Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Kecelakaan!


__ADS_3

"Ckk....ckk... ckk... " Renal berdecak sambil menggelengkan kepalanya.


"Kak Renal!!" Eca menyenggol tubuh Renal memintanya untuk diam. Mata Eca pun mendelik tajam membuat Renal mengatupkan kembali mulutnya.


Fin tersenyum sinis dengan bibir yang tersungging ke atas.


"Renal kesalah pahamannya sudah terselesaikan. Hubungi pihak pengacara untuk membatalkan perceraian kami!" perintah Fin dengan wajah arrogant nya.


Renal, Eca dan Karina mematung saat mendengar perintah Fin tersebut. Wajah Karina bahkan terlihat pucat pasi. Ya, dia lupa kalau dua minggu yang lalu statusnya telah resmi menjadi seorang janda.


"Renal!! Kenapa diam? Telepon sekarang!!" perintahnya kembali.


Renal, Eca dan Karina mereka saling tatap satu sama lain. Renal bahkan mengkode Karina dengan kedipan dan gelengan kepala seolah tengah berkata kalau Renal tidak bisa menyampaikan kabar tentang perceraian sahabatnya itu.


"Kalian kenapa? Sebenarnya apa yang sedang kalian diskusikan secara diam-diam, hah?" tanya Fin penuh curiga. Wajah Fin terlihat sedikit muram. Perasaannya sudah tidak enak. Dia memiliki firasat buruk tentang semua ini.


"Tenang dulu, Fin! Lebih baik kita bicara sambil du..."


Fin memotong ucapan Renal.


"Kamu tau kan kalau aku gak suka basa-basi? Cepat! Katakan kenapa?" desak Fin dengan nada yang sudah tidak bersahabat lagi.


Karina menundukkan kepala sambil memainkan kuku-kuku tangannya. Dia cemas. Apalagi setelah melihat wajah marah mantan suaminya.


"Mmmm... sebenarnya... sebenarnya.." gugup Karina.


"Sebenarnya apa Mommy?" tanya Fin penuh tekanan.


"Kenapa Mommy gugup?" Fin masih berusaha lembut kepada Karina.


"Sebenarnya kita sudah resmi bercerai!" ucap Karina dalam satu tarikan nafas. Karina bahkan memejamkan matanya saat mengatakan itu


Renal dan Eca meringis, menunggu respon yang akan Fin berikan. Renal bahkan sudah bersiap andai kata Fin melakukan hal-hal yang tidak mereka inginkan.


Dengan perlahan Karina membuka mata. Dilihatnya Fin tengah mematung sambil bertolak pinggang. Dia tertawa namun dengan tawa yang memilukan. Wajahnya benar-benar seperi orang kebingungan. Fin mengangkat kedua tangannya ke udara.


"Jadi kita selesai, hah? Kita benar-benar sudah selesai??" tanya Fin dengan nada yang mulai meninggi.


"Dad...."


"Stop!!" Tangan kanan Fin terangkat menghentikan Karina yang mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Bukankah kita sudah selesai??" tanyanya.


"Ohhh... jadi kamu jauh-jauh datang kesini untuk menyampaikan itu?" tanya Fin dengan sinis.


"Fin!!" bentak Renal.


"Ha... ha... ha..." Fin tertawa sambil bertepuk tangan.


"Kalian semua lucu! Pergilah!! Misi kalian sudah selesai!!" perintah Fin dengan wajah dinginnya yang menakutkan.


Air mata Karina terus mengalir. Dia tidak punya pembelaan. Perceraian itu memang murni kesalahannya.


"Dad" panggil Karina kembali.


"Pergi!!" ucap Fin dingin sambil menunjuk pintu keluar.


"Kami menyewa rumah ini sampai besok siang. Jadi, kamu tidak berhak mengusir kami!!" jawab Renal mencoba bertahan.


"Terserah!" jawab Fin kemudian pergi begitu saja meninggalkan semua orang yang masih berkumpul di halaman belakang rumah


"Dad!!" panggil Karina kencang. Fin tidak menghiraukan panggilan Karina. Dia terus berjalan dan pergi keluar dari rumah itu.


Karina terkulai lemas. Dia menangis menyesali keputusannya. Fin terlihat benar-benar kecewa dengannya.


"Itu hanya emosi sesaat. Nanti juga biasa lagi," Renal meraih tubuh Karina dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dia mencoba menghibur Karina.


"Aku pikir dengan aku datang ke sini akan memperbaiki segalanya dan memulai hubungan baru dengan penuh keterbukaan. Tapi nyatanya Kak Fin benar-benar kecewa dengan aku," Karina masih menangis. Renal membawa Karina ke dalam kamar untuk beristirahat. Kaki Karina benar-benar membengkak.


