Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Kebingungan!


__ADS_3

Fin masuk ke dalam ruangan yang disambut kehebohan Renal saat melihat Fin menggendong Devin, Renal yang awalnya sedang duduk di kursi kebesaran Fin langsung berdiri dan berjalan ke arah Fin yang datang sambil membawa Devin di gendongannya.


"Wah... wah... wah..." seru Renal sambil bertepuk tangan.


"Benar-benar little Fin. Lihatlah bagaimana cara dia menatap uncle nya, sama persis seperti kamu Fin" lanjut Renal saat melihat Devin menatap Renal dengan tatapan dingin seperti mengintimidasinya.


Biasanya anak dua tahun akan menangis saat bertemu dengan orang baru, namun Devin berbeda, dia terlihat sedang memprovokasi lawan bicaranya benar-benar gambaran seorang Fin, wajahnya boleh mirip Karina namun segala sifatnya menurun dari Fin.


"Ckk... cepat bilang ada hal penting apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Fin sedikit menggerutu kepada Renal sambil mendudukkan Devin di sofa ruangannya.


"Hay boy. Nama kamu siapa?" tanya Renal pada Devin sambil mencubit pipi chubby Devin dengan gemas, Renal mengabaikan pertanyaan Fin.


Devin menatap tajam Renal saat Renal mencubit pipinya kemudian dia usap bekas cubitan Renal, Devin mengulurkan tangan kanannya pada Renal.


"Depin" ucapnya dengan pelafalan yang belum sempurna.


"Wow nama yang keren" seru Renal sambil meraih tangan Devin yang terulur.


"Renal" panggil Fin kembali.


"Oke" jawab Renal kemudian mendudukkan diri di sofa.


"Sebaiknya kita bicara di sana" ajak Renal sambil menunjuk ke pojok ruangan yang sedikit jauh dari tempat Devin.


Fin berjalan menuju meja untuk membawa tas yang berisi pakaian dan alat gambar Devin, Fin mengeluarkan alat gambar tersebut agar Devin tidak jenuh saat menunggunya.


"Devin, Daddy harus diskusi dulu sama uncle Renal, Devin tunggu Daddy di sini ya" jelas Fin pada Devin sambil memberikan alat gambar milik Devin, Devin hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Mana ngerti anak dua tahun tentang diskusi" cibir Renal pada Fin.


"Bahasa kamu terlalu berat untuk anak umur dua tahun" lanjut Renal.


"Ckk, dia mewarisi otakku Renal, jangan samakan dengan otak kamu saat berumur dua tahun" sombong Fin sambil berjalan menuju pojok ruangan.

__ADS_1


Renal memutar bola matanya jengah.


"Semoga saja kesombongan Daddy nya tidak menurun pada anaknya" batin Renal.


"Ada apa?" tanya Fin kembali.


"Tentang tiga tahun yang lalu" ucap Renal.


"Karin mengalami kecelakaan saat pulang dari bandara yang menyebabkan dia kehilangan ingatannya" lanjut Renal.


"Teruskan" pinta Fin, pin menundukkan kepalanya dengan tangan sebelah kanan bertumpu pada batang kaca lebar yang menghadap langsung ke keramaian kota, Renal berdiri di samping Fin dengan memasukkan kedua tangannya pada saku ku celana.


Renal menarik nafas sebelum melanjutkan ceritanya.


"Ingatan yang Karin lupakan hanya ingatan dari dua bulan ke belakang..." jedanya.


"Termasuk ingatan saat kalian bersama" lanjutnya pelan.


"Oke stop" pinta Fin pada Renal sambil mengangkat tangannya.


"Oke no problem Fin, santai saja masih banyak waktu untuk mengetahui fakta keseluruhannya" ucap Renal sambil menepuk bahu Fin kemudian bergabung bersama Devin yang tengah menggambar.


Fin masih mematung di tempatnya dia arahkan pandangannya menerawang sudut kota yang ramai sore ini, dia langkah kan kakinya menghampiri Devin yang saat ini tengah fokus pada buku gambarnya.


