Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Tegang!


__ADS_3

Dengan segala kepanikan yang terjadi pada semua orang, akhirnya Karina berhasil di evakuasi menggunakan helikopter yang di datangkan langsung dari kediaman Grahatama. Karina di bawa menuju RS tempat Dokter Sinta bekerja. Sungguh beruntung saat kejadian Dokter Sinta ada di sana.


Semua acara yang sudah di rencanakan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Acara gender reveal gagal. Lamaran? Tentu saja gagal juga. Bahkan cincin lamarannya masih tertanam di dalam kue yang belum sempat di potong oleh Karina.


Di tengah kepanikan semua orang hanya Karina lah satu-satunya yang terlihat tenang. Dia sibuk memperbaiki riasan wajahnya sambil sesekali menenangkan anggota keluarganya yang lain.


Karina memalingkan wajah menatap Fin yang tengah melipat kedua tangannya. Fin tidak banyak bicara. Dari awal hanya diam sambil sesekali memperhatikan Karina. Di tengah diamnya tersebut semua orang tau kalau Fin tengah di liputi kegelisahan.


Fin menutup mata sambil menghembuskan nafasnya secara kasar. Selanjutnya dia berjalan dan duduk di atas ranjang di samping Karina. Matanya fokus pada perut buncit sang mantan istri sementara tangannya terus mengusap dengan penuh ke hati-hatian.


'Baby, jadi anak baik! Jangan buat kami khawatir. Lahirlah dengan selamat dan jangan buat Mommy kamu kesakitan!' pesan Fin pada sang buah hati yang ada di dalam perut Karina. Fin tidak mengungkapkannya secara langsung. Dia hanya bicara dari hati ke hati dengan calon anak ke duanya.


Karina yang menyadari kegelisahan sang mantan suami lantas menyimpan cermin yang di gunakan untuk memperbaiki riasannya tersebut di atas nakes. Dia meraih tangan Fin kemudian mengelusnya dengan lembut.


"Jangan khawatir! Mommy baik-baik saja!" ucap Karina. Dari wajahnya tersimpul sebuah senyuman.


Fin menatap Karina dengan tatapan teduh yang menenangkan.


"Ya. Mommy akan baik-baik saja." Jawab Fin sambil mengusap lembut kepala Karina penuh kasih sayang.


Fin bawa tubuh Karina ke dalam pelukannya. Fin tau keadaan hati sang mantan istri yang sebenarnya. Dia tidak setenang yang di lihat semua orang. Banyak ketakutan di dalam matanya. Tangannya bahkan sedingin es. Bisa di pastikan setakut apa dia sekarang.


"Oh Goddd... bagaimana bisa kalian setenang itu?" tanya Kiara heran.


"Anak ini!" Kakek menepuk lengan Kiara menggunakan topi yang di pakainya. Dia kesal mendengar pertanyaan cucunya itu.

__ADS_1


Karina tersenyum sambil melihat ke arah Kakek dan Kiara berada.


"Tenang Kiara. Kita percayakan saja pada Dokter Sinta"


"Kasus seperti ini bukan hanya terjadi pada Kakak iparmu saja, Kiara. Ini rumah sakit besar," sahut Renal yang tumben-tumbennya mempunyai pemikiran yang bijak.


Fin menganggukkan kepalanya seolah setuju dengan apa yang Renal utarakan.


Hati Karina menghangat. Dia terharu mendapat dukungan dari seluruh anggota keluarganya termasuk sang Ayah yang terus menanyakan kabar terbarunya melalui panggilan telepon.


Keadaan saat ini berbanding terbalik dengan tiga tahun lalu saat Karina akan melahirkan Devin. Tidak ada support dari siapapun kecuali Bi Vina. Dia melahirkan dengan segala beban yang di tanggungnya.


"Bang, tau gini pesta gender reveal nya kita adakan di rumah sakit. Eksklusif langsung dengan bayinya," celoteh Kiara yang mendapat delikan tajam dari sang Kakak.


"Stok di bank darah masih banyak, Dad." sela Karina tidak enak dengan Kiara. Karina tau seberapa berharganya setiap tetes darah yang mereka kumpulkan dengan susah payah itu.


"Untuk jaga-jaga, Mommy!" tegas Fin.


"Aman bang. Aku sudah menghubungi pihak bank darah yang ada di rumah sakit ini." jelas Kiara membuat Fin lega.


"Kak, aku ke villa dulu jemput Aden dan mengantarnya pulang ke rumah," pamit Eca pada Karina.


Karina mengangguk.


"Titip Devin, ya."

__ADS_1


Eca mengangguk sambil menepuk punggung tangan Karina.


"Kamu gak apa-apa pulang sendiri?" tanya Renal pada istrinya.


Eca tidak menjawab. Dia hanya mendelik sambil berdecak.


"Ceckk..." Apakah suaminya itu lupa siapa Eca? Dia bukan perempuan biasa. Berkutat dengan senjata sudah menjadi kesehariannya. Menelusuri jalan hutan di tengah malam juga bukan masalah besar bagi seorang Eca.


"Oke... oke..." jawab Renal pada akhirnya.


Renal pergi mengantar Eca menuju tempat parkir, Fin pun pamit sebentar untuk mengambil sesuatu yang ada di dalam mobilnya.


Tidak lama setelah kepergian Fin, beberapa perawat datang untuk membawa Karina menuju ruang operasi. Dr. Sinta memutuskan untuk mengakhiri kehamilan Karina di usia kehamilan tiga puluh lima minggu. Karina pamit pada semua orang yang ada di ruangan. Wajah cerianya saat berpamitan membuat semua yang ada di sana merasa tenang dan lega.


"Telepon Abang kamu! Suruh dia langsung ke ruang operasi." perintah Kakek pada Kiara.


Perawat membawa Karina menggunakan kursi roda. Saat memasuki lift yang akan mengantar mereka menuju ruang operasi wajah tegang yang dari awal Karina sembunyikan itu mulai nampak. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain. Detak jantungnya mulai berdetak tidak beraturan. Segala bayangan mulai memenuhi pikirannya.


Bagaimana kalau operasinya gagal? Bagaimana dengan nasib anak pertamanya? Apa akan baik-baik saja kalau tidak ada Karina di samping Devin? Segala pertanyaan mulai muncul di benak Karina. Ketakutan demi ketakutan mulai menghampirinya satu-persatu.


"Huuushh..." Karina menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Jangan tegang, kasian Adek bayi nya. Dia dapat merasakan setiap kegelisahan Ibu." ucap suster mengingatkan.


Saat melahirkan Devin, dia tidak setegang dan setakut sekarang. Dulu Karina lebih pasrah. Namun sekarang, banyak sekali yang dia khawatirkan termasuk Devin sang anak pertamanya.

__ADS_1


__ADS_2