
Karina masih duduk berjauhan dengan suaminya. Queen tengah mengemas barang-barang Nada untuk dia bawa pulang.
"Kak Queen, maaf tidak bisa membantu," tulus Karina. Queen tidak menjawab. Dia hanya menatap Karina sesaat sambil memberikan sebuah senyum ambigu kemudian kembali fokus membereskan barang Nada di bantu oleh Kiara.
Karina masih tidak bisa mendekati Queen karena mual yang menderanya saat parfum Queen menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya. Oleh karena itu, Karina masih menolak untuk di dekati suaminya karena parfum Queen masih menempel pada pakaian Fin.
"Kakak ipar masih mual?" tanya Kiara pada Karina.
"Ya Kiara. Sudah beberapa hari belakangan ini mual terus. Tapi hanya mencium bau parfum saja. Mungkin juga aku masuk angin," jawab Karina menyebutkan kemungkinan dari penyebab rasa mualnya.
"Bukan hamil?" tanya Kiara tiba-tiba membuat semua orang yang ada di ruangan melebarkan matanya mendengar kata hamil.
Mata Fin berbinar mendengarnya. Kini fokus semua orang berpindah pada Karina. Mereka menatap Karina penuh harap kecuali Queen.
"Kenapa menatap Mommy seperti itu?" tanya Karina pada suaminya.
"Apa yang Kiara bilang, benar?" tanya Fin pada istrinya.
Karina menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya tidak. Mommy bahkan masih menstruasi bulan ini," jawab Karina pelan.
Fin mengangguk membenarkan apa yang Karina sampaikan. Bahkan Fin sendiri tau kapan istrinya mendapat tamu bulanannya.
Bibir Queen melengkung sebuah senyum bahagia saat mendengar jawaban Karina. Namun setelahnya, dia segera menormalkan kembali ekspresinya sebelum orang lain melihatnya.
Tiba-tiba suasana di dalam ruangan menjadi hening. Kiara bahkan menyesal telah bertanya tentang hal tersebut. Membicarakan perihal kehamilan memang sesuatu yang sensitif.
Karina larut dalam pikirannya sendiri.
'Apa Daddy menginginkan anak kandung? Apa Devin tidak cukup untuk Daddy? Kalau suatu saat Mommy melahirkan anak kandung dari Daddy, apa Devin akan terasingkan?' tanya Karina pada dirinya sendiri.
Banyak kekhawatiran dalam diri Karina tentang bagaimana masa depan anaknya. Dia tidak ingin mengorbankan sang anak untuk kebahagiaan dirinya sendiri. Devin tetap yang utama bagi Karina.
"Jangan sedih." ucap Bram sambil mengusap punggung tangan Karina.
"Lagi pula, Devin masih sangat kecil untuk mendapatkan seorang adik," lanjut Bram menghibur Karina.
Karina menatap Bram penuh syukur. Matanya berkaca-kaca mendengar kata-kata yang menurut Karina menenangkan tersebut. Lihatlah, hanya dengan penghiburan seperti itu saja membuat Karina menangis. Karina bahkan menangis saat menonton drama favoritnya. Karina mengangguk sambil menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Telepon genggam milik Fin berdering menampilkan nama Renal sebagai si pemanggil. Fin menarik nafas lega. Setidaknya, panggilan tersebut dapat menyelamatkannya dari suasana canggung yang Kiara ciptakan gara-gara membahas tentang kehamilan.
"Kenapa Renal?" tanya Fin to the point.
"Oh, oke. Kami berangkat sekarang." jawab Fin kembali sambil mematikan panggilannya.
"Sudah siap?" tanya Bram pada Fin.
Fin mengangguk.
"Yuk. Berangkat sekarang," ajak Fin pada semua orang yang ada di dalam ruangan.
Beberapa orang yang merupakan bodyguard Bram membawa barang-barang milik Nada dan Queen untuk di bawa menuju lantai bawah.
