Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Bertemu lagi!


__ADS_3

Karina bergegas keluar dari ruangan Nada sebelum pikiran kotor memenuhi otaknya. Dia takut dengan terus menyaksikan suaminya yang tengah memberi perhatian pada Queen membuat kepercayaan Karina sedikit berkurang.


Karina mematung di depan pintu sesaat setelah pintu itu dia tutup. Kedua tangannya terkepal memegang dadanya.


"Kakak, tidak apa-apa?" tanya Eca yang terus mengekori Karina.


Karina terperanjat. Dia melupakan Eca yang saat ini ada di sampingnya. Karina menengok ke arah Eca.


"Tidak apa-apa, Eca. Kamu bisa pulang ke rumah Tante Nada bersama Kak Renal dan mempersiapkan pemakamannya," Karina memberi perintah.


"Tapi, Kak," ragu Eca.


"Jangan khawatir. Lagi pula, di sini kan ada Kak Fin." ucap Karina meyakinkan Eca.


"Baiklah, kalau begitu."


"Sana pergi, jangan lupa ajak Kak Renal. Suruh Devin ke lantai atas saja. Di sana pasti sudah ada Bu Linda." pesan Karina pada Eca.


Karina berjalan menuju kamar mayat tempat jasad Bibinya tersimpan. Karina berjalan dengan gontai dengan hati yang tak tentu rasa.


Bayangan saat suaminya tengah memeluk serta menenangkan Queen terus berkelebat, berlarian di dalam otaknya.


Karina berjalan sambil mengusap dadanya yang tengah merasakan sakit.


"Tante, apa maksud Tante menitipkan Queen pada kita?" gumam Karina sambil terus berjalan melewati lorong yang menyambungkan ruang perawatan dengan kamar mayat.


"Aku tidak yakin kalau aku akan tetap mengalah jika di perlakukan terus-menerus seperti tadi. Aku hanya berjanji untuk menjaga Queen bukan mengalah pada, Queen!" ucapnya pada diri sendiri.


Karina berhenti tepat di pintu ruangan yang bertuliskan "Kamar Mayat". Karina menarik nafas sambil mengepalkan tangannya sebelum masuk ke dalam ruangan untuk bertemu dengan jasad sang Tante untuk terakhir kalinya.


Karina menyebutkan nama sang Tante dan nomor ruangan kepada penjaga kamar jenazah agar petugas dapat membawa Karina untuk melihat jenazah sang Tante.


Setelah menunggu beberapa saat, Karina dibawa oleh petugas ke dalam sebuah ruangan. Di sana terdapat sebuah peti yang Karina yakini kalau di dalam peti tersebut terbaring jasad sang Tante.


Karina mendekati peti tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk saat sampai di depan peti Karina di sambut dengan wajah pucat Nada. Hati Karina teriris melihat sang Tante dalam tidur panjangnya. Air mata Karina tidak dapat di bendung saat itu juga.

__ADS_1


"Siang, Tante. Kenapa Tante pergi setelah menitipkan Queen pada ku? Kalau aku tau Tante akan pergi, aku tidak akan menyanggupi permintaan Tante!" ucap Karina penuh emosi.


"Kalau sudah seperti ini, aku bisa apa Tante? Aku tidak punya pilihan selain mencoba ikhlas. Apa Tante sengaja pergi agar Queen bisa bersama suami ku?" tanya Karina pada jasad Nada yang tengah terbujur kaku.


Karina mengusap wajahnya secara kasar. Karina memejamkan matanya mencoba meraih kewarasannya kembali.


"Maaf Tante, aku melampiaskan kekesalan aku pada Tante, Tante yang tenang di sana. Kami di sini akan menjaga Queen dengan baik. Menganggap Queen sebagai bagian dari keluarga Grahatama. Aku yakin Queen akan baik-baik saja. Jadi, Tante jangan khawatir. Bahagia di sana," ucap Karina sambil mengecup kening Nada.


Karina memalingkan wajahnya ke belakang saat di rasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya secara diam-diam.


"Perasaan saja mungkin," tuturnya saat di lihat tidak ada siapapun di belakangnya.


Karina keluar dari ruangan untuk bertemu dengan anaknya. Saat berjalan menuju lift yang akan membawanya menuju lantai bawah sang anak yang tengah di gendong Bu Linda serta Kiara yang berjalan di sampingnya, memanggil Karina.


"Kak Karina dari mana?" tanya Kiara pada Kakak iparnya.


"Dari kamar jenazah. Kiara, sebaiknya kamu temui Queen dulu saat ini dia pasti membutuhkan seseorang yang bisa menguatkan dia," ujar Karina.


"Kakak mau kemana? Kenapa tidak ikut masuk sama aku?" tanya Kiara pada Kakak iparnya itu.


