
Pagi-pagi sekali Karina sudah sibuk dengan peralatan memasaknya. Sebuah celemek berwarna pink, melilit indah pada tubuh rampingnya. Karina bawa rambut panjangnya yang menjuntai untuk dia gulung ke atas membentuk bound. Dengan mahir Karina memotong beberapa bahan untuk dia olah menjadi makanan sehat yang akan di bawa pulang oleh sang Bibi.
Bi Vina tetap ingin pulang ke rumahnya dan menolak untuk tinggal bersama Karina di mansion mewah milik suaminya.
Pagi ini porsi memasak Karina tiga kali lebih banyak dari pada biasanya. Selain memasak untuk Bi Vina, Karina pun memasak untuk Nada, Ibu dari Queen yang saat ini masih di rawat di rumah sakit.
Saat bangun pagi tadi bahkan suaminya masih terlelap dengan tangan yang melilit posesif pada pinggang Karina. Sebenarnya Karina masih ingin bermalas-malasan di atas tempat tidur. Tapi apa daya, kewajibannya untuk menyiapkan sarapan setiap pagi mau tidak mau membuatnya beranjak dari tempat tidurnya dan mulai berkutat dengan kesibukan nya di dapur.
Karina dibantu oleh dua maid lainnya dan mencoba menyelesaikan pekerjaannya sebelum semua orang turun untuk sarapan.
Karina tengah berdiri di depan meja makan dengan hand mixer di tangannya. Salah satu maid menyerahkan buah dan sayur yang akan Karina olah menjadi jus untuk suaminya minum beberapa saat lagi. Biasanya Fin akan turun setelah selesai berolahraga.
"Bik, semua sudah di kemas menjadi dua wadah kan?" teriak Karina pada maid yang saat ini tengah berada di dapur.
"Sudah, Bu. Kedua box sudah saya masukan ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah sakit dan ke rumah, Bu Vina." jawabnya.
Karina mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Terima kasih, ya!" tulus Karina.
"Bibi bisa istirahat atau sarapan duluan." ucapnya dengan tangan yang terus bergerak memotong banana dan memasukannya ke dalam wadah untuk di mix. Karina terus fokus menyelesaikan pekerjaannya membuat jus untuk sang suami.
"Bi, maaf. Rendang yang ada di dalam lemari es sekalian kemas, ya!" perintah Karina saat seseorang berjalan melewati belakang tubuh Karina.
"Kemas yang baik soalnya itu untuk di bawa Eca ke Italia." perintah nya kembali.
Karina masih terus melanjutkan pekerjaannya tanpa mengecek apa yang maid nya lakukan. Karina harus segera menyelesaikannya sebelum suaminya turun untuk meminum jus nya.
Saat Karina tengah fokus, tiba-tiba sebuah tangan melingkar pada perutnya. Karina terperanjat kaget dengan tindakan tiba-tiba dari suaminya.
"Daddy!" kesal Karina. Namun tangannya terus bekerja memasukan jus ke dalam gelas.
Sementara itu suaminya terus mengecup bagian belakang dari leher istrinya dengan kedua tangan aktif bergerak di bagian benda kenyal sang istri.
Karina mencoba menghindar dengan menggeliatkan tubuhnya namun kekuatan nya kalah besar. Gerakan-gerakan kecil yang Karina buat justru semakin membangunkan milik Fin.
"Daddy! Di dapur ada maid!" ucap Karina kesal.
"Nggak ada. Disini hanya ada kita berdua, Mom! Jangan membuat alasan!" ucap Fin tanpa menghentikan kegiatan nya.
Karina mengerutkan kening nya bingung.
"Barusan Mommy nyuruh maid untuk mengemas rendang yang akan Eca bawa pulang." jelas Karina.
Fin melepaskan rangkulan nya. Dia meraih gelas berisi jus banana mix yoghurt kemudian menenggaknya sampai tandas.
Setelah itu dia menyeret tangan istrinya untuk ikut ke dapur dan mengecek sendiri kalau mereka saat ini hanya berdua.
"Kita hanya berdua, Mommy!" ucap Fin.
"Apa sudah pergi?" tanya Karina pada dirinya sendiri.