Mereka semua berjalan keluar dari ruangan. Devin sendiri duduk di atas stroller di dorong oleh Bu Linda.
"Abang bawa mobil?" tanya Bram pada sang cucunya.
__ADS_1
"Bawa. Tadi kebetulan saat berangkat ke sini, Renal membawa mobil yang lain." jawab Fin.
Bram mengangguk paham.
"Queen, kamu kuat kan? Kita akan berangkat sekarang. Mama kamu di antar mobil jenazah langsung dari sini," jelas Bram.
"Aku lemas, Kek." jawab Queen lirih.
Karina sudah bisa menangkap maksud dari Queen dengan berkata demikian. Apa boleh buat? Karina tidak bisa berbuat apa-apa. Keadaannya sekarang tidak memungkinkan untuk Karina melawan ataupun membalas semua perbuatan Queen yang sudah memanfaatkan kondisinya yang tengah berduka untuk mendapatkan simpati dari suaminya.
'Untuk satu hari ini aku relakan Daddy di kuasai Kak Queen. Tapi, hanya hari ini! Tidak untuk hari-hari ke depannya!' pekik Karina dalam hati.
"Sebentar," ucap Bram sambil kepalanya menengok kanan dan kiri seolah tengah mencari seseorang.
Seorang perawat berjalan mendekat. Dia mendorong sebuah kursi roda kosong.
"Pak, ini kursi roda yang Bapak minta," ucapnya sambil memberikan kursi roda tersebut pada Bram.
"Terima kasih," Bram membawa kursi roda tersebut kehadapan Queen. Semua orang menatapnya penuh tanya.
"Untuk siapa?" tanya Kiara bingung.
"Kakek mau pakai kursi roda?" tanyanya kembali.
"Ckk..." decak Bram kesal dengan sang cucu.
"Queen, naik sini!" perintah Bram sambil menepuk kursi roda yang di pegang nya.
"Ohhh..." Kiara mengangguk pelan.
Walau kesal, namun Queen menurut. Pikir Queen, dengan dia bilang masih lemas dia akan di bopong oleh Fin saat turun menuju lantai bawah tempat mobil terparkir.
"Kan berat Kek!" rengek Kiara.
"Kenapa gak Abang saja yang mendorong Kak Queen?" tanya Kiara pada sang Kakek.
Queen tersenyum tipis mendengar usul dari Kiara. Beda halnya dengan Karina yang mendadak kesal dengan sang adik ipar. Hari ini mood Karina benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
"Abang kamu harus menyetir. Dia tidak boleh kecapean!" jawab Bram tidak masuk akal.
"Apa hubungannya, Kakek?" tanya Kiara mendengar jawaban sang Kakek yang terkesan seperti sebuah alasan yang di buat-buat.
"Kiara, sejak kapan kamu jadi se cerewet sekarang?" tanya Bram pada sang cucu.
Fin sendiri hanya diam menyaksikan perdebatan antara Kakek dan Adiknya.
Mereka semua berjalan menuju lift. Bram, Kiara dan Queen masuk ke dalam lift yang akan mengantar mereka menuju lantai bawah. Bram menghentikan Fin dan Karina saat mereka akan masuk ke dalam.
"Kalian naik setelah ini saja." ucap Bram sambil memencet tombol untuk menutup pintu lift.
Karina tersenyum dengan apa yang sudah Bram lakukan untuknya. Karina benar-benar bersyukur mempunyai seseorang yang benar-benar memahami isi hatinya.
Sudut mata Fin menangkap saat Karina tengah tersenyum sendiri. Fin berjalan mendekati Karina. Namun saat jarak Fin dan Karina semakin dekat.
"Ooouuu..." Mual itu datang kembali. Karina menutup hidung dan mulut menggunakan tangannya.
"Stop Dad! Daddy berdiri di pojok sana." ucap Karina sambil menunjuk pojok lift yang baru saja Karina masuki.
