
Kedua tangan Fin yang sudah tersimpan di atas setir dan kakinya yang sudah siap menginjak gas, dia urungkan niatnya tersebut saat telinga Fin menangkap suara bergetar dari istrinya.
Fin menyerongkan badannya, kemudian menatap Karina yang tengah menutup wajah menggunakan kedua tangannya.
Selanjutnya dia memaling menatap Devin yang duduk di bangku belakang. Fin memajukan wajahnya seolah bertanya apa yang terjadi? menggunakan kode pada anaknya tersebut.
Seolah paham dengan apa yang Daddy nya maksud dan apa yang di tanyakan padanya, Devin menjawab dengan mengedikkan kedua bahunya serta tangan yang dia tengadahkan ke atas.
Dengan kondisi yang masih kebingungan akhirnya Fin memberanikan diri untuk bertanya kepada Karina secara langsung.
"Mommy, kenapa?" tanyanya polos.
Karina menarik nafas panjang kemudian menghembuskan nya dengan kencang. Karina simpan kedua tangannya di atas paha. Secara perlahan Karina menggeser tempat duduknya dan menyerong agar dapat menatap wajah polos suaminya.
"Daddy tanya kenapa?" tanya Karina tidak habis pikir dengan pertanyaan suaminya.
Fin mengangguk pelan.
"Daddy yakin tidak tahu alasan kenapa Mommy kesal?" tanya Karina mencoba setenang mungkin saat dia bertanya.
'Bisa nggak sih, Mommy langsung jawab saja?' Batin Fin bermonolog sendiri.
Fin menggeleng pelan, menjawab dengan ragu dan pelan.
"Mommy cerita sama, Daddy!" ucap Fin sambil mengusap pipi Karina.
"Wah... wah!" seru Karina dengan mata melebar tidak percaya.
'Nah, kan! Salah lagi!' gumam Fin dalam hatinya.
"Mommy sudah dari kemarin malam berencana untuk pergi ke Mall..."
"Oh it" ucapnya memotong perkataan istrinya. Namun apa yang akan Fin sampaikan pun, di hentikan oleh Karina.
"Daddy stop dulu! Mommy belum selesai berbicara!" ucapnya tegas membuat Fin kembali mengatupkan bibirnya.
Lihatlah bagaimana si pria yang terkenal dengan ke arrogant nya itu di buat terdiam oleh makhluk yang bernama perempuan. Bukan perempuan biasa! Melainkan perempuan yang menjadi separuh dari hidup Fin.
Fin dapat mendengar suara cicitan Devin dari bangku belakang yang Fin yakini kalau anaknya saat ini tengah mentertawakan ketidakberdayaan nya.
Fin mempersilahkan istrinya untuk berbicara dengan tangan yang dia majukan ke depan sebagai kode kalau Karina bisa melanjutkan curhatannya.
"Dari semalam, Mommy sudah berencana kalau hari ini akan pergi ke Mall. Mommy bahkan berjanji akan membelikan Devin buku-buku baru saat tiba di sini." ucapnya menggebu.
Fin tidak menyanggah, dia hanya diam sambil mendengarkan istrinya dengan seksama.
"Tapi Daddy" jedanya sambil mengarahkan tatapan tajamnya pada Fin. Jari nya dia acungkan tepat di hadapan wajah suaminya.
__ADS_1
"Dengan alasan yang tidak jelas dan cenderung mengada-ada, malah membatalkan semua rencana yang sudah Mommy buat sebelumnya! Eca pun tidak jadi hadir kesini karena Mommy menghargai keputusan Daddy untuk ikut bersama kami!" lanjut Karina masih dengan suasana yang panas menurutnya.
Namun bagi Fin, kondisi Karina yang marah seperti saat ini justru membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Wajahnya yang memerah, bibirnya yang berkerut dan mata sipit yang Karina buat agar melotot benar-benar membuat Fin ingin menerkam istrinya saat ini juga.
