
Fin dan Karina sampai di tempat sang anak dengan Eca sebagai pembimbing jalan. Devin tersenyum cerah di atas stroller yang sedang di naikinya.
Karina risih karena menjadi pusat perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Namun inisiatif Karina untuk memakai masker sebelum naik ke atas heli tadi dapat menyelamatkan identitas dan privasinya.
Karina dan Fin menghampiri sang anak. Tanpa menunggu lama Fin langsung membawa tubuh mungil sang anak ke dalam gendongannya.
Devin membalik topi yang tengah di pakainya sehingga bagian depannya menghadap ke belakang. Setelahnya dia cium pipi kanan dan kiri dari sang Daddy.
"Telima kasih, Daddy cudah datang!" bisiknya pada telinga Fin.
Fin mengecup pipi sang anak kemudian membalas bisikan dari anaknya.
"Tidak masalah. Apapun Daddy lakukan untuk kamu, Baby!" bisiknya pada telinga Devin.
Devin menatap mata hijau, Fin. Warna mata yang sama persis dengan bola mata yang dimiliki Devin. Dia mengangguk sambil mengelus pelan dagu Daddy nya dari bawah ke atas.
"Apa Devin tidak rindu sama, Mommy?" tanya Karina pura-pura marah.
"Mommy?" tanya Devin bingung. Karina mengangguk menjawab pertanyaan Devin.
Devin tidak mengenali Karina karena seluruh wajah Karina tertutup sunglasses dan masker yang tengah di pakainya.
Karina membuka sunglasses nya menunjukkan matanya cokelatnya pada sang anak.
"Mommy! Kenapa Mommy pakai itu?" tanya Devin bingung.
"Mmm... Mommy sedang pilek!" dusta nya pada sang anak.
Devin mengangguk lucu, kemudian memeluk Daddy nya kembali.
"Apa kamu tidak ingin mencium, Mommy?" tanya Karina sedih.
"Tadi, saat Daddy datang kamu langsung memberikan Daddy ciuman di pipinya. Kenapa sama Mommy tidak?" protes Karina. Karina merasa terkhianati oleh anak dan suaminya sendiri.
"Mommy, cakit. Depin da boyeh tium, Mommy!" jawab Devin dengan pintarnya.
Karina melongo mendengar jawaban anaknya. Akhirnya kebohongannya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
Karina mengerucutkan bibir di balik masker yang di pakainya. Apalagi saat melihat wajah suaminya yang tengah mengejek dengan memberinya sebuah senyuman tengil.
Fin menurunkan kembali anaknya dan memasukkannya ke dalam stroller. Fin mendorong stroller tersebut dengan sebelah tangan karena tangannya yang lain dia gunakan untuk merangkul pundak istrinya.
"Bapak mu, Boy... senang sekali bikin heboh orang-orang!" sindir Renal yang berjalan di belakang Fin.
"Ckk..." decak Fin.
__ADS_1
"Kak Renal, terima kasih sudah menjaga, Devin. Maaf kalau Devin merepotkan." ucap Karina tulus. Dia merasa tidak enak karena sudah mengganggu jadwal libur sahabat suaminya yang sudah dia anggap seperti Kakaknya sendiri itu.
"Tidak masa..." jawabnya terpotong.
"Nggak apa-apa, Mom. Jangan sungkan! Dia mendapat motor sport baru sebagai ganti dari liburnya yang terganggu karena harus menjaga, Devin." sahut Fin dengan wajah datarnya.
"Dimana lagi dia dapat kerjaan semenguntungkan itu." lanjut Fin dengan sombongnya.
Eca menatap Renal. Dia tersenyum dengan bibir sebelah kanan tersungging mengejek. Eca mengangguk-anggukkan kepalanya pelan dengan mata yang terangkat meremehkan.
"Si..." ucap Renal yang mendapatkan delikan tajam dari Fin.
"Renal!" ucap Fin mengingatkan. Karena Fin yakin, kalau sahabatnya saat ini akan mengumpat. Devin sedang bersama mereka. Bahaya kalau Devin sampai mendengar kata-kata yang akan mengotori telinganya itu.
Eca yang berjalan di samping Renal langsung membekap mulut Renal dengan mata yang menatap tajam.
Renal melepaskan tangan Eca dari mulutnya. Dia protes dengan apa yang di lakukan Eca.
"Lang..."
"Language, please!" sahut Renal menirukan ucapan yang selalu di ucapkan Fin.
Fin mengangguk.
"Bagus