Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Siapa yang ke rumah sakit?


__ADS_3

Karina membuka matanya secara perlahan. Kepalanya yang sakit sudah jauh lebih baik. Dia tersenyum hangat saat mendapati tangan kekar milik suaminya melilit posesif di atas perutnya.


Karina mengusap punggung tangan tersebut dengan senyum yang terus tersungging dari kedua sudut bibirnya.


Saat kesadarannya mulai kembali kening Karina berkerut bingung mendapati ruangan yang di tempati nya itu, sebuah kamar asing. Dia edarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Setelahnya, dia mematung.


"Ini di Singapura, kan?" tanya Karina pada dirinya sendiri. Dia baru ingat kalau siang tadi, Karina berangkat ke Singapura untuk menjemput Devin, sang anak.


Karina menarik nafasnya panjang. Dadanya kembali sesak saat isi dari surat yang di bacanya kembali berputar di dalam memori Karina.


Sekelebat datang sebuah bayangan saat suaminya tengah bersama perempuan dari tiga tahun lalunya itu. Suaminya begitu bahagia dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya. Karina tidak bisa membayangkan seperti apa wajah dari perempuan yang bersama suaminya itu. Namun, bayangan itu terus berkelebat di dalam pandangan Karina.


Bagaimana keduanya saling merayu, saling memberi perhatian, memanggil dengan panggilan manis satu sama lain, sungguh sebuah bayangan yang tidak asing bagi Karina. Bayangan itu seperti nyata. Bayangan yang bisa Karina rasakan. Namun, entah dari mana bayangan itu datangnya. Karina menganggap semua itu hanya sebuah fantasi. Karina akhiri fantasinya itu saat sadar kalau tangan yang memeluknya itu adalah tangan dari suaminya.


Karina menengok ke samping tubuhnya dimana sosok suaminya tengah terlelap.


"Berarti, Daddy??..." Karina menutup mulutnya, menyadari kalau Fin sudah mengetahui keberadaannya saat ini.


Karina dengan hati-hati menyingkirkan tangan Fin yang melilit pada perutnya. Karina juga menggoyangkan tangannya ke kiri dan ke kanan di atas wajah suaminya mengecek apakah suaminya itu tidur dengan lelap atau tidak. Fin sama sekali tidak terganggu dengan apa yang Karina lakukan.


Karina memperhatikan pakaian yang tengah di pakainya. Kemudian, dia buka koper yang ada di samping nakes dan mengecek isi di dalamnya. Karina mematung memperhatikan isi dari koper yang di bawa suaminya itu. Di sana ada beberapa toples vitamin yang Dokter kandungannya resepkan.


"Bagaimana bisa Mommy membenci Daddy kalau Daddy memperlakukan Mommy seperti ini, hem?" lirih Karina sambil menatap wajah damai suaminya.


Lihatlah, hanya dengan Fin membawakannya vitamin saja, Karina sudah luluh dan terharu dengan perhatian Fin. Selabil itulah Karina sekarang. Lagi-lagi hormon kehamilannya berperan penting dalam perubahan emosi Karina yang tiba-tiba.


Karina bawa salah satu toples vitamin yang ada di antara tumpukan pakaiannya.


"Bagaimana bisa Mommy melupakan hal sepenting ini?" tanya Karina pada dirinya sendiri. Karina juga mengusap perut ratanya.


"Maafkan Mommy, Nak. Mommy terlalu larut dalam kekecewaan Mommy," ucapnya penuh sesal.


Pintu kamar yang Karina tempati di ketuk dari luar. Karina merapikan pakaiannya kemudian bergegas membuka pintu.


"Kiara," sapa Karina saat melihat adik iparnya yang mengetuk pintu.


"Ayo, makan malam sudah siap," ajak Kiara.


"Makan malam?" tanya Karina sambil menengok ke kanan dan ke kiri mencari posisi jam dinding.


"Ini sudah jam makan malam?" tanya Karina kembali.


