Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Mommy puas?


__ADS_3

Karina dan Fin keluar dari rumah sakit dengan tangan yang saling bertautan. Seperti biasa, mereka selalu jadi pusat perhatian dari orang-orang yang penasaran dengan kehidupan sang Grahatama.


Fin tetaplah Fin. Dia tidak pernah mempedulikan suara sumbang dari orang-orang yang membicarakannya. Selama yang di hina bukan istrinya, Fin tidak pernah menanggapinya.


"Hasilnya bagaimana, Mom?" tanya Fin khawatir.


"Baik. Semuanya baik-baik saja," jawab Karina dengan cepat.


'Maaf Dad, tunggu waktu yang tepat untuk Daddy mengetahui segalanya. Bulan depan. Mommy janji,' batin Karina.


"Daddy kenapa kesini? Bukannya Daddy harus meeting?"


"Meeting nya Daddy cancel. Jadinya besok pagi. Daddy pikir, masih bisa menemani Mommy untuk cek," jawabnya enteng.


"Ckk..." decak Karina.


"Sudah Mommy bilang, kalau Mommy bisa sendiri!" kesal Karina.


"Kenapa Mommy marah?" tanya Fin.


"Padahal perempuan lain ingin ada di posisi Mommy. Di khawatirkan oleh seorang Grahatama," sombong Fin membuat Karina merotasi bola matanya, jengah.


"Ya sudah, Daddy bisa kembali ke kantor. Mommy pulang sama Pak Deni saja,"


"Mommy ikut ke kantor saja. Lagi pula... di rumah Mommy hanya sendiri." Fin membawa Karina menuju mobil miliknya yang tengah terparkir.


Mereka berdua pergi meninggalkan parkiran rumah sakit, untuk selanjutnya kembali ke kantor Fin. Karina tidak berkutik. Dia hanya bisa mengikuti kemana Fin membawanya.


"Mau makan siang dimana?" tanya Fin pada istrinya. Dia masih fokus menyetir. Fin paling jarang menggunakan sopir saat sedang bersama istrinya. Dia lebih menikmati mengendarai mobilnya sendiri.


"Mommy mau makan di kantin perusahaan saja, Dad." jawab Karina membuat Fin mengerutkan keningnya.


"Dimana?" tanya Fin kembali.


"Ckk... kantin perusahaan, Daddy..." kesal Karina.


"Kenapa gak di restoran saja Mommy? Kita bisa makan siang di Hotel juga," ajak Fin.


"Gak ah. Kalau makan siang di Hotel yang ada Mommy yang Daddy makan!" sewot Karina dengan mulutnya yang berkerucut.


"Ha ha... ngarang!" elak Fin sambil tergelak.


"Hey.. di mobil saja anda sudah sangat sering melakukannya, apa lagi di Hotel. Mommy yakin, Daddy ngajak makan siangnya di dalam kamar, bukan di restoran Hotel." tebak Karina.


"Ayo lah, Mommy sudah sangat lapar," rengek Karina, membuat Fin tidak berdaya.


Fin melajukan mobilnya dengan menambah sedikit kecepatannya. Lalu lintas nya pun tidak sepadat biasanya. Mereka sampai di kantor saat jam makan siang masih berlangsung.


"Stop! Jangan berhenti di depan kantor, Dad!" perintah Karina.


"Kenapa lagi Mommy...?" Fin benar-benar kesal dengan istrinya.


"Mommy gak mau jadi bahan omongan orang-orang kantor!" jelas Karina.


"Bukannya dengan Mommy makan siang di kantin pun, akan tetap menjadi bahan omongan karyawan kantor. Mommy bukan karyawan Grahatama lagi,"


Pernyataan Fin yang menyebutnya bukan karyawan kantor membuat hati Karina sedikit sakit. Tapi, memang itu faktanya. Sekarang Karina bukan karyawan kantor lagi, tapi istri dari pemilik kantornya. Hanya saja Karina yang terlalu sensitif, menganggap apa yang suaminya katakan itu sebagai ejekan.


"Mommy bisa minta Nisa, Rina dan Mila untuk menemani Mommy makan di sana," jawab Karina sambil menunjukan chat di grup yang mereka buat pada suaminya.


