Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Menyusul!


__ADS_3

Fin segera menghubungi adiknya untuk mengkonfirmasi keberadaan Karina. Benar saja, istrinya saat ini sudah ada di sana. Selain itu, Fin meminta Kiara untuk diam dan tidak memberitahu Karina kalau Fin sudah mengetahui keberadaannya.


Fin mempersiapkan segalanya sebelum berangkat ke sana termasuk pakaian dan perlengkapan Karina. Dia juga meminta Renal untuk menyiapkan penerbangannya. Setelah selesai dengan segalanya, Fin berangkat hari itu juga menyusul istrinya ke Singapura.


"Den," sapa Bi Surti takut saat melihat Fin turun dari lantai dua rumahnya dengan membawa satu koper besar.


"Kenapa Bi?" tanya Fin dengan tangan yang sibuk mengetikan sesuatu pada telepon genggam miliknya.


"Maafkan Bibi ya," cicit Bi Surti.


Fin menghentikan kegiatannya. Dia menatap wanita paruh baya yang saat ini terlihat sedang ketakutan itu.


"Kenapa Bibi meminta maaf?" tanya Fin.


"Mmm... tadi Neng Karina hilang," jawabnya pelan.


"Bukan salah Bibi. Abang saja yang kurang peka dengan keinginan istrinya Abang," jawab Fin lembut.


Benar kata Karina. Fin tidak mungkin bersikap kurang ajar dengan memarahi seorang wanita tua. Terlebih lagi orang tersebut sudah puluhan tahun hidup bersamanya.


"Abang berangkat dulu," pamit Fin sambil menepuk pelan bahu Bi Surti.


"Hati-hati, Den. Salam sama Neng Karina dan Neng Kiara,"


Fin mengangguk sambil tersenyum tipis, kemudian naik ke dalam mobil yang terparkir di depan rumahnya. Di dalam mobil tersebut sudah ada Renal yang duduk di bagian kemudi mobil.


"Aku antar kamu hanya sampai bandara kan?" tanya Renal sambil melajukan mobilnya, meninggalkan kediaman Fin.


"Hmm." jawab Fin singkat.


"Kenapa istri mu kabur? kamu selingkuh?" tanya Renal dengan beraninya.


Fin yang tengah bersandar sambil memejamkan matanya kemudian bangkit dan meraih tisu yang ada di atas dashboard mobil. Fin lemparkan tisu tersebut ke arah Renal.


"Kurang ajar!" umpatnya.


"Aku gak se kurang ajar kamu, Renal!!" lanjut Fin menjelaskan.


"Aku sudah insaf sekarang." kilah Renal.


"Terserah!" jawab Fin singkat.


"Serius! aku gak mau anak-anak ku kena karma dari kelakuan ku sendiri," jelas Renal membayangkan masa depannya.


Fin tidak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepala beberapa kali sebagai respon dari apa yang Renal katakan. Dia setuju dengan apa yang Renal katakan. Fin tipe orang yang percaya dengan adanya karma. Karma baik ataupun karma buruk.


"Aku gak ikut ke Singapura kan?" tanya Renal untuk kesekian kalinya.


"Tidak Renal. Kamu masih harus mengurus beberapa klien di sini!" jawab Fin dengan ekspresi datarnya.


"Kenapa bukan aku saja yang jadi CEO nya?" celetuk Renal membuat Fin memutar bola matanya jengah.

__ADS_1


"Aku gak mau tau, gaji ku harus naik berlipat-lipat tahun ini!" Renal melanjutkan ocehannya.


"Ckk... telinga ku sakit dengar ocehan mu. Bisa fokus menyetir saja?" tanya Fin dengan tidak berperasaan.


"Ckk..." decak Renal. Dengan secepat kilat Renal menginjak gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Fin merubah posisinya menjadi mode siap. Tangannya mencengkram pegangan yang ada di langit-langit mobilnya. Tubuhnya terpentang-panting ke kiri dan ke kanan saat Renal menyalip beberapa mobil yang ada di depannya dengan tidak mengurangi kecepatannya.


Klakson dari mobil-mobil yang Renal salip berbunyi kencang dengan beberapa dari mereka mengeluarkan kepalanya sambil mengumpat kasar ke arah mobil yang Renal kendarai.


Renal tidak gentar. Dia tersenyum menikmati apa yang di lakukannya. Sudah sangat lama dia tidak melakukan balapan liar. Sepertinya, skill jalanannya masih sebagus beberapa tahun lalu.


