
Hari yang ditunggu-tunggu oleh para karyawan kantor telah tiba. Yaitu, acara ulang tahun perusahaan yang akan digelar tepatnya nanti malam.
Bagaimana para karyawan tidak excited, acara tersebut akan di selenggarakan di salah satu hotel milik Grahatama Group itu sendiri, yaitu Grahatama Cavinton Hotel.
Salah satu Hotel termewah yang harga permalam nya bisa mencapai ratusan juta dengan fasilitas eksklusif nya yang lengkap.
Ulang tahun perusahaan yang di adakan setiap satu tahun sekali itu pun mereka jadikan sebagai hari raya bagi para karyawan Grahatama Group.
Pasalnya, setelah acara itu selesai dan acaranya berjalan dengan lancar, bonus tahunan yang lumayan besar akan masuk ke dalam rekening para karyawan kantor.
Selain itu, mereka juga bisa menghabiskan waktu selama weekend, di hotel tempat acara berlangsung, lengkap dengan fasilitas mewah nya secara cuma-cuma tanpa harus mengeluarkan biaya ini itu.
Mereka, cukup menunjukan kartu identitas karyawan yang nantinya akan di scan pada sebuah layar monitor. Bagi yang sudah berkeluarga dan ingin membawa keluarganya, mereka hanya akan di mintai biaya setengahnya saja.
Saat hari mulai petang, Karina baru sampai di rumahnya. Sebelumnya Karina disibukkan dengan persiapan di hotel tempat terselenggara nya acara tersebut.
Karina mengecek segala persiapan sebagai perwakilan dari divisi nya. Karina memastikan segala nya berjalan dengan sempurna sesuai yang di harapkan semua orang.
Karina berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya. Dia rebahkan tubuh lelah nya di atas tempat tidur dengan kedua tangan dan kaki yang terbuka lebar, seakan mencari kebebasan setelah seharian kaki indahnya terbelenggu dalam balutan sebuah heels 9 cm.
Karina hirup wangi parfum sang suami yang menyeruak di seluruh ruangan, kamar pribadinya.
Saat sedang sendiri seperti sekarang ini, Karina kadang merindukan pelukan menenangkan dari sang suami. Tidak bisa di pungkiri, Karina sudah mulai nyaman dan bergantung dengan kehadiran suaminya.
Karina merogoh telepon genggam yang ada di saku celananya. Dia buka kontak teleponnya, kemudian menekan kontak yang paling atas untuk dia panggil.
Namun, saat panggilan tersambung pada nomor pemiliknya, Karina cepat-cepat mematikannya.
"Oh, God! Apa yang aku lakukan?" tanyanya pada diri sendiri.
Karina menyimpan kembali telepon genggam tersebut di sebelah tubuhnya. Karina berguling merubah posisinya menjadi telungkup, dengan kepala yang dia tenggelamkan ke dalam tempat tidur.
Karina mengerjap kaget saat tiba-tiba telepon genggam miliknya berdering. Karina raih telepon genggam yang tergeletak di sebelahnya itu.
Mata Karina hampir meloncat keluar, kala nama sang suamilah yang terpampang pada layar telepon genggam nya dan saat ini tengah memanggil nya melalui video call.
Karina rapi kan rambut nya yang berantakan, kemudian menggeser icon warna hijau nya ke atas.
Saat panggilan terangkat, tampak wajah tampan sang suami memenuhi layar handphone miliknya. Dengan refleks Karina tersenyum sambil menatap sang suami dengan penuh rindu.
"Kenapa, Mommy?" tanya Fin lembut sambil memberikan senyum hangatnya.
Sebenarnya Fin tengah berbahagia karena mendapati nomor sang istri memanggil nya, walaupun hanya beberapa detik saja. Setidaknya ada kemajuan dengan hubungan mereka yang baru terjalin satu setengah bulan itu.
__ADS_1
Fin yang pasrah akan masa lalu yang di lupakan istrinya, akhirnya mencoba membangun dan menciptakan kembali sebuah momen dan memori yang baru.
Fin bertekad, seandainya di masa depan sang istri melupakan nya kembali, dia akan selalu datang dengan menciptakan kenangan yang baru bersama orang yang sama dan rasa yang sama.
"Daddy," panggil Karina lembut.
"Mi... mi... miss you!" gugupnya dengan wajah yang merona.
Fin memberikan senyum lebarnya.
"Miss you too, Mommy and my son." jawabnya tak kalah lembut. Fin jujur. Dia sedang sangat merindukan anaknya.
"Devin dimana?" tanya sang suami kembali.
"Biasa, dia dirumah Adek nya." jawab Karina.
"Mommy siap-siap dulu, ya! Bye... bye!" ucapnya terburu-buru, sambil menutup panggilan dari suaminya.
Karina lupa, kalau pukul tujuh seluruh karyawan harus sudah berada di lokasi untuk persiapan akhir sebelum pukul setengah delapan acara di mulai.
Karina bangkit dari tempat tidur dan mulai melucuti seluruh pakaian untuk selanjutnya membersihkan tubuhnya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk dia berada di dalam kamar mandi. Karina hanya membutuhkan lima belas menit karena waktunya sendiri sudah sangat mepet.
