luar sana, dari atas lantai tertinggi gedung Grahatama Group.
"Sepertinya, kamu memang sudah tidak tertarik dengan segala hal yang berhubungan dengan mantan istri kamu" ucap Renal tiba-tiba.
Fin berhenti sesaat kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya tanpa menanggapi apa yang Renal ucapkan.
"Sebenarnya... sore ini, si Tuan muda Alziko akan menyatakan perasaannya. Syukurlah kalau kamu sudah move on dari mantan istri kamu. Dia berhak mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari mantan suaminya" ucap Renal sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan Fin.
__ADS_1