Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Orang lain perlu tau!


__ADS_3

"Mommy tidak apa-apa?" tanya Fin sambil berjongkok di hadapan Karina yang tengah duduk di atas bangku sebelah ruang UGD.


Karina menatap mata suaminya. Ada beribu kekhawatiran dalam mata zamrud nya itu. Karina mengarahkan kedua tangannya untuk meraih wajah Fin. Karina tersenyum berusaha baik-baik saja.


"Mommy sudah jauh lebih baik. Daddy tidak perlu khawatir," ucap Karina menenangkan.


Fin membaringkan kepalanya di atas pangkuan Karina dengan kedua tangan melilit pada belakang pinggangnya.


"Jangan membuat Daddy khawatir lagi," lirih Fin sambil memejamkan matanya.


Bu Linda dan Devin sendiri, Fin suruh untuk pulang ke rumahnya. Seorang bodyguard, Fin percayakan untuk mengantar mereka berdua dengan selamat sampai di kediamannya.


Fin tidak mau, sang anak lama berada di lingkungan rumah sakit. Karena lingkungan rumah sakit sendiri tidak baik bagi anak sekecil Devin.


Karina mengusap kepala Fin yang tengah berbaring di atas pangkuannya.


"Dad, malu. Orang-orang melihat ke arah kita," bisik Karina pelan.


Posisi mereka masih di dekat ruang UGD tempat Karina tadi menunggu saat suaminya pergi membawa mobil dari parkiran rumah sakit.


Banyak orang berlalu lalang di sana. Baik yang masuk ataupun yang keluar. Tentu saja itu semua, sama sekali tidak berpengaruh bagi Fin.


Masih dengan posisi yang sama, Fin tetap dengan santainya, bermanja-manja di atas paha sang istri. Dia sama sekali tidak menghiraukan apa yang istrinya bilang


"Ayo berangkat," ajak Karina pada suaminya. Mereka sudah terlalu lama diam di depan rumah sakit. Bahkan mobil Kakek Bram dan mobil jenazah yang membawa Nada sudah berangkat meninggalkan rumah sakit setengah jam yang lalu.


Fin bangkit dan duduk di samping Karina. Tubuhnya menyerong menatap Karina yang duduk di sebelahnya. Wajah Karina sendiri masih terlihat pucat dengan bulir keringat yang masih tampak pada dahinya.


Fin mengusap keringat tersebut menggunakan punggung tangannya.


"Periksa dulu, yuk!" ajak Fin pada Karina.


"Gak, Dad. Mommy sudah jauh lebih baik sekarang." tolak Karina lembut agar tidak melukai hati suaminya yang jelas-jelas tengah menghawatirkan nya.


"Lebih baik apanya, Mommy? Lihat, wajah Mommy sekarang! Wajah Mommy masih pucat!" ucap Fin sambil mengarahkan tangannya pada wajah Karina. Dia kesal dengan istrinya yang keras kepala.


"Ckk, Mommy bilang gak apa-apa, Daddy! Ayo berangkat! Jangan sampai mereka menunggu kita terlalu lama," Karina bangkit sambil menghentakkan kakinya beberapa kali karena kesal.


Karina terus di paksa suaminya untuk masuk kembali ke dalam dan melakukan serangkaian pemeriksaan yang Karina yakini akan menguras banyak waktu.


Fin menghembuskan nafasnya secara kasar. Dia bangkit dari duduknya sambil bertolak pinggang. Fin menyaksikan punggung istrinya menghilang di balik pintu mobil yang terparkir di depan rumah sakit.


Karina berjalan menuju mobil suaminya dan masuk ke dalamnya meninggalkan Fin seorang diri.


Karina menghembuskan nafasnya lega sambil memasangkan sabuk pengaman.


Dia mengusap dadanya karena berhasil kabur dari paksaan Fin untuk memeriksakan kondisinya.


Bukan apa-apa, yang menjadi kekhawatiran terbesar Karina adalah masa depan pernikahannya. Dengan apa yang terjadi tadi saja membuat Karina resah.


Bagaimana kalau ternyata Ayah dari Devin kembali? Bagaimana kalau ternyata laki-laki yang menghamilinya seorang perwira yang tengah pergi untuk bertugas dan suatu saat akan kembali?


