
Karina, Eca dan Devin saat ini sudah kembali ke kediaman mewahnya. Setelah menunggu Kakek yang Devin tolong ada yang menjemput, Karina kembali melanjutkan niat awalnya untuk menemui sang Bunda di tempat peristirahatan terakhirnya.
Karina memborong bunga dari toko bunga langganannya itu sebagai bentuk terima kasih Karina pada pemiliknya yang sudah berbaik hati mengijinkan dia bersama Eca memeriksa CCTV yang ada di tokonya.
Bu Linda menyambut kedatangan Karina, Eca dan sang Tuan muda di depan pintu masuk kediaman Fin. Bu Linda langsung mengambil alih Devin dari gendongan sang Nyonya.
"Bu maaf, Devin nya di mandikan dulu sebelum dia tidur siang " pinta Karina pada pengasuh anaknya itu.
"Dia cukup lama di luar ruangan. Kalau langsung tidur takutnya malah nggak nyenyak. Saya mau siapkan dulu makan siangnya!" lanjut Karina sopan.
"Baik, Bu!" jawab Bu Linda tak kalah sopan.
Karina mengecup pipi Devin sebelum dia di bawa masuk ke dalam lift untuk selanjutnya pergi menuju kamar pribadi, Devin.
"Eca, mau minum apa?" tanya Karina pada mantan bodyguard nya itu.
Eca sudah bukan bodyguard pribadi Karina saat Renal meminta pada Fin agar istrinya tersebut berhenti dari pekerjaannya.
"Biar saya bawa sendiri saja, Bu!" ucap Eca sungkan.
Karina menatap tajam mata Eca. Eca yang di tatap seperti itu menundukkan kepalanya takut.
"Saya sudah bilang berapa kali sama kamu, jangan panggil saya, Ibu!" tegasnya. Karena Karina pikir kalau dia tidak bicara dengan tegas kepada Eca, dia akan selamanya memanggil Karina dengan panggilan Ibu.
"Maaf, Ka... Kakak!" ucapnya.
Karina tersenyum hangat menatap mata ketakutan dari Eca.
"Ha... ha" tawa Karina pecah. Eca bahkan mengkerutkan dahinya bingung.
"Apa saya se menakutkan itu, Eca?" tanya Karina masih dengan sedikit tawa yang tersisa. Eca mengangguk pelan.
"Sudahlah! Saya buatkan minum dulu." Karina berlalu menuju dapur rumahnya.
"Setelah ini, banyak yang ingin saya tanyakan sama kamu!" teriak Karina sambil terus melanjutkan langkahnya.
Deg...
Jantung Eca berdetak tidak karuan saat dia tau apa yang akan di tanyakan Karina padanya. Eca sendiri masih tidak mempercayai apa yang seminggu ini dia alami.
Istri orang? Oh bahkan Eca tidak pernah bermimpi untuk hidup berumah tangga bersama seseorang. Terlebih lagi itu seorang Renal, si playboy cap kadal yang hampir tiap hari menghabiskan malamnya di sebuah club, hanya sekedar untuk mencari mangsa yang akan ditidurinya.
Karina kembali dengan sebuah orange jus di tangannya dan sebuah camilan yang di simpan dalam toples. Karina bergabung kembali bersama Eca yang saat ini tengah duduk di ruang tengah depan televisi.
"Nih, kamu minum dulu! Banyak yang harus kamu jelaskan sama saya!" Karina memberikan gelas beserta toples yang ada ditangannya kepada Eca.
Selanjutnya Karina kembali pergi ke arah dapur.
"Cece, kamu santai saja, ya! Saya siapkan dulu makan siang untuk Devin dan kita!" teriak Karina kembali.
Sepertinya berteriak memang hobby Karina. Padahal suaranya saat ini sudah sangat serak, efek dari berteriak seharian mencari keberadaan sang anak.
Karina saat ini tengah berkutat menyiapkan menu makan siang untuk Devin terlebih dahulu. Jam makan siang Devin sudah terlewat beberapa saat sehingga Karina khawatir kalau sang anak malah tertidur sebelum perutnya terisi.
Karina menyiapkan sup ayam kesukaan sang anak beserta beberapa potong buah dan puding coklat. Setelah semuanya siap, Karina memanggil Bu Linda agar membawa sang anak untuk turun.
