Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Maafkan, Daddy!


__ADS_3

Karina ketakutan dan semakin mengeratkan tangannya pada dada Fin, Karina bahkan dapat merasakan tekstur padat dari dada bidang Fin yang sedang disentuhnya.


Karina memejamkan kedua matanya saat tubuh Fin semakin menempel dan menekan tubuh bagian depan dari Karina.


Sekiranya Fin akan meminta haknya malam ini Karina hanya bisa pasrah dia teringat kembali nasihat dari Bibinya tadi pagi yang meminta Karina bertindak sebagaimana seorang istri harus bertindak.


Namun setelah beberapa saat yang Karina rasakan tubuh kekar Fin menjauh.


"Nnnnnggg" suara bising dari alat pengering rambut yang Karina dengar kemudian.


Karina membuka matanya secara hati-hati ternyata saat tubuh Karina terdorong ke depan Fin sedang mencoba mengambil alat pengering rambut dari dalam laci yang terhalang tubuhnya.


Wajah Karina memerah menahan malu karena otaknya secara tidak sadar sudah berpikir tentang hal-hal yang biasa pengantin baru lakukan, Karina menundukkan wajahnya mencoba menyembunyikan warna merah di pipinya.


Melihat tingkah Karina yang seperti itu membuat Fin tidak bisa menyembunyikan senyumnya, Fin tersenyum dengan sangat tipis hampir tidak terlihat ternyata sangat menyenangkan mengerjai seseorang seperti itu, pikir Fin.


"Kenapa? kecewa?" tanya Fin dengan suara seraknya, tangannya terus bergerak mengeringkan rambut Karina yang basah.


Karina membelalakkan matanya dengan wajah menengadah menatap Fin, Karina menggeleng dengan panik.


Fin kembali menertawakan tingkah lucu Karina namun dia hanya tertawa di dalam hati, Fin masih menjaga image dinginnya di hadapan Karina.


Fin mengeringkan rambut Karina dengan hati-hati, jarak mereka cukup dekat satu sama lain bahkan Fin dapat menghirup aroma shampo yang Karina pakai, Fin juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memandangi wajah Karina yang terpantul dari kaca, wajah yang tiga tahun terakhir hanya bisa Fin pandangi dari selembar foto.


Karina hanya diam menerima perlakuan istimewa dari suami tampannya tersebut, dalam hati banyak sekali pertanyaan yang ingin Karina ajukan namun Karina pendam pertanyaan tersebut untuk dirinya sendiri termasuk mempertanyakan perlakuan manis Fin saat ini.


Suara nyaring dari alat pengering rambut penghilang, Karina turun dari atas meja saat Fin tengah menyimpan kembali alat tersebut ke dalam laci.


"Terima kasih" ucap Karina tulus.


"Saya akan menyiapkan air hangat untuk Bapak mandi" lanjut Karina sambil berlalu menuju walk in closet dan membawa baju ganti Karina untuk dia ganti di dalam kamar mandi.


Setelah selesai menyiapkan air hangat dan memakai pakaiannya Karina keluar dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Aakhhhh" teriak Karina sambil menutup mata dengan kedua tangannya, Karina membalikkan tubuhnya memunggungi Fin.


"Pak, kenapa melepas pakaian di sini?" tanya Karina pada Fin yang saat ini hanya memakai handuk putih yang dililitkan pada pinggangnya.


Fin bertolak pinggang sambil menatap heran istrinya.


"Saya sudah bilang jangan panggil saya Bapak, kecuali kita sedang berada di kantor" jelas Fin pada Karina.


Karina mengangguk cepat masih dengan posisi memunggungi Fin.


"Maaf" ucap Karina kemudian.


Fin berjalan, kemudian berdiri tepat di belakang tubuh Karina, tangannya dia lilitkan pada perut ramping Karina, Fin saat ini tengah memeluk Karina dari belakang.


"Untuk kali ini saya memaafkan kamu, kalau kamu melanggar kembali..." bisik Fin tepat di telinga Karina dan membuat bulu kuduk Karina berdiri. Fin tidak melanjutkan perkataannya karena dia sibuk mencium leher jenjang Karina.