__ADS_1
Fin menghembuskan nafasnya secara kasar, kemudian ikut masuk dengan sang istri dan berdiri di pojok yang Karina tunjuk tadi.
Setelah beberapa saat dalam keheningan akhirnya mereka sampai di lantai bawah rumah sakit.
"Mommy tunggu di depan sana. Daddy bawa mobil dulu." ucap Fin.
"Baby, titip Mommy ya. Daddy bawa mobil dulu," titipnya pada sang anak. Seolah mengerti, Devin menganggukkan kepalanya.
Karina menunggu di depan pintu masuk dekat pintu masuk IGD. Fin sendiri pergi menuju tempat parkir rumah sakit untuk membawa mobilnya.
Sebuah ambulan datang dan berhenti tepat di hadapan Karina. Sebuah tandu turun dengan seorang perempuan muda tertidur di atasnya. Tubuhnya berlumuran darah dan tidak sadarkan diri. Sepertinya dia korban kecelakaan.
Bu Linda segera membalikan stroller Devin agar Devin tidak melihat pemandangan yang menyakitkan itu.
Mata Karina tidak lepas dari perempuan tadi. Sesuatu berkelebatan dalam bayangannya. Tiba-tiba Karina memegang kepalanya. Dia berjongkok sambil menangis karena kepalanya yang tiba-tiba sakit.
Bu Linda yang melihat Karina kesakitan segera menghampirinya.
"Ibu kenapa?" tanya Bu Linda panik.
"Sakit, Bu..." lirih Karina.
"Ada apa dengan bulan depan?" tanya Karina tiba-tiba.
"Ibu duduk dulu yuk," Bu Linda membawa Karina untuk duduk pada sebuah kursi yang tidak jauh dari tempat mereka menunggu.
Bu Linda juga memberi Karina air.
"Mommy kenapa?" tanya Fin yang baru turun dari dalam mobil. Fin datang dengan pakaian yang baru digantinya saat di tempat parkir. Fin panik melihat istrinya meringis sambil memegang kepalanya.
"Gak tau Pak. Tiba-tiba saja Ibu bilang kalau kepalanya sakit." jelas Bu Linda.
"Ayo, kita ke dalam saja. Mommy perlu di periksa," ajak Fin sambil meraih tangan istrinya.
Tangan Karina terangkat meminta Fin untuk diam. Karina mencoba mengatur nafasnya sebelum akhirnya menceritakan apa yang di alaminya pada sang suami.
"Entah kenapa, saat melihat perempuan yang kecelakaan tadi, ada beberapa bayangan tidak jelas berkelebat di dalam pikiran, Mommy." lirih Karina pelan.
"Semakin Mommy mencoba untuk mengingat semakin sakit juga di bagian kepala Mommy."
Degh...
Fin mematung.
"Apa yang Mommy ingat?" tanya Fin hati-hati. Dia takut, memori yang muncul merupakan potongan memori yang dapat menyebabkan kesalahpahaman.
"Tanggal lima belas bulan depan kita akan bertemu kembali di tempat yang sama," ucap Karina pelan.
"Dan itu pun hanya terdengar sayup-sayup tidak jelas," lanjut Karina.
Degh...
Jantung Fin berhenti dalam sesaat. Ya, itu kalimat dari tiga tahun lalu yang Fin ucapkan saat berpisah dengan Karina di bandara.
Mereka berjanji akan bertemu kembali di tempat yang sama seperti saat pertama kali Karina dan Fin bertemu dalam ketidaksengajaan.
Fin bahkan sudah membeli sebuah cincin yang akan dia pakai untuk melamar Karina saat bertemu di bulan berikutnya.
__ADS_1
Setiap bulan di tanggal lima belas, Fin selalu datang ke tempat yang sama dengan harapan yang sama. Yaitu, dapat bertemu kembali dengan Karina. Namun nihil. Selama tiga tahun itu, sekalipun dia datang dengan cincinnya, Karina tidak pernah ada di sana.