
Pagi-pagi sekali Karina terbangun dari tidur lelapnya, semalam Karina sempat mengkhawatirkan Devin yang mulai tidur terpisah dengannya, namun saat melihat CCTV yang tersambung pada monitor di kamarnya, Karina dapat tidur dengan tenang saat dilihatnya Devin langsung tidur pulas walau harus tidur ditemani Bu Linda.
Selain mengkhawatirkan Devin, Karina juga belum terbiasa dengan kebiasaan barunya karena harus tidur bersebelahan dengan Fin.
Pengetahuan baru Karina tentang Fin suaminya adalah, Fin si gila kerja yang saat waktunya tidur pun dia akan membawa MacBook nya ke atas tempat tidur dan mulai memeriksa ulang pekerjaannya.
Karina beranjak dari tempat tidur untuk pergi mencuci wajah dan mengganti pakaiannya namun ke mana suaminya pergi saat jam masih menunjukkan pukul enam pagi, saat bangun tidur Karina mendapati dirinya hanya seorang diri di atas tempat tidur mewahnya.
Setelah membereskan tempat tidur dan menyiapkan pakaian kerja untuk Fin, Karina pergi menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Bu, Devin sudah bangun?" tanya Karina pada Bu Linda yang tengah menyiapkan susu untuk Devin.
Bu Linda membalikan badannya saat mendengar sang Nyonya bertanya padanya.
"Aden masih tidur Bu, saya buatkan Aden susu biar pas nanti Aden bangun dia tidak menangis" jelas Bu Linda pada Karina.
Karina mengangguk kemudian tersenyum ke arah pengasuh anaknya tersebut.
"Terima kasih ya Bu, pada dasarnya Devin anak penurut hanya kadang kala dia juga susah diatur" terang Karina pada Bu Linda.
"Tidak masalah Bu, anak dua tahun normalnya seperti itu, Devin termasuk anak cerdas yang gampang menyerap apa yang kita sampaikan, dia juga tipikal anak yang pengertian" jelas Bu Linda kembali.
"Saya pamit ke kamar Aden dulu Bu" pamit Bu Linda.
Karina mengangguk.
"Oh iya, apa Ibu melihat suami saya?" tanya Karina sedikit canggung dengan sebutan barunya kepada Fin.
"Sepertinya Bapak di lantai tiga, Bu" jelas Bu Linda.
"Oh makasih Bu" tulus Karina.
Bu Linda hanya tersenyum sebagai jawaban.
Karina memakai celemek dan mulai membuat sarapan untuk anak dan suaminya, pagi ini Karina membuat scrambled egg untuk Fin dengan tambahan irisan wortel, jagung dan jamur sementara untuk Devin, Karina membuat banana pancake dengan olesan madu.
Untuk membuat sarapan, Karina tidak terlalu kerepotan karena dia hanya membuat masakan sederhana, setelah selesai membuat sarapan Karina memasak kembali untuk makan siang Devin.
__ADS_1
Jadi saat jadwal Devin makan siang, Bu Linda tinggal menghangatkannya ke dalam microwave, Karina sudah terbiasa melakukan semuanya sendirian bahkan saat dia masih tinggal bersama Ayahnya.
"Bibi mau buat apa?" tanya Karina saat melihat Bik Neneng akan menggunakan hand blender.
"Oh ini Bu saya mau buat jus untuk Pak Fin, tiap selesai olahraga Pak Fin selalu minta dibuatkan jus buah atau sayur" jelas Bik Neneng dengan logat Jawa kentalnya.
"Oh jadi Pak Fin di lantai tiga sedang olahraga?" tanya Karina.
"Iya Bu, Bapak selalu bangun pagi untuk berolahraga, lantai tiga rumah ini digunakan untuk tempat gym, bahkan di atas terdapat kolam renang khusus untuk Bapak berolahraga" jawab Bik Neneng.
"Wah saya sepertinya harus mengeksplor rumah ini" seru Karina pada Bik Neneng.
"Mulai hari ini setiap pagi biar saya saja yang membuat jus untuk Bapak, Bibi bisa mengerjakan pekerjaan lain atau bantu saya membuat sarapan" lanjut Karina.
