Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Honeymoon!


__ADS_3

Karina berjalan gontai menuruni pesawat yang saat ini tengah transit di Schiphol Airport, Amsterdam. Seketika seluruh tubuhnya terasa lemas, saat sang pramugari memberitahukan tujuan perjalanan dari pesawat yang Karina tumpangi. Paris, Prancis! Bagaimana Karina tidak shock, saat mendengar nama tersebut, jika kepergiannya saja tidak dia persiapkan untuk ke Negera itu.


Apa Karina begitu bodoh, sehingga dia menaiki pesawat, tanpa tau kemana tujuan pesawat itu akan membawanya? Karina terlalu mempercayai Eca.


"Lihat saja saat aku berhasil kembali ke tanah air!" ancamnya dalam hati.


Walaupun dengan kemampuan yang apa adanya, dan sangat tidak memungkinkan untuk dia bertarung melawan Eca yang memang ahli dalam bela diri, namun tidak ada sesuatu yang mustahil jika dengan tekad yang besar. Hibur Karina dalam hati. Ya, Karina sedang mencoba menghibur dirinya sendiri saat ini.


"Tapi, tentu saja Eca bukan bergerak atas kehendak dan kemauannya sendiri, kan?" gumam Karina pelan.


"Fin! Itu pasti kamu!" pekik Karina dalam hatinya.


Ini semua, pasti atas campur tangan pemegang kekuasaan tertinggi di hidup Karina saat ini, Fin! Ya, pasti dia! Siapa lagi tersangka utamanya kalau bukan dia? Mau menuduh Ramon pun rasanya mustahil kalau dia dapat melakukan hal seperti ini. Nasib dia saja, tidak ada yang mengetahuinya. Apakah masih hidup, atau sudah menjadi santapan singa-singa lapar peliharaan, Tuan Alexander.


Tuan Alexander biasa menghukum para korban-korbannya sesuai dengan mood nya saat itu. Ada yang langsung di eksekusi, ada juga yang dia buat tersiksa terlebih dahulu dengan cara menahan setiap siksaan sebelum menemui ajalnya. Entahlah! Cara mana yang Tuan Alexander gunakan untuk mengakhiri, Ramon.


Karina bergabung bersama penumpang yang lain di ruang tunggu Bandara Karina benar-benar sendiri sekarang. Ingin marah, tapi pada siapa? Apa tujuan sebenarnya dari sang suami memperlakukannya seperti ini?


"Devin? Apakah Devin tujuan Fin menikahi ku?" tanya Karina dalam hati.


"Tapi, untuk apa?" tanyanya kembali.


" Tidak mungkin! Kamu sudah gila jika berpikir seperti itu, Karina!" hardiknya dalam hati sambil tertawa sumbang. Karina mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran kotor yang mampir ke dalam otaknya saat ini


Karina mencari telepon genggam miliknya. Namun setelahnya, dia merutuki kebodohannya kembali, dengan memukul-mukul kepalanya pelan sambil bergumam pelan.


"Bodoh, bodoh, bodoh!" Telepon genggam miliknya, tentu saja belum di setting untuk bisa melakukan panggilan internasional. Dia hanya sibuk mencari provider terbaik yang memiliki sinyal bagus meski di pelosok Negeri sekalipun. Namun usahanya sia-sia. Saat ini dia hanya bisa menunggu, kemana nasib akan membawanya.

__ADS_1


Seseorang yang berada di pojok ruang tunggu yang sama dengan Karina tersenyum melihat kekonyolan yang Karina lakukan. Banyak ekspresi menggemaskan yang keluar dari wajah Karina yang tengah panik, yang bahkan tidak Karina sadari.


Seorang pramusaji restoran yang kebetulan masih di lokasi Karina menunggu datang dengan segelas stroberi smoothies, minuman favorit Karina dari zaman dia masih kecil.


"Nyonya, silahkan!" ucapnya menggunakan Bahasa Belanda.


Karina menatap pramusaji tersebut dengan tatapan bingung, karena Karina tidak merasa memesan apapun saat ini.