Fin tidak berkutik. Akhirnya dia membiarkan Karina melakukan apa yang ingin Karina lakukan.


Karina turun dari dalam mobil Fin, kurang lebih lima meter jauhnya dari perusahaan. Sementara itu, Fin sampai di perusahaan terlebih dahulu dan langsung naik menuju lantai atas, tempat kantornya berada.


Saat Karina tengah asik berjalan, suara seseorang dari depan perusahaan terdengar memanggilnya.


"Karinaaa..." panggil Rina sambil melambaikan tangannya.


Karina menyunggingkan senyum cerahnya, saat bertemu kembali dengan ketiga sahabatnya. Karina sedikit berlari agar tiba dengan cepat di hadapan sahabat-sahabatnya itu. Dia melupakan kondisinya yang saat ini tengah mengandung.


"Oh, God! Aku lupa. Maafkan Mommy, Nak!" ucap Karina sambil memelankan langkahnya. Dia sedikit mengusap perutnya yang masih rata. Setelahnya, dia kembali berjalan dengan normal dan bersikap biasa saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Mereka bertiga menghampiri Karina yang masih memerlukan beberapa langkah untuk sampai di depan perusahaan.


"Selamat siang, Nyonya," sapa Mila dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Duh... aku lupa kalau kamu sekarang sudah jadi Nyonya"

__ADS_1


"Sssttttt..." Karina membungkam mulut Rina. Di sekitar mereka, masih banyak orang yang berlalu lalang masuk dan keluar perusahaan.


Setelah bungkaman tangan Karina terlepas dari mulut Rina, Rina hanya bisa menyunggingkan senyum tanpa dosanya. Nisa dan Mila, mereka hanya berdecak menanggapi sikap absurd dari sahabatnya itu.


"Ayo, masuk. Takut kursinya penuh," ajak Nisa pada Karina.


Saat jam makan siang, kantin memang selalu di padati karyawan kantor yang akan makan siang di sana. Menu yang di sajikan di sana pun, di buat oleh koki pilihan yang rasa dan ke higienisannya sudah terjamin.


Maka dari itu, dengan segera Nisa membawa Karina masuk ke sana. Dan benar saja, tidak banyak meja tersisa untuk mereka bisa makan di sana.


Dengan cepat, Rina berlari dan segera menempati meja kosong.


"Mila, kamu tunggu di sana saja. Biar makan siang kamu dan Rina, kami yang bawa," Karina meminta Mila untuk menunggu.


"Duh... Gak enak aku nyuruh Nyonya. Aku gak bakal di pecat suam..."


Karina memelototi Mila yang ternyata mulutnya sama saja dengan Rina. Mila kemudian berlari menuju meja yang sudah di tempati Rina.


Karina menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan dua sahabatnya yang bar-bar. Namun setelahnya, dahi Karina berkerut bingung.


"Kenapa tatapan mereka seperti itu?" tanya Karina pada Nisa.


Nisa mengalihkan pandangannya, kemudian melihat apa yang Karina maksud. Dan benar saja, hampir semua karyawan perempuan tengah bergunjing membicarakan Karina. Bahkan dengan terang-terangan mereka menunjuk-nunjuk Karina.


"Jangan di pikirkan. Mereka aneh saja mungkin dengan kehadiran kamu di kantin ini. Sudah jangan hiraukan mereka." hibur Nisa. Nisa melihat kesedihan di mata Karina.


Karina dan Nisa mengantri untuk mendapatkan makan siang. Masing-masing dari mereka akan membawa dua porsi makanan.


Saat tengah mengantri, Karina kembali mendengar desas-desus saat orang-orang itu membicarakannya lagi.


"Benar kan. Bajunya saja sama dengan yang di foto tadi." bisik seseorang sambil menunjuk pakaian Karina.


"Casing nya saja yang lugu, tapi aslinya... cih! Memalukan!" sahut temannya.


Tangan Nisa terkepal erat. Ingin sekali dia meninju mulut-mulut lancang yang tengah membicarakan istri dari bos nya itu. Andai saja mereka tau, mungkin dengan bersujud meminta maaf pun, tidak akan dapat mengembalikan pekerjaan mereka.


