Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Kamu ngidam ya?


__ADS_3

Fin masih bertahan dengan tidak memberikan respon apapun.


"Ckk... ya sudah kalau begitu. Mommy pulang dulu" ucap Karina sambil turun dari pangkuan suaminya.


Sebelum benar-benar beranjak dari pangkuan Fin, Karina mengecup leher Fin, kemudian mengelus 'milik' Fin yang ternyata sudah sangat mengeras.


Sudut bibir Karina terangkat sedikit mengetahui rayuannya ternyata ampuh. Karina yakin suaminya tidak akan melepaskannya begitu saja. Dan benar saja dugaan Karina. Saat Karina akan pergi meninggalkan kantor, suaminya itu menahan tangan Karina agar Karina tetap di sana.


"Kenapa?" tanya Karina pura-pura tidak peduli.


"Tas Mommy ketinggalan," jawab Fin sambil menunjuk tas milik istrinya yang tergeletak di atas meja.


Karina melebarkan matanya, tidak percaya dengan apa yang Fin lakukan.


'What? Hanya mengingatkan tas saja? Serius Daddy tidak tertarik sama sekali?' kesal Karina dalam hatinya.


Karina mengambil tas miliknya kemudian pergi begitu saja dengan kaki yang dia hentakan karena kesal.


Di atas kursi, Fin hanya menggeleng pelan sambil tersenyum gemas melihat kelakuan istrinya. Bukan Fin tidak tau maksud dari istrinya, tapi Fin sengaja melakukan itu.


"Sabar ya, nanti malam kita eksekusi." ucap Fin sambil mengelus 'miliknya' yang sudah mulai tertidur kembali.


Fin kembali menyelesaikan pekerjaannya. Sementara itu, Karina keluar dari dalam kantor suaminya dengan keadaan kesal dan jengkel.


"Daddy bahkan tidak mengantarkan Mommy walau hanya sampai parkiran," gerutu Karina kembali sambil berjalan menuju lift.


"Kalau Daddy tau Mommy membawa serta pewaris Grahatama di sini," ucapnya sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Apa Daddy akan tetap bersikap seperti ini??" lanjutnya berbicara sendiri.


Karina menghentikan lift yang akan tertutup. Tampak sosok Queen tengah berdiri di dalamnya. Queen mendelik tidak suka, kemudian berpura-pura seolah-olah tidak ada Karina di sana. Dia sibuk memainkan kukunya.


'Ya ampun Nak, tumben kamu tidak merespon bau parfum si Tante girang ini sih' ucap Karina dalam hati, saat dia tidak merasakan mual kembali di saat hidungnya mencium bau parfum Queen.


Lift yang di naiki Karina dan Queen berhenti di lantai dasar perusahaan. Karyawan yang ada di sana langsung menunduk hormat, tatkala melihat siapa yang keluar dari dalam lift.


Queen tersenyum sombong sambil menatap Karina dengan sinis, alisnya terangkat sambil berkata.


"Lihatlah, orang kantor saja tau, siapa yang lebih pantas menjadi Nyonya Grahatama!" sombongnya sambil keluar dari dalam lift.


Queen berjalan melewati jajaran para karyawan yang tengah menunduk hormat. Dagunya terangkat sombong dengan senyum yang terus mengembang.


Setelah beberapa langkah melewati jajaran para karyawan itu, alis Queen tertekuk bingung. Dia merasa ada yang aneh. Para karyawan masih menunduk hormat saat Queen sudah berada jauh di depan mereka.


Queen menghentikan langkahnya. Dia berbalik melihat dimana Karina berada. Dia melebarkan matanya saat menyadari bahwa karyawan kantor memberi hormat pada Karina bukan padanya. Dia mematung dengan kedua tangan terkepal erat.

__ADS_1


"Benar kata kamu. Orang kantor tau mana yang lebih pantas menjadi istri seorang Grahatama!" bisik Karina sambil berlalu pergi meninggalkan Queen yang masih mematung pada tempatnya.


"Perempuan Kurang ajar!!!" gumam Queen pelan. Dia harus menjaga imagenya di depan publik.


Karina naik ke dalam mobil yang Pak Deni kendarai. Ternyata Pak Deni sudah menunggunya di depan perusahaan. Padahal Karina sama sekali tidak meminta Pak Deni untuk datang.


"Kok Bapak sudah ada di sini?" heran Karina.


"Oh, Pak Fin tadi meminta saya untuk mengantar Ibu," jawabnya.


