
Karina tidak membalas.
"Aku siap-siap dulu. Bibi bisa tolong jaga Devin sebentar?" tanyanya.
Bi Vina pergi menemui Devin yang tengah berada di ruang tengah rumahnya. Sementara Karina bersiap untuk pergi menuju pengadilan. Dia memakai dress hitam. Warna pakaiannya melambangkan suasana hati Karina saat ini. Walau berat ini sudah keputusan yang di pilihnya. Janin yang ada dalam kandungannya seakan tau apa yang Karina rasakan. Dia tidak banyak bergerak. Semenjak berpisah dengan Fin pun, sang janin banyak bertingkah dengan ngidam yang hampir setiap hari Karina rasakan. Ngidam nya pun kebanyakan makanan kesukaan Fin.
Selain itu, tiap pagi dan malam hari Karina mual dan muntah tanpa alasan. Kondisi ini kadang memberatkannya. Ada kalanya dia merindukan perhatian Fin. Namun, rasa sakit hatinya lebih besar di bandingkan dengan rasa rindunya. Pada akhirnya Karina menguatkan dirinya sendiri.
Karina duduk di depan cermin sambil melilitkan syal pada rambutnya. Dia juga mengoles lipstik berwarna merah menyala dengan hiasan mata yang dia buat tegas untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Baby, kuat ya. Kakak dan kamu sumber kekuatan, Mommy," bisik Karina sambil mengusap perutnya yang mulai terlihat sedikit mengembang.
Sebelum keluar dari dalam kamar, Karina menarik nafasnya panjang.
"Selamat Queen, kamu berhasil!" ucap Karina sambil tersenyum penuh kegetiran.
#########
Karina keluar dari pengadilan di dampingi Renal dan pengacaranya. Renal menatap Karina dan Devin secara bergantian. Gurat kesedihan terpancar dari mata Renal. Karina sendiri terlihat kuat dengan berusaha memberikan senyum terbaiknya kepada Renal.
"Kenapa harus seperti ini, heh?" tanya Renal pada akhirnya.
"Apa tidak ada jalan lain selain perceraian?" tanya Renal kembali.
Karina tersenyum.
"Terima kasih untuk perhatian Kak Renal selama ini. Titip Eca. Jangan buat dia kecewa!" ucap Karina tanpa menjawab pertanyaan Renal.
"Ckk..." kesal Renal.
"Sebentar, ada telpon masuk" ijinnya pada Karina. Renal menjauh untuk mengangkat panggilan dari kantor.
__ADS_1
Sementara itu, Karina menghela nafasnya dalam. Dia mengarahkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan Fin. Karina berharap dapat bertemu dengan sang mantan suami untuk terakhir kalinya.
Mantan suami. Ya, keduanya sudah resmi bercerai. Pengadilan mengabulkan permohonan Karina. Air matanya dalam seketika menetes saat mengingat statusnya yang sekarang. Dengan cepat Karina menghapus kedua sudut matanya yang berair sebelum Renal memergokinya.
"Mommy, are you oke?" tanya Devin tiba tiba.
Karina tersenyum sambil berjongkok mensejajarkan tinggi badannya.
"Ya. Mommy oke!" jawabnya.
"Terima kasih sudah menjadi anak hebatnya, Mommy. Maaf, Mommy belum jadi ibu yang sempura untuk, Devin," lirih Karina dengan suaranya yang bergetar.
"It's oke, Mommy. Mommy yang telbaik," jawab Devin membuat air mata Karina kembali menetes. Gisa Karina memeluk Devin untuk menyembunyikan air matanya.
"Wah boy, kenapa uncle tidak kamu peluk juga?" tanya Renal membuat Karina melepaskan pelukannya.
Devin tidak menjawab. Dia hanya diam sambil menatap Renal dengan tajam.
"Boy, uncle harus segera ke kantor. Ini semua gara-gara Daddy kamu yang pergi seenaknya tanpa bisa uncle hubungi sama sekali. Awas saja kalau setengah dari perusahaannya tidak di wariskan pada uncle," gurau Renal.
"Aku telepon Pak Deni, ya. Maaf tidak bisa mengantar kalian sampai rumah," sesal Renal.
"Tidak perlu Kak Renal. Ada beberapa tempat yang akan kami kunjungi terlebih dulu. Kak Renal duluan saja,"
"Kalian hati-hati ya. Karina kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi aku," pesan Renal sebelum akhirnya kembali ke kantor.
Karina mematung menyaksikan mobil Renal yang menjauh. Dia melamun memikirkan perkataan Renal.
"Tidak bisa di hubungi? Apa mereka saat ini tengah bersama?" gumam Karina. Dia mengira kalau Fin saat ini tengah menghabiskan waktunya bersama Queen.
Karina tersenyum miring.
__ADS_1
"Ya, tindakan yang kamu ambil memang sudah benar, Karina." gumamnya kembali.
Walaupun berusaha terlihat baik-baik saja, namun dalam hati kecilnya masih tersimpan rasa cemburu untuk mantan suaminya. Bagaimanapun lebih dari setengah tahun, Karina menitipkan hatinya kepada Fin.
"Mommy," panggil Devin sambil menggoyangkan tangan Karina.
Karina mengerjap.
"Ah, ayo. Kakek Bram sudah menunggu," ajak Karina pada Devin.
Karina melarang Kiara dan Kakek Bram untuk hadir di pengadilan. Dia tidak akan sanggup berhadapan dengan keduanya dalam situasi buruk seperti perceraian. Keduanya sudah Karina anggap seperti keluarga sendiri. Maka dari itu, Karina memutuskan untuk bertemu keduanya sepulang dari pengadilan. Karina juga akan memanfaatkan pertemuan ini untuk meminta maaf kepada Kakek Bram dan juga Kiara.
Karina berjalan bergandengan tangan bersama sang anak dan berhenti di pinggir jalan untuk menghentikan taksi yang akan membawa mereka ke kediaman Grahatama.
Sebuah taksi berwarna silver berjalan menghampiri keduanya. Karina sedikit maju sambil melambai ke arah taksi tersebut.
"Baby, kita naik taksi ya" ucap Karina saat melihat taksi yang di panggilnya melaju ke arahnya.
Namun setelahnya kepanikan terjadi. Taksi tersebut melaju dengan kencang saat jaraknya semakin dekat dengan Karina. Karina yang terkesima hanya bisa mematung sambil memejamkan mata. Tangannya menggenggam tangan Devin dengan erat.
"God..." teriak Karina pasrah. Dia sedikit membanting Devin ke belakang untuk menyelamatkannya. Namun, Devin memegang tangan Ibunya itu dengan kuat.
"Pergi Nak!!!" teriak Karina saat melihat jarak mobil yang semakin tipis.
Bruk...
Dengan secepat kilat, mobil silver bertuliskan taksi tersebut menghantam dua tubuh yang tidak bersalah. Keduanya terkapar di pinggir jalan. Karina tidak sadarkan diri dengan luka yang cukup serius. Sementara seseorang yang menyelamatkannya masih bisa bergerak meminta pertolongan.
Orang orang mulai berkerumun. Beberapa bahkan mulai mengejar mobil yang menabrak Karina.
"Mommy..." teriak Devin dari pinggir jalan. Dia berhasil di selamatkan oleh seseorang yang saat ini tengah terluka parah bersama Ibunya.
__ADS_1
"To... long... selamatkan dia. Dia pengidap golden blood," lirih seseorang yang berbaring bersama Karina sebelum akhirnya dia kehilangan kesadarannya.