"Daddy paham kan yang Mommy maksud?" tanya Karina saat melihat suaminya hanya berpangku tangan sambil menatapnya.
Fin mengerjap saat ketahuan tengah menatap wajah menggemaskan istrinya.
"Tentu saja Daddy paham!" jawab Fin dengan cepat.
"Ya sudah kalau paham. Ayo!" ajak Karina pada Fin.
"Sebentar, Mom. Mommy juga harus mendengarkan apa yang ada di pikiran, Daddy." Fin mencegah Karina saat akan keluar dari dalam mobil.
Karina mematung sesaat. Kemudian Karina mengangguk dan menyetujui permintaan dari suaminya untuk mendengarkan penjelasannya.
"Ya sudah, Daddy mau menjelaskan apa?" tanyanya pada Fin.
"Mommy tau kan ke khawatiran Daddy?" tanya Fin pada istrinya.
Karina mengerutkan dahinya mencoba mencerna pertanyaan dari suaminya.
"Hem?" tanya Karina mencoba meminta penjelasan.
"Daddy khawatir dengan keselamatan Mommy dan Devin." jelasnya sambil merapikan rambut Karina yang menjuntai ke depan.
"Pria tua itu, belum tentu sebaik yang Mommy pikirkan. Mungkin saja dia memiliki niat lain, sehingga dengan sengaja menemui kalian kembali hari ini. Mungkin juga, selama ini dia memang ada di sekeliling Mommy dan menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan jati dirinya yang asli." jelas Fin selembut mungkin, agar istrinya yang sensitif itu tidak tersinggung.
Fin tetap tenang kemudian mengangguk pelan.
"Ya Mommy! Itu semua baru kemungkinan. Tapi, apa salah kalau Daddy mengkhawatirkan keselamatan kalian?" tanyanya pada sang istri.
"I... iya. Daddy nggak salah! Ta... tapi kan, masa iya harus kembali lagi ke rumah, Dad!" ujar Karina sambil merengek kesal karena jawaban yang Fin berikan memang masuk akal.
"Biar maid saja yang belanja kebutuhan bulanan. Dan untuk buku yang sudah Mommy janjikan pada Devin, Daddy bisa memborong semua buku anak yang ada di toko buku langganan, Devin." jawabnya membuat Karina melebarkan matanya.
"Iiiihhh... Daddy, ih!!" pekik Karina kesal dengan kaki yang dia hentak-hentakkan. Karina kesal dengan jawaban suaminya yang terkesan meremehkan keinginannya.
Ya, memang susah saat harus berhadapan dengan seorang sultan. Fin tidak akan tau kenikmatan saat bisa dengan bebas berjalan dan mengelilingi Mall.
Melihat segala yang bisa di lihat. Seperti pernak-pernik rumah, peralatan dapur, dan segala aksesoris yang selalu menjadi favoritnya ibu-ibu.
Karina memang berbeda dengan ibu-ibu sultan yang lain. Biasanya yang lain lebih suka mengoleksi tas-tas mewah, berlian, serta baju-baju branded limited edition. Dan pastinya Karina bukan salah satunya.
"Mommy ingin masuk ke sana! Kalau Daddy nggak mau, Mommy bisa meminta Eca untuk datang kesini, sekarang!" tegas Karina.
"Dan, Daddy..." jedanya.
__ADS_1
"Bisa pulang!" lanjut Karina sinis.
Fin menghembuskan nafasnya. Kemana perginya Karina yang lemah lembut dan pengertian? Bahkan akhir-akhir ini, Karina cenderung keras kepala dan mudah tersinggung dengan sekecil apapun candaan yang Fin lontarkan pada Karina.
"Oke, Mommy tunggu dulu di sini! Daddy harus menghubungi seseorang terlebih dahulu." Fin keluar dari dalam mobil sambil meraih telepon genggam yang ada di dalam saku celananya.
