Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Semakin murka.


__ADS_3

Fin meremas pena yang tengah di genggamnya itu secara kuat. Dia panas ketika mendengar bahwa Alziko akan menyatakan perasaannya pada Karina. Dia tidak rela cinta pertamanya di miliki orang lain.


Brak... Fin kemudian menggebrak meja sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Jangan mimpi kamu, kurang ajar!" ucap Fin masih dengan amarah di wajah merahnya.


"Sore ini, ya?" tanyanya pada diri sendiri. Fin tersenyum penuh misterius.


"Jangan harap dia akan datang!!" Bibir sebelah kirinya tersungging tipis menampakkan sisi lain dari diri Fin yang penuh kelicikan.


Fin meraih telepon genggamnya. Dia cari nama seseorang untuk selanjutnya dia hubungi.


"Mommy, ke kantor sekarang!!" perintah Fin tiba-tiba saat Karina mengangkat panggilannya.


Di dalam kamar mandinya Karina tengah menggerutu, menghujat Fin yang dengan seenaknya mematikan panggilan setelah memerintahkannya untuk datang dengan cepat.


Karina mendengus kesal sambil meletakan telepon genggam yang tengah di pegang nya secara kasar.


"Kebiasaan!! Memangnya kamu siapa memerintah dengan seenaknya?!" tanya Karina pada dirinya sendiri.


"Baby, lihatlah kelakuan Bapak kamu!" kesal Karina sambil mengelus perut buncitnya.


Usia kehamilan Karina memasuki bulan ke tujuh. Namun, sampai sekarang hanya perut Karina yang terlihat membesar, tidak dengan tubuhnya. Sudah bisa di pastikan saat melahirkan nanti berat badan Karina akan kembali pada berat badan idealnya saat sebelum dia hamil. Badan impian ibu-ibu di dunia.


Karina keluar dari dalam bathtub sambil mematikan lilin aroma terapi yang sengaja Karina nyalakan sebelum dia mandi. Saat Fin menghubunginya, Karina tengah berendam di dalam bathtub sebagai bentuk dari me time nya. Namun, kesenangan yang baru di nikmati selama sepuluh menit itu harus Karina kesampingkan. Panggilan dari Tuan muda Grahatama tidak bisa Karina abaikan begitu saja.


Karina berdiri di depan lemari sambil memperhatikan satu persatu pakaian yang ada di sana.


"Apa langsung pakai baju itu saja ya?" gumam Karina pelan sambil menatap sebuah dress hitam yang tergantung di luar lemari. Dress tersebut Karina persiapkan untuk pergi saat sore nanti.


"Ya. Lebih baik langsung ganti baju saja. Belum tentu juga di sana hanya sebentar." gumam Karina seorang diri.


Dia raih dress hitam seksi itu kemudian langsung memakainya dengan cepat. Karina bergegas keluar dari dalam walk in closet dan duduk di depan cermin yang ada di dalam kamarnya. Karina merias wajahnya dengan riasan yang tipis namun elegan. Hanya bibirnya saja yang Karina buat merona selebihnya natural.


"Neng, di depan ada orang suruhan Den Fin," lapor Bi Surti di balik pintu kamar Karina yang terbuka.


"Heh?" bingung Karina.


"Mau apa?" tanya Karina kembali.


"Katanya di suruh Aden buat jemput Neng Karina," jawab Bi Surti.


"Hih, anak itu!! Kan bisa sama Pak Deni. Kenapa nyuruh orang buat jemput sih?" tanya Karina kesal.


"Udah Neng nurut saja. Tau sendiri kan sifat Tuan muda bagaimana?" hibur Bi Surti. Ya sifat yang dari dulu tidak berubah.


Karina menghela nafasnya lelah. Dia bergegas pergi dan mulai berangkat bersama sopir yang Fin tugaskan.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di kantor mantan suaminya. Kantor itu masih sama sejak terakhir kali Karina menginjakan kakinya di sana.

__ADS_1


Seperti biasa, Karina selalu menjadi pusat perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Mata para karyawan melotot tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Karina berjalan dengan anggunnya melewati sorotan mata para karyawan. Dress ketat yang membungkus tubuh indah Karina menjadi perbincangan hangat para pegawai Grahatama Group.


Siang ini, Karina mengunakan gaun hitam dengan model body con yang membuat perut Karina lebih terekspose. Dress ketat itu juga menonjolkan bentuk tubuh langsing Karina di tengah kehamilannya. Dress dengan model off shoulder membuat tampilan Karina terlihat lebih seksi dengan leher dan tulang selangka yang terekspose.


Di lantai paling atas tempat kantor CEO berada, Fin menunggu kedatangan Karina dengan cemas. Dia beberapa kali mengecek handphone nya dengan sesekali menggigit kuku untuk menyalurkan kegugupannya.


"Masuk!" jawab Fin saat pintu ruangannya di ketuk dari luar.


"Ini pesanan Bapak!" Vera menyerahkan teh hangat pesanan Fin.


"Apa Karina sudah datang?" tanya Fin pada sekertaris nya itu.


"Melihat kehebohan di lantai bawah sepertinya Bu Karina sudah ada di sana" jawabnya membuat Fin mengerutkan keningnya bingung mendengar jawaban dari Vera.


"Heboh? Maksud kamu?" tanya Fin kembali.


Vera maju dan berhenti tepat di hadapan Fin sambil menyerahkan telepon genggam miliknya.


"Itu, grup karyawan kantor ini," terangnya.


