Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Bertemu Eliz!


__ADS_3

Di sinilah mereka sekarang. Di dalam sebuah kereta persis seperti permintaan Karina saat pulang dari rumah sakit tadi pagi.


Fin mengabulkan keinginan Karina untuk memakan Bakpia asli Jogjakarta secara langsung dari tempatnya.


Fin menghubungi Renal dan meminta dia menyewa satu gerbong untuk dinaikinya bersama istri dan anaknya. Bahkan Fin berniat membeli kereta tersebut kalau saja tidak di cegah oleh Karina.


Untuk menyewa satu gerbong pun dia harus berdebat terlebih dahulu dengan sang istri. Pasalnya Karina memaksa Fin untuk naik kereta biasa dan berbaur bersama orang-orang.


Namun dengan alasan Fin selalu mual kalau mencium aroma parfum orang lain selain wangi parfum istrinya, Karina pun mengalah dan memilih menaiki kereta yang sudah suaminya sewa.


Yang penting, Karina bisa naik kereta api. Pikir Karina masih bersyukur karena suaminya dengan mudah mengabulkan permintaan di luar kebiasaannya itu.


Renal tertawa terbahak-bahak, saat di hubungi Fin dan mendengar penuturan Fin tentang permintaan aneh dari istrinya.


Renal bahkan sampai bilang pada Fin kalau Karina mungkin saja tengah mengalami fase yang di sebut dengan ngidam.


Namun Fin tidak percaya dengan apa yang Renal ungkapan. Renal memang berpengalaman tentang perempuan. Tapi, untuk perempuan hamil, dari mana Renal tahu? Selama ini pun yang Renal kencani hanya wanita single yang tidak mempunyai status dengan pria lain.


Lagi pula, Karina tengah datang bulan. Mana mungkin perempuan yang sedang datang bulan bisa hamil? Pikir Fin sebagai orang awam.


"Devin senang bisa naik kereta?" tanya Karina saat melihat binar di mata anaknya ketika kereta yang mereka naiki mulai melaju menuju Jogjakarta.


Devin mengangguk dengan senyum di wajahnya.


"Thank you, Mommy, Daddy!" acap tulus Devin pada kedua orang tuanya.


Karina sengaja mengajak Devin ke Jogjakarta. Selain ingin mengajak anaknya naik kereta yang baru pertama kali Devin naiki, alasan lainnya pun karena Karina tidak mungkin meninggalkan Devin hanya berdua dengan Bu Linda di rumah.


Apalagi sekarang Kiara tidak sedang di Indonesia, dan Devin tidak memiliki tempat lain untuk dia singgahi selain rumah Kiara dan Bi Vina. Fin pun tidak mempermasalah kan hal tersebut.


Devin berjalan menghampiri Bu Linda dan mengambil tas Dinosaurus miliknya yang selalu Devin bawa saat bepergian.


Devin kembali duduk di atas kursi tempat Devin duduk sebelumnya. Dia mulai mengeluarkan isi dari tas Dinosaurus nya tersebut. Sebuah buku tentang Tata Surya yang isinya cukup tebal. Apa yang Devin lakukan tidak lepas dari pengawasan mata, Karina.


Devin membuka lembar demi lembar kemudian menghentikan nya pada halaman bertanda. Dia mulai fokus memperhatikan setiap isi dari bacaannya.


Karina tersenyum hangat saat menyaksikan pemandangan yang tersaji di sampingnya. Ayah dan anak itu dengan kompak membaca buku favoritnya masing-masing.


Fin bertumpang kaki dengan tangan kiri yang tersimpan menahan dagu dan tangan kanannya memegang buku.


Hampir sama persis dengan sang Daddy, Devin pun membuat posisi yang sama saat membaca. Bedanya, Devin tidak memakai kaca mata baca seperti yang Fin pakai setiap kali dia membaca atau bekerja.


Karina mengeluarkan iPhone dari dalam tas jinjing mahalnya. Dia membuka aplikasi kamera dan mengarahkannya kepada dua orang lelaki yang saat ini tengah duduk disampingnya dan fokus pada bukunya masing-masing.


Cekrek... Cekrek...


Dengan kompak Devin dan Fin memalingkan wajahnya menatap Karina dengan tangan menutupi mata mereka yang terkena flash kamera.


"Mommy!" ucapnya kompak memprotes apa yang Karina lakukan.


