
Pria tersebut adalah Fin, suami dari, Karina! Perempuan yang baru saja di lamar lelaki lain di hadapan suaminya sendiri, Fin bergeming dia masih pada posisinya dengan mata dinginnya yang mendominasi. Renal yang duduk di sebelahnya, bahkan di buat bergidik melihat sahabatnya dalam mode seperti itu, Renal tahu betul, sahabatnya paling tidak suka, apapun yang menjadi "milik-nya," diganggu ataupun di inginkan orang lain.
Renal berniat menghampiri Robert, untuk memperingatkan nya. Namun, Fin menahan tangan Renal, Renal mendudukkan kembali bokongnya diatas kursi yang sejak tadi ditempatinya.
"Fin, karyawan tersebut tidak..."
Fin mengangkat tangannya meminta Renal berhenti bicara!
Renal mengatupkan kembali mulutnya.
"Anak yang malang," batin Renal mengasihani Robert, yang tidak tahu kalau wanita yang tengah dia lamar, adalah istri dari bosnya.
"Maaf Pak, sebenarnya saya sudah menikah," jujur Karina pada Robert. Karina tidak melihat kebohongan pada mata Robert, saat dia melamarnya tadi. Sehingga dengan terpaksa, Karina membongkar statusnya dengan harapan, Robert akan menemukan perempuan yang jauh lebih baik dari pada, Karina.
Fin menarik ke atas garis bibirnya membentuk lengkung sebuah senyuman. Fin menatap Renal seolah berkata.
"Kamu lihat istri ku?" Terihat arrogant. Bahkan bibir sebelah kanannya menyungging keatas.
Fin menatap Renal dengan tatapan penuh bangga, setelah bagaimana istrinya dengan lugas, memberi tahu perihal statusnya yang sudah bersuami. Padahal saat itu, Karina yang meminta Fin untuk tidak mengumumkan pernikahannya. Namun Karina dapat merubah komitmennya, saat dirasa dia perlu memberitahukan nya.
Seandainya Karina mengetahui pemikiran Fin saat ini yang merasa bahagia karena pengakuan Karina, mungkin Karina akan berkata.
"Saya hanya memberi tahu status saya yang sudah menikah, bukan dengan siapa saya menikah!" Mungkin itu yang akan Karina katakan pada suami narsis nya.
"Ckk," decak Renal, sambil menggeleng pelan. Tangannya dia lipat di atas dada sambil bertumpang kaki dan punggung yang bersandar pada kursi.
Fin masih menyimak segala percakapan antara istri dan bawahan nya tersebut.
"Hah?" tanya Robert refleks.
"Saya, sudah menikah satu minggu yang lalu, Pak," jujur Karina.
"Ha... ha... ha... jangan bercanda, kamu!" tutur Robert sambil tergelak dengan tangan mengusap sudut matanya yang berair akibat tawanya tersebut.
Karina mengerutkan keningnya bingung dengan respon Robert.
__ADS_1
"Loh, kenapa Bapak tertawa?" tanya Karina heran.
"Mana ada orang yang sudah menikah tapi dia tidak memakai cincin pernikahan nya?" tanyanya meremehkan.
"Bilang saja kalau kamu menolak saya, tidak perlu membuat alasan dengan bilang, kalau kamu sudah menikah!" lanjut Robert.
Karina menatap tangannya, kemudian dia arahkan kembali tatapannya pada Robert.
"Saya memang sudah menikah, Pak!" jelas Karina kembali.
"Ya sudah lah, terserah, kamu!" ucap Robert, sambil kembali menyeka air mata yang tersisa di sudut matanya. Robert dapat membungkus lukanya dengan sebuah senyuman palsu.
Di kursi berbeda Fin tengah mengutuk dirinya sendiri yang melupakan barang sakral dari sebuah pernikahan, hasrat Fin untuk secepatnya memiliki Karina membuat hal penting lainnya dia lupakan.
Renal menatap Fin dengan tatapan meremehkan.
"Ckk... ckk..." decak nya beberapa kali.
"Seorang Fin Grahatama, yang terkenal dengan kekayaannya, yang tidak akan habis untuk tujuh turunan, tidak mampu membelikan istrinya sebuah cincin kawin? Benar-benar aib keluar... "
Renal dengan sigap menangkapnya di sertai dengan senyuman meledek.
