
Karina mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari teman-temannya.
"Kalian biasanya memakai pakaian adat mana?" tanya Karina.
"Tergantung mood sih," jawab Mila sambil tersenyum memperlihatkan gigi nya.
"Kamu sih tergantung si Arya!" sahut Rina menyebutkan nama pacar dari Mila.
Mila nyengir kembali.
"Ya kali aku harus dansa sama cowok lain! Gila aja!" sewot nya.
"Nah, biasanya para karyawan yang sudah mempunyai pasangan mereka akan memakai pakaian adat yang sama dengan pasangan nya." lanjut Nisa menjelaskan.
"Kalau kita beruntung bahkan kita bisa berpasangan dengan si bos. Lumayan kan bisa berdansa dengan cowok ganteng macam si bos?" ucan Rina.
"Cakep sih cakep, tapi sayang sudah punya bini." sahut Nisa.
"Nggak apa-apa kali, pelakor lagi hits!" sahut Rina kembali.
"Uhuk... Uhuk..." Karina tersedak air yang sedang di minumnya. Nisa yang duduk di samping Karina menepuk punggung Karina.
"Kebiasaan banget minum sampai tersedak kaya gitu!" ucap Nisa kembali sambil memberi Karina sebuah tisu. Karina hanya memamerkan gigi putih nya.
"Kamu sudah ada ide, mau memakai pakaian adat mana?" tanya Nisa kembali.
"Kalau sudah, nanti saat pulang kita mampir dulu ke butik." lanjutnya.
"Bali deh kayaknya. Impian banget sih bisa memakai pakaian khas Bali." ucap Karina.
"Oke, nanti kita langsung ke butik saja untuk mencoba pakaian nya." ajak Nisa.
"Mau samaan dengan, Pak Robert?" tanya Nisa pada Karina.
__ADS_1
Karina mengernyitkan keningnya bingung.
"Hem? Kok Pak Robert?" tanya Karina bingung.
"Kamu tidak tau kalau Pak Robert suka sama kamu?" tanya Nisa.
"Apa?" tanya Karina pura-pura kaget dan pura-pura tidak mengetahui perasaan Robert padanya.
"Tidak peka. Kamu tidak lihat gelagat Pak Robert setiap ada di dekat kamu?" ucap Rina.
"Kalau kamu setuju kita akan comblangin kamu dengan dia. Dia cukup mapan dan juga baik" tawar Nisa.
"Nggak, lah! Kamu saja kalau mau," cicit Karina.
"Justru, Pak Robert nya yang nggak mau sama dia!" jelas Mila sambil tertawa terbahak.
"Kurang ajar!" umpat Nisa sambil melempar serbet yang ada di atas meja.
"Ke toilet restoran sekarang!" Bunyi pesan tersebut.
Karina mengerutkan keningnya bingung dengan isi pesan tersebut, namun tak urung dia menurut dan bangkit dari kursi untuk pergi ke toilet restoran.
"Mau kemana?" tanya Rina yang menyadari Karina bangkit dari kursinya.
"Oh, ke... ke toilet dulu!" gugup Karina yang di jawab anggukan oleh teman-temannya.
Karina berjalan dengan tergesa, masuk ke dalam toilet perempuan yang tampak di jaga beberapa orang bertubuh tegap.
Saat Karina datang, mereka bahkan membungkuk hormat. Karina membungkuk kembali sebelum akhirnya masuk ke dalam toilet tersebut.
Saat Karina masuk ke dalam, tubuhnya tiba-tiba di tarik oleh seseorang yang langsung memeluknya dengan erat.
"Miss u, Mommy!" ucapnya dengan suara berat.
__ADS_1
"Daddy! Kenapa Daddy disini?" tanya Karina.
"Habis bertemu klien." jawabnya singkat. Fin menyandarkan tubuhnya pada wastafel dengan kedua tangan nya yang membelit pada perut dan leher Karina.
Wajahnya melesak masuk di antara tulang selangka sang istri. Matanya terpejam menikmati wangi tubuh sang istri yang dapat menenangkan pikirannya.
Fin cukup lama berada pada posisi seperti itu. Karina hanya diam dengan mengusap tangannya, membiarkan sang suami bersandar padanya.
"Dad, kenapa harus di toilet? Bagaimana kalau ada yang datang?" cicit Karina.
"Sebentar saja, Mom!" pinta Fin pelan.
Karina membalikan tubuhnya menghadap sang suami. Di tatapnya wajah lelah itu. Karina simpan kedua tangan nya di atas pipi kanan dan kiri suaminya, kemudian dia tarik ke depan wajah sang suami untuk dia daratkan sebuah kecupan pada bibirnya.
Cup...
Saat Karina memundurkan kepalanya, Fin meraih belakang kepala Karina kemudian dia daratkan sebuah ciuman penuh rindu di atas bibirnya. Fin sudah benar-benar merindukan istri dan anaknya.
Andai saja perusahaan bukan menjadi tanggung jawabnya, sudah pasti dia akan meninggalkan nya begitu saja demi anak dan istrinya,
"Mommy, andai ke depannya ada sesuatu hal yang memaksa Mommy untuk meninggalkan Daddy," jedanya.
"Daddy mohon, Mommy tetap bertahan dan percaya pada Daddy!" mohon Fin sambil mengecup kedua tangan istrinya.
"Daddy kenapa?" tanya Karina bingung dengan permintaan suaminya yang tiba-tiba.
"Janji dulu, Mommy!"
"Ya, kalau tidak ada alasan kuat untuk Mommy meninggalkan Daddy, untuk apa juga Mommy pergi?" jawabnya.
"Kecuali, ada suatu hal besar yang Daddy lakukan dan mengharuskan Mommy meninggalkan Daddy, sepertinya Daddy minta kembali pun Mommy tidak akan mau!" lanjut Karina.
Fin tidak menjawab, dia hanya membawa istrinya masuk ke dalam pelukannya. Fin yakin semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1