Karina hanya tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya dengan tangan yang masih terangkat mengarahkan iPhone nya pada mereka berdua. Karina lupa mematikan flash kameranya.


Cekrek!


Karina kembali mengambil foto mereka berdua. Devin dan Fin memasang ekspresi yang sama persis saat Karina memberikan jepretan terakhirnya pada mereka berdua. Ekspresi datar cenderung kesal.

__ADS_1


"Ckk," decak Karina kesal.


"Ya ampun... kenapa kalian bisa satu tipe sih?" gumam Karina pelan sambil memalingkan wajahnya untuk menatap luar jendela. iPhone nya dia simpan kembali ke dalam tas jinjing branded miliknya.


Sementara itu, Fin dan Devin saat ini tengah asik dengan buku. Fin membawa Devin untuk duduk di atas pangkuannya.


Mereka mengabaikan kehadiran Karina dan mulai fokus pada buku yang tadi Devin baca. Fin mulai menjelaskan satu persatu isi dari buku Tata Surya tersebut.


Fin yang menyukai aroma kayu putih pada tubuh Devin terus mengendus bagian belakang pundak sang anak sambil terus bercerita.


Devin terkulai di atas pangkuan Fin. Dia ternyata sudah terlelap tidur, dan mulai memasuki alam mimpinya. Fin merubah posisi Devin menjadi terlentang dengan lengan Fin sebagai bantalnya.


"Daddy, tidurkan di tempat duduk Devin saja!" ucap Karina sambil mengambil buku dari tangan Fin dan memasukannya kembali ke dalam tas Dinosaurus nya.


"Tidak usah! Biar sama Daddy saja, Mom!" jawab Fin sambil sedikit menunduk untuk mengecup kening sang anak.


Karina yang melihat kasih sayang dari Fin untuk anaknya, tidak kuat menahan tangis haru nya.


Karina tidak pernah bermimpi bahwa anaknya akan di terima dengan begitu baik oleh pria yang menjadi ayah sambungnya.


Karina pamit pada Fin untuk pergi ke toilet dan bergegas masuk ke dalamnya agar sang suami tidak melihat tangis haru Karina.


Setelah sampai di dalam toilet, Karina menumpahkan semua tangisnya. Karina terisak mengingat segala kebaikan sang suami pada dia dan anaknya.


Karina sedang benar-benar sensitif akhir-akhir ini. Dia bahkan bisa menangis hanya gara-gara hal sepele.


Sebelum keluar dari dalam kamar mandi, Karina membenarkan riasannya terlebih dahulu dan bergabung bersama suaminya.


Karina duduk di sebelah kursi suaminya. Dia merangkul lengannya dan menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami.


Fin memalingkan wajahnya untuk mengecup puncak kepala dari istrinya. Fin memejamkan matanya dengan kepala yang menyandar pada kepala dari istrinya.


#########


Setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan, yaitu delapan jam perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta, Fin dan Karina akhirnya sampai di tempat tujuan.


Fin membawa istri dan anaknya untuk naik ke dalam mobil yang sudah standby sejak sore untuk menjemput mereka.


Mobil jemputan yang Renal siapkan langsung membawa mereka menuju hotel tempat mereka akan menginap malam ini.


"Baby, capek?" tanya Karina pada sang anak yang saat ini duduk bersamanya. Devin menggeleng sambil merangkul lengan sang Mommy, manja.


Fin yang duduk di samping kursi kemudi menengok kursi belakang tempat anak dan istrinya duduk. Fin tersenyum melihat kebahagiaan anak dan istrinya saat menginjakan kaki di kota pelajar ini.


Mobil terus melaju meninggalkan stasiun tempat mereka turun. Petang ini, suasana kota yang di lewati mobil mereka cukup ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang menikmati senja di kota yang terkenal dengan kuliner khasnya itu.


Setelah dua puluh lima menit mereka menghabiskan waktu di jalanan. Fin, Karina dan Devin sampai di hotel mewah dengan segala fasilitas eksklusif yang tentunya sudah Renal siapkan sebelumnya.


Sopir turun untuk membukakan pintu mobil Tuan nya, kemudian pergi menuju bagasi dan menurunkan koper yang akan langsung di bawa nya masuk ke dalam hotel.


Fin membawa Devin ke dalam pangkuannya, serta merangkul Karina untuk masuk bersamanya.


