
Alisnya berkerut bingung melihat perempuan yang pernah di temui nya beberapa waktu lalu itu ada di rumah sahabatnya.
Dan... siapa lagi dia? Kenapa anak itu memiliki mata yang sama dengan si pria dingin yang anti perempuan itu? Tanya seseorang tersebut dalam hati nya.
"Queen!" pekik Kiara kencang saat melihat Queen yang merupakan tetangganya saat kecil datang berkunjung ke kediamannya bahkan masih lengkap dengan koper di tangannya. Selain bertetangga mereka merupakan sahabat dekat sejak SMP.
Kiara menghampiri Queen sambil memeluk melepaskan kerinduannya. Kiara juga mengambil alih koper yang sedang di bawa tamunya tersebut.
"Ayo masuk!" ajak Kiara pada Queen.
"Maaf, sepertinya kedatangan aku timing nya tidak tepat," cicit Queen.
"Kata siapa?" tanya Kiara.
"Justru bagus. Kita hanya tinggal memanggil Kak Renal kesini agar lebih lengkap!" jelasnya pada Queen.
Karina mengambil Ara dari gendongan sang suami. Fin tersenyum sambil memindahkan Ara ke dalam pangkuan sang istri. Fin menghampiri Queen kemudian memeluknya.
"Kenapa tidak bilang sama Abang kalau kamu mau datang hari ini? Hem?" tanya Fin pada Queen.
Degh...
'Oh, God! Kenapa tiba-tiba jantungku terasa nyeri?' tanya Karina dalam hati yang secara tiba-tiba merasakan nyeri pada jantungnya dengan debaran yang meningkat saat melihat suaminya memeluk sahabat masa kecilnya dan berkata dengan sangat lembut padanya.
"Huwaaa..." Ara yang tengah berada dalam gendongan Karina menangis dengan sangat kencang. Mungkin Ara dapat merasakan apa yang Karina rasakan. Tiba-tiba perhatian orang-orang teralihkan pada sosok mungil bayi perempuan tersebut.
"Oh, hay. Kita bertemu lagi." Queen memeluk tubuh Karina sesaat sambil mencium pipi kanan dan kiri Karina. Kemudian Queen menatap bayi yang tengah di gendong Karina.
"Hai, little princess!" ucapnya lembut sambil mengusap pipi merah Ara. Ara masih menangis di atas gendongan Karina.
"Kalian pernah bertemu?" tanya Kiara bingung mendengar pernyataan Queen yang menyebutkan mereka bertemu kembali.
"Saat di Prancis minggu-minggu kemarin!" jawab Queen.
"Oh, saat Abang honeymoon?" tanya Kiara sambil bergantian menatap Karina dan Fin.
Karina hanya tersenyum sambil terus menenangkan Ara yang berada dalam gendongannya. Sementara Queen membulatkan matanya kaget mendengar sebuah fakta yang baru di ketahui nya.
"Honeymoon?" tanya Queen menatap Fin dan meminta penjelasan.
"Ayo masuk, Ara mungkin kedinginan!" ajak Fin tanpa menjawab pertanyaan Queen.
"Sepertinya dia haus," ucap Karina sambil menepuk pelan punggung Ara.
"Kakak, bisa tolong ambilkan dot adik di atas stroller?" pinta sang Mommy pada Devin.
Devin tersenyum manis pada sang Mommy kemudian mengambil dot dan memberikannya pada Karina.
"Terima kasih!" tulus Karina pada sang anak yang di balas senyuman oleh anaknya.
__ADS_1
Benar saja Ara langsung berhenti menangis saat mendapatkan susunya.
"Bu Linda, bisa tolong bawa Ara masuk ke dalam?" pinta Karina pada pengasuh anaknya yang baru datang dari arah dalam rumah.
"Aku lupa baru pulang kerja. Pakaian ku masih sangat kotor untuk menggendong seorang bayi." jelasnya pada Kiara dan Bu Linda.
Fin tersenyum merasa apa yang istrinya katakan itu benar. Dia tidak mengetahui tentang hal tersebut sehingga dengan refleks langsung membawa sang keponakan ke dalam gendongan nya. Sementara itu, perhatian Queen teralihkan pada bocah laki-laki pemilik mata hijau yang sama dengan mata sang sahabat.
"Hay, siapa kamu?" Queen menjongkokan tubuh jangkungnya demi mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Devin.
"Depin!" ucapnya tegas namun dengan pelafalan yang tidak sempurna. Wajahnya dingin dengan mata yang menatap tajam Queen.
"Devin," ralat sang Mommy membenarkan pelafalan yang Devin ucapkan sambil mengelus rambut halusnya.
Devin memberikan senyum tulusnya pada sang Mommy kemudian kembali menatap tajam ke arah Queen dan sang Daddy.
"Mommy, aku macuk dalam!" izinnya pada Karina yang di balas anggukan olehnya.
"Ayo kita masuk juga Queen, Kak Karina!" ajak Kiara mengajak mereka semua untuk masuk.
Fin berjalan di sebelah Karina sambil merangkul pundaknya. Segala bentuk perlakuan Fin tidak lepas dari pandangan Queen.
"Abang, dia benar-benar persis seperti Abang!" ucap Queen yang juga berjalan di samping Karina dan Kiara. Mereka baru melewati gerbang pintu utama yang besarnya enam tubuh manusia dewasa saat berjejer kalau kedua pintunya terbuka.
"Bisa-bisanya Abang nggak kasih tau aku kalau Abang sudah menikah dan mempunyai seorang anak yang menggemaskan seperti dia. Padahal tahun lalu aku juga pu..."
