
Setelah mendengar teriakan adiknya, Fin sadar apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia mendorong Queen hingga terjerembab ke bawah lantai.
Kiara maju kemudian menampar Fin dengan segala kekuatannya.
"GILA!! " teriak Kiara melampiaskan kekecewaannya.
Mata Kiara berkilat tajam menatap Queen penuh benci. Dia setengah berjongkok kemudian langsung menarik rambut Queen dan menyeretnya keluar dari kamar sang Kakak.
"Kurang ajar!!! Wanita kurang ajar!!! Tidak tau terima kasih!!! Tidak tahu malu!!!" teriak Kiara penuh nafsu. Queen berteriak kesakitan dengan apa yang sudah Kiara lakukan.
"Kiara, sakit!" teriak Queen dengan tubuh terseret keluar. Kedua tangannya meronta mencoba melepaskan tangan Kiara dari atas kepalanya.
"Sakit??? Sakit kamu bilang, heh???" tanya Kiara dengan senyum liciknya yang menakutkan.
Jangan salah, dari zaman sekolah Kiara memang terkenal bar-bar. Dia sering membuat ulah dengan Kakak kelasnya. Namun keluarganya tidak ada yang mengetahui sifat asli Kiara. Dia akan menjadi Kiara yang anggun saat berada di rumah dan Renal lah yang akan membereskan segala kekacauan yang sudah di buatnya.
Kiara semakin mengeratkan cengkeramannya saat teriakan Queen terdengar semakin kencang. Dia meraih dagu Queen kemudian meremasnya dengan kuat.
"Bisa diam gak? Keponakan ku lagi tidur. Shhhuuutttt..." wajah Kiara benar-benar menakutkan. Dia terlihat seperti seorang psikopat. Dia marah dan tertawa di saat bersamaan.
Kiara terus membawa Queen turun menuju lantai bawah. Tubuh Queen terus Kiara seret dengan tangan yang terus menjambak rambut Queen. Rencananya Kiara akan membawa Queen menjauh dari rumah Kakaknya kemudian menurunkannya di pinggir jalan yang sepi dan jauh dari pemukiman orang-orang.
Sementara itu, di dalam kamar suasananya tidak kalah mencekam. Karina masih mematung dan tidak memberikan respon apapun pada apa yang sudah di lihatnya. Sangat berbanding terbalik dengan tadi saat Fin dengan tidak berperasaan menghancurkan dua cake yang Karina buat dengan susah payah.
"Mom... ini tidak seperti yang Mommy..."
Karina mengangkat tangannya ke udara meminta Fin untuk diam.
"Stop! Mommy tidak membutuhkan penjelasan apapun lagi!" ucap Karina dingin. Dia tidak menangis, tidak juga berteriak sambil marah-marah.
"Mom...!!!" teriak Fin frustasi. Dia bingung harus mulai dari mana untuk menjelaskan segalanya.
__ADS_1
"Cukup!" pinta Karina kembali. Nadanya masih tenang. Karina tersenyum kemudian menatap suaminya.
"Terima kasih untuk setengah tahun terakhir ini. Maaf, Mommy belum bisa menjadi seorang istri yang baik untuk, Daddy," ucapnya penuh kelembutan. Panggilan Mommy dan Daddy pun, masih dia sematkan.
"Sesuai janji, Mommy tidak akan menyalahkan siapapun dengan apa yang baru saja terjadi. Karma. Ya, sepertinya ini karma atas perbuatan Papi di masa lalu," ucap Karina sambil tersenyum sumbang.
"Mom, please!" Fin tidak suka dengan apa yang istrinya ucapkan.
"Itu tidak seperti yang Mommy lihat," kekeuh Fin. Dia memeluk Karina dari belakang.
Karina menarik nafas panjang kemudian memejamkan matanya untuk sesaat.
"Sudahlah. Mari kita makan malam. Mommy sudah susah payah menyiapkan segalanya," ajak Karina pada suaminya. Karina melepaskan tangan Fin yang melilit pada perutnya.
