Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Dimana sebenarnya Fin bersembunyi selama ini?


__ADS_3

"Sekalang, kabel di tubuh Mommy sudah di cabut," jelasnya kembali.


"Ya, Energi Mommy sudah full. Mommy sebentar lagi Mommy bisa pulang sama, Devin" jawab Karina penuh semangat.


Karina mencium kening Devin.


"Terima kasih, sudah jadi penguat Mommy. Mommy bangun demi Devin, adek dan Daddy," bisik Karina di telinga Devin.


Dalam sesaat wajah ceria Devin berubah menjadi murung saat dia mendengar kata 'Daddy'. Sepertinya Devin masih membenci Daddy nya.


Kakek Bram yang menyadari perubahan dari cicitnya itu langsung berjongkok sambil mengusap belakang kepala Devin.


"Apa Devin masih membenci, Daddy?" tanya Kakek Bram lembut.


Karina hanya menatap anaknya itu dengan sedih. Dia tidak percaya tragedi saat hari ulang tahun suaminya itu memberi efek yang begitu besar bagi Devin.


Devin hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari Kakek buyutnya.


"Kenapa, hem?" tanya Bram kembali. Devin menggeleng.


"Mau ke luar," pintanya sambil menunjuk pintu yang terhubung ke ruang tengah.


"Oke. Pamit dulu sama Mommy. Sekalian pulang ke rumah ya sama Oma Linda,"


Devin pamit pada Mommy nya dan langsung di bawa pulang oleh Bu Linda. Mood Devin sedang buruk. Selain itu lingkungan rumah sakit juga sangat tidak baik bagi anak kecil.


Kakek Bram masih di dalam kamar Karina. Dia menghampiri Karina yang juga terlihat murung.


"Jangan sedih. Kakek yakin Devin nanti lupa sendiri dengan kejadian waktu itu. Biarkan cucu Kakek yang kurang ajar itu sedikit berusaha untuk mengambil kembali hati anaknya," ucap Kakek berusaha menghibur.


"Dia terlalu pengecut dengan pergi begitu saja tanpa mencoba menyelesaikan masalahnya," kesal Bram.


"Kak Fin belum kembali?" tanya Karina saat mendengar penuturan Kakek Bram yang mengatakan kalau Fin pergi.


Karina masih ingat betul dengan apa yang Renal katakan tempo hari saat di depan pengadilan. Karina bahkan saat itu berpikir kalau Fin pergi dengan Queen.


"Kak Queen" ucap Karina tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya Kakek Bram.


"Kamu jangan khawatir, Kakek sudah mengurus perempuan itu," ucap Bram memberitahu.


Karina melebarkan matanya.

__ADS_1


"Me... mengurus nya?" tanya Karina memastikan.


"Ya. Kakek sudah memberinya pelajaran. Mungkin seumur hidup dia akan menyesali perbuatannya waktu itu," jawab Kakek Bram.


"Apa yang sudah Kakek lakukan pada Kak Queen?" tanya Karina penasaran.


"Jangan khawatir, Kakek sudah mengurusnya. Dia tidak akan berani mengganggu kamu lagi." ulang Bram meyakinkan Karina.


"Jangan bilang kalau Kakek..." Karina menutup mulutnya membayangkan apa yang sudah Kakek Bram lakukan pada Queen.


"Kakek tidak sekejam itu, Kakek hanya memberinya sedikit pelajaran. Hanya sedikit" jawab Bram.


"Boleh aku meminta sesuatu pada Kakek?" tanyanya.


"Tentu saja!" jawab Bram dengan mantap.


"Apa Kakek bisa memaafkan Kak Queen?" tanya Karina dengan pelan.


"Apa?? Memaafkan? Tentu saja tidak!!" pekik Bram dengan alisnya yang berkerut. Apa dia tidak salah dengar. Tanya Bram pada dirinya sendiri.


"Mmm tapi itu bukan salah Kak Queen mungkin saja... Kak Fin memang..."


"Queen sudah mengakui segalanya! Apa yang di lakukan saat itu memang rencananya. Dia bahkan sengaja membeli parfum yang sama untuk mengelabui cucu Kakek dan membuat kamu salah paham." jelas Kakek membuat Karina melebarkan matanya karena terkejut.