"Devin, Mommy tidak akan membiarkan kamu pacaran secara diam-diam. Cukup Mommy saja yang melakukan hal bodoh di masa lalu," ucap Karina sambil bergidik ngeri membayangkan masa lalunya.


"Bodoh! Kenapa juga kecelakaan itu hanya menghapus sebagian memori ku? Dan itu hanya tentang pria yang menjadi..." ucapnya terhenti sambil memukul kepalanya dengan tangan.


"Sudahlah Karina... yang menjadi Ayah Devin sekarang adalah Fin Grahatama. Kamu tinggal bilang saja kalau Devin anak kandung dari Fin Grahatama. Siapa juga yang berani melawan keturunan Grahatama, heh? Lagi pula, mereka memiliki kesamaan pada warna mata mereka." ucap Karina lega.

__ADS_1


Setidaknya warna dari bola mata Fin dan Devin menjadi keuntungan bagi Karina, sehingga orang-orang tidak akan mempertanyakan status Devin termasuk Ayah kandung Devin. Pikir Karina.


Mata Karina menerawang melihat ke samping jendela mobilnya. Tampak suaminya tengah berdiri menahan kesal.


Karina mengarahkan tangannya untuk mengusap jendela mobil seolah-olah tengah mengusap wajah suaminya.


"Maaf Dad. Mommy terlalu takut. Bahkan Mommy tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Mommy tanpa Daddy!" lirih Karina pelan.


Karina segera memejamkan matanya dan pura-pura tertidur saat Fin terlihat berjalan menuju mobilnya.


"Kenapa sulit sekali mengajak Mommy untuk memeriksakan kondisi, Mommy? Apa yang harus Daddy lakukan, hem?" lirih Fin pelan, bertanya pada dirinya sendiri.


"Karena untuk bicara jujur pun, Daddy tidak bisa..." lirih Fin pelan.


Fin mengalah. Dia mengikuti Karina untuk masuk ke dalam mobilnya. Fin akan membujuk Karina kembali saat kondisinya memungkinkan. Karena kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk Fin lebih lama membujuk sang istri. Waktunya pun, sudah mepet dengan waktu pemakaman sang Tante yang akan di laksanakan sore ini.


Saat Fin masuk, tampak sang istri tengah memejamkan matanya sambil sedikit menurunkan jok mobilnya. Fin mencondongkan sedikit tubuhnya dan mengecup kening Karina.


Karina tidak merespon. Dia hanya diam saat sang suami melabuhkan bibir lembabnya di atas keningnya.


Selanjutnya, yang Fin lakukan adalah berbisik.


"Love you." bisik Fin tepat di telinga istrinya. Sebelum kembali ke posisinya, Fin meraih tangan sang istri kemudian mengecupnya.


Fin melajukan mobil yang di kendarainya menuju kediaman Nada. Jarak dari rumah sakit menuju kediaman Nada cukup jauh. Karina yang awalnya pura-pura tertidur akhirnya benar-benar terlelap.


Saat menyetir, Fin beberapa kali mencuri pandang ke arah istrinya. Fin masih tidak percaya kalau saat ini yang duduk di sampingnya adalah perempuan dari tiga tahun lalu yang pernah membuat Fin frustasi karena kehilangan jejaknya.


Setelah menempuh perjalanan satu setengah jam, akhirnya mereka sampai di kediaman Nada. Mobil Kakek Bram sendiri sudah ada di halaman rumah Nada.


Tampak beberapa karangan bunga berjejer di sana. Semua itu dari rekan bisnis mendiang Ayah Queen serta dari rekan bisnis Queen sendiri.


Karina masih terlelap di dalam mobil. Fin sampai tidak tega membangunkannya apalagi dengan kondisi Karina saat di rumah sakit tadi yang tiba-tiba drop. Fin turun seorang diri dari dalam mobil.


Dari arah dalam rumah, tampak Renal dan Eca yang berjalan menghampiri Fin.


Para wartawan yang melihat kedatangan Fin, tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut agar dapat mewawancarai sang pengusaha muda yang terkenal arrogant itu.


Namun, tentu saja tidak mudah untuk mewawancarai seorang Fin Grahatama. Beberapa bodyguard langsung membuat formasi pertahanan agar sang Tuan tidak di dekati para pencari berita tersebut.


"Karina sama si Tuan muda ke mana?" tanya Renal menanyakan keberadaan Devin dan Karina pada Fin.