Makan malam? Saat situasinya seperti ini, Karina masih mementingkan makan malam? Fin tidak habis pikir dengan istrinya. Dia benar-benar tidak dapat menebak isi hati dari istrinya.
Karina pergi begitu saja meninggalkan kamar yang seharusnya hanya menjadi tempat bercumbu dia dan suaminya saja. Namun, seseorang telah masuk dan mengambil alih tempat dan segala kebahagiaannya.
Fin mengacak rambutnya frustasi.
"Apa Daddy tidak berharga di mata Mommy? Kenapa Mommy setenang itu?" teriaknya semakin menjadi.
Diamnya sang istri membuat Fin takut. Dia takut istrinya melakukan hal yang tidak bisa Fin prediksi. Fin menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menerawang jauh ke atas langit-langit kamar nya.
"Apa ini kutukan? Kenapa selalu tepat saat ulang tahun ku?" tanya Fin pada dirinya sendiri.
Setelah melamun cukup lama, Fin bangkit kemudian pergi menuju lantai bawah rumahnya. Dia ingin melihat apa yang akan istrinya lakukan. Apa saat ini istrinya itu tengah menangis? tebak Fin.
Tebakan Fin salah. Karina tidak bersedih sama sekali. Dia bahkan tersenyum saat melihat kedatangan Fin. Dalam sesaat, dada Fin merasakan sakit. Kalau Karina mencintainya, mana mungkin dia akan setenang itu, kan? tanya Fin pada dirinya sendiri.
"Fin, ternyata dia tidak mencintai kamu sama sekali," gumam Fin pelan.
__ADS_1
Karina mempersilahkan suaminya untuk menduduki tempatnya.
"Jangan khawatir properti pesta sudah Mommy bereskan," ucap Karina tiba-tiba.
"Maaf Mommy tidak tahu tentang masa lalu Daddy," lanjut Karina meminta maaf sambil mengisi piring Fin dengan menu makan malam. Menu yang sangat mewah untuk sekedar makan malam.
Fin menatap ruang tengah dengan perasaan bersalah. Tidak ada properti pesta seperti tadi saat dia baru pulang. Ruangan itu sedang di bersihkan oleh seorang maid yang tadi membantu Karina menyiapkan pesta.
Hati Fin sakit saat ingatannya dia tarik kembali pada kejadian petang tadi. Wajah Devin yang ketakutan terus berkelebat memenuhi pikirannya.
Fin terus melamun tanpa mempedulikan makan malamnya.
"Dad, makan," perintah Karina. Dia bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.
Fin mulai makan namun hanya beberapa suapan saja. Dia langsung pergi kembali menuju lantai dua rumahnya.
Fin berhenti tepat di depan pintu bertuliskan Devin. Ya, dia tengah menemui Devin untuk meminta maaf. Wajah Devin terus berkelebat di pikirannya. Rasa bersalah terus menghantui Fin.
Fin membuka pintu kamar anaknya. Tampak Bu Linda tengah menyelimuti tubuh Devin yang baru saja terlelap.
"Tuan..." sapa Bu Linda.
"Bisa tinggalkan kami berdua?" pinta Fin pada Bu Linda.
"Baik, Tuan," jawabnya sambil pamit keluar.
Fin mendekat menghampiri tubuh mungil sang anak yang tengah tertidur dengan memeluk bantal berbentuk roketnya. Matanya masih terlihat sembab. Rasa bersalah kembali menghampiri Fin.
Bagaimana bisa dia begitu tidak terkontrol? Dia bahkan melampiaskan amarahnya di depan sang anak. Wajah ceria Devin saat mengucapkan 'surprise' begitu membayangi Fin. Begitu juga saat wajah mungil anaknya itu dalam seketika berubah kecewa.
Fin meraih tangan mungil anaknya kemudian mengecup punggung tangannya beberapa kali.
__ADS_1
"Maafkan, Daddy. Daddy benar-benar menyesal," bisiknya tepat di telinga Devin.
Namun, apa yang Fin lakukan percuma. Sang anak sudah terlelap dan tidak mendengar penyesalan Daddy nya. Apa yang Fin lakukan hari ini akan di sesali seumur hidupnya.