"Yang mengemas ini semua, Daddy! Bukankah hasilnya luar biasa?" tanya Fin dengan bangga pada Karina sambil menunjuk rendang yang sudah di kemasnya dengan box kedap udara.
Karina membelalakkan matanya.
"Jadi, tadi Mommy nyuruh, Daddy?" tanya Karina bingung.
Fin hanya mengangguk dengan kedua tangan yang dia masukan ke dalam saku celananya.
__ADS_1
"Apa hasilnya luar biasa?" tanyanya kembali mengharapkan sebuah pujian dari apa yang belum pernah di lakukannya.
Karina tersenyum dalam hati. Dia merasa tengah berhadapan dengan Devin. Di saat Devin bisa melakukan hal-hal baru dia pun selalu menunggu pujian dari Mommy nya. Persis seperti yang Fin lakukan saat ini.
Tangan Karina terulur ke atas kepala suaminya, kemudian tangan nya mengelus lembut rambut halus suaminya.
"Kerja bagus, Daddy!" puji Karina dengan senyum terlukis di kedua sudut bibirnya.
Fin meraih tengkuk sang istri, kemudian membawanya untuk dia kecup. Fin mencium bibir candu istrinya beberapa saat kemudian melepaskan nya. Jari tangannya dia arahkan untuk menghapus jejak saliva yang menempel pada bibir Karina.
Fin menempatkan kedua tangannya pada ketiak Karina, kemudian dia angkat tubuh istrinya dan mendudukkan nya di atas table top.
Sekarang tinggi keduanya sama. Fin melanjutkan kegiatan intim nya dengan kembali meraih bibir istrinya dan mulai memainkan nya dengan lidah.
"Mmpht," Karina mendesah di sela permainan lidah suaminya.
Kedua tangan Fin berusaha membuka tali celemek yang melilit pada leher istrinya. Setelah berhasil membukanya, Fin melempar begitu saja celemek tersebut ke sembarang arah.
Dengan tergesa Fin mengangkat piyama yang digunakan istrinya. Dan wow, pemandangan kedua gunung kembar istrinya yang berdiri kokoh dengan ujung berwarna pink yang sudah mengeras siap untuk di manjakan lidah nya.
Kebiasaan Karina yang tidur tanpa memakai dalaman, mempermudah pekerjaan Fin untuk langsung melahapnya dengan rakus.
Pertama-tama Fin turunkan bibirnya pada leher, tulang selangka, kemudian berakhir pada dua benda kenyal yang sebelumnya sudah dia beri pijatan disana.
Kedua kaki Karina melilit pada pinggang suaminya dengan tubuh yang terus menggeliat menahan setiap kenikmatan yang suaminya berikan. Bibirnya dia gigit menahan ******* yang mungkin saja lolos tak terkontrol.
Karina menatap suaminya dengan gairah. Pakaian tangan buntung yang pas dengan tubuh Fin, serta keringat yang mengkilap pada otot tangan dan lehernya, membuat Fin terlihat jauh lebih seksi beberapa kali lipat.
Karina sengaja menggesek-gesek kan miliknya, pada milik Fin yang sudah sangat mengeras di balik celana sportnya.
Karina memaju mundurkan bokongnya dengan posisi kaki yang masih melilit di pinggang suaminya membuat Fin melenguh panjang dengan apa yang istrinya lakukan.
Saat Fin akan menurunkan celananya, tiba-tiba terdengar suara maid yang sepertinya akan masuk ke dalam dapur tempat Karina dan Fin saat ini sedang bercumbu.
Fin mengumpat sambil membenarkan kembali celana yang di pakainya.
Karina turun dari table top kemudian merapikan daster yang tersingkap sampai dada karena ulah suaminya.
Fin menyeret tangan istrinya untuk masuk ke dalam toilet yang ada di area dapur.
"Daddy!" keluh Karina tanpa bersuara.
Fin tidak menghiraukan peringatan istrinya. Fin dengan tergesa melucuti pakaian istrinya. Hasratnya sudah di ubun-ubun. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Fin membalik posisi istrinya untuk menungging. Dan tanpa aba-aba Fin langsung melesakkan miliknya yang sudah sangat membengkak pada milik istrinya yang selalu bisa membuat Fin mendesah di setiap jepitannya.