"Apa hubungannya dengan saya?" tanya Fin tidak mengerti.


"Sepertinya, perempuan yang menggunakan dress hitam itu, Ibu." jawab Vera sambil nge zoom gambar yang di kirim salah satu karyawan ke grup kantor.


Fin mulai memperhatikan gambar yang ditunjukan Vera.


"Tolong, jas saya!!" perintah Fin sambil menunjuk jas yang tergantung di sudut ruangan.


Vera bergegas mengambilkan jas yang di minta bos nya. Dia sudah pasrah dengan handphone yang Fin banting. Membeli handphone baru bukan hal yang sulit untuk karyawan Grahatama Group.


Fin keluar dari ruangannya begitu saja meninggalkan Vera yang masih mematung di dalam sana.


"Kenapa Pak Fin terlihat marah?" tanya Vera bingung. Namun Vera tidak mau ambil pusing, dia keluar dari ruangan Fin dan kembali ke mejanya.


Sementara itu, di lantai bawah Karina masih asik bercengkrama dengan ketiga sahabatnya yang tidak sengaja bertemu saat ketiga sahabatnya itu akan keluar untuk makan siang.


Karina tidak menyadari kedatangan Fin. Dia terus berbagi cerita seputar kehamilannya. Sampai akhirnya, Nisa menyadari kehadiran Fin yang berjalan semakin mendekat dengan raut wajah yang menakutkan.


"Maaf ya, kita harus buru-buru pergi!" ucap Nisa tiba-tiba sambil menarik tangan kedua sahabatnya.


"Apaan sih! Kita masih kangen tau" sela Rina sambil mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan Nisa.


Nisa memelototi Rina dan Mila sambil memberi kode dengan dagunya ke arah Fin datang. Tanpa menunggu lama keduanya pun paham apa yang Nisa maksud dan langsung pergi meninggalkan Karina dengan kebingungannya.


"Orang-orang kenapa sih?" kesal Karina sambil menatap kepergian ketiga sahabatnya.


"Semua yang ada di sini aneh termasuk mereka bertiga!!" ucap Karina masih dengan gerutuannya.

__ADS_1


Pluk... tiba-tiba Karina merasakan sesuatu menutupi bagian atas dari tubuhnya.


"Kamu yang kenapa! Kenapa berpenampilan seperti ini??" bisik Fin tepat di telinga Karina. Bibir Fin menyentuh telinga Karina seakan tengah menggodanya Karina memejamkan mata saat embusan nafas Fin menerpa telinga dan lehernya. Bahkan, bulu-bulu tanganya dibuat berdiri sebagai respon dari imajinasi nya.


Setelah meraih kewarasannya kembali, Karina berbalik sambil melihat apa yang membalut tubuh bagian atasnya.


"Kak Fin!" panggil Karina sedikit memekik.


"Kenapa berpenampilan terbuka seperti ini, heh?" tanya Fin sambil meraih tangan Karina dan membawanya masuk ke dalam lift.


Karina melihat amarah di mata mantan suaminya itu.


"Kenapa Kak Fin minta aku datang?" tanya Karina mengalihkan pertanyaan Fin.


Fin menatap Karina dengan sudut matanya yang tajam. Fin bungkam. Dia tidak menjawab. Bukan itu yang Fin butuhkan. Karina yang paham dengan delikan tajam mantan suaminya lantas bergegas menjawab pertanyaan awal Fin.


"Nanti aku ada acara jadi aku memakai gaun yang sudah di cocokkan dengan acara nanti sore ini" cicit Karina sambil memainkan kuku-kuku tangannya.


Fin semakin murka mendengar jawaban Karina. Dia teringat dengan apa yang Renal katakan tentang Alziko yang mengajak Karina bertemu saat sore nanti.


"Dengan pakaian seterbuka ini?!" marah Fin masih dengan kekesalannya yang memuncak.


"Terbuka di bagian mana??" jawab Karina mulai kesal.


"Di bagian mana kamu bilang?!" tanya Fin tidak percaya.


"Wow!! Sulit dipercaya!!" cetusnya dengan senyum misterius dari wajahnya.


Melihat senyum Fin yang Karina anggap tengah meremehkannya membuat Karina naik pitam. Dia melipat kedua tangannya di atas pinggang membuat jas yang menutupi bahunya jatuh begitu saja.


Karina mundur beberapa langkah dari Fin. Sebelum menyampaikan pendapatnya Karina menarik nafas terlebih dahulu.


"Mau penampilanku terbuka, mau penampilanku tertutup, memangnya apa peduli mu?!" tanya Karina sedikit berteriak. Panggilannya berubah menjadi panggilan formal.


"Kita tidak sedang dalam hubungan suami istri. Kita hanya Ibu dan Ayah bagi Devin dan anak ini!" tunjuk Karina pada perutnya yang buncit.


"Siapa bilang kita tidak dalam hubungan?" tanya Fin.


"Status kita berpacaran! Aku pacar kamu! " jelas Fin dengan entengnya.


Karina memejamkan matanya sesaat sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tunggu... tunggu!! Sejak kapan kita berpa..."


"Sejak hari ini! Jam ini! Di tempat ini!" jawab Fin dengan cepat.


"Aku cinta kamu! Maukah kamu menjadi pacarku?" lanjutnya dengan kaku.


Karina melebarkan matanya tidak percaya.

__ADS_1


"Gila" celetuk Karina dengan wajah depresinya.


__ADS_2