Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Menikahlah dengan ku, Renika Ludwig Araav!


__ADS_3

"Kenapa kalian diam saja?"


Renika masih terdiam kaku sambil menatap horor foto-foto intimnya bersama Devin. Dia berusaha keras untuk memproses semuanya.


'Kenapa bisa begini? Siapa orang gila yang berani-beraninya jebak kita kayak gini?!!'


Selain beragam pertanyaan yang memenuhi kepalanya, Renika juga di kuasai oleh rasa cemas dan panik.


'Kalau sampai foto-foto itu bocor ke publik, mampus beneran aku!?!


Renika dapat membayangkan bagaimana namanya muncul di setiap acara gosip, Renika terlibat cinta satu malam dengan CEO!


Renika menggeleng pelan.


'Nggak! Nggak! Semua itu nggak boleh terjadi!!' batin Renika yang kembali tersadar dari lamunannya. Dia pun melemparkan tatapan kepada Devin mengisyaratkan.


'Ngomong sesuatu dong!'


Akan tetapi, pria itu sepertinya sibuk dengan pertimbangannya sendiri.


Gadis itu tiba-tiba saja berdiri hingga mengalihkan perhatian semua orang.


"Aku nggak setuju!! aku nggak mau nikah sama Devin!" tolaknya dengan tegas. Namun, setelahnya Renika panik terutama saat mata-mata itu berubah menatapnya dingin.


"M... maksudnya ... ini... hanya salah paham... i... ini nggak seperti yang k... kalian pikirkan! Kita nggak melakukan i... itu," ujar Renika terbata-bata sambil menggigit bibirnya.


"Salah paham bagaimana?" Ayahanda Renika yang sedari tadi hanya diam karena sepertinya terlalu shock akhirnya buka suara.


Renika menatap Ayahnya dengan takut-takut.


"I... ini... aku kita di jebak! Foto-foto itu hanya rekayasa! A... aku dan Devin nggak kita nggak lakuin apa pun!" Gadis itu berusaha meyakinkan kedua keluarga namun hasilnya semakin kacau.


Renika panik. Dia yang sudah kehabisan kata-kata lantas meminta bantuan kepada Devin yang sejak tadi hanya diam dan duduk dengan tenang di atas kursinya seolah tengah menonton sebuah pertunjukan.

__ADS_1


Gadis itu menatap Devin dengan frustasi dan berseru.


"Devin! Katakan sesuatu!"


Dengan helaan napas, Devin berkata.


"Pertemuan kami malam itu murni untuk membahas bisnis. Tapi sepertinya seseorang dengan sengaja menjebak kami." Nadanya begitu tenang, tidak ada emosi di dalamnya.


Namun, Fin menggelengkan kepalanya.


"Tidak peduli apa alasan kalian, benda ini akan menjadi bukti mematikan untuk kedua keluarga kita," ucapnya sembari mengangkat selembar foto. Pria itu pun tetap dengan keputusan awalnya.


"Kalian akan tetap menikah!"


Mendengar itu, Renika beralih kepada sang Ayah


"Papi! Ini..."


"Cukup, Renika!" Renal, Ayah gadis itu memutuskan untuk bersuara.


"Bertanggung jawab atas kelalaian mu atau kamu bukan putri Papi lagi!" Pria itu beralih pada Fin.


"Maafkan aku, Fin. Aku pergi dulu." Dan, dia pun pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.


Melihat kepergian sang Ayah, sekujur tubuh Renika mendadak lemas, dadanya kian sesak dengan kedua matanya yang mulai memanas.


"Papi...!" panggilnya lirih sambil menatap nanar punggung sang Papi yang mulai menjauh dari pandangannya.


Eca ibu Renika yang sejak tadi hanya diam lantas memeluk Renika sebentar.


"Pikirkanlah dengan bijak, sayang. Papimu melakukan ini demi kebaikan mu," ucapnya sebelum akhirnya berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut, di ikuti oleh orang tua Devin yang berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.


Sepeninggal para orang tua, tangis yang sudah di tahannya sejak tadi itu pun akhirnya pecah. Begitu lirih dan menyesakkan.

__ADS_1


Ucapan Ayah Devin kembali terngiang-ngiang dalam benak Renika. Tak peduli sekeras apa pun dia menyangkalnya, Renika tetap tidak bisa membuktikan kalau sebenarnya mereka di jebak.


Pandangan Renika beralih pada foto-foto yang berserakan di atas meja. Tangan gadis itu meraih segenggam foto dan mengepalkannya dengan kuat.


'Kurang ajar, orang yang melakukan ini, aku akan memastikan untuk menemukannya!'


Mendadak, suara bariton yang familiar bersuara,


"Ayo, menikah."


Renika mengangkat pandangannya, baru tersadar bahwa Devin masih berada di hadapannya.


"Kamu bilang apa?"


"Situasi sudah seperti ini, tidak ada gunanya untuk menolak lagi." Devin berdiri dan menghampiri Renika lalu mendaratkan satu tangannya di atas meja sembari mengunci manik cokelat terang gadis itu dalam tatapannya.


"Menikahlah dengan ku, Renika Ludwig Araav" netra zamrud nya memancarkan sebuah tekad.


"Aku akan pastikan keputusan ini tidak akan mengecewakanmu."


Mata Renika terbelalak.


'Pria sinting' Gadis itu pun berdiri dari tempatnya dan menuding Devin.


"Nggak! Pokoknya aku nggak akan nikah sama kamu!"


###########


"Selamat ya, Renika! Kita nggak nyangka kamu akan nikah secepat ini!"


Ucapan selamat yang terlontar dari sejumlah tamu pesta membuat senyuman Renika bergetar.


Di dalam hati gadis itu ingin berteriak.

__ADS_1


'Aku juga nggak nyangka akan nikah secepat ini!' Renika melirik sosok tampan bernetra hijau yang tersenyum lembut kepada para tamu yang memberikan selamat.


'Gara-gara pria kurang ajar ini!'


__ADS_2