Renal mengatupkan mulutnya yang tengah tersenyum lebar saat sudut matanya menangkap wajah garang dari sahabatnya itu.


"Ya elah... serba salah jadi si Renal," ucap Renal pelan, namun masih terdengar oleh Fin.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mobil yang Renal kendarai sampai di bandara. Beberapa bodyguard yang mengikuti Fin mendekat untuk mengambil alih koper yang Renal turunkan dari dalam bagasi mobil. Mereka membawa barang bawaan Fin dan memasukkannya ke dalam jet pribadi yang akan mengantar Fin untuk bertemu dengan istri dan anaknya.


Fin menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan menatap Renal dengan serius.


"Jangan lupa, besok pagi ada meeting. Jangan sampai lolos! Atau... gaji mu bulan ini, aku tahan!!" ancam Fin dengan tidak berperasaan. Setelah menggertak Renal dengan ancamannya, Fin masuk begitu saja ke dalam jet pribadinya meninggalkan Renal yang masih menganga mendengar ancaman dari sahabatnya itu


"Kurang ajar!! Mana aku kerja udah kaya zaman Jepang. Gak ada jam kerjanya. Pagi, siang, malam, subuh, tuh anak emang bisanya ngacak-ngacak jadwal, ku! Untung kamu sahabat ku," gerütu Renal sambil menatap pesawat yang di naiki Fin, take off.


##########


Fin tiba di Singapura saat menjelang petang. Di bandara sudah ada sopir suruhan Kiara yang langsung membawa Fin menuju kediaman dari keluarga Raiden.


Di depan rumah tampak Kiara dan Devin tengah berdiri menunggu kedatangan Fin. Devin menyambut Fin dengan senyum lebarnya. Berbeda dengan Devin, sang adik justru menyambutnya dengan kening berkerut seolah ada seribu tanya yang ingin dia tanyakan pada Kakaknya,


Fin langsung meraih tubuh Devin dan melabuhkan beberapa kecupan rindu di dahi dan pipi sang anak.


"Tapi saat ini ada yang harus Daddy urus sebentar, boleh?" ijinnya pada sang anak.


"Nanti kalau sudah selesai, Daddy temuin Devin," janjinya. Devin mengangguk paham dengan kesibukan Daddy nya.


"Good boy," puji Fin sambil mengusap puncak kepala anaknya.


Fin bergegas masuk ke dalam rumah dengan tidak menghiraukan kehadiran sang adik.


"Abang... gak mau menjelaskan sesuatu pada ku?" teriak Kiara saat Fin melewatinya begitu saja. Fin hanya mengangkat tangannya ke udara dan terus masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan istrinya.


"Daddy cibuk, aunty," celoteh Devin sambil meraih jemari Kiara.


Kiara mencubit pipi keponakannya itu dengan gemas.


"Ya ampun... kenapa anak sekecil ini sudah paham dengan kesibukan orang tuanya? Aunty terlalu gemas dengan kakak yang kadang sifatnya udah kaya anak ABG," ucap Kiara dengan tangan yang masih mencubit pipi Devin.


"Aunty... sakit!!" kesal Devin. Tangan Devin meraih tangan Kiara. Dia singkirkan tangan Aunty nya itu dari atas pipinya yang memerah.


Sementara itu, Fin pergi menuju kamar yang di tempati oleh Karina. Saat mencari keberadaan Karina, maid di sana memberitahu kalau Karina tengah beristirahat di kamar tamu.


Dengan cemas Fin bergegas masuk ke dalam kamar. Tampak sosok sang istri yang tengah terlelap di atas tempat tidur. Wajahnya terlihat lelah dengan baju yang belum Karina ganti.

__ADS_1


Fin menarik nafasnya lega setelah hampir seharian mencemaskan keadaan istri dan calon anak keduanya. Dia merangkak naik ke atas tempat tidur, kemudian menyelusupkan lengan kekarnya itu ke bawah leher istrinya. Selanjutnya dia bawa tubuh istrinya itu masuk ke dalam pelukannya.


Karina yang merasa nyaman semakin merangsak masuk ke dalam pelukan Fin, dengan tangan yang memeluk erat pinggang dari suaminya itu.


"Mommy... bisa-bisa nya membuat Daddy khawatir," bisik Fin tepat di telinga istrinya.


"Apa Mommy sudah sangat merindukan Devin sampai-sampai tidak bisa menunggu Daddy pulang dulu, Hem?"