Ciuman yang Fin berikan membuat Karina meremang, nafas Karina terhenti sejenak, tangan yang dia gunakan untuk menutup wajahnya berpindah meremas tangan Fin yang melilit di depan perutnya, Karina juga menggigit bibir agar tidak meloloskan sebuah *******, Karina bisa merasakan sesuatu milik Fin yang sudah mengeras dan mendesak bagian belakang milik Karina.


Karina menghembuskan nafasnya lega saat Fin sudah benar-benar masuk ke dalam kamar mandi, tangannya menggosok lembut leher bekas ciuman Fin.


Ada sedikit kecewa di hati kecil Karina saat Fin melepaskan pelukannya begitu saja kemudian Karina menggeleng cepat saat dia sadar apa yang otak kecilnya pikirkan.


Karina bergegas menyiapkan baju ganti untuk Fin yang dia simpan di atas tempat tidur kemudian Karina pergi menuju ruang makan untuk menyiapkan makan malam.


Di dalam kamar mandi Fin tengah mengutuk apa yang baru saja dia lakukan pada Karina, Fin tidak bisa menahan diri saat melihat tato yang ada di belakang leher Karina.


Konsekuensi dari tindakan agresifnya tersebut Fin harus menyelesaikan sesuatu yang sudah dia bangunkan dengan menggunakan bantuan tangannya sendiri.


Fin menuruni tangga dari lantai dua, Karina dibuat terpana dengan penampilan Fin yang jauh berbeda dari yang dia lihat sebelumnya, tidak ada rambut Pomade seperti biasanya, rambut Fin membentuk poni dengan menutupi kuningnya.


Fin memakai pakaian yang sudah Karina siapkan sebelumnya, kaos putih oblong dengan brand ternama di padukan dengan celana sport warna hitam dengan panjang di atas lutut.


Pipi Karina tiba-tiba merona saat dia ingat apa yang Fin lakukan tadi di dalam kamar, Karina berdiri untuk menjemput Devin agar bergabung untuk makan malam, menjemput Devin adalah cara Karina untuk menghindari kecanggungan.

__ADS_1


"Mau ke mana?" tanya Fin saat melihat Karina meninggalkan tempat duduknya.


Karina menatap Fin.


"Menjemput Devin untuk makan malam" terang Karina.


"Duduklah! biar aku yang menjemput Devin" perintah Fin pada Karina.


"Tapi..." ucap Karina yang tidak di hiraukan Fin karena dia sudah beranjak pergi memasuki lift yang langsung mengantarnya menuju lantai dua tempat kamar Devin berada.


Sambil menunggu Devin dan Fin datang, Karina mengisi piring Devin dan Fin dengan makanan.


Tidak berselang lama Fin muncul dari dalam lift sambil menggendong Devin melihat hal tersebut tiba-tiba hati Karina menghangat, Karina tidak pernah memikirkan hal yang saat ini dia lihat, untuk menemukan seseorang yang cocok dengan anaknya saja menurut Karina itu adalah hal yang sangat sulit, saat Karina menjalin hubungan dengan Ramon pun Devin tidak begitu dekat dengannya, mungkin karena Ramon yang tidak mau mengakrabkan dirinya pada Devin.


Maka melihat hal indah di depan matanya membuat air mata Karina mengalir begitu saja.


"Mommy napa?" tanya Devin pada Karina.


Fin yang mendengar pertanyaan Devin langsung mengarahkan pandangannya pada Karina.


Fin mengangkat sebelah alisnya bingung melihat Karina yang sedang menghapus air mata menggunakan punggung tangannya. Karina menggeleng sambil tersenyum ke arah Devin dan Fin.


"Kenapa?" tanya Fin dan Devin kompak membuat Karina tersenyum mendengarnya.


"Mommy hanya bahagia bisa makan malam bersama Devin dan Daddy" jawab Karina jujur.


"Aku juga cenang cekalang, aku punya Daddy seperti Mei" jelas Devin dengan antusias sambil menyebutkan nama temannya. Karina dan Fin saling pandang satu sama lain, ada rasa sakit di dalam hati Fin saat mengetahui ternyata ketidakhadirannya selama dua tahun usia Devin cukup berpengaruh bagi pertumbuhan Devin.


"Maafkan, Daddy yah" ucap Fin tulus sambil mengelus kepala Devin penuh sayang.


Karina yang mendengar permintaan maaf Fin mengerutkan keningnya bingung.


"Maksudnya?" tanya Karina.

__ADS_1


__ADS_2