
Saat ini Karina tengah di periksa oleh Dokter. Semua berkumpul menunggu hasil pemeriksaan. Kiara memeluk Kakek Bram dengan haru. Sementara Devin tengah anteng di atas pangkuan Renal.
"Kek, ingatan Kak Karina sudah kembali," ucap Kiara dengan antusias.
Bram mengangguk.
"Ya, Kiara. Kamu sudah mengatakan itu beberapa kali," jawab Kakek Bram.
"Aku terlalu excited jadi aku lupa kalau sudah beberapa kali memberitahukan Kakek tentang ingatan Kak Karina yang sudah kembali," cicit Kiara pelan.
"Ckk... ckk...." decak Renal sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai memeriksa kondisi Karina beberapa Dokter itu pun berjalan menghampiri Kakek Bram untuk menyampaikan secara langsung kondisi Karina yang sudah bangun dari koma nya.
"Bagaimana kondisi cucu saya, Dok?" tanya Kakek Bram.
"Perkembangan dari Bu Karina sangat baik. Semua di luar prediksi kami sebagai Dokter. Semangat juangnya berpengaruh besar terhadap masa koma yang terbilang pendek di banding pasien lain yang memiliki kasus yang sama dengan beliau. Padahal kecelakaan yang di alami Bu Karina cukup parah. Kalau kondisinya terus membaik dalam beberapa hari ke depan, Bu Karina bisa pulang," jelas Dokter.
"Syukurlah!" ucap semuanya penuh syukur.
__ADS_1
"Bu Karina terus bertanya tentang anaknya. Silahkan, dia sudah menunggu di dalam," Dokter mempersilahkan anggota keluarga untuk masuk menemani Karina di dalam kamar perawatan.
"Terima kasih, Dok" tulus Bram.
"Kakak mau bertemu dengan Mommy?" tanya Kiara pada keponakannya itu. Devin menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia meminta turun dari atas gendongan Renal.
"Sama Kakek buyut ya," terang Kiara. Devin mengangguk kembali.
Kakek Bram dan Devin akhirnya masuk ke dalam kamar perawatan Karina. Tampak Karina masih memejamkan matanya. Namun, air mata dari kedua sudut matanya terus mengalir.
"Mommy..." panggil Devin pelan. Dia berjalan dan berdiri tepat di samping Mommy nya. Sementara itu, Kakek Bram mengekor di belakang Devin.
Dia segera menghapus air mata dan air di sekitar hidungnya menggunakan punggung tangannya yang tidak terpasang infus.
"Baby" lirih Karina pelan. Dari matanya tertulis beribu rindu pada anaknya tersebut. Karina merentangkan kedua tangannya agar Devin masuk ke dalam pelukannya
Tanpa menunggu lama, Devin langsung memeluk Mommy nya dan melabuhkan beberapa ciuman.
"Syukurlah kamu selamat, Nak. Mommy takut. Mommy benar-benar takut..." tangis Karina mulai pecah.
__ADS_1
"Mommy jangan nangis," celoteh Devin sambil mengusap air mata Karina menggunakan kedua tangan mungilnya. Karina berusaha tersenyum di sela-sela tangis haru nya.
Selama pemeriksaan oleh Dokter, Karina gelisah memikirkan nasib Devin. Dia takut anaknya ikut jadi korban dan terluka lebih parah dari padanya. Ingatan Karina masih bingung efek dari koma yang di alaminya. Dia lupa padahal saat pertama kali sadar yang dia lihat adalah wajah anaknya.
Karina memeriksa mencari luka di tubuh sang anak. Namun, ajaibaya tidak ada sedikitpun luka ataupun lecet di tubuh Devin. Eca melindungi Devin dengan sangat baik. Eca mendekap tubuh mungil Devin dengan segala kekuatannya.
"Syukurlah, Nak...." ucap Karina penuh kelegaan saat mendapati anaknya dalam keadaan sehat.
"Kakek..." panggil Karina dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Jangan banyak bergerak dulu, Nak. Kondisi kamu masih lemah," Kakek mendekat sambil mengusap puncak kepala Karina.
"Enelgi Mommy sudah full?" tanya Devin tiba-tiba.
Karina menatap Devin dengan wajah bingung.
"Energi?" tanya Karina.
"Ya Aunty bilang, Mommy sedang di chalge sepelti handphone," jawab Devin membuat Karina tersenyum geli.
__ADS_1