Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Tergagap!!!


__ADS_3

"Ibu tidak apa-apa?" tanya Eca menghampiri Karina yang tengah ketakutan. Mata Karina berkaca-kaca, namun sebuah senyum kelegaan terlukis dari bibir tipisnya. Wajahnya yang semula pucat pasi, kini mulai memancarkan ronanya kembali.


"Apa kamu baru saja memukulnya?" tanya Karina pelan. Karina masih pada tempatnya dan belum berani menengok laki-laki yang tengah meringkuk di lantai akibat terkena pukulan yang cukup kencang itu. Karina yakin, kalau laki-laki tersebut adalah Ramon. Mantan kekasihnya yang dengan tega mengkhianati kepercayaan, Karina.


Eca menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Karina. Karina mengerutkan keningnya pertanda bingung dengan jawaban yang Eca berikan. Karina bertanya sekali lagi.


"Kamu tidak memukulnya?" tanya Karina meyakinkan.


Eca menggeleng kembali.


"Bapak yang memukulnya," cicit Eca.


"Hah?" tanya Karina tidak percaya sambil membalikan tubuhnya.


"Ya, Bapak yang memukul pria itu," jawab Eca kembali sambil menunjuk Ramon yang tengah tersungkur di lantai.


Pupil mata Karina melebar, saat melihat suaminya berdiri di belakang tempat Karina duduk. Tangan sebelah kirinya dia masukan ke dalam saku celana, sementara tangan sebelah kanannya memegang sebuah cardigan yang dia pinjam dari adiknya.


Tadi, saat Fin turun menuju lantai bawah, dia melihat istrinya tengah di dekati seorang laki-laki yang hanya terlihat bagian punggung nya saja dari arah Fin datang. Fin menahan Eca dengan mengangkat tangannya sebagai kode, saat di lihatnya Eca akan meraih kerah punggung lelaki yang akan mencium istrinya tersebut.


Ramon meringis di bawah lantai. Dia mencoba bangkit dengan tertatih m Di hapusnya darah yang mengucur dari sudut bibirnya.


Sementara itu, Fin menghampiri Karina yang tengah ketakutan dan langsung membalut tubuh seksi istrinya dengan sebuah cardigan.


"Ajak Ibu masuk ke dalam mobil! Kalian pulang duluan!" perintah Fin pada Eca.


"Baik Pak," ucap Eca sedikit membungkuk kemudian membawa Karina ke luar dari kediaman Kiara.

__ADS_1


"Daddy," ucap Karina lirih melihat kemarahan di mata Fin. Fin bergeming! Dia tidak memberikan ekspresi apapun pada istrinya. Fin mengkode Eca dengan kepalanya, agar dia segera pergi. Setelahnya, Fin baru menyelesaikan urusannya dengan Ramon.


Fin menghampiri Ramon yang masih mencoba bangkit dari lantai. Dengan tidak berperasaan dia angkat kaki berpentopel hitam itu ke udara kemudian dia injakan di pinggang Ramon.


KREK! Sebuah suara yang sangat menyakitkan terdengar dari tubuh yang Fin injak Ramon menjerit! Kaki Fin semakin menekan keras saat jeritan Ramon semakin kencang terdengar.


Fin raih telepon genggam di dalam saku celananya dengan kaki yang tidak dia turunkan dari atas tubuh Ramon. Dia menghubungi asisten nya.


"Renal, ke ruang tamu sekarang!" perintah Fin.


Tidak butuh waktu lama, Renal sampai di ruang tamu.


"Ckk... ckk..." decak Renal saat melihat pemandangan menyakitkan di hadapannya.


"Hubungi Tuan Alexander sekarang!" perintah nya pada, Renal.


Tuan Alexander Clarke sendiri adalah ketua kelompok dari United Bamboo. Kelompok mafia kejam yang memegang kode etik "Omerta" yang artinya, kewajiban tutup mulut dan menuntut kesetiaan penuh. Jika ada yang berkhianat, maka beresiko di siksa dan di bunuh atau di jatuhi hukuman pada keluarga mereka.


Fin sendiri kenal dengan Tuan Alexander, dari Kakek nya, Bram Grahatama sang pendiri Grahatama Group. Bagi para pengusaha sukses seperti keluarga Grahatama, sudah hal lumrah jika mereka membentuk relasi dengan para mafia kejam yang tidak segan-segan dalam melakukan eksekusi pada korban nya.