Fin tidak menjawab pertanyaan dari Renal. Dia masih berdiri dengan wajah arrogant nya dan kedua tangan yang dia masukan ke dalam saku celananya.


"Eca, kamu tunggu di dalam mobil..."


"Kenapa istri ku, kamu suruh masuk ke dalam mobil?" sewot Renal yang mendapat delikan tajam dari Fin dan Eca. Fin bahkan belum selesai memberi perintah.


"Ckk," decak Fin.


"Baik, Pak!" jawab Eca tanpa melayangkan protes.


"Yank..."


Tangan Fin terangkat meminta Renal untuk diam.


Fin berbalik menatap Eca.

__ADS_1


"Tunggu!" panggilnya pada Eca.


Eca berhenti, kemudian berbalik menatap Fin.


"Iya, Pak." jawabnya.


"Kamu jangan bangunkan istri saya, sampai dia bangun dengan sendirinya," pesan Fin pada Eca.


Eca membungkuk.


"Baik, pak!" jawab Eca kembali dan masuk ke dalam mobil.


Renal sendiri tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Hihi..." cicit Renal.


Fin hanya mendelik tanpa menanggapi. Dia berjalan meninggalkan Renal untuk masuk ke dalam rumah Nada.


Di dalam rumah ada beberapa wartawan yang tengah sibuk memotret Queen yang tengah berduka.


Fin bahkan mendengar beberapa bisikan yang mereka lontarkan saat dia sampai di dalam.


"Wah, kenapa ada Pak Fin? Bahkan Pak Bram pun hadir di sini? Jangan-jangan..." ucap salah seorang wartawan.


Bram sendiri tengah sibuk menyambut kedatangan tamu yang merupakan kolega dari klien perusahaan mendiang Ayah Queen.


"Jangan-jangan ... Queen sebenarnya istri yang selama ini Pak Fin sembunyikan!" sahut wartawan yang lain.


Queen menatap ke arah datangnya Fin. Dia berdiri dan langsung berjalan menghampiri Fin sambil menangis.


"Abang..." panggilnya sambil masuk ke dalam pelukan Fin. Queen tiba-tiba pingsan di dalam pelukan Fin.


Fin membopong tubuh Queen dan membawanya naik menuju lantai dua. Para wartawan mengambil kesempatan tersebut untuk membuat berita yang bahkan tidak mengkonfirmasi kebenarannya terlebih dahulu.


Bodyguard yang ada di sana tidak bisa menghentikan para wartawan karena jumlah mereka kalah banyak.


Di ambang pintu, Karina menyaksikan segalanya serta mendengar bisikan-bisikan yang orang lain cetuskan tentang suaminya.


Karina tidak merespon. Dia mematung menatap sang suami yang tengah membawa tubuh Queen di dalam pangkuannya.


Bram yang menyaksikan semuanya menghampiri Karina sambil meraih tangannya untuk dia bawa kehadapan wartawan dan memberitahukan kebenarannya.


Namun, Karina tetaplah Karina. Dia bukan seseorang yang haus akan pengakuan apalagi suasana saat ini tengah berkabung.


Karina menahan tangan Bram sambil menggelengkan kepalanya. Dia memohon pada sang Kakek untuk tidak membocorkan identitasnya.


Dengan berat hati, akhirnya Bram menuruti permintaan Karina.


"Kamu tidak bisa terus menerus menyembunyikan kebenaran ini, baby!" ucap Bram pada Karina.


"Orang lain perlu tau, mana Nyonya Fin Grahatama yang asli. Dengan begitu, kamu telah menyelamatkan harga diri satu perempuan dari sebuah obsesi yang tidak masuk akal." lanjut Bram ambigu.


"Hem?" tanya Karina tidak mengerti.


"Bukankah mencintai suami orang lain merupakan obsesi yang tidak masuk akal?" tanya Bram kembali.


Karina melebarkan matanya, kaget dengan pertanyaan Kakek dari suaminya itu.

__ADS_1


'Apa Kakek mengetahui, kalau sebenarnya Kak Queen mencintai, Daddy?' tanya Karina pada dirinya sendiri.


'Apa jangan-jangan, selama ini... Daddy juga mengetahui perasaan Kak Queen? Jangan bilang, kalau kalian tengah bersekongkol untuk merencanakan sesuatu,' ucap Karina dalam hati.


__ADS_2