
"Mommy" Fin tidak suka mendengar apa yang Karina sampaikan. Mana mungkin dia mengkhianati istrinya. Tidak ada alasan untuk Fin berpaling pada perempuan lain.
Setelah berkat demikian, Karina menarik selimutnya kemudian memunggungi Fin dengan memiringkan tubuhnya. Fin belum beranjak. Dia memandangi punggung istrinya. Ada sedikit rasa sakit saat melihat kebencian di mata istrinya. Bagaimana kalau nanti Karina tau bahwa Fin lah Ayah kandung Devin? Apa Karina akan semakin membencinya karena tidak jujur dari awal dan membiarkan Karina hidup dalam penderitaan karena rasa bersalahnya pada sang anak. Fin benar-benar tidak dapat membayangkannya.
Fin bergidik ngeri dengan pemikiran ekstrim nya itu. Dia mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Daddy keluar. Kalau Mommy butuh sesuatu, Mommy bisa menelpon Daddy," ucapnya sambil mengecup puncak kepala Karina.
Tanpa menunggu lama, Fin keluar ruangan sesuai permintaan istrinya dan meninggalkan istrinya itu sendirian. Fin tidak ingin membuat mood Karina semakin buruk dengan keberadaanya. Fin tidak mempermasalahkan sikap Karina yang kesal dengannya yang penting Karina tidak pergi meninggalkannya secara diam-diam.
Setelah Karina hanya sendiri di dalam ruangannya, dia membalikan tubuhnya sehingga saat ini posisi Karina terlentang menatap langit-langit kamarnya.
Pandangan Karina kosong. Air matanya mengalir begitu saja. Ternyata, saat Fin mengusap dan mencium kepalanya, Karina tengah berjuang menahan tangisnya agar tidak pecah.
Karina ingin membenci suaminya namun lagi-lagi kelembutan Fin dapat meluluhkan hatinya. Tentang cincin dan surat yang dia temukan, apa yang suaminya jelaskan cukup masuk akal. Saat Karina putus dengan Ramon pun, masih ada beberapa barang pemberian Ramon yang lupa Karina singkirkan. Apalagi seorang Fin yang kesehariannya di sibukkan dengan pekerjaan dan perusahaan.
"Abang kenapa duduk di sini?" tanya Kiara yang baru datang dengan membawa goodie bag berisi pakaian Fin dan sebuah rantang berisikan sarapan.
Fin tengah duduk di depan ruangan Karina bersama beberapa bodyguardnya. Fin masih dengan baju tidurnya dengan wajah yang belum dia cuci.
Fin menyimpan iPad nya, kemudian menatap Kiara yang baru datang.
"Kakak ipar kamu sedang kesal dengan Abang. Dia meminta Abang keluar," jelas Fin sambil meraih rantang makanan yang di bawa Kiara.
"Abang, gosok gigi dulu. Jorok!" gerutu Kiara yang tau kalau Kakaknya belum mandi.
"Gosok giginya bisa di skip saja gak sih? Abang males," jawab Fin membuat Kiara melebarkan matanya tidak percaya dengan apa yang abangnya ucapkan.
__ADS_1
"Gak salahkan Abang bilang gitu?" tanya Kiara heran.
"Sepertinya janin yang ada di dalam perut Kakak ipar tengah berulah," lanjut Kiara menyalahkan bayi yang di kandung Karina.
"Ckk... sana masuk. Pastikan sarapan Kakak iparmu habis," kesal Fin dengan adiknya.
Kiara heran dengan Kakaknya yang berbeda dari biasanya. Fin yang perfeksionis, tampak kacau hari ini. Sepertinya memang benar, adik dari Devin tengah berulah hari ini. Bukan mual seperti biasanya tapi lebih ke malas. Fin tetaplah Fin yang ketampanannya sudah di akui sampai pelosok Negeri. Walaupun belum mandi ketampanannya tidak berkurang sedikitpun.
Saat adiknya masuk, Fin bergegas menyantap sarapan yang Kiara bawa. Setelah selesai dia kembali berkutat dengan pekerjaannya. Masih banyak hal yang harus Fin urus.
"Bang, masuk sana," Setelah kurang lebih dua puluh menit di ruang perawatan Kakak iparnya, Kiara keluar dan meminta Fin untuk masuk.
Fin menengadahkan wajahnya yang tengah tertunduk menatap layar iPad.
"Heh?" tanyanya.
"Ckk... aku bilang masuk, Abang. Kenapa jadi kaya orang dongok sih?" ucap Kiara membuat Fin memelototinya.
"He... he..." Kiara hanya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.
"Kakak ipar kamu nyuruh Abang masuk?" tanya Catra pada akhirnya.
Kiara mengangguk.
"Jangan lupa transferannya! Ini hasil kerja keras aku meluluhkan hati Kakak ipar," gurau Kiara.
"Ckk... Sebulan Abang transfer dua puluh lima juta, masih kurang? Kartu saktinya...mau Abang tarik?" sindir Fin membuat Kiara gelagapan.
__ADS_1
"Oke oke!! aku ikhlas... serius! Silahkan masuk..." ucapnya mempersilahkan Fin masuk ke dalam ruangan Karina.
Tanpa menunggu lama, Fin bergegas masuk ke dalam ruangan sang istri. Tampak Karina tengah duduk di atas tempat tidurnya dengan wajah yang tertunduk murung.
"Mommy kenapa?" tanya Fin mengkhawatirkan istrinya.
"Apa Kiara melakukan sesuatu?" tanyanya menuduh sang adik.
Karina mengangkat kepalanya, menatap ke arah datangnya sang suami.
"D... Daddy..." Karina menangis.
"D... Daddy maafkan Mommy..." tangis Karina semakin kencang saat melihat Fin berjalan menghampirinya.
"Kenapa?" bingung Fin sambil mendudukkan tubuhnya di samping Karina.
"Ada apa?" tanya Fin kembali.
"Maaf Mommy sudah egois. Mommy terlalu di kuasai emosi kemarin. Daddy bahkan kehilangan milyaran rupiah gara-gara Mommy. Pekerjaan Daddy di Indonesia terganggu hanya karena harus menyusul Mommy kesini. Daddy berkorban begitu banyak, tapi Mommy malah... huaaaaaa..." tangis Karina semakin kencang saat mengingat kelakuannya tadi yang mengusir Fin begitu saja.
Fin raih tubuh istrinya kemudian memeluknya penuh sayang. Tangannya tidak berhenti mengelus punggung rapuh istrinya.
"It's oke. Semuanya baik-baik saja. Kehilangan beberapa milyar bukan hal besar bagi Daddy. Mommy dan anak-anak lah yang jadi prioritas Daddy" ucapnya menenangkan.
Ternyata Kiara memberitahu Karina tentang Kakaknya yang pergi di tengah rapatnya demi mencari Karina dan menyebabkan perusahaan rugi milyaran rupiah.
"Maaf..." lirih Karina dengan kedua tangan memeluk pinggang suaminya.
__ADS_1
"Daddy maafkan. Asal Mommy... puaskan Daddy," bisik Fin tepat di telinga Karina membuat hasrat Karina yang tinggi terpancing untuk langsung memuaskan suaminya.
Untuk permasalahan hari ini bisa Fin atasi dengan baik. Untuk ke depannya Fin tidak bisa menjamin. Dia sadar kebohongannya cepat atau lambat akan terbongkar. Hanya satu harapan Fin, ingatan istrinya segera pulih sebelum kebohongan itu di ketahuinya.