"Apa pantas Kakek memaafkannya?" tanya Bram kembali.


Saat ini bukan waktu yang tepat untuk Karina menyesali keputusannya. Segalanya sudah terjadi Karina hanya bisa meminta maaf untuk segala keputusan yang sudah dia ambil.


"Kakek, aku sudah berjanji pada mendiang ibunya Kak Queen, bahwa aku akan menjaga Kak Queen begitu juga dengan Kak Fin. Apa bisa Kakek memaafkannya?" tanya Karina hati-hati.


Kakek Bram memejamkan matanya sambil menarik nafasnya dalam.


"Nak..."


"Please," pinta Karina dengan wajah memelas nya.


"Ya sudah, nanti Kakek pikir-pikir lagi," jawabnya.


Dari arah pintu masuk datang Kiara, Renal, dan Eca yang duduk di atas kursi roda dan di dorong oleh Renal.


Kakek Bram dan Karina yang tengah serius berbincang mengalihkan perhatian mereka.


"Kak Karina bagaimana keadaan Kakak?" tanya Kiara.

__ADS_1


"Jauh lebih baik Kiara," jawabnya.


"Eca, kenapa memakai kursi roda? Apa terjadi sesuatu?" tanya Karina dengan wajah cemasnya. Dengan kondisinya yang sekarang, Karina masih mencemaskan kondisi orang lain.


"Hanya ada sedikit insiden Kak, jangan terlalu khawatir," jawab Eca berdusta. Dia tidak ingin membuat Karina merasa bersalah dengan kecelakaan dan keguguran yang dia alami.


"Syukurlah kalau tidak apa-apa," jawab Karina.


"Apa Kakak benar-benar sudah mengingat masa lalu Kakak?" tanya Kiara hati-hati.


"Apa kalian sebelumnya sudah mengetahui tentang cerita masa lalu kita?" tanya Karina.


Dengan ragu semua yang ada di dalam ruangan itu menganggukkan kepalanya.


"Maaf, kami tidak bermaksud menyembunyikan fakta ini dari Kakak," jelas Kiara.


"Tapi, Dokter memberitahui kita kemungkinan terburuk apa yang akan Kakak alami jika kita memberitahukan fakta di saat Kakak belum siap menerimanya," lanjut Kiara.


Karina menarik nafas beratnya.


"Apa bisa aku bicara dengan Kak Fin?" tanya Karina pada Renal.


"Mmm, begini..."


"Aku hanya ingin meminta maaf. Walaupun aku tau Kak Fin mungkin tidak ingin berbicara dengan aku," jelas Karina dengan wajah murungnya.


"Bukan begitu" sergah Renal.


"Tapi.... tidak ada satupun dari kami yang mengetahui lokasi suami kamu saat ini," jelas Renal dengan masih memanggil Fin dengan sebutan 'suami kamu'. Entah Renal lupa kalau Karina dan Fin sudah bercerai atau Renal masih berharap keduanya dapat bersama kembali.


"Heh??" pekik Karina.


"Maksudnya??" tanyanya kembali.


"Fin sudah lebih dari satu minggu pergi meninggalkan rumah. Tidak ada yang mengetahui di mana dia sekarang. Sebenarnya dari tiga tahun lalu dia sudah sering melakukan ini. Bedanya, dulu Kakek selalu dapat menemukan Fin. Namun minggu lalu saat anak buah Papa Alexander mencari Fin ke Melbourne tempat persembunyiannya, dia sama sekali tidak ada di sana," jelas Renal dengan panjang lebar.


"Melbourne?" ucap Karina pelan.


"Apa ada tempat lain yang mungkin Kak Fin kunjungi selain Melbourne?" tanya Kiara.


"Mungkin tempat masa lalu kalian yang tidak kami tau," sahut Bram.


"Tempat lain? Kemana? Kita hanya pernah bertemu di Melbourne dan itu hanya satu minggu," jawab Karina sambil mencoba mengingat.

__ADS_1


"Jangan bilang, kalau Kak Fin benar-benar pergi ke sana??!!" pekik Karina saat mengingat sesuatu.


Semua yang ada di ruangan itu melihat Karina dengan wajah penasarannya. Dimana sebenarnya Fin bersembunyi selama ini??


__ADS_2