Karina susun menu makan siang anaknya di atas nampan kemudian membawanya untuk dia sajikan di atas meja makan, depan kursi sang anak.
Dari dalam lift, Devin keluar beserta Bu Linda di sampingnya. Bau minyak kayu putih menyeruak masuk ke dalam indera penciuman Karina.
Sang anak sudah rapi dengan setelan berwarna coklatnya. Devin tersenyum sambil meraih kaki Karina kemudian memeluknya.
__ADS_1
Karina berjongkok mensejajarkan tinggi badannya.
"Mam sekarang?" tanya Karina lembut sambil membawa tangan Devin ke depan bibirnya untuk dia kecup.
Devin mengangguk antusias. Karina raih tubuh anaknya untuk dia gendong kemudian mendudukkannya di atas chair set milik Devin.
Mata Devin berbinar melihat menu makan siang yang tersaji di hadapannya. Devin memasangkan serbet di dadanya kemudian mengepalkan kedua tangannya untuk berdoa.
"Thank you, Mommy!" ucap Devin tulus. Setelahnya Devin mulai menyendok sup ayam favoritnya dan memasukannya ke dalam mulut kecilnya.
Karina mengangguk sambil kedua matanya sibuk memperhatikan sang anak yang tampak lahap menyantap menu buatannya.
Saat tengah fokus memperhatikan sang anak, tiba-tiba telepon genggam miliknya berbunyi. Tampak wajah tampan suaminya saat Karina mengangkat vidio call tersebut.
Wajah Fin yang awalnya dingin tiba-tiba tersenyum hangat saat Fin tau kalau sang istri sudah mengangkat panggilannya.
Karina arahkan telepon genggam tersebut pada Devin yang tengah fokus pada makanannya.
"Baby, yummy?" tanya Fin lembut.
Devin yang mendengar suara sang Daddy langsung memusatkan perhatiannya. Wajah fokusnya dalam seketika berubah hangat dengan mata yang menyipit karena tersenyum bahagia.
"Daddy!" panggil Devin ceria.
"Yes, Baby! Yummy?" tanya Fin kembali.
Devin mengangguk dengan antusias.
"Yes, Daddy!" jawabnya.
"Jangan buat Daddy dan Mommy khawatir lagi, ya!" Fin menasehati sang anak dengan lembut.
Devin mengangguk dengan wajah penuh penyesalan.
"Habiskan mam nya!"
Devin mengangguk kemudian fokus kembali untuk menghabiskan makan siangnya.
"Devin mam nya di temani nenek Linda nggak apa-apa?" tanya Karina pada anaknya.
Devin mengangguk tanda setuju.
"Oke, mommy bicara sama Daddy dulu, ya!" lanjut Karina meminta izin. Devin mengangkat jarinya membentuk lingkaran tanda setuju.
Karina mengarahkan layar pada wajahnya. Tampak segurat senyum dari bibir suaminya, saat panggilan tersebut beralih menampilkan wajah Karina.
"Bagaimana pekerjaannya? Lancar?" tanya Karina khawatir.
"Apa sih yang sulit buat, Daddy?" sombong Fin. Karina merotasi bola matanya kesal saat mendengar jawaban songong sang suami.
"Perihal tadi siang... Mommy, minta maaf!" sesal Karina sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
"Jangan gigit bibir seperti itu di depan orang lain!" tegas Fin memperingatkan. Karina segera melepaskan bibir bagian bawah yang dia gigit. Walaupun bingung, Karina tidak berani bertanya.
Karina terlihat seksi saat dia sedang memainkan bibirnya. Bagaimana bisa Fin membiarkan orang lain melihat bibir seksi istrinya apalagi saat Karina menggigitnya seperti itu. Fin tidak mau istrinya di jadikan objek fantasi oleh orang lain.
"Daddy, pulang kapan?" tanya Karina memecah keheningan.
"Sebentar lagi, Mom. Daddy sudah di Bandara. Sebentar lagi Daddy berangkat" jawab Fin.
Karina mengangguk.
__ADS_1
"Mau Mommy jemput?" tawar Karina.