Karina menggigit daster miliknya untuk menahan ******* dan erangan yang keluar dari mulutnya. Fin sendiri terus memaju mundurkan miliknya dengan tempo yang semakin cepat di setiap pompaannya.
Kepala Fin menggeliat ke belakang dengan mata tertutup dan bibir yang dia gigit. Tangannya terus mengelus bokong istrinya dengan sesekali meremas nya.
Saat suara para maid sudah tidak terdengar lagi, Fin mempercepat gerakannya dengan tangan yang aktif menggeplak bokong sintal istrinya. Pakaian yang istrinya gigit pun, dia singkirkan. Fin ingin mendengar suara kenikmatan yang istrinya keluarkan.
"Ough, Dad!" lirih Karina saat gelombang kenikmatan akan segera datang.
"Yes, Baby!" desahnya pada telinga Karina.
"Oughhh, Dad!" desahnya kembali dengan suara manjanya.
"Ya, sayang! Kenapa? Hem?" tanyanya tengil, sambil mengelus punggung polos istrinya dari atas ke bawah dengan gerakan yang sangat pelan.
__ADS_1
"Dady!" pekiknya saat gelombang itu datang.
Fin tersenyum miring. Dia mempercepat pompaannya dengan tangan mejambak rambut Karina yang sebelumnya Fin buka dan tangan sebelahnya lagi menepuk-nepuk bokong Karina.
Adrenalin Karina semakin meningkat dengan gerakan kasar dari suaminya. Entahlah dia menikmati tindakan suaminya tersebut.
"Ouugh, Mom! Daddy, Da... Daddy,..." desah Fin saat cairan cintanya tumpah memenuhi rahim istrinya.
Karina dan Fin terkulai lemas dengan posisi Fin yang duduk di atas kloset dan tubuh polos Karina yang duduk di atas pangkuannya. Mereka beristirahat sejenak sebelum kembali ke kamar mereka.
#########
Saat jam menunjukan pukul tujuh pagi, keduanya turun secara bersamaan sambil menjemput Devin di kamarnya.
Mereka keluar dari dalam lift dengan Devin yang berada dalam gendongan Fin. Sudah ada Bi Vina dan Renal di depan meja makan.
Fin mendudukkan sang anak di atas kursi khusus miliknya yang berada di sebelah kiri kursi Fin. Karina sendiri duduk di sebelah kanan kursi suaminya.
"Selamat pagi Bibi, Kak Renal!" sapa Karina.
Fin sendiri hanya menyapa dengan mengangguk dan tersenyum. Itupun hanya pada Bi Vina.
"Selamat pagi sayang!" jawab Bi Vina.
"Selamat pagi, Boy!" sapa Renal pada Devin.
Devin hanya sedikit membungkukkan tubuhnya dari atas kursi kemudian mengalihkan kembali pandangan nya.
"Ckk, Anak sama Bapak sama-sama tidak menyambut tamu dengan baik!" gerutu Renal pada Devin dan Fin yang tidak di hiraukan oleh keduanya.
"Ayo makan dulu," ajak Karina sambil menyajikan makanan pada suami dan anaknya.
"Devin ikut antar nenek, ya!" pinta Bi Vina pada Devin.
Devin menatap Mommy nya.
"Boleh?" tanyanya pada Karina.
"Tentu saja, Baby!" jawab Karina yang mendapat senyum lebar dari Devin.
Mereka mulai sarapan. Renal tidak fokus pada makanannya. Matanya terus meneliti seluruh ruangan yang di jangkau oleh penglihatan nya.
Fin yang melihat gelagat dari sahabatnya, menghentikan aktivitasnya.
"Kenapa? Kamu nyari sesuatu?" tanya Fin.
Karina pun menghentikan aktivitasnya,
"Kak Renal nyari, Eca?" tebak Karina.
Renal menggaruk tengkuknya tidak gatal, dia malu Karina dapat menebak tujuannya.
"Dia sudah pulang." ucap Fin dengan wajah datarnya.
"Eca di sana sampai kapan, Dad?" tanya Karina menyahut.
"Sepertinya dia tidak akan kembali. Dia akan menikah minggu depan!" jawab Fin.
Renal menganga mendengar apa yang Fin ucapkan. Dia tidak melanjutkan sarapannya dan memilih pergi keluar dengan tergesa.
__ADS_1