
Devin turun dari atas kursi yang tengah di dudukinya kemudian berjalan ke arah Tuan Alexander. Dia menjulurkan tangan nya dan di sambut oleh sang Clarke tersebut. Devin mencium punggung tangan Tuan Alexander kemudian beralih mencium tangan Eca yang datang bersama sang Ayah.
Tuan Alexander di buat takjub dengan kesopanan sang pewaris kerajaan Grahatama tersebut. Dia salut dengan didikan yang diajarkan Ibunya pada anak dua tahun itu.
Sementara Renal yang menyaksikan apa yang keponakannya lakukan hanya memutar bola matanya jengah. Lihatlah bagaimana perbedaan perlakuan yang di dapatkannya dari sang keponakan!
Mereka semua akan berangkat menuju Melbourne dengan menggunakan jet pribadi milik Tuan Alexander. Setelah mengantarkan sang Grahatama selamat sampai tujuan, Tuan Alexander sendiri akan kembali ke Italia tempat tinggalnya saat ini.
Ke Indonesia pun beliau hanya untuk memenuhi undangan dari rekan bisnisnya sekaligus bertemu dengan Eca, sang putri.
Renal mengambil alih dua koper yang Pak Deni bawa. Sementara Devin langsung berjalan ke arah sang Clarke dan memintanya untuk di gendong.
"Opa, gendong!" ucapnya sambil meraih jari Tuan Alexander.
Tuan Alexander berjongkok. Ternyata hanya mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan Opa membuat hatinya membuncah bahagia. Dia bawa tubuh mungil itu ke dalam pangkuannya. Tuan Alexander masih terlihat berkarisma meski usianya sudah memasuki angka lima puluh dua tahun.
Tubuh tinggi tegap, tato di seluruh tangan sebelah kiri dan wajah yang di penuhi brewok hitam bercampur putih dengan bola matanya yang berwarna abu. Namun anehnya Devin sama sekali tidak terlihat takut. Dia langsung dekat begitu saja saat bertemu dengan ketua mafia yang terkenal karena kebengisan dan kekejaman nya itu.
"Boy, tadi saat uncle akan membawa kamu menuju Bandara kamu bilang apa sama uncle?" gerutu nya dalam hati.
"Mommy ilang, aku da boleh ikut om-om cembalangan!" lanjutnya menirukan Devin dalam hati. Mana berani dia langsung mengejek seperti itu di depan sang putra mahkota apalagi saat ini dia sedang dalam gendongan sang kaisar. Bisa-bisa nyawa Renal melayang. Bukannya pergi ke Australia tapi malah ke akhirat.
"Baby, apa kamu tidak ingin memberi Papi satu yang seperti ini?" tanya Tuan Alexander dengan mata yang tetap fokus pada Devin.
Degh!
Tiba-tiba jantung Renal berdetak kencang saat mendengar pertanyaan Tuan Alexander pada anaknya.
"Apa dia sudah menikah?" tanya Renal dalam hati.
"Kenapa dada ku sakit saat membayangkan dia sudah mempunyai pasangan?" lanjutnya dalam hati.
"Ya ampun Papi...." pekik Eca.
__ADS_1
"Memangnya punya anak segampang melumpuhkan kaki musuh?" tanya Eca pada sang Ayah.
Renal bergidik ngeri mendengar perumpamaan yang di sampaikan Eca.
"Apa percakapan seperti itu adalah hal biasa bagi mereka berdua?" batin Renal kembali.
Tuan Alexander tergelak mendengar apa yang anaknya sampaikan.
"Papi sudah tua, Baby! Bolehlah Papi berharap hal-hal seperti itu dari kamu!" jelasnya pada sang anak menggunakan bahasa Indonesia yang berlogat.
"Aku tidak mau, Papi terlalu berharap banyak pada aku! Apalagi pekerjaan aku yang seperti ini mana ada laki-laki yang mau!" lanjutnya menjelaskan sambil berjalan beriringan dengan sang Ayah untuk masuk ke dalam pesawat.
Renal yang berjalan di belakang mereka tersenyum simpul mendengarkan percakapan dua orang yang ada di depannya. Kenapa mendengar Eca belum memiliki pasangan membuat sudut bibirnya terangkat? Pikir Renal dalam hati. Sepertinya dia sudah gila!
