
"Daddy... kenapa lama sih?" gerutu Karina yang masih menunggu kedatangan suaminya.
Hari sudah semakin malam. Keadaan di rumah sakit pun mulai sepi dengan sedikit aktivitas yang ada. Karina mengusap lehernya kemudian menggosokkan kedua tangannya untuk mentransfer hangat pada tubuhnya.
"Ih..., tau gini, Mommy tungguin sampai selesai di dalam!" gerutu Karina kembali. Dia kesal, suaminya tak kunjung datang. Padahal jarak dari kamar perawatan Karina menuju lobby tidak terlalu jauh.
Karina mengalihkan perhatiannya saat mendengar keributan di sampingnya. Beberapa perawat perempuan yang tengah berjaga malam saling berbisik, bercerita dengan antusias.
"Pantas di belakang ribut ternyata Tuan muda datang." ucap Karina kesal karena suaminya selalu menjadi pusat perhatian.
Para perawat muda di buat menganga, saat Fin datang dengan rambut yang masih terlihat basah. Dia berjalan memakai celana dengan panjang hanya sebatas paha atas. Celana pendek itu berhasil memamerkan paha berotot Fim yang putih dan mulus.
Penampilannya malam ini berhasil membius orang-orang yang berpapasan dengannya. Fin tampak seperti anak baru gede dengan kaos putih berlogo G dan sepasang sendal capit berharga selangit sebagai pelengkap penampilannya.
Seperti biasa, wajahnya datar dengan kedua tangan yang dia masukan ke dalam saku celana pendeknya. Dia tidak menghiraukan orang-orang yang menatapnya penuh kagum. Perhatiannya hanya terpusat pada sang istri yang tengah cemberut dengan mata yang mendelik tajam.
Ingin sekali Fin berlari, kemudian memberi kecupan di seluruh wajah sang istri, terutama bibirnya yang tengah berkerut menggemaskan. Namun, dia tengah menjaga imagenya di hadapan khalayak ramai.
"Ayo!" ajak Fin saat sampai di hadapan istrinya.
Karina bergeming. Dia masih diam di tempatnya dengan mata memindai tubuh suaminya dari atas ke bawah.
"Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Fin bingung.
"Daddy mandi lagi?" tanya Karina melihat rambut Fin yang masih basah.
"Ckk... yang buat Daddy mandi lagi siapa?" tanya Fin pada istrinya.
Karina mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan maksud suaminya.
"Sudahlah. Anak-anak tidak akan mengerti!" ucap Fin sambil meraih tangan istrinya. Dia sedikit menarik tangan Karina agar Karina beranjak dari tempatnya.
"Siapa yang Daddy sebut anak-anak, heh?" tanya Karina tidak terima.
"Ini lagi! Mommy tidak suka ya, Daddy pake celana sependek ini!" omelnya sambil menarik celana pendek, Fin.
"Mommy kenapa ngomel terus sih?" tanya Fin sambil mengecup sekilas bibir istrinya kemudian merangkul pundaknya dan membawa Karina keluar dari rumah sakit.
Beberapa suster yang tengah berkumpul di dekat meja, saling berbisik satu sama lain, membicarakan Fin dan Karina yang baru saja keluar dari rumah sakit tempat mereka bekerja.
"Bukannya istri Pak Fin, Queen si model dari Paris, itu?" tanya seorang perawat pada rekannya.
"Jangan ngarang kamu!" jawab perawat yang di tanya itu.
__ADS_1
"Ckk... nih, lihat!" jawabnya sambil memperlihatkan handphone miliknya. Di sana terpampang potret Fin yang tengah menggendong Queen saat pingsan. Selain itu, foto-foto saat berada di pemakaman pun banyak muncul dengan judul yang di buat semeyakinkan mungkin kalau Queen dan Fin sepasang suami istri.
"Sepertinya... perempuan barusan selingkuhannya Pak Fin. Aku yakin sih!" celetuk seorang perawat lain yang dari tadi sibuk memperhatikan Karina dan Fin.
"Memang, pelakor sekarang pada gak tau diri, ya! Berani bermesraan di hadapan publik. Cepat potret! Ketahuan bini aslinya, mati kamu!" perawat muda itu mengeluarkan handphonenya, kemudian memotret bagian belakang tubuh Fin dan Karina yang tengah berjalan keluar menuju tempat mobilnya terparkir.
Sementara itu, Karina dan Fin sudah berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Fin sendiri. Mereka akan pulang menuju kediaman mewah Fin sesuai keinginan Karina.
Namun sebelumnya, Karina meminta Fin untuk singgah terlebih dahulu di tempat martabak langganannya. Saat ini, dia sedang sangat menginginkan sebuah martabak asin.
"Dad, tadi banyak bodyguard Daddy di ruang IGD. Mommy kira, tubuh yang tertutup kain itu... jasad Daddy," ucap Karina pelan. Dia bahkan tidak ingin, ingatannya di tarik pada kejadian petang tadi saat dimana Karina mengira kalau suaminya telah meninggal dunia.
