
Fin dan Devin yang baru masuk ke dalam angkringan, langsung bergabung bersama sang Mommy yang sudah lebih dulu menduduki tempatnya.
Orang-orang masih tampak antusias menatap keluarga kecil tersebut. Namun, dengan handphone yang sudah mereka kantongi, karena takut dengan bodyguard yang berjejer berjaga di luar.
"Katanya gak mau turun." ucap Karina menyindir suaminya.
"Ckk, terus ninggalin Mommy di sini sendirian?" tanya Fin sambil duduk di sebelah Karina dengan ragu. Bahkan Fin melapisi tempat duduknya, menggunakan sapu tangan berbahan sutra limited edition miliknya.
"Oh, God!" ucap Karina spontan saat melihat suaminya duduk di atas sapu tangan.
Devin sendiri duduk di atas kursi khusus miliknya, yang bodyguard bawa dari dalam bagasi mobil, Fin.
"Hhhuuusshh... " Karina hembuskan nafas lelahnya, menyaksikan kelakuan suaminya.
"Daddy mau makan?" tawar Karina.
Fin menggeleng ragu. Dia lapar, namun untuk makan di tempat seperti itu, rasanya cacing sultan yang ada di dalam perutnya tidak akan menerimanya.
"Ya sudah kalau tidak mau." ucap Karina tidak ingin memaksa.
Pesanan Karina datang. Sebuah bebek goreng, lengkap dengan sambal dan lalapan yang di susun di atas piring. Tidak lupa nasi hangat dan segelas teh hangat sebagai pelengkap dari makan malamnya.
Aroma bebek goreng yang khas menyeruak masuk ke dalam penciuman Fin. Perutnya yang memang minta untuk di isi semakin meronta-ronta, meminta untuk melahap, makan malam yang Fin anggap tidak layak itu.
Devin sendiri tengah makan dengan makanan yang sudah Karina siapkan sebelumnya dari rumah.
Untuk anaknya, Karina selalu membawa bekal sendiri. Kalaupun harus makan makanan dari luar, Karina selalu memastikan tempat dan menu yang di sajikan memang sesuai dengan standar yang Karina tetapkan.
Melihat istrinya makan dengan lahap membuat Fin penasaran, dengan rasa dari makanan kaki lima tersebut. Karina bahkan makan menggunakan tangannya. Makanan yang Karina makan tampak terlihat lezat di mata Fin.
Karina yang menyadari suaminya terus memperhatikan dia saat tengah makan, berinisiatif untuk menyuapi suaminya itu.
Karina mengambil sedikit nasi, beberapa suir bebek goreng, beberapa daun kemangi ditambahi sambal ijo yang Karina campur menjadi satu. Karina menyimpan nasi campur tersebut di atas daun selada kemudian menggulungnya dan menyuapkannya ke dalam mulut suaminya.
"Aaaa... "seru Karina meminta suaminya membuka mulut dengan lebar.
Fin menggeleng ragu. Apalagi melihat istrinya mencampur sambal yang cukup banyak.
"Daddy, aaaa... " perintah Karina kembali dengan mata melotot penuh intimidasi.
Fin yang takut dengan istrinya, membuka mulutnya dengan ragu. Devin yang duduk di sebelah Fin meringis, mengasihani Daddy nya yang ketakutan dengan ancaman sang Mommy.
"Buka mulutnya yang lebar, Daddy!" perintahnya kembali.
Beberapa orang terkikik menahan tawa mereka menyaksikan seorang Grahatama yang terintimidasi oleh istrinya. Kemana julukannya yang terkenal berdarah dingin dan terkenal dengan arrogant nya itu? Dia tampak seperti anak kucing yang lemah di hadapan istrinya.
__ADS_1
"Aaaa... " ucap Fin sambil memejamkan mata membayangkan rasa pedas dan rasa aneh yang mungkin akan dia dapatkan setelah menerima suapan dari istrinya itu.
Namun kekhawatiran Fin tidak terbukti. Matanya terbuka lebar dengan binar di kedua netra zamrud nya.
Kunyahan yang awalnya terlihat ragu, berubah menjadi kunyahan penuh kenikmatan. Karina menyunggingkan senyumnya.
"Enak kan?" tanya Karina pada suaminya.
"Mau?" tanyanya lagi menawarkan.
Fin mengangguk malu. Dia malu karena telah berburuk sangka pada makan malam di tempat yang istrinya pilih.
Karina memesan satu porsi bebek goreng untuk suaminya. Sambil menunggu pesanan suaminya datang, Karina menyuapi Fin menggunakan nasi bebek miliknya,
Tidak perlu menunggu lama, pesanan Fin datang dengan cepat. Fin tidak sabar melahap menu makan malam spesialnya. Spesial karena ini kali pertama Fin menyantap bebek goreng pinggir jalan.