"Devin anak saya!" cicit Karina memotong.
"Jangan sekali-kali kamu bilang kalau dia anak kamu. Dia anak kita! Dia anakku!" Fin menatap tajam Karina dengan suaranya yang dingin dan serak.
"Maaf!" desis Karina menahan sakit. Sifat tempramental sang suami sepertinya tidak dapat di ubah. Sifat itu kadang datang dengan tiba-tiba.
Kiara menjadi salah tingkah. Dia tertawa sumbang demi mencairkan suasana yang mulai memanas. Queen sendiri sibuk dengan pikirannya tanpa menghiraukan Kiara.
'Jadi, Abang menikah dengan seorang janda beranak satu?' batin Queen heran dengan Fin. Soalnya, Fin yang ada di hadapannya saat ini sangat bertolak belakang dengan Fin yang di kenalnya dulu.
"Queen! Ayo masuk!" ajak Kiara pada Queen yang malah mematung di ambang pintu. Queen mengerjap kemudian kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah Kiara.
Mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Devin sedang duduk di atas karpet depan televisi sambil membuka buku yang di belinya dari Australia. Ara sendiri sedang di baringkan diatas bouncer dengan dot di atas mulutnya.
Karina dan Fin duduk di atas sofa. Begitu juga dengan Queen dan Kiara, mereka duduk di sebrang sofa yang Fin dan istrinya duduki.
"Kamu di Indonesia lama?" tanya Kiara membuka percakapan.
"Ibu sakit. Sepertinya, aku di Indonesia sampai Ibu sembuh!" jawab Queen. Terlihat gurat khawatir pada wajah cantiknya.
"Tante sakit apa?" tanya Kiara pada sahabatnya.
"Sejak Ayah meninggal, Ibu jadi sering sakit-sakitan. Kemarin, Bibi yang rawat bilang kalau gula darah Ibu tinggi." jawabnya kembali.
__ADS_1
Kiara mengusap panggung Queen. Sementara Karina tersenyum mencoba menguatkan Queen dari jauh.
"Kiara, malam ini aku menginap di rumah kamu ya?" izin Queen pada sahabatnya. Untuk sampai ke rumah Ibunya masih membutuhkan dua setengah jam lagi. Queen terlalu lelah jika langsung pulang ke rumah sang Ibu.
"Biar nanti Bibi siapkan kamar untuk kamu." Jawab Kiara.
"Dad, Mommy ke dapur dulu!" izinnya pada sang suami sambil mengusap tangan Fin yang tengah menggenggam tangan miliknya.
"Mau apa?" tanya Fin pada sang istri.
"Mommy siapkan dulu makan malam untuk kita semua," jelasnya.
"Sudah ada maid yang menyiapkan semuanya, Mommy!" jawab Fin.
"Tidak apa-apa hanya mengecek dan menyiapkan saja." balas sang istri kemudian bergerak pergi dari ruang keluarga menuju dapur rumah Kiara.
Devin masih anteng dengan buku-bukunya. Sesekali dia melirik Fin yang tengah berbincang dengan Queen dan Kiara. Fin yang melihat Devin memperhatikan nya menarik sudut bibirnya membentuk sebuah garis senyum.
"Baby, sudah mandi?" tanyanya pada sang anak.
"No, Baby!" sergah Devin. Fin menaikan sebelah alisnya saat mendengar jawaban sang anak.
"Oke! Mau Daddy panggil apa?" tanya Fin kembali.
"Kakak!" jawab Devin singkat. Wajahnya masih dingin saat menatap Fin.
Fin mengangguk menyetujui permintaan sang anak.
"Daddy ke dapur dulu," izinnya pada sang anak.
Devin tersenyum cerah sambil menatap mata sang Daddy. Wajah dingin dan tatapan tajamnya hilang dalam sekejap saat tau kalau sang Daddy akan menyusul sang Mommy ke dapur.
Fin berlalu pergi menuju dapur, menyusul sang istri. Sementara Devin pergi ke kamar Ara untuk Bu Linda mandikan.
"Bukannya tadi Mommy bilang hanya menyiapkan saja?" tanya Fin tiba-tiba datang dari belakang tubuh sang istri sambil memeluk dan mengecup lehernya.
"Hanya membuat pencuci mulut tidak repot juga kok!" jawab Karina.
"Daddy ke lantai atas. Ada beberapa pekerjaan yang harus Daddy selesaikan." Karina menggeleng pelan. Suaminya si gila kerja di manapun dia berada.
"Oke," jawabnya singkat. Karina melanjutkan mengolah bahan untuk dia jadikan menu pencuci mulut.
Setelah segala urusannya selesai, Karina kembali ke ruang tengah untuk bergabung kembali bersama adik ipar dan sahabat suaminya itu.
Saat Karina hampir mencapai ruangan tersebut dia menghentikan langkahnya tersebut saat dengan jelas mendengar percakapan antara Kiara dan Queen.
Karina mematung setelah menyembunyikan tubuhnya di balik guci besar. Dia memegang dadanya sambil terus mendengarkan obrolan antara Kiara dan Queen. Dari semua percakapan mereka yang sangat masuk ke dalam memorinya adalah perkataan dari Queen.
"Bukannya Abang mempunyai seorang wanita yang sangat di cintainya sejak tiga tahun lalu?" tanya Queen.
__ADS_1
"Bahkan dia tidak pernah membuka hatinya untuk wanita lain. Aneh nggak sih? Kok Abang mau menikahi wanita yang bahkan telah memiliki seorang anak?" tanyanya kembali.
Kiara sendiri hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari Queen.