"Yang meninggal salah satu bodyguard bayangan Daddy. Dia ditugaskan untuk berjaga di bagian depan mobil Daddy." jelas Fin.
"Dia menghadang sebuah truk yang melaju ke arah Daddy dengan menabrakkan mobil yang di kendarainya." lanjut Fin menjelaskan kronologis kecelakaan yang di alami bodyguard nya.
Karina melebarkan matanya tidak percaya saat mendengar penjelasan dari suaminya. Kedua tangannya menyentuh dada, shock dengan apa yang terjadi.
"God!" ucap Karina. Matanya berkaca-kaca dengan perasaan yang bercampur aduk. Karina mengucap syukur beberapa kali dalam hatinya atas keselamatan suaminya. Namun, disisi lain Karina merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada bodyguard nya.
"Sekarang jasadnya dimana? Masih di rumah sakit ini?" tanya Karina dengan air mata yang tidak bisa Karina tahan lagi. Dia menangis begitu saja. Hatinya benar-benar rapuh. Karina sedang sensitif dengan segala hal.
Fin menengok, menatap istrinya. Tangannya terangkat mengusap kepala Karina kemudian mengusap air matanya.
"Mommy mau ke sana!" pinta Karina.
"Mom, ini sudah malam. Lagipula... pasti sudah di makamkan keluarganya." jawab Fin mencoba memberi pengertian pada istrinya.
"Mommy mau berterima kasih karena sudah menyelamatkan, Daddy. Apa Mommy jahat? Apa keluarganya akan sakit hati kalau Mommy berterima kasih atas kematian seseorang?" tanya Karina dengan tangis yang mulai pecah. Karina menangis cukup kencang membuat Fin menepikan kendaraannya.
"Suuuut... suuuut... suuuut..." ucap Fin mencoba menenangkan istrinya sambil menepuk pelan punggung Karina.
"Besok kita ke sana. Mommy jangan nangis lagi, Daddy yakin apa yang di lakukannya sudah menjadi pilihan dia sendiri." ucap Fin memberi pengertian pada istrinya.
'Mereka yang bekerja pada keluarga Grahatama, sudah tau resiko apa yang akan mereka hadapi. Mereka yang terpilih adalah orang-orang yang siap mati demi keselamatan seorang Grahatama. Termasuk Eca, yang saat ini menjaga Mommy dan Devin.' ucap Fin dalam hatinya.
Mana berani Fin mengungkapkan fakta sesungguhnya pada, Karina. Dia tau seberapa lembutnya hati sang istri. Karina akan lebih memilih tidak ada orang yang menjaganya dari pada harus mengorbankan nyawa orang lain untuk menjaga nyawanya.
"Mommy gak mau tau pokoknya besok pagi kita langsung ke sana!" Karina membuat keputusan sepihak nya. Dia mengusap air mata di kedua sudut matanya sambil mendorong dada Fin agar menjauh.
"Ayo, jalan. Mommy mau martabak!" ajak Karina meminta Fin untuk menjalankan kembali mobilnya.
"Mommy serius mau mar... mar...?" tanya Fin bingung menyebutkan makanan yang Karina maksud.
__ADS_1
"MARTABAK, Daddy!" kesal Karina.
"Ini sudah malam Mommy! Sekarang sudah jam sepuluh lewat, pasti sudah tutup." ucap Fin mencoba menjelaskan.
"Kita ke sana dulu. Mommy yakin masih buka!" ucap Karina meyakinkan.
"Apa restorannya masih jauh?" tanya Fin kembali.
"Restoran?" bingung Karina.
Fin mengangguk.
"Restoran yang menyajikan menu martabak. Perasaan... Daddy belum pernah mencoba menu itu deh!" Fin mencoba berpikir keras dengan menu yang istrinya inginkan.
"Ha... ha... ha..." tawa Karina pecah.
"Kenapa? Ada yang lucu?" tanya Fin bingung dengan istrinya yang tiba-tiba terbahak.
"Ya. Daddy lucu! Bahkan lebih lucu dari Devin." jawab Karina seenaknya.
"Terus saja jalan. Nanti kalau sudah dekat dengan restorannya, Mommy kasih tau Daddy." ucap Karina meminta Fin terus melajukan mobilnya.
"Restoran martabak!" ulang Karina sambil terkikik lucu.
"Kenapa sih?" kesal Fin yang merasa di tertawakan istrinya.
"Ya ampun Daddy... kenapa sensitif sekali sih?" tanya Karina pada suaminya.
"Gak salah?" Fin membalikan pertanyaannya.
Karina mendelik kesal sambil membuang mukanya ke arah samping jendela mobilnya.
"Mom, Devin akan ke Singapura besok." ucap Fin memberitahu.
"Hah? Siapa yang ke Singapura?" tanya Karina takut salah dengar.
"Devin." jawab Fin.
"Oke. Mommy ikut kalau gitu." jawab Karina dengan mata yang berbinar.
"Gak. Daddy gak ijinin, Mommy pergi kesana!" jawab Fin membuat Karina menatap suaminya itu dengan garang.
"Daddy!!!" pekik Karina kesal dan siap menumpahkan tangisnya kembali.
__ADS_1