"Heem," jawab Kiara sambil mengangguk pelan.


"Maaf ya, ketiduran," cicit Karina penuh sesal.


"Ckk... gak masalah Kak, aku paham kok," hibur Kiara.


"Ayo Kakek sudah menunggu di bawah," lanjut Kiara meminta Karina untuk bergegas.


"Abang..."


"Gak usah! Abang sudah makan," cegah Kiara.

__ADS_1


"Abang kecapean. Ayo," ajak Kiara kembali.


"Kamu duluan. Aku ganti baju dulu," ijinnya pada sang adik ipar.


"Ya sudah, jangan lama-lama, Kakek paling tidak suka dengan orang yang lelet" Kiara memperingatkan Karina.


"I... iya, tidak lama, kok," jawab Karina ketakutan.


Karina masuk kembali ke dalam kamar, kemudian dengan cepat memilih pakaian yang sopan untuk makan malamnya.


Sebelum meninggalkan kamar, Karina melamun sesaat sambil menatap wajah suaminya yang tengah tertidur pulas.


"Daddy sepertinya benar-benar kecapean," lirihnya pelan.


"Kasian..." refleks nya.


Setelahnya, Karina menggeleng dengan cepat mengembalikan kesadarannya.


"Ingat Karina tujuan kamu pergi ke Singapura!!" ucapnya pada diri sendiri.


"Kamu akan membawa pergi Devin tengah malam nanti. Ingat!! Pergi dari keluarga ini!!" ucapnya pelan meyakinkan niat awalnya.


Karina bergegas menuju lantai satu, kemudian bergabung bersama yang lain untuk makan malam. Di sana sudah ada sang anak yang duduk bersebelahan dengan Kakek Bram. Keduanya terlihat mirip saat tengah bersanding seperti itu. Sorot mata yang tajam dengan wajah yang tegas membuat keduanya terlihat sama. Lagi-lagi Karina di buat terhenyak dengan kemiripan anaknya dengan keluarga dari ayah sambungnya itu.


"Malam... maaf terlambat, Kek," ucap Karina meminta maaf.


"Duduklah,"


Karina segera menempati tempatnya. Dia duduk di samping sang anak. Tidak lupa Karina juga mengusap kepala Devin dan mengecup pipinya sekilas.


"Daddy sedang istirahat," jawab Karina sambil memberikan senyum terbaiknya. Dia berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang.


"Ckkk... Anak itu..."


"Kek" Kiara mencegah Kakeknya untuk mengumpat di hadapan Devin. Kiara tau, kalau sang Kakek saat ini tengah marah dengan Kakaknya.


Karina menatap Kiara dan Kakek Bram dengan bingung. Dia tidak tau apa yang tengah keduanya bicarakan.


"Kakak Devin pasti sudah sangat lapar. Benar kan?" tanya Kiara mengalihkan perhatiannya dan di jawab dengan anggukan oleh Devin.


"Ayo kita mulai makan malamnya," ajak Kiara pada semuanya.


"Celamat makan," ucap Devin sebelum memulai makan malamnya.


Setelah berdoa, Devin mulai makan dalam diam nya. Dia fokus dengan makannya. Kakek Bram dan Kiara selalu terbius dengan cara makan anak yang belum genap tiga tahun itu. Elegan dan berkelas. Dua kata tersebut dapat menggambarkan kepribadian dari seorang Devin.


Setelah semuanya selesai makan malam, Devin kembali ke dalam kamar untuk tidur sementara Kiara, Karina dan Bram pergi menuju ruang tengah untuk berbincang.


Karina pergi ke dapur untuk membawa beberapa piring buah yang akan di sajikan nya untuk Kakek Bram dan sang adik ipar sebagai pencuci mulut.


Untuk pencuci mulut Karina sendiri, dia membuat alpukat kocok yang di campur dengan brown sugar dan sedikit madu. Semenjak hamil, dia tidak menyukai stroberi. Justru suaminya lah yang kini menyukai stroberi sementara Karina menyukai buah yang menjadi favorit suaminya, yaitu alpukat.