"Tambah enam orang lagi untuk berjaga di dalam dan di luar Mall!" perintah Fin pada seseorang yang dihubungi nya.
Setelah mematikan panggilannya, Fin bergegas berjalan mengelilingi body mobil untuk dia membukakan pintu istrinya agar bisa keluar dari dalam mobil.
Senyum Karina tersungging dari bibirnya saat sudah di luar. Karina berjinjit meraih tengkuk suaminya, kemudian mengecup pipi suaminya itu sebagai tanda terima kasih.
'Mommy Mommy...! Bagaimana bisa moodnya berganti dengan cepat?' pikir Fin dalam hati. Mana berani Fin mengungkapkannya secara langsung. Bisa-bisa mood istrinya kembali turun.
Fin membalas dengan mengecup bibir istrinya, kemudian membuka pintu tempat sang anak duduk.
"Daddy!" pekik Karina sambil mencubit pinggang suaminya.
"Nanti ada yang melihat!" Karina mengambil masker dari dalam tas jinjingnya, kemudian memakainya.
Untuk di tempat yang ramai, Karina masih belum mau menunjukan identitas nya sebagai istri dari seorang Grahatama. Dia membutuhkan waktu sedikit lebih lama lagi untuk bisa menikmati kebebasannya dengan berjalan dan membaur bersama orang-orang.
Kalau orang lain mengetahui identitas aslinya, sudah bisa di pastikan kalau Karina tidak akan bisa bepergian dengan bebas dan hanya bisa pergi bersama bodyguard disisi kanan dan kirinya.
Fin berjalan di samping Karina sambil menggendong Devin dan merangkul bahu istrinya. Meraka mulai memasuki Mall dan langsung menjadi pusat perhatian dari para pengunjung Mall.
Namun, satupun dari mereka tidak ada yang berani mendekat ke arah Fin dan istrinya. Melihat perangai dingin dari Fin saja, sudah membuat mereka menjaga jarak dengan sendirinya.
Tidak ada senyum hangat seperti yang selalu dia berikan pada istrinya. Matanya selalu berkilat tajam saat mata hijau itu menangkap basah pria-pria yang dengan beraninya menikmati lekuk tubuh istrinya yang tercetak di balik kaos dan celana jeans yang digunakan istrinya saat ini.
Mereka masuk ke dalam toko buku, seperti yang Karina janjikan pada anaknya.
"Tumben toko buku hari ini sepi?" gumam Karina pelan, namun masih terdengar di telinga Fin.
Bagaimana tidak sepi, karna Fin sengaja mengosongkannya dan sudah membeli seluruh buku anak yang ada di sana. Namun, Fin pura-pura tidak tahu dan memilih berjalan mengikuti kemana sang anak ingin pergi demi menghindari pertanyaan dari istrinya.
Mereka bertiga menghabiskan waktu satu jam setengah di dalam toko buku. Satu keranjang yang penuh dengan buku itu, Karina bawa ke hadapan kasir untuk membayarnya.
"Ayo, Mommy mau kemana lagi sekarang?" tanya Fin pada istrinya.
"Dad, bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja?" tanya Karina meminta tanggapan dari suaminya.
"Hem? Jenguk Tante Nada? Mommy yakin? Mommy nggak mau belanja lagi?" Fin bertanya berulang kali untuk memastikan.
Tadi bahkan Karina menangis gara-gara Fin akan membawanya pulang. Tapi sekarang, saat sudah di dalam Mall, Karina justru meminta Fin membawanya ke tempat lain. Kesabaran Fin benar-benar tengah diuji hari ini.
"Ckk! Bawel deh! Mommy sudah membeli beberapa buku untuk Mommy bacakan setiap Mommy menjenguk, Tante Nada." jawabnya meyakinkan Fin.
__ADS_1
"Ya sudah kalau Mommy yakin." pasrah Fin.
Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Mereka tidak tau, bahwa kedatangan mereka ke sana, akan merubah masa depan yang sedang mereka bangun.