"Ayo pulang" ajak Fin pada Devin.


Devin mendongak menatap netra Fin, kemudian Devin tersenyum sambil mengangguk pelan senyuman Devin menular tanpa sadar Fin juga tersenyum membalas senyuman anaknya.


Renal yang menyaksikan interaksi antara Ayah dan anak itu ikut terharu dengan perubahan sahabatnya bahkan tiga tahun terakhir ini Renal sangat langka melihat senyum Fin, dia bersyukur Karina dan Devin bisa kembali mengisi hari-hari Fin yang kosong sebelumnya.


Fin menggandeng tangan mungil Devin untuk diajak keluar dari kantornya mereka berdua masih menjadi pusat perhatian karyawan kantor, Devin tidak terlihat risih, dia berjalan dengan tenang dan berkarisma. Fin sendiri bangga melihat keberanian anaknya menghadapi banyak orang.


"Ini baru anak Daddy" batin Fin bangga.

__ADS_1


##########


Saat ini Fin dan Devin sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup mewah, Fin berniat membeli beberapa pakaian untuk Devin, Fin tidak membawa banyak pakaian dari rumah Karina.


Fin masuk ke dalam toko khusus yang menjual baju-baju anak dengan brand ternama, Fin meminta Devin memilih beberapa pakaian yang dia sukai dan sisanya meminta pegawai toko untuk membungkus pakaian yang cocok untuk anaknya.


Devin mengambil tiga pakaian berbeda semua yang diambil adalah warna-warna yang selalu Fin pakai juga. Hitam, abu dan putih. Ya sepertinya perihal pakaian pun mereka memiliki selera yang sama.


Fin juga mengajak Devin makan di restoran favoritnya, Fin memperhatikan cara makan Devin, dia makan dengan begitu elegan, untuk anak berumur dua tahun bahkan dia sudah mahir menggunakan pisau dan garpu, Fin dapat mendengar pujian yang orang-orang lontarkan untuk anaknya, benar-benar layak menjadi pewaris Grahatama pikirnya. Fin salut pada pola asuh yang Karina ajarkan pada Devin.


"Daddy" bisik Devin sambil mencondongkan tubuh mungilnya pada kursi Fin.


"Yes baby" jawab Fin sambil melakukan hal yang sama.


"Mau pipis" bisiknya kembali.


"Devin mau pipis?" tanya Fin kembali, Devin mengangguk sebagai jawaban.


"Oke let's go" jawab Fin sambil menggendong Devin menuju toilet restoran.


Mereka sampai di depan toilet khusus pria,


"Daddy stop! aku bisa sendiri" pinta Devin sambil melorotkan tubuhnya dari gendongan sang Ayah.


Fin mengerutkan keningnya.


"Devin yakin bisa sendiri?" tanya Fin pada Anaknya.


Devin mengangguk dengan antusias.


"Mommy bilang aku halus belajal ke toilet cendili, kalau aku pelgi cama Mommy, Mommy celalu nungguin aku di depan toilet" jelas Devin dengan pelafalan yang menggemaskan menurut Fin.


Fin tersenyum hangat sambil mengusap kepala anaknya dengan sayang. Fin paham Karina tidak mungkin masuk ke dalam toilet pria untuk menemani Devin buang air kecil, sehingga hal seperti ini sudah menjadi hal biasa untuk Devin. Fin juga sedih di usianya yang masih dua tahun Devin harus hidup tanpa figur seorang Ayah.

__ADS_1


Sambil menunggu Devin di dalam toilet, Fin menghubungi Renal, Fin mencari tempat yang sedikit lebih sunyi untuk menelepon, dia berbicara dengan Renal cukup lama, dia meminta Renal menyiapkan beberapa dokumen untuk persiapan pernikahannya, Fin melupakan anaknya yang saat ini tengah kebingungan mencari keberadaan sang Ayah.


__ADS_2