"Kakak di sini saja, sekalian mencari udara segar. Penciuman Kakak sedang benar-benar sensitif. Dari tadi mual." lanjut Karina menjelaskan alasannya menolak ikut.


Kiara mengerutkan keningnya seperti tengah berpikir dengan apa yang Karina utarakan.


"Kiara, kenapa melamun? Cepat. Mungkin saja Queen tengah menunggu kedatangan kamu." Karina mengingatkan Kiara yang tengah melamun memikirkan sesuatu.


"Oh, iya. Ya udah, aku masuk dulu. Ayo Kakak Devin ikut sama, aunty" ajak Kiara pada keponakan kecilnya itu.


"Mommy boleh?" ijin Devin pada sang Mommy.


Karina mengangguk sambil tersenyum. Lagi pula, saat ini Karina tengah membutuhkan waktu untuk sendiri.


Kiara, Devin dan Bu Linda berlalu meninggalkan Karina dan masuk ke dalam ruang perawatan Nada yang saat ini di tempati Queen yang tengah tertidur.


Karina berjalan keluar menuju taman di belakang rumah sakit. Dia membutuhkan tempat yang sepi untuk meredam segala keresahan dalam hatinya.

__ADS_1


Karina mendudukkan tubuhnya di atas sebuah bangku di bawah pohon yang cukup rimbun dan teduh. Karina menyandarkan tubuh lelahnya pada punggung kursi yang tengah dia duduki.


Karina memejamkan kedua matanya. Terlalu sakit bagi Karina melihat suaminya dengan perempuan lain. Padahal apa yang di lakukan Fin, masih merupakan hal wajar yang semua orang lakukan pada seseorang yang tengah berduka. Apalagi status Queen sendiri yang sudah Fin anggap sebagai adiknya.


Beberapa bulan yang lalu. Karina bahkan mengalami pengkhianatan yang jauh lebih parah dari apa yang suaminya lakukan hari ini. Pacarnya saat itu, bercinta dengan sahabatnya sendiri.


"Kenapa rasa sakit yang ditimbulkan jauh lebih besar sekarang, dari pada dulu saat mendapati Ramon dan Lisa tidur bersama?" gumam Karina masih dengan mata yang terpejam dan air mata yang luruh dari kedua sudut matanya.


Karina membuka kedua matanya, saat dia merasakan sebuah usapan di kepalanya. Karina terperanjat dan langsung membangkitkan tubuhnya yang tengah menyandar sambil meraih tangan yang tengah mengusap kepala Karina tersebut.


"Ka... Kakek? Kakek Bram!" pekik Karina dengan mata melotot tidak mempercayai apa yang dilihatnya.


"Boleh Kakek duduk?" tanya Kakek Bram pada Karina.


Karina mengangguk sambil menggeser tubuhnya, memberi jarak untuk Kakek Bram duduk.


"Aku tidak percaya kalau kita akan sering bertemu. Kakek sedang apa di rumah sakit?" tanya Karina mencoba memasang wajah ceria dan menghapus bekas air matanya.


Namun sayang, sepandai pandainya Karina menutupi luka hatinya dengan keceriaan, Kakek Bram masih dapat melihat dengan jelas setiap luka yang ada di hati Karina.


Kakek Bram tersenyum.


"Jangan membohongi diri sendiri. Kalau memang ingin menangis silahkan menangis. Kalau kamu harus marah, ya marah. Jangan memberi beban berat pada hati dan pikiran kamu dengan mencoba baik-baik saja. Dengan menangis bukan berarti kita lemah. Tapi, menangis bagian dari cara kita berkomunikasi setelah tidak ada kata yang dapat mewakilinya" tutur Kakek Bram bijak sambil mengusap punggung tangan Karina.


Karina yang dari tadi merasa sendiri setelah mendengar apa yang Kakek Bram sampaikan padanya, tidak kuasa lagi menahan tangisnya. Tangis Karina akhirnya pecah dalam sesaat.


Karina menangis dalam pelukan Kakek Bram. Setelah kehilangan figur orang tua, akhirnya Karina menemukan kembali tempat baru yang mengerti dengan perasaan Karina tanpa perlu Karina jelaskan.


Kakek Bram hanya diam tanpa bertanya. Dia memberi pundaknya sebagai tempat untuk Karina meluapkan emosinya.


"Mommy!" pekik Fin yang entah sejak kapan ada di hadapan Karina dan Kakek Bram.


Fin menarik tangan Karina dengan kencang sambil menjauhkan tubuhnya dari Kakek Bram.


"Daddy!" bentak Karina tidak enak dengan Kakek Bram.

__ADS_1


__ADS_2