"Abang kamu masih tidur?" tanya Bram pada Kiara.

__ADS_1


"Ya, Abang kecapean, Kek..." jawab Kiara malas. Dia malas berdebat dengan Kakeknya.


"Gak habis pikir dengan Abang kamu. Berapa milyar kerugian dia hari ini? Padahal dia bisa menyusul kakak ipar kamu saat libur nanti," gerutu Bram yang tidak suka dengan Fin yang menyebabkan kerugian milyaran rupiah karena meninggalkan seorang klien di tengah meeting nya. Selain itu, ada beberapa meeting lain yang Fin batalkan dan ganti jadwalnya.


Walaupun sudah tidak mengelola perusahaan Grahatama lagi, tetapi Bram selalu mendapat informasi dari apa yang cucunya lakukan di perusahaan. Jadi, sekecil apapun kerugian di perusahaan, sang Kakek akan mengetahuinya.


Karina menghentikan langkahnya saat mendengar apa yang Kakek dan adik iparnya itu bicarakan. Ada rasa bersalah, bersarang dalam hatinya. Andai saja dia bisa menahan segalanya dan tidak pergi begitu saja, mungkin suaminya tidak akan mendapat kerugian sebesar sekarang. Lebih dari itu, kepercayaan Kakek Bram pada Fin berkurang, akibat hal tersebut. Pikir Karina.


Saat tengah mematung memikirkan segala hal, tiba-tiba perut bagian bawah Karina terasa sakit.


"Aaaaaa!!!" pekik Karina sambil mencari tempat untuk menyimpan tray yang tengah di bawanya.


Kiara dan Bram yang mendengar pekikan Karina, langsung menghampiri Karina yang saat ini tengah terduduk di atas lantai sambil memegangi perut bagian bawahnya.


"Kakak kenapa?" tanya Kiara panik. Dia menghampiri Karina dan berjongkok di hadapannya.


"Sa... sakit..." lirih Karina dengan wajah pucat nya yang di banjiri keringat dingin.


"Apa yang sakit? Kakak jatuh?" tanya Kiara bingung.


Karina menggeleng pelan. Bram ikut berjongkok, mengkhawatirkan kondisi Karina.


"Ayo, Kakek bantu untuk bangun," Tawar Bram.


"Kiara ayo, bawa Kakak iparmu ke ruang tengah," perintah Bram pada cucunya.


Keduanya, membopong Karina menuju ruang tengah dan membaringkannya di atas sofa bad. Tidak lupa Kiara memberinya segelas air putih.


"Mana yang sakit?" tanya Kiara kembali.


"Mau aku panggilkan Dokter?" tanyanya kembali.


"Jangan banyak tanya KIARAAAAA..." kesal Bram dengan ketidak pekaan cucunya.


"Langsung panggil Dokter saja!! "perintahnya tegas.


Karina menahan tangan Bram. Ada yang perlu dia sampaikan sebelumnya.


"Kakek, sebenarnya, aku.... aku...." ragunya.


"Kenapa?" tanya Bram.


"Aku.. mmm... saat ini sedang ha... hamil, "cicitnya pelan.


"Hamil???!!" pekik Bram dan Kiara secara bersamaan. Mereka terkejut mengetahui fakta kalau Karina tengah mengandung.


"Ya sudah langsung ke rumah sakit saja kalau begitu. Bagaimana kalau ... kalau ..." Kiara tidak bisa melanjutkan perkataannya.


"Siapa yang ke rumah sakit?" tanya seseorang dari arah tangga. Dia adalah Fin.


"Da... Daddy..." lirih Karina dengan wajah takutnya.


"Siapa yang ke rumah sakit?" tanya Fin kembali, sambil berjalan mendekati Karina.

__ADS_1


"Kakak ipar, perutnya sakit," jawab Kiara pelan.


"Apa??!!" pekik Fin kencang.


__ADS_2