"Istirahat dulu. Berbicara sekarang pun percuma. Dia masih panas. Tunggu waktu yang pas." saran Renal pada Karina.


Karina mengangguk. Apa yang di katakan Renal memang benar. Saat ini kondisinya tidak kondusif. Sedetail apapun Karina menjelaskan kondisinya saat itu, Fin tidak akan menerimanya. Mungkin saja apa yang Fin katakan akan menyakiti Karina.


Renal dan Eca kembali ke kamar mereka. Karina saat ini tengah berdiri di depan balkon kamarnya yang berhadapan langsung dengan air terjun. Dia memeluk dirinya sendiri sambil menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu. Dia menatap kosong pemandangan di hadapannya tersebut.


"Aaaaaa..." pekik Karina saat tiba-tiba bayi dalam kandungannya membuat gerakan yang cukup kencang.


"Kenapa baby? Kamu terkejut ya mendengar suara Daddy saat marah tadi?" Karina mengelus perut buncitnya sambil mengajaknya berbincang.


"Jangan khawatir! Sebenarnya kami hanya bermain peran tadi! Apa itu terdengar nyata? Wah... apa Mommy dan Daddy berbakat jadi seorang aktor dan aktris?" tanya Karina kembali. Matanya berkaca-kaca. Apa yang Karina lakukan empat tahun lalu pada Devin sekarang terulang kembali pada anak keduanya.


Seolah mengerti dengan apa yang Mommy nya katakan bayi dalam perut Karina kembali tenang. Gerakannya pun tidak seaktif sebelumnya. Hanya bergerak dengan lembut.

__ADS_1


"Anak pintar..." puji Karina.


"Apa kamu lapar?" tanyanya.


"Aunty Eca sudah menyiapkan kita camilan," Karina menutup pintu yang terhubung ke balkon kamarnya.


Dia duduk untuk menikmati camilan dan segelas teh hangat yang sudah Eca siapkan untuknya. Di atas meja pun tersimpan beberapa tablet obat dan vitamin yang harus di minumnya.


Setelah perutnya terisi, Karina melucuti pakaian dan pergi menuju kamar mandi. Salep yang Karina gunakan untuk mengolesi luka pada tubuhnya itu pun tidak lupa Karina bawa juga ke dalam kamar mandi.


Dia harus membersihkan tubuhnya sebelum pergi tidur. Karina keluar kamar mandi dengan handuk yang masih melilit pada tubuhnya. Dia lupa membawa baju ganti.


Saat tengah membongkar tas miliknya tiba-tiba Karina berlari kembali menuju kamar mandi. Dia berjongkok di depan kloset dan memuntahkan semua isi perutnya.


"Uuuoooo..." Sudah beberapa bulan terakhir, Karina selalu muntah setelah selesai makan. Padahal usia kehamilannya sudah masuk di trimester kedua.


"Muntah lagi?" tanya Eca yang ikut masuk ke dalam kamar mandi. Dia mengurut tengkuk Karina dengan lembut. Eca baru kembali dari ruang tengah saat mendengar suara Karina tengah muntah.


Karina mengangguk sambil membilas bekas muntahannya. Dia masih berjongkok di depan kloset. Perutnya masih bergejolak.


"Sebentar Kak," ijin Eca. Dia keluar kamar dan membuatkan Karina segelas jahe hangat untuk meredakan mual muntahnya.


Cukup lama Karina berjongkok di depan kloset. Semua yang masuk ke dalam perutnya habis keluar hingga mulut Karina terasa pahit.


Karina sudah lemas. Dia duduk begitu saja di atas lantai kamar mandi. Seseorang kembali memijat tengkuk Karina yang tengah kepayahan. Karina tidak dapat melihat siapa yang tengah memijatnya karena dia duduk dengan memunggungi pintu masuk kamar mandi.


"Eca, bisa tolong sekalian olesi luka yang ada di punggung?" pinta Karina sambil membuka handuknya.


"Salepnya ada di atas meja wastafel. Maaf ya kalau di rumah ada Bu Linda yang membantu," ucapnya tidak enak.


"Eca...!" panggil Karina karena dia tidak urung mengolesi punggungnya.


"Ini luka apa? Sejak kapan Mommy memiliki bekas jahitan sebanyak ini?"


Degh...


Karina mematung. Ternyata yang tadi memijat tengkuknya adalah Fin, bukan Eca.


"Ini luka apa??" tanya Fin kembali.


"Ke... kecelakaan dua minggu lalu," jawab Karina tidak bisa berbohong lagi.

__ADS_1


"Apa?? Kecelakaan??" pekik Fin terkejut. Salep yang tengah di pegangnya jatuh begitu saja.


__ADS_2