"Lagian, kamu lucu, Fin Grahatama! Hari ini saja, kita pulang pergi ke dua kota sekaligus, menggunakan jet pribadi keluarga Grahatama. Masa hanya sebuah cincin saja, kamu bahkan tidak mampu untuk membelinya?" ejek Renal kembali.
"CK" decak Fin sambil menatap Renal dengan tatapan tajamnya.
"Ayo, kembali ke kantor! kamu di bayar buat kerja, bukan buat ngatain atasan mu!" ucap Fin kemudian.
"Sepertinya kamu ingin berhenti bekerja!" lanjut Fin menyunggingkan senyum devil nya, sambil berlalu pergi meninggalkan restoran setelah puas mendengar jawaban dari Karina.
"******,!" jawab Renal sambil mengekor dibelakang Fin.
Masih di kursi yang sama, Karina dan Robert melanjutkan percakapan mereka. Namun bukan perihal lamar melamar, melainkan perihal berita tentang kepindahan Karina selama sepuluh hari yang banyak orang bicarakan.
"Pak, apa benar saya akan mewakili kantor pusat, dalam acara tahunan yang di selenggarakan di anak perusahaan yang ada di daerah terpencil?" tanya Karina pada Robert.
__ADS_1
"Kamu sudah mendengarnya?" tanya Robert sambil menyesap kopinya.
"Tadi banyak orang kantor yang bilang," Jawab Karina pelan.
Robert menyimpan gelas kopinya, kemudian melipat tangannya di atas meja.
"Tadinya saya akan membicarakan hal ini kemarin siang, namun menurut Nisa, kamu dipanggil ke ruangan, Pak Fin," terang Robert.
Karina mengangguk dengan kedua tangannya yang saling memegang di bawah meja. Dia berharap Robert akan berkata kalau yang Karina dengar dari orang kantor tidaklah benar, itu hanya wacana semata. Namun, harapannya pupus saat dengan jelas Robert mengatakan.
"Apa yang kamu dengar, semuanya benar! Itu semua sudah keputusan dari CEO langsung. Bukan hak saya juga untuk mengajukan komplain. Jadi saya harap, kamu dapat menerima keputusan tersebut secara lapang dada. Hanya sepuluh hari!" jelas Robert pada Karina.
Karina menarik nafasnya dalam. Bagaimana bisa dia harus berpisah selama sepuluh hari dari anaknya? Bagaimana juga anaknya bisa hidup tanpa melihat Karina? sepuluh hari di pelosok Negeri dengan sinyal yang pasti susah di dapat, kecuali menggunakan fasilitas perusahaan.
Karina bahkan tidak dapat membayangkan nya. Kenapa suaminya dengan tega membuat keputusan yang bahkan Karina tidak dimintai pendapatnya? Tanya Karina dalam benaknya.
Pukul setengah lima sore, Karina baru sampai di mansion mewah milik Fin. Dia memasuki mansion dengan gontai.
"Mommy..." Teriak Devin yang langsung berlari dan meloncat masuk ke dalam pelukan sang Mommy.
"Devin..." pekik Karina kembali, sambil menghujani Devin dengan ciuman di seluruh wajahnya. Bau minyak kayu putih menguar dari tubuh anaknya, pertanda Devin baru selesai di mandikan.
"Baby, bisa turun dulu?" pinta Karina pada anaknya, Devin menurut kemudian berdiri di hadapan Karina bersama Bu Linda yang masih berdiri di samping Devin.
Karina mensejajarkan tubuhnya dengan Devin.
"Mommy harus mandi dulu, diluar banyak kuman yang menempel di pakaian Mommy!" jelasnya pada Devin.
"Oke?" tanyanya kembali.
Devin mengangguk sambil tersenyum manis menampilkan lesung pipi di kedua pipi chubby nya. Karina mengusap kepala Devin dengan sayang, sebelum pergi menuju lantai atas untuk mandi.
Saat di lantai dua tempat kamarnya berada, Karina melihat ruang kerja suaminya yang bersebelahan dengan kamar Karina dan Fin terbuka.
"Apa Daddy, sudah pulang dari luar kota?" tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Karina berjalan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Namun, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya saat mendengar percakapan Fin, dengan seorang perempuan di dalam ruang kerja yang tidak tertutup rapat itu.