"Siap Bu! sekarang saya ngapain Bu?" tanya Bik Neneng kembali.
Karina tersenyum sambil tangannya sibuk ngebland buah kiwi dan brokoli.
"Bibi bisa tolong bantu saya memasukkan itu ke dalam wadah?" tunjuk Karina pada makanan yang terpisah di atas meja makan.
"Bik, maaf kalau sudah selesai langsung masukkan ke dalam mobil yah," teriak Karina sambil memasukkan jus yang sudah dia buat ke dalam gelas.
"Apa yang di masukkan ke dalam mobil?" tanya Fin yang tiba-tiba ada di belakang Karina.
Karina tersentak kaget. Tangan kiri Fin meraih pinggang Karina, sementara tangan kanannya mengambil alih gelas berisi jus yang hampir saja tumpah, kemudian Fin langsung menenggak habis jus tersebut.
Karina sendiri masih mematung di tempatnya dan sibuk memperhatikan Adam Apple Fin yang naik turun saat sedang menenggak jus kiwi mix brokolinya, keringat yang mengucur serta kulit yang mengkilat karena keringat menambah kadar keseksian seorang Fin di mata Karina.
"Apa yang disimpan di dalam mobil?" tanya Fin kembali sambil menyimpan gelas kosong di atas meja, tangannya masih berada di pinggang Karina.
Karina meraih kembali kesadarannya, mata Karina mengerjap lucu dengan bulu mata lentik nya yang saling beradu.
"Mmm... itu sarapan untuk Kiara" jawab Karina sambil menyembunyikan rona di pipinya.
"Lihatlah si pria dingin kembali dengan mode manisnya" batin Karina bermonolog.
"Di sana sudah ada yang mengurus Kiara, kamu tidak perlu repot-repot membuatkan dia sarapan" jelas Fin pada Karina.
__ADS_1
"Nggak gitu, aku pernah merasakan berada di posisi Kiara, Ibu yang baru melahirkan membutuhkan banyak perhatian dan dukungan dari orang-orang terdekat mereka, mungkin yang aku lakukan terlihat sepele namun itu semua bentuk dukungan dan kasih sayang ku untuk Kiara" jelas Karina panjang lebar.
Fin mengganggukan kepalanya dengan alis mata yang sedikit terangkat seperti sedang berpikir.
"Terserah dia anak yang manja jangan sampai dia jadi ketergantungan sama kamu" jelas Fin pada Karina.
"Apa salahnya? toh dia bergantung pada Kakaknya sendiri" jawab Karina. Fin hanya mengangguk sambil mengeringkan keringatnya menggunakan handuk.
"Ya sudah, Bapak mandi dulu saya akan ke kamar Devin terlebih dahulu" pamit Karina pada Fin.
"Daddy" ucap Fin.
Karina berbalik menghadap sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Hem?" tanya Karina bingung.
"Panggil Daddy" jelas Fin.
Karina pun menunjuk dirinya sendiri menggunakan tangan.
"Saya?" tanya Karina kembali.
"Iya, aku sudah memutuskan perihal panggilan masing-masing kamu panggil aku Daddy, aku panggil kamu Mommy seperti panggilan Devin pada kita" jelas Fin dengan keputusan final nya.
Karina mengangguk.
"Oke. Da... Daddy" ucap Karina dengan sedikit tergagap karena tidak biasa dan juga merasa sangat canggung pada Fin.
"Ya begitu lebih baik" puji Fin. Karina kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam lift
"Mommy!" panggil Fin sesaat sebelum Karina masuk ke dalam lift, Karina berbalik sambil memiringkan kepalanya melihat Fin.
" Apa tidak ingin ikut mandi bersama Daddy?" tanya Fin pada Karina yang kini tengah berada di dalam lift yang sebentar lagi akan tertutup.
"FINNNNNN!!!" teriak Karina dari dalam lift yang tertutup.
Fin tergelak menertawakan tingkah konyolnya, kemana perginya sifat dingin Fin? Fin sendiri saja heran setelah bersama dengan Karina sifatnya bisa berubah menjadi seperti sekarang.
__ADS_1