Fin mengerutkan keningnya bingung harus memulai dari mana. Tangannya terangkat, namun masih diam di tempatnya. Dia bingung urutannya.
Karina tersenyum lucu melihat kebingungan suaminya. Karina menuntun tangan suaminya untuk dia masukan ke dalam air kobokan yang di simpan di dalam mangkuk kecil.
"Cuci tangan dulu," ucap Karina. Fin menurut. Dia memasukan tangannya ke dalam air kobokan. Kemudian, Karina keringkan menggunakan tisu toilet yang di simpan di atas meja lesehannya.
Fin melebarkan matanya melihat gulungan tisu toilet tersimpan di atas meja.
"Ckk... ini bersih Dad! Tidak usah berekspresi berlebihan seperti itu!" Karina memperingatkan suaminya.
"Ayo makan." ajak istrinya.
Fin mulai mencampur nasi dan bebek goreng, kemudian memasukan ke dalam mulutnya. Walaupun tampak berantakan karena belum terbiasa makan menggunakan tangan, Karina membiarkannya tanpa mencela apa yang suaminya lakukan.
Saat tengah asik memperhatikan suaminya makan, tiba-tiba telepon genggam milik Karina berdering di dalam tas yang tersimpan di atas meja.
Karina mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum mengangkat panggilannya. Karina raih handphone nya kemudian mengangkat panggilan Vidio dari Kiara sang adik ipar.
"Kiara," panggil Karina lembut.
Kiara tampak mengerutkan keningnya bingung, saat melihat sekeliling Karina.
"Kakak dimana?" tanyanya bingung.
"Aunty..." panggil Devin saat mendengar suara sang Tante.
"Kakak... Aunty kangen, Kakak!" serunya melupakan pertanyaan sebelumnya.
Karina menyerahkan telepon genggamnya kepada Devin. Wajah menggemaskan Devin memenuhi layar handphone milik Kiara.
__ADS_1
"Kakak, adik rindu, Kakak. Kakak ke sini kapan?" tanya Kiara pada Devin.
"Adik mana?" tanya Devin pada sang Tante.
Kiara mengambil Ara dari gendongan mertuanya, kemudian memperlihatkannya kepada Devin.
Devin tampak mengusap layar handphone milik ibunya.
"Miss you... " ucapnya sendu.
Karina tau, saat ini anaknya tengah menahan tangis. Devin sudah sangat merindukan Kiara dan Ara. Biasanya hampir setiap hari dia berkunjung ke rumah sang Tante.
Karina mengusap kepala Devin untuk menguatkan. Devin memberi sebuah senyuman ke arah sang Mommy.
"Aunty kapan pulang?" tanyanya penuh sendu.
"Masih lama, sayang. Abang ke sini ya. Ke Singapura." ajak Kiara pada keponakannya.
Mata Devin berbinar mendengar ajakan bibinya. Wajahnya berpaling menatap wajah sang Mommy untuk meminta persetujuannya.
"Boleh?" tanyanya pada sang Mommy.
Karina mengarahkan kepalanya pada sang suami yang tengah makan. Karina mengkode Devin untuk meminta izin pada Daddy nya.
Belum Devin meminta izin, Fin mengeluarkan suaranya.
"Tidak, Kiara. Abang tidak mengijinkan anak dan istri Abang kesana!" ucap Fin membuat Devin berkaca-kaca saat mendengarnya.
"Abanggggg..." pekik Kiara kesal dengan keputusan sepihak dari Kakaknya.
"Tunggu! Abang makan di tempat seperti itu?" pekik Kiara saat kamera yang mengarah pada sang Kakak, menangkap sekeliling dari tempat makan yang tengah di kunjungi Fin.
"Wahhh tidak bisa di percaya." lanjut Kiara sambil menggeleng pelan.
"Ckk... " decak Fin kesal mendengar ejekan dari adiknya.
"Abang, pokoknya Kakak Devin dan Kak Karina, aku jemput besok untuk ke Singapura." ucap Kiara kembali ke topik semula.
"Gak! Abang tidak mengijinkan mereka pergi!"
"Daddy!" pekik Karina dan Devin secara bersamaan.
Fin menatap anak dan istrinya dengan alis berkerut.
'Apa mereka tidak mengerti kekhawatiran, Daddy? Kalau Mommy dan Devin jauh dari Daddy, Daddy tidak bisa memantau kalian dengan maksimal. Kakek bisa melakukan apapun yang dia kehendaki.' lirih Fin dalam hati.
__ADS_1