"Maaf, mungkin anda salah orang!" tolak Karina mengunakan Bahasa Belanda yang fasih untuk ukuran seorang turis, Karina menguasai beberapa Bahasa, sehingga dia tidak akan kesulitan jika harus berkomunikasi dengan orang asing.


Saat usianya masih kecil, sang Ayah memasukannya ke dalam club bahasa khusus anak-anak konglomerat untuk Karina belajar setidaknya dua belas bahasa asing.


"Pria tampan yang ada di pojok sana yang memesan, dan meminta saya untuk mengantarkannya kepada, Anda!" jelasnya kembali masih menggunakan Bahasa Belanda. Pramusaji tersebut langsung pergi dari hadapan Karina sesaat setelah mengantarkan pesanannya.


Kening Karina berkerut semakin dalam.


Kebingungannya bertambah beberapa kali lipat, saat di lihatnya lelaki yang ada di pojok ruangan tersebut tidak Karina kenal. Bagaimana bisa dia mengetahui buah favorit Karina? Pikir Karina bingung.


"Apa pria tersebut menguntit dan mengukutiku dari Bandara hingga sampai kesini?" gumam Karina dalam hati.


Andai saja yang memberi minuman tersebut adalah orang yang Karina kenal, sudah pasti saat ini smoothies tersebut telah habis di seruput nya sampai tandas tak bersisa. Dan mungkin, itu dapat memperbaiki sedikit mood nya yang hancur hari ini.


Karina menyandarkan tubuh lelahnya di atas sofa ruang tunggu. Kepalanya sakit saat ini. Dia gunakan tangan kanannya untuk mengurut dahinya, dengan mata terpejam erat. Air mata, menetes dari kedua sudut mata Karina. Karina rapuh! Saat ini, dia benar- benar rapuh, setelah beberapa waktu lalu dia terlalu bergantung pada suaminya.


"Jangan cengeng Karina! Kamu selalu berhasil melewati semua kesulitan, kamu!" gumam Karina pelan mencoba menyemangati dirinya sendiri.


"Ya, pergi ke Paris, merupakan reward dari setiap kesabaran kamu selama ini!" ucap suara serak seseorang sambil mengelus kepala Karina pelan.

__ADS_1


"Kurang ajar! Efek jet lag ini... bahkan bisa menghadirkan laki-laki pemarah itu ke sini!" gerutu Karina masih dalam posisinya semula.


Pletak!!!


Sebuah sentilan keras mendarat di atas dahi Karina.


"Ahh..." Karina memekik kencang sambil mengusap dahinya pelan.


"Kurang ajar! Bahkan sentilannya begitu terasa nyata!" umpat Karina kembali sambil memperbaiki posisi duduknya, Karina membuka kedua matanya secara perlahan.


Retinanya melebar saat kedua matanya bersitatap dengan bola mata hijau yang tengah menatapnya tajam.


"Da... Daddy" Lirih Karina dengan mata yang sudah berurai air mata. Dia bahagia, dapat bertemu seseorang yang dikenal nya. Dengan refleks Karina melesakan tubuhnya masuk ke dalam pelukan suaminya. Tangis Karina mulai pecah saat itu juga. Dia tidak menghiraukan pandangan aneh orang-orang kepadanya. Karina menyalurkan emosinya yang sejak tadi dia tahan.


Fin mengusap punggung Karina secara perlahan, tanpa memintanya untuk berhenti menangis.


Setelah dirasa cukup tenang, Karina ke luar dari dalam pelukan suaminya sambil memberikan tatapan tajam yang penuh pertanyaan.


"Apa maksud semua ini, heh?" tanya Karina marah.


"Tidak ada maksud apa-apa!" jawab Fin santai, dengan kedua tangan dia simpan di kepala sofa, dan kaki yang dia silangkan.


"Daddy!" bentak Karina kesal.


"Ckk..." decaknya.


"Kita honeymoon di Paris, Baby!" lanjutnya berbisik di telinga Karina.

__ADS_1


"Ho... honeymoon?" tanya Karina tergagap.


Fin mengangguk sambil mengedipkan sebelah matanya genit ke arah istrinya.


__ADS_2