Namun semenjak perusahaan di pegang oleh sang cucu, Fin Grahatama, dia sudah amat sangat jarang menggunakan jasa seorang mafia kecuali pada keadaan terancam atau darurat.


Maka dari itu, Renal bertanya-tanya dalam hatinya, saat Fin menyuruh nya menghubungi Ketua dari United Bamboo langsung. Dia jadi berpikir, separah apa laki-laki di hadapannya itu melakukan kesalahan sehingga Fin murka terhadapnya.


"Ckk," decaknya pada Renal.


"Bawa dia! Kurung dia di markas kita!" perintahnya pada Renal, kemudian Fin pergi begitu saja.

__ADS_1


"Anak yang malang," ucap Renal sambil berjongkok meraih tubuh Ramon untuk di bawanya ke luar dan memasukan nya ke dalam mobil. Ramon melawan, namun seluruh tubuhnya sakit. Selanjutnya dia hanya bisa pasrah sambil berharap bantuan datang.


"Loh, bukannya kamu perencana pestanya, Kiara?" tanya Renal saat Ramon mendongak menatap wajah Renal penuh permohonan.


"Saya mau di bawa kemana, Pak?" lirih Ramon pada Renal saat mereka sudah sampai di garasi mobil, Renal memasukan Ramon ke dalam mobilnya, kemudian mengikat tangan dan menutup kedua mata nya dengan seutas kain. Ramon meronta namun percuma.


"Berdoa saja, dia berubah pikiran!" ucap Renal pada Ramon.


Selanjutnya, Renal membawa Ramon meninggalkan rumah Kiara menuju Markas besar rahasia yang biasa Fin gunakan saat bertemu, Tuan Alexander.


Di kediaman mewah nya, Karina tidak bisa tidur. Dia hanya berjalan bolak-balik dengan gelisah di depan sebuah jendela besar yang langsung menghadap taman dan danau yang ada di belakang rumah nya. Pemandangan malam hari terlihat begitu indah dengan lampu-lampu yang mengelilingi hampir seluruh area taman belakang.


Walau pemandangan di hadapannya tampak indah, namun Karina tidak dapat menikmati nya. Karina gugup, dia tidak dapat menyembunyikan kecemasan nya. Saat di rumah Kiara, Karina melihat kemarahan di mata Fin sesaat sebelum Karina di bawa pulang oleh Eca, sang pengawal.


Karina juga khawatir Fin meragukan nya. Namun setelahnya, Karina merutuki pikirannya yang terlalu percaya diri. Memangnya sepenting apa Karina di hidup Fin, sampai-sampai dia memiliki pemikiran seperti itu? Tanya Karina kembali pada dirinya sendiri.


Saat tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, menampakkan sosok tinggi menjulang, yang masih memasang wajah dinginnya. Matanya masih memancarkan kemarahan, dengan wajah tanpa ekspresi. Dingin dan tidak tersentuh. Ya, Fin sudah kembali!


Fin menutup pintu kamarnya, kemudian mematung sambil menatap Karina dengan tatapan dalam. Karina yang di tatap seperti itu, menjadi salah tingkah. Kedua tangan Fin masuk ke dalam saku celana seperti kebiasaan nya. Lengan bajunya pun di gulung sampai siku, dengan kancing yang sudah terbuka tiga. Rambut Fin sedikit berantakan. Fin saat ini benar-benar terlihat seperti seorang bad boy, Karina tidak dapat menebak apa yang tengah suaminya pikirkan.


"Da-daddy," panggil Karina pelan. Dia menunduk, tidak berani menatap mata zamrud suaminya.


Fin memutuskan pandangannya, kemudian berjalan perlahan dan berhenti tepat dihadapan Karina.


Fin setengah menunduk untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan Karina. Dia keluarkan tangan sebelah kanannya dari dalam saku celana kemudian, HAP!


Tangan besar Fin mendarat di rahang Karina. Di tekan rahang istrinya, masih dengan wajah datar tanpa ekspresinya. Karina ketakutan! Dia meraih tangan Fin yang mengerat pada rahang miliknya.

__ADS_1


"Da -da-daddy," panggil Karina tergagap.


__ADS_2