"Nisa kamu tau sesuatu kan?" tanya Karina.


"Apa?" tanya Nisa pura-pura terkejut.


"Tentang apa yang mereka bicarakan,"


"Tapi..."


"Ayo maju. Sekarang giliran kita."


Nisa sedikit mendorong tubuh Karina agar maju dan berhenti di depan petugas yang tengah membagikan makan siang.


Makan siang di kantin perusahaan, menu yang di sajikan untuk karyawan kantor semuanya sama. Mereka tidak bisa memilih karena setiap menu sudah di takar oleh petugas. Mereka tinggal membawa piring yang tersaji kemudian kembali pada meja masing-masing.


Karina membawa dua piring begitu juga dengan Nisa. Saat mereka akan kembali petugas tiba-tiba memanggil Karina.


"Bu, maaf." panggilnya sedikit kencang. Orang-orang yang ada di sana kembali mengalihkan perhatian mereka pada sosok Karina dan Nisa.


Karina dan Nisa berhenti. Mereka kemudian kembali kehadapan petugas katering.


"Kami?" tanya Nisa pada petugas katering.


"Bukan Anda. Tapi Bu Karina." jawabnya, membuat suasana riuh seketika.


"Saya?" tanya Karina.


"Iya. Maaf, makan siang untuk Ibu bukan yang itu." ucapnya sambil membawa satu piring yang Karina pegang.


"Hem?" bingung Karina.


Petugas katering kemudian membawa piring lain dari belakang dan memberikannya kepada Karina.


"Seharusnya makan siang Ibu yang ini." jawab petugas sambil memberikan piring berisi menu yang jauh lebih mewah dari pada yang Karina bawa tadi.


"Bapak berpesan, untuk memberikan menu ini kepada Ibu. Ini Bapak sendiri yang memilihkan." lanjutnya membuat Karina tidak enak dengan yang lain.


Sementara itu, suasana semakin riuh dengan gunjingan-gunjingan yang semakin memanas dengan adanya kejadian ini.


"Te... terima kasih," jawab Karina sambil pergi bersama Nisa.


Nisa tau perasaan Karina saat ini. Orang-orang semakin menghujat Karina dengan kata-kata yang sangat menyakiti perasaan Karina.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Mila saat Karina dan Nisa sampai di meja mereka.


Karina tersenyum, berusaha baik-baik saja di hadapan sahabat-sahabatnya.


"Tidak masalah. Ayo makan," ajak Karina.


Ketiga sahabat Karina mulai makan. Namun Karina, dia hanya memainkan menu di piring tanpa menyuapkannya. Pandangannya kosong.


"Karina, makan!" tegas Nisa.


Pada awalnya, Karina lah yang paling semangat untuk makan di kantin kantor. Namun sekarang, mungkin Karina sedang menyesali keputusannya.


Andai saja mengikuti permintaan suaminya untuk makan di restoran, mungkin saja hatinya masih bisa di selamatkan dari rasa menusuk mulut-mulut kotor orang-orang yang menghakiminya. Namun, menyesal pun tidak ada gunanya. Semuanya sudah terjadi. Omongan-omongan liar semakin jelas terdengar.


"Dia tidak mungkin dapat menu spesial kalau hanya karyawan biasa seperti kita."


"Jangan lupa, sekarang dia bukan karyawan di sini juga, kenapa coba masih dengan leluasa keluar dan masuk perusahaan seenaknya? Paham kan maksud aku?"


"Padahal Bu Queen sudah sangat cantik dan terhormat, kenapa Pak Fin mau-maunya dengan wanita seperti dia?"


"Kamu lihat kan foto yang tadi tersebar di internet? Mereka berdua sedang berada di rumah sakit. Berpelukan, bergandengan, bermesraan... sungguh wanita rendahan. Sudah tau Pak Fin punya anak dan istri masih saja di goda. Demi uang rela merenggut kebahagiaan keluarga lain. Cih, jijik banget aku lihat wajahnya yang sok polos!"