"Jadi Daddy sengaja meminta Pak Deni datang untuk menjemput Mommy pulang?" gerutunya kesal.


"Bukan, Bu. Bapak meminta saya untuk nengantar Ibu ke restoran Odette." jawab Pak Deni.


"Odette? Bapak tidak salah jemput orang kan?" bingung Karina. Pasalnya sang suami tidak menjelaskan apapun tentang itu.


Pak Deni tergelak.


"Memang Nyonya Grahatama ada berapa orang, Bu?" tanya Pak Deni.


Karina hanya mengangguk walaupun masih bingung dengan maksud suaminya membawa Karina ke Odette. Odette sendiri, merupakan restoran mewah tempat makan siang ataupun makan malam para sultan dan selebriti.


Karina di bawa menuju tempat yang sudah Fin pesan sebelumnya. Sebuah ruangan private mewah yang hanya berisikan satu meja di setiap ruangannya.


Di sana sudah ada tiga orang yang tengah menunggu kedatangan Karina.


Ketiga serangkai itu berdiri menyambut kehadiran Karina.


"Selamat datang Nyonya" sapa ketiganya sambil membungkuk memberi hormat.


Karina mendelik kesal melihat kelakuan ketiga sahabatnya itu.


"Kalian sengaja, ya?" kesalnya.


"Mana berani," jawab Rina spontan.


"Pak Fin meminta kami untuk menemani kamu makan siang," jawab Nisa.


Pipi Karina bersemu merah. Dia tidak menyangka, kalau suaminya menyiapkan makan siang di tengah kesibukannya mengurus perusahaan.


Dari semua kemewahan makan siang ini, yang paling membuat Karina bahagia adalah kehadiran ketiga sahabatnya. Ternyata, seorang Fin Grahatama bisa sedetail dan seromantis itu.


"Kalian benar-benar di hubungi Pak Fin?" tanya Karina menggunakan panggilan formal pada suaminya.


"Terus?" tanya Mila.

__ADS_1


"Mana mampu karyawan recehan seperti kita masuk ke tempat seperti ini, Karinaaa..." lanjut Mila.


Pletak!!


Rina menyentil dahi Mila menggunakan jari tangannya.


"Wah... berani-beraninya kamu sama istri bos!!" ujar Rina.


Mila mengusap dahinya yang kesakitan.


"Aku lupa," cicitnya.


"Aku gak suka ya kalian membawa-bawa status di pertemanan kita!" ucap Karina mengingatkan.


"He... he... he..." Rina hanya nyengir memamerkan gigi putihnya.


"Kalian sudah memesan?" tanya Karina pada ketiga sahabatnya.


"Kita menyerahkan semuanya pada pelayan. Mana ngerti kita menu makan siang di tempat beginian. Takut di bilang kampungan," cicit Nisa menjawab pertanyaan Karina.


"Kamu pesan saja menu yang kamu mau," lanjut Nisa menawarkan.


Karina mengerutkan keningnya, mencoba memikirkan apa yang mau dia makan.


"Kayaknya nasi padang enak," celetuk Karina membuat Mila tersedak minumannya.


"Jangan bercanda Grizelle! Mana ada nasi Padang di tempat mewah seperti ini" protes Rina.


"Siapa yang bercanda? Serius! Aku lagi mau makan nasi padang," jawab Karina memelas.


"Serius? kamu mau nasi padang saat makanan di restoran ini terkenal dengan bintang nya?" tanya Nisa tidak habis pikir.


Karina hanya mengangguk. Ketiga sahabatnya menatap Karina dengan tatapan aneh.


"Kamu ngidam ya?" tebak Mila.


Nisa dan Rina memfokuskan perhatiannya pada Karina. Mereka menunggu jawaban Karina.


Karina nyengir, kemudian mengangguk pelan. Ketiga sahabatnya histeris.


"Serius? Kamu hamil?" bentak Rina tidak percaya.


"Siapa yang hamil?" tanya seseorang yang baru masuk untuk bergabung bersama mereka.


Degh!

__ADS_1


Karina mematung mendengar suara yang sangat dia kenal. Dalam seketika, ruangan itu menjadi hening. Karina menggigit bibir bagian bawahnya, sementara ketiga sahabatnya diam dengan ketegangan menyelimuti wajah mereka.


"Daddy tanya sekali lagi! Siapa yang hamil?" tanya Fin sambil berjalan mendekati Karina.


__ADS_2