
Seperti biasa, Karina terbangun dengan tangan seseorang melilit erat pada perutnya. Wajah Karina tertekuk kesal saat matanya melihat wajah pulas suaminya, tengah meringkuk di atas bed rawat miliknya.
Pagi ini, entah kenapa Karina benar-benar tidak suka melihat suaminya. Ingin sekali rasanya Karina meneriaki Fin dan melampiaskan kekesalannya. Tidak seperti biasanya dia memiliki perasaan seperti pagi ini. Sepertinya, sang jabang bayi tengah berulah, dengan menjauhkan ibunya dengan sang Daddy.
Dengan menggunakan ujung sikut, Karina mencoba menyingkirkan tangan Fin dari atas tubuhnya. Karina bergegas bangkit untuk menjauhi suaminya.
Fin yang merasa sisi sampingnya kosong, lantas membuka mata dengan tangan menyentuh samping tempat tidur, tempat di mana Karina berbaring.
"Mom!!" panggil Fin panik. Dengan kedua tangan, Fin mengucek matanya yang masih sayu. Dia juga bergegas bangkit untuk pergi mencari istrinya. Wajah Fin benar-benar panik.
Karina tidak menyahut. Dia hanya diam dan duduk di pojok ruang rawat inap nya sambil menyaksikan kepanikan dari suaminya. Karina bahkan tersenyum miring saat Fin dengan panik mencarinya.
"Ckk, acting yang natural!" decak Karina masih dengan kekesalannya.
"Terus saja pura-pura peduli!" sinisnya kembali.
Fin mencari ke dalam kamar mandi. Namun di sana kosong.
"Apa Mommy benar-benar pergi? Good..." desah frustasinya. Fin menyugar rambutnya ke belakang, kemudian meletakan kedua tangannya di atas pinggang.
Karina hanya diam. Dia ingin melihat sejauh mana suaminya itu peduli dengannya.
"Kurang ajar! Kenapa saat sedang putus asa seperti itu, ketampanannya bertambah beberapa kali lipat?" gerutu Karina tidak terima.
Fin saat ini tengah menghubungi seseorang melalui telepon genggamnya.
__ADS_1
"Tidak keluar? Kamu yakin?" tanyanya.
Fin menghubungi bodyguard yang berjaga di luar ruangan. Mereka mengatakan kalau Karina tidak keluar kamar sama sekali.
Fin kembali mencari istrinya di dalam kamar rawat inap yang cukup luas dan mewah tersebut. Fin tersenyum sambil menarik nafas leganya saat matanya menangkap sosok mungil istrinya tengah duduk di samping pojok ruangan yang pencahayaan sangat minim.
Dia duduk dengan infusan yang masih menancap pada pembuluh darahnya. Mata Karina menatap Fin dengan tajam. Tidak ada senyum ramah seperti biasanya. Wajah istrinya itu terkesan judes.
"Oh God! Daddy pikir Mommy kemana," ujarnya sambil berjalan mendekati sang istri. Fin memeluk Karina dengan posisinya yang masih berdiri. Kepala Karina tepat berada di perut Fin.
Karina masih membeku. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
"Mommy masih marah?" tanya Fin lembut. Dia berusaha tetap tenang dengan mengikuti keinginan istrinya.
"Hanya itu?" tanya Karina kembali.
"Hem?" bingung Fin.
"Ckk... sudahlah!" Karina bangkit kemudian berjalan menuju tempat tidur meninggalkan Fin dengan kebingungannya.
'Aku bisa memaafkan kesalahan lain, kecuali perselingkuhan. Belajar dari kisah Mama yang terlalu mudah memaafkan Papa. Pada akhirnya, Papa tetap dengan sifatnya setelah ribuan kali di maafkan Mama.' batin Karina mengenang.
'Bukannya dengan Daddy mengharapkan wanita dari tiga tahun lalu itu sama saja dengan Daddy berselingkuh? Hanya waktunya saja yang belum pas. Mungkin juga saat ini kalian tengah menunggu waktu yang tepat untuk kembali bersama,' Karina memikirkan hal-hal yang menurutnya bisa saja terjadi di kemudian hari.
"Kenapa Mommy melamun?" tanya Fin yang saat ini sudah ada di sampingnya.
__ADS_1
Dalam sesaat, perasaan benci muncul dalam hatinya. Dia kembali kesal walau hanya dengan melihat suaminya. Lamunannya barusan, berhasil membuat mood Karina hancur pagi ini.
"Apa tidak ada yang ingin Daddy jelaskan?" tanya Karina sekali lagi.
"Apa yang Mommy maksud tentang surat dan cincin yang ada di rumah?" tanya Fin pada istrinya. Wajahnya kembali serius. Fin duduk di samping Karina dengan mata yang tidak lepas dari menatap netra coklat milik istrinya tersebut.
Karina tidak gentar. Dia harus mendapat jawaban atas rasa penasarannya selama ini.
"Ya. Apa Daddy bisa menjelaskan semua itu? Mommy sudah siap, sekarang!" jawab Karina dingin.
Fin menarik nafas. Sepertinya Karina benar-benar penasaran dengan perempuan dari tiga tahun lalunya itu. Walaupun akan sangat sulit untuk menjelaskannya, namun Fin mencoba sebisa yang dia mampu dalam mengarang sebuah cerita. Belum waktunya Karina mengetahui segalanya. Dengan terpaksa Fin harus berbohong. Benar-benar bukan keahlian Fin.
"Cincin dan surat itu, Daddy bawa ke rumah untuk Daddy simpan ke dalam gudang. Mommy tau kesibukan Daddy kan? Daddy bukan sengaja menyimpannya di sana, hanya saja Daddy lupa. Perhatian Daddy bukan hanya untuk benda tersebut. Masih banyak yang harus Daddy prioritaskan." jelas Fin singkat. Fin menunggu respon istrinya. Apa penjelasan Fin dapat meluluhkan hati istrinya? Pikir Fin.
Karina tidak memberikan respon apapun. Dia hanya diam terkesan berpikir.
"Sudah?" tanya Karina pada akhirnya.
Fin mengangguk. Fin merasa cukup dengan penjelasannya. Dia tidak ingin menjelaskan kebohongannya itu dengan panjang lebar yang pada akhirnya akan menyulitkannya sendiri. Yang jelas, poin penting dari penjelasannya itu sudah dia sampaikan. Cincin dan surat yang istrinya temukan itu, bukan sesuatu hal yang penting sehingga Fin melupakan keberadaannya.
"Daddy boleh pergi sekarang! Saat ini, Mommy ingin sendiri" usir Karina dengan tidak berperasaan.
"Satu lagi. Andai saja ke depannya Daddy benar-benar mengkhianati Mommy, tidak ada kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya. Mommy akan pergi tanpa perdebatan. Mommy anggap apa yang Daddy lakukan sebagai karma dari perbuatan Papa yang mengkhianati mendiang Mama! Jadi, jangan khawatir Mommy tidak akan menyalahkan siapapun untuk apa yang Daddy lakukan," ucap Karina menekankan.
Setelah berpikir semalaman, akhirnya Karina memutuskan untuk pasrah dengan apa yang Tuhan takdir kan untuknya. Banyaknya dosa yang sang Papanya lakukan pada ibunya membuat Karina berpikir kalau semua yang dirinya alami merupakan karma buruk dari kelakuan Papanya di masa lalu.
__ADS_1