"Khem..." dehem Renal mencoba menormalkan kembali ekspresi wajahnya.
Selanjutnya mereka masuk ke dalam jet pribadi sang Clarke yang akan membawa mereka ke Australia untuk bertemu Fin dan Karina.
Renal heran sendiri kenapa Eca yang notabene nya seorang anak ketua mafia yang kehidupan nya sudah terjamin dengan segala kemewahan sejak lahir mau bekerja sebagai bawahan Fin? Apa ada maksud lain dengan dia bekerja pada Fin untuk menjaga Karina?
Biarlah pertanyaan itu menjadi pertanyaan pribadinya, pikir Renal.
Mereka saat ini sudah menempati tempatnya masing-masing. Dengan telaten Eca memasangkan sabuk pengaman pada Devin kemudian duduk di sebelahnya sambil memegang tangan mungilnya.
Renal sendiri bingung dan canggung karena harus duduk bersebelahan dengan pria yang di takuti dan di seganinya itu. Dia tidak punya pilihan lain. Saat Renal duduk di kursi belakang, Tuan Alexander memintanya untuk pindah dan duduk di sebelahnya.
Dahi Renal sudah berkeringat dingin. Jantungnya bahkan berdebar lebih kencang dari pada saat dia tau kalau Eca belum mempunyai pasangan.
Bukan apa-apa, dia pernah menyaksikan secara langsung, bagaimana Tuan Alexander dengan dinginnya mengeksekusi para musuh dari klien nya.
Renal pernah di bawa beberapa kali oleh Kakek Bram yang merupakan Kakek dari Fin untuk melihat dan bertemu langsung dengan Tuan Alexander saat mereka masih duduk di bangku SMA.
Bahkan setelah kejadian itu, Renal selama seminggu tidak dapat tidur dengan nyenyak. Suara jeritan dari korban yang akan menemui ajalnya selalu terekam di otaknya.
__ADS_1
"Kenapa kamu berkeringat?" tanya seseorang yang duduk di sebelahnya. Renal tersentak dengan pertanyaan tiba-tiba Tuan Alexander.
Dengan refleks, Renal mengusap dahinya dengan punggung tangannya. Tiba-tiba sebuah sapu tangan ada di hadapannya. Tuan Alexander memberikan sebuah sapu tangan pada Renal untuk dia membersihkan keringatnya.
"Te... terima kasih!" ucapnya tulus namun masih dengan kegugupan yang menguasainya.
"Kamu takut naik pesawat?" tanya pemilik suara bass itu kembali.
"Ti... tidak, Tuan!" gagapnya lagi. Renal bahkan dapat mendengar suara cekikikan dari sang keponakan yang mendengar pertanyaan dari tuan Alexander.
"Kenapa kamu gugup?" tanyanya kembali.
"Pertanyaan yang tidak pernah selesai!' ucap Renal dalam hati saat mendengar begitu banyak pertanyaan yang Tuan Alexander lontarkan.
"Tidak, Tuan. Hanya, sudah lama saja saya tidak naik pesawat!" dustanya. Padahal baru dua minggu lalu dia menyambangi beberapa kota menggunakan pesawat bersama bos nya.
"Oh!" jawabnya singkat.
Renal menarik nafasnya lega saat tidak ada lagi yang Tuan Alexander tanyakan padanya. Renal sandarkan tubuhnya pada kursi. Dia mencoba memejamkan matanya. Namun baru beberapa detik memejamkan mata, tiba-tiba Tuan Alexander bertanya kembali.
"Apa kamu sudah memiliki pasangan?" tanyanya yang berhasil membuat Renal membulatkan matanya.
"Ya?" tanya Renal.
"Oh, jadi sudah ya?" jawab Tuan Alexander kembali.
"Ti... tidak Tuan, maksud saya... belum punya," cicitnya.
"Papi!" panggil Eca dengan nada tidak suka.
"Kenapa Baby?" tanya Tuan Alexander pada anaknya.
"Sepertinya, Mami kamu akan suka tipe-tipe menantu yang penakut sepeti dia!" ucap Tuan Alexander yang berhasil membuat dua orang membulatkan matanya.
__ADS_1