"Suruh Cece jemput aku! Mobil ku ada di garasi rumah kalian!" teriak Renal yang sepertinya sedang duduk di sebrang Fin.
"Ckk!" decak Fin kesal karena Renal merecoki panggilannya dengan sang istri.
"Kak Renal dimana?" tanya Karina karena tidak melihat Renal di samping Fin.
"Tuh!" Fin mengubah kameranya menjadi kamera belakang.
Karina mengerutkan keningnya.
"Kalian bertengkar? Kenapa Kak Renal duduk disitu?" heran Karina saat melihat Renal duduk beberapa meter dari hadapan suaminya.
"Nggak kuat Daddy nyium bau parfum, si Renal!" kesalnya.
"Kamu mau aku pake parfum harga berapa, Fin?" kesal Renal.
"Ini parfum harga delapan juta! Dan dengan entengnya kamu bilang kalau kamu alergi parfum murah??" sungut Renal melampiaskan kekesalannya yang sudah dia pendam dari tadi.
Bagaimana ekspresi Fin saat mendengar Renal memakinya? Seperti biasa Fin hanya memasang wajah datarnya.
Hari ini Renal sudah sangat kesal oleh Fin. Saat baru sampai di lokasi rapat, Fin mendapat kabar kalau sang anak hilang kemudian meminta Renal untuk membatalkan meeting beraset milyaran.
Saat rapat sudah dibatalkan, selanjutnya Fin meminta Renal untuk menyiapkan pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Jakarta. Saat semua sudah siap dan sebentar lagi naik ke atas pesawat, Eca tiba-tiba menghubungi dan mengatakan, kalau Devin sudah ditemukan.
Setelah semua yang terjadi, dengan entengnya Fin kembali meminta Renal untuk menghubungi sekertaris investor tersebut dan memanggil helikopter yang akan membawa mereka kembali ke tempat rapat.
Setelah sampai pun, Renal bahkan harus memohon kepada investor itu, agar beliau mau melanjutkan meeting yang sempat dibatalkannya.
Yang lebih membuat Renal kesal adalah, Fin meminta Renal menjauh darinya dengan dalih parfum murah Renal membuat Fin mual.
Sepanjang rapat berjalan Fin dan Renal hanya berkomunikasi melalui pesan singkat. Hari ini benar-benar hari yang berat bagi Renal.
########
Malam hari, Fin dan Karina baru sampai di kediamannya. Pulang dari Bandara, Fin mengajak istri dan anaknya untuk makan malam di luar. Renal dan Eca sendiri langsung kembali ke rumah yang Renal tempati begitu Eca datang menjemputnya.
Saat ini jam menunjukan pukul sebelas malam. Karina sudah terlelap dari jam sembilan malam, efek dari rasa lelahnya saat mencari Devin tadi siang.
Fin yang tengah membaca buku, mengalihkan perhatiannya untuk memandangi wajah lelap sang istri.
Fin simpan buku yang tengah di bacanya, kemudian ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri.
Karina melesakan tubuhnya masuk ke dalam pelukan sang suami. Fin usap kepala istrinya itu kemudian dia berbisik.
"I love you!" bisiknya tepat di telinga Karina.
"Ayo kembali ke tempat pertama kali kita bertemu, Mommy!" bisiknya kembali.
"Mmmmh..." gumam Karina tidak jelas.
Fin mulai memejamkan matanya, bersiap untuk tidur. Namun, saat akan masuk ke dalam alam bawah sadarnya, tiba-tiba telepon genggam milik Fin berdering.
Fin mengangkat telepon genggam yang berbunyi tengah malam tersebut karena Fin yakin, kalau panggilan tersebut merupakan panggilan penting.
"Kenapa Queen?" tanya Fin pada si penelepon tersebut.
Ya, seseorang yang menelepon Fin tengah malam itu adalah Queen. Teman yang dari dulu menginginkan Fin namun tidak berani mengungkapkan.
"Kamu tenang ya, Abang kesana sekarang!" ucap Fin kembali pada si penelepon tersebut.
__ADS_1
Fin bangkit dari tempat tidurnya, kemudian menatap wajah istrinya untuk sesaat. Fin labuhkan sebuah kecupan di atas kening sang istri sebelum Fin benar-benar pergi untuk menemui Queen.