"Daddy, sebentar!" ucap Karina menghentikan langkah suaminya.


"Kenapa, Mom?" tanya Fin.

__ADS_1


"Mommy lupa memakai masker!" Karina menggeledah isi dalam tasnya untuk mencari masker yang akan di pakainya.


"Tidak perlu! Mommy tidak perlu memakai masker mulai sekarang!" tegas Fin.


Devin sendiri hanya menyandarkan kepalanya di atas bahu sang Daddy tanpa menginterupsi perdebatan orang tuanya.


"Ta... tapi, Dad!" sergah Karina.


"Ckk!" decak Fin menghentikan rengekan istrinya. Akhirnya Karina mengikuti Fin dan berjalan di samping Fin.


Fin merangkul bahu Karina, sementara tangan Karina sendiri melilit pada pinggang dari suaminya.


Orang-orang yang ada di lobi hotel mengalihkan perhatiannya pada Fin dan Karina yang baru datang. Orang-orang saling berbisik membicarakan Karina yang mereka yakini sebagai istri yang selama ini Fin sembunyikan.


Mereka semua bahkan memuji kecantikan Karina serta kemiripan Devin dengan Karina yang semakin menguatkan dugaan mereka kalau Karina istri dan Ibu dari anak Tuan Grahatama.


Fin menyerahkan Devin pada Bu Linda dan memintanya untuk menunggu. Selanjutnya, Fin berjalan menuju meja resepsionis bersama Karina di sampingnya. Fin meminta kunci kamar yang sudah di pesannya.


"E... El!" pekik Karina saat mendapati Ibu tirinya tengah check in di hotel yang sama dengannya.


Eliz melebarkan matanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Siapa dia?" tanya Karina kembali sambil menunjuk pria muda seumuran dengannya yang tengah merangkul mesra Eliz.


"Mana, Ayah?" tanya Karina tanpa menunggu jawaban sebelumnya. Karena tanpa di jawab pun, dia sudah mengerti dengan apa yang di lihatnya saat ini.


Eliz tertawa sumbang dengan bibir terangkat mengejek.


"Saya yang harusnya bertanya, Karina!" ucapnya arrogant.


"Sedang apa di hotel bersama suami orang?" lanjut Eliz menatap Fin dan Karina bergantian.


"Ka... " Karina sudah mengangkat tangannya, namun Fin mencegahnya.


"Mommy, duluan masuk ke kamar! Biar Daddy yang mengurus wanita ini!" ucapnya lembut sambil mengelus punggung tangan istrinya.


"Ta...tapi"


Fin menatap Karina dengan sebuah senyum yang meyakinkan agar menyerahkan urusan Eliz padanya. Karina menurut dan pergi meninggalkan sang suami dan Ibu tirinya.


"Mau saja sama perempuan murahan yang bahkan dia sendiri tidak tau pria mana Ayah dari anaknya itu!" ucap Eliz yang memancing murka Fin.


"Terlalu banyak pria yang memasuki..."


Fin mencengkeram rahang Eliz dan menekannya dengan kencang. Pria muda yang bersama Eliz mencoba membantunya namun Finbmenghentikannya.


"Kamu tau kan siapa saya?" tanya Fin dingin pada pria muda itu.


Pria muda selingkuhan Eliz pun mundur dan memilih diam setelah mendapat peringatan dari Fin.


Eliz berontak. Tangannya meronta mencoba melepaskan cengkraman tangan Fin dari rahangnya.


"Lebih baik anda bercermin sebelum mengeluarkan kata-kata menjijikan yang lebih pantas di ucapkan oleh istri saya kepada kamu!" Mata Fin menatap tajam dengan suara beratnya yang dingin.


"Issss... isss..." ucap Eliz tanpa bisa menyelesaikan kata yang akan di ucapkan nya karena rahangnya masih Fin cengkram.

__ADS_1


"Ya! Perempuan yang anda hina, yang anda rendahkan, dan yang anda siksa selama ini adalah istri dari tuan Fin Grahatama!" ucap Fin puas melihat ekspresi Eliz yang shock.


"Satu lagi, Devin Grahatama, adalah anak kandung dan pewaris dari kerajaan Grahatama Group!" bisik Fin sambil melepaskan cengkraman tangannya kemudian pergi begitu saja meninggalkan Eliz yang tengah terkulai lemas setelah mengetahui fakta mencengangkan tersebut.


__ADS_2