"Daddy benar-benar ketakutan tadi. Daddy tidak mau kejadian tiga tahun lalu terulang lagi." Tangan Fin mengusap lembut rambut dan pipi istrinya.


"Daddy bisa gila kalau harus berpisah kembali dengan kalian," lirih Fin.


"Apalagi, sudah ada anggota baru yang tumbuh di sini," bisiknya sambil bangkit dari tempat tidur, kemudian melabuhkan kecupan di atas perut rata Karina.


"Mmmm...." Karina hanya menggeliat kemudian kembali terlelap. Dia masih belum menyadari kehadiran suaminya,


Fin turun dari atas tempat tidur kemudian membongkar koper yang di bawanya. Dia keluarkan sebuah dress berbahan cotton untuk dia pakaikan kepada istrinya. Fin berniat mengganti baju Karina agar tidur istrinya itu jauh lebih nyaman.


Setelah selesai mengganti pakaian istrinya, Fin langsung pergi menuju lantai bawah dan menemui Devin sesuai dengan janjinya. Dia juga harus menyapa adik dan kakeknya. Orang tua Raiden sendiri saat ini sedang tidak ada di rumahnya. Jadi, yang ada di sana hanya keluarga dari Bram saja.


Fin menuruni anak tangga untuk menemui sang anak yang petang ini sedang berkumpul bersama keluarga yang lain di ruang tengah. Devin tengah menggambar seperti biasanya. Tampak juga Bram yang diam-diam tengah memperhatikan cicit nya itu. Dari sorot matanya, terpancar sebuah kebanggaan saat melihat kemampuan dari sang cicit yang baru mau menginjak usia tiga tahun.


Fin bergabung bersama mereka.


"Kek," sapa Fin sambil meraih punggung tangan Kakeknya.


Devin yang sadar dengan kehadiran sang Daddy langsung menghentikan kegiatannya kemudian tersenyum ke arah Fin.


"Daddy," panggil nya.


"Yes, baby," jawab Fin.


"Cudah?" tanya Devin kembali.


"Hem?" bingung Fin dengan pertanyaan anaknya.


"Ckk... Abang kan tadi bilangnya ada yang harus Abang urus, Devin tanya, sudah?" Kiara mencoba menjelaskan apa yang Devin maksud. Setelah mempunyai anak dan keponakan, kepekaan Kiara meningkat cukup drastis. Dia berusaha menterjemahkan bahasa-bahasa ambigu dari apa yang ingin di sampaikan anak dan keponakannya.


Fin mengangguk sambil tersenyum hangat.


"Sudah. Terima kasih sudah mengkhawatirkan, Daddy," Fin mengusap kepala anak sulungnya itu penuh sayang.


Bram tidak banyak berkata. Dia hanya memperhatikan interaksi antara cucu dan cicitnya itu dalam diam. Dia dapat menilai seberapa dalamnya kasih sayang Fin pada anak laki-lakinya itu. Fin yang dingin bisa berubah hangat saat bersama dengan anak dan istrinya. Padahal saat di depan Kiara maupun Bram, Fin selalu dengan sifat dinginnya yang misterius.


"Abang, bisa kita bicara?" tanya Bram dengan wajah datarnya. Wajah yang sama persis seperti wajah Fin saat tengah berbicara bersama orang lain. Wajah keluarga Grahatama memang memiliki tipe yang sama. Datar, dingin, misterius. Hanya Kiara yang beda sendiri. Dia mewarisi darah ibunya yang ramah dan ceria.


"Boleh Abang makan dulu? Abang dari siang belum makan," jawabnya dengan berani. Fin saat ini sedang benar-benar lapar. Saat akan makan siang dia mendapat kabar kalau istrinya hilang sehingga membatalkan makan siangnya dan langsung pulang ke Jakarta untuk mencari istrinya.


"Ya ampun Abang..., kenapa tidak bilang dari tadi? Ayo, makan nya aku temani," Kiara berdiri dari tempatnya kemudian meraih tangan Fin dan menyeretnya ke ruang makan.


"Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan," bisik Kiara dengan mata tajamnya yang mengintimidasi.

__ADS_1


Fin tidak merespon. Dia hanya berjalan mengikuti kemana Kiara akan menyeretnya.


"Kakek, titip Adik dan Kakak," teriak Kiara dari arah ruang makan. Kiara akan mencecar kakaknya itu dengan seribu pertanyaan terkait kedatangan kakak iparnya yang tiba-tiba. Kiara meyakini ada sesuatu yang terjadi di antara keduanya.


__ADS_2