Karina perlu merias dan memakai pakaian adat yang di pilihnya itu seorang diri tanpa menggunakan jasa make up artis.
Setelah di rasa siap, Karina keluar dari dalam kamar untuk pergi menuju lantai dasar rumahnya dan berangkat menuju lokasi acara.
Karina sampai di Grahatama Cavinton Hotel sekitar pukul tujuh kurang sepuluh menit. Sudah tampak juga beberapa rekan kerja nya disana.
"Wow!" Karina berseru saat masuk ke dalam lokasi acara.
"Seperti sedang mengikuti sebuah parade Nusantara!" serunya kembali dengan binar di mata coklatnya saat melihat sekeliling Karina di penuhi dengan karyawan yang memakai pakaian adat sama sepeti dirinya.
Para karyawan yang tengah mengecek persiapan pesta sesaat mengalihkan perhatian nya pada gadis cantik yang datang dari pintu masuk ballroom.
Mereka di buat terpesona dengan kecantikan dan keanggunan Karina yang saat ini memakai Payas Agung, pakaian khas Bali yang biasa di kenakan wanita Bali saat menikah.
Pakaian adat Bali memang selalu mencuri perhatian. Selain etnik, pakaian adat Bali juga selalu kental dengan nilai-nilai filosofi yang dalam.
Payas Agung yang Karina pakai menggunakan kain sasanteng yang sengaja di lilitkan pada bagian tubuh. Perpaduan warna hitam, abu dan silver menambah kesan mewah pada pakaian Payas Agung yang Karina kenakan.
Selain itu, pakaian Payas Agung ini pun di lengkapi dengan pemakaian mahkota berwarna silver yang cukup besar.
__ADS_1
"Wih... cantik amat Neng," heboh Mila saat melihat Karina. Nisa dan Rina pun menghampiri Karina yang baru sampai di dalam ballroom.
"Wah beneran pakai baju Bali kamu? Aman berarti." seru Nisa.
"Apanya yang aman?" tanya Karina bingung.
Lengan Nisa di senggol tangan Rina. Sementara Mila menatap tajam mata Nisa sambil mulutnya komat-kamit mengucapkan sesuatu.
"Ma... maksudnya, kamu aman karena memakai pakaian adat, bukan memakai gaun pesta." dustanya. Rina dan Mila menarik nafasnya lega mendengar jawaban dari Nisa.
"Oh," jawab Karina singkat.
"Ayo kita berbaris untuk menyambut kedatangan tamu. Kurang dari sepuluh menit lagi tamu undangan pasti akan mulai masuk!" Ajak Nisa pada rekan-rekan nya.
Mereka mulai berjalan menuju pintu masuk ballroom. Ruangan tempat Karina bekerja kebetulan bertugas sebagai penerima tamu. Sudah ada beberapa orang yang juga sedang bersiap untuk berjejer seperti yang akan Karina dan rekan-rekannya lakukan.
Karina tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kalian!" pekiknya sedikit kencang.
Ketiga sahabat Karina menutup kedua telinga nya sambil terus berjalan dengan langkah lebar menuju tempatnya bertugas tanpa menghiraukan teriakan Karina.
Karina menarik nafasnya dalam. Dia kembali berjalan dengan anggun dan memberikan sedikit senyuman di wajahnya.
Tampak Robert tengah mengatur bawahan nya. Saat menyadari kedatangan Karina, Robert menghentikan aktivitas nya dan mengalihkan fokus nya pada kecantikan tambatan hatinya.
"Khem," dehem beberapa karyawan yang melihat Robert mengenakan pakaian yang cocok dengan Karina. Siapa lagi tersangka nya kalau bukan sahabatnya.
Karina memberikan senyum tipisnya kemudian mulai mengambil posisinya.
"Bersiap, Pak Fin beserta tamu undangan akan mulai memasuki Ballroom ini!" perintah Robert pada bawahan nya.
Semua penerima tamu sedikit membungkuk untuk memberi hormat kepada mereka yang sebentar lagi masuk ke dalam ballroom.
Tampak seorang petugas memegang walkie talkie dan memberitahukan pada lawan bicaranya kalau keadaan di dalam ballroom telah siap.
Karina menarik nafasnya. Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdetak cepat. Apa karena dia sudah sangat merindukan sang suami? Pikir Karina.
Beberapa orang penting mulai masuk. Fokus mereka langsung teralihkan pada wanita cantik yang berdiri di tengah dengan pakaian adat Bali nya.
Namun setelahnya mereka nampak kecewa karena tidak ada satupun dari tamu yang masuk cocok dengan pakaian wanita cantik itu kenakan.
Sementara Robert menarik senyumnya lebar, merasa dia yang akan menjadi pemenangnya.
__ADS_1
Namun senyum lebar itu seketika sirna, saat seorang pria yang tampak tampan dan gagah masuk bersama beberapa orang di belakang nya dan seorang wanita cantik di sebelahnya.
Tidak hanya Robert yang kehilangan senyumnya, tapi juga Karina. Saat di lihatnya sang suami masuk bersama Queen di sebelahnya.