
"Kenapa? Anda tidak percaya? Apa anda perlu bukti kalau saya suaminya?" tanya Fin sinis sambil mengambil Karina dari gendongan Alziko.
"M... maaf. Bukan itu maksud saya Pak Fin." bantah Alziko sopan.
"Sebelumnya, saya minta maaf untuk kelancangan saya karena sudah menyentuh istri, Pak Fin. Sungguh, saya tidak ada maksud lain, saya..."
"Pergilah! Saya tidak membutuhkan penjelasan, anda!" perintah Fin dengan arrogant dan nada yang terdengar dingin.
"Abang!" bentak Bram sambil berjalan mendekati Fin dan Alziko.
"Jangan bilang, kalau kamu sudah lupa bagaimana caranya berterima kasih pada orang lain!" tegas Bram memperingatkan cucunya.
Fin menatap Kakeknya dengan tajam. Kedua mata zamrud dari Kakek dan cucu itu beradu pandang dan saling mengintimidasi satu sama lain.
Seumur hidup, ini kali pertama Fin melawan Kakeknya secara langsung. Dulu saat Fin menolak untuk di jodohkan, Fin hanya bisa kabur tanpa menolak secara langsung di hadapan sang Kakek.
Namun sekarang, Fin bahkan berani menatap mata zambrud yang selalu membuatnya menunduk itu. Ada seseorang yang harus dia lindungi untuk saat ini.
"Kenapa Kakek membela dia? Kakek bahkan membiarkan laki-laki itu menyentuh istri, Abang! Sebenarnya, apa yang tengah Kakek rencanakan, heh???" teriak Fin membuat para bodyguard yang ada di sana membalikan badan serta menundukkan kepalanya untuk melindungi harga diri Bram yang sudah di teriaki oleh cucunya itu di hadapan banyak orang.
Bram tetap tenang. Kedua tangannya, dia masukan ke dalam saku celana.
"Nak, Kakek sebagai perwakilan dari suami Karina, ingin berterima kasih karena sudah dengan cepat menyadari kondisi istri dari cucu Kakek saat akan pingsan yang bahkan suaminya sendiri saja tidak menyadari kalau istrinya itu tengah menahan sakit," ucap Bram berterima kasih pada Alziko sambil menyindir Fin, sang cucu yang menurutnya tingkat kepekaannya di bawah rata-rata.
Fin melebarkan matanya mendengar sindiran dari sang Kakek. Dia tidak habis pikir dengan Kakeknya yang lebih membela Alziko yang merupakan saingan bagi Fin.
"Kalian sudah puas bertengkar nya?" tanya sinis seorang perawat perempuan yang kemungkinan perawat tersebut adalah perawat senior, jika di lihat dari fisiknya yang sudah memiliki kerutan di bagian wajahnya.
Fin dan Bram melebarkan matanya tidak percaya. Ada orang yang berani bertanya dengan tidak sopan pada seorang Grahatama yang sangat disegani di negeri ini.
__ADS_1
Apa dia tidak tau kalau investor terbesar rumah sakit tempatnya bekerja sekarang adalah Grahatama Group?
"Hem?" kesal Bram dengan alisnya yang berkerut. Bodyguard sendiri sudah ancang-ancang siap menerima perintah.
"Apa kalian buta?" bentak perawat senior tersebut.
"Hey !! Jaga mulut lancangmu itu! Apa kamu sudah bosan..."
"Kalian tidak lihat tangannya mengeluarkan darah? Bekas infusan yang dia cabut secara tiba-tiba, membuat pena bekas tusukan jarum infus terbuka!! Kita.."
Fin bergerak mencari bed kosong untuk membaringkan sang istri yang saat ini masih ada dalam pelukannya.
"Anda jangan banyak ngomong! Cepat rawat istri saya!! Setiap tetes darah yang keluar dari tubuh istri saya, lebih berharga dari pada nyawa kamu sekali pun!" ucap Fin dingin.
"Abang!! Dia lebih tua dari kamu. Jaga kesopanan kamu. Jangan mempermalukan keluarga Grahatama dengan bersikap seperti itu!" tegas Bram mengingatkan.
Saat ini mereka tengah berada di lantai atas ruang perawatan. Fin dan Bram duduk di atas sofa ruang tengah kamar rawat, Karina.
Kakek tengah memainkan handphonenya sambil menyandarkan punggungnya pada sebuah sofa.
"Kenapa anak buah Kakek bilang kalau kamu kecelakaan?" tanya Bram pada sang cucu.
Fin mengedikkan bahunya, tanda tidak tau.
"Anak buah Abang meninggal satu orang. Mobil yang di kendarainya dia gunakan untuk menghadang sebuah truk yang kehilangan kendali dan melaju ke arah Abang," ucap Fin mengenang kejadian tadi.
"Kamu rawat baik-baik keluarga yang tersisa! Kamu berhutang nyawa!" tegas Bram pada sang cucu.
Fin hanya mengangguk. Tanpa di suruh sang Kakek pun sudah pasti Fin tetap melakukan hal tersebut.
__ADS_1
Kalau saja bodyguard nya tidak ada di sana, sudah pasti Fin lah yang menggantikan tempatnya, terbujur kaku di dalam kamar mayat. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Fin bergidik ngeri.
"Jaga dia baik-baik. Biar Kakek yang menjaga cicit Kakek di sana!" ucap Bram sambil bangkit dari duduknya.
"Kakek jangan berpikiran aneh-aneh! Apalagi berpikir untuk membawa kabur anak Abang!" tegas Fin untuk kesekian kalinya.
Pletak!
Sebuah jitakan mendarat di kepala Fin.
"Apa sehina itu Kakek di mata kamu?" tanya Bram pada sang cucu.
"Bukan begitu..."
"Sudahlah! Tidak ada gunanya berdebat dengan orang seperti kamu! Kamu tebus dosa-dosa kamu pada perempuan malang itu!" ucap Bram ambigu sambil berlalu pergi dari ruangan tempat Karina di rawat.
Dia masih belum sadarkan diri. Fin merangkak naik ke atas bed untuk tidur di samping sang istri. Bajunya dia buka karena sudah sangat kotor. Dia tidur sambil memeluk pinggang sang istri dan melesakkan wajahnya masuk ke dalam leher jenjang istrinya.
Dia menghirup aroma tubuh Karina yang selalu membuatnya tenang.
"I love you," bisik Fin sebelum memejamkan matanya bersiap untuk tidur.
Namun, saat akan mulai memasuki alam bawah sadarnya, tiba-tiba telepon genggam yang sebelumnya dia simpan di atas nakes, berdering.
Fin mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat nama si pemanggil.
"Abang..."
"Bisa Abang ke rumah Mama sekarang? aku takut..." lirihnya sambil terisak.
__ADS_1