"Bisa saja di rumah sakit tadi dia sedang menggugurkan kandungannya. Kalian teliti deh foto yang tadi. Papan nama di pintu ruangan, walaupun hanya sekilas tapi nampak jelas di sana tertulis SpOG, yang artinya mereka tengah mengunjungi Dokter kandungan,"


"Bisa jadi! Makanya sekarang di kirim tuh makanan bergizi, biar dia pulih dengan cepat terus bisa melayani bos kembali,"


Karina menarik nafasnya dalam. Dadanya sesak mendengar mulut-mulut liar yang tengah memfitnah dia dan suaminya.


"Kurang ajar... tangan aku udah gatal dari tadi, setan!!!" teriak Rina dari meja tempatnya duduk.


Rina berdiri dengan tangan terkepal dan wajah yang memerah, siap menerjang orang-orang yang dengan bebas nya membicarakan Karina dan Fin.


Nisa dan Mila melebarkan matanya. Mereka tahu seberapa temperamennya Rina. Sebelum Rina pergi menghampiri orang-orang yang menghujat Karina dengan cepat Karina menghentikannya. Karina berdiri sambil meraih tangan Rina agar tidak meladeni mereka.


"Rina! Jangan! Ini bukan urusan kamu!"


"Apa kamu bilang? Heh? kamu terima mereka ngomong gitu? Sadar Karina!! Sadar!!" teriak Rina mulai marah.


"Kamu duduk! aku sendiri yang akan membereskan mereka!" jawab Karina membuat orang-orang yang tadi membicarakannya mentertawakan Karina.


"Si anak baik, mau membereskan kita dengan apa? Atut." ucap Viona, seorang perempuan yang dilihat dari kepribadiannya merupakan perempuan arrogant yang selalu membuat ulah.


Karina tersenyum sinis, kemudian berjalan menghampiri Viona yang tengah duduk sambil melipat tangannya di atas dada.


"Aku bereskan dengan ini..."


Karina ambil gelas berisi jus, kemudian menyiramkan jus tersebut ke atas kepala Viona. Semua orang melotot tidak percaya dengan apa yang Karina lakukan.


"Aaaaaa... kamu berani sama aku hah??!!!!!" teriak Viona sambil berdiri di hadapan Karina.


"Kalau punya mulut, dijaga! kamu gak tau faktanya, VIONA!!!" bentak Karina sambil mendorong kepala Viona.


"Kurang ajar!!" tangan Viona terangkat untuk menampar Karina, namun Karina menahan tangan Viona sambil mencengkram nya dengan kencang.


"Sakit, setan!!!" teriak Viona kembali sambil mendorong tubuh Karina ke belakang.


Karina terjerembab ke belakang, namun sebuah tangan kokoh menahannya. Dalam seketika suasana riuh menjadi hening. Karina menengadahkan wajahnya melihat wajah suaminya yang saat ini amat sangat menakutkan.


"Renal. Pegang tangan perempuan kurang ajar itu!!" perintahnya dengan suara dinginnya.


"P... pak, m... maaf..." ucap Viona terbata.


"Nyonya, silahkan tampar wajahnya sepuas yang Nyonya inginkan," ucap Fin mempersilahkan Karina.


Semua orang menahan nafasnya mendengar Fin memanggil Karina dengan sebutan Nyonya. Mereka melebarkan matanya, tidak ingin melewatkan pertunjukan yang tersaji di hadapan mereka.


Karina berjalan dan berdiri tepat di hadapan Viona. Karina tampar pipi kiri dan kanan Viona dengan sangat keras, sampai meninggalkan bekas merah di pipi mulus itu.


Orang-orang yang tadi membicarakan Karina dan Fin mulai was-was. Mereka mulai takut dengan Karina yang ternyata pemegang kendali atas Fin.


"Mommy puas?" tanya Fin pada istrinya.


Kembali karyawan kantor di buat terkejut dengan panggilan Fin pada Karina.


"Berani-beraninya kalian mengganggu makan siang istri saya!!!"


Dalam sekejap suasana menjadi riuh saat Fin mengumumkan bahwa Karina adalah istrinya.

__ADS_1


"Triple kill!!" ucap Rina yang tersenyum bangga melihat kemajuan Karina.


Karina si lemah lembut dan penyabar dalam sekejap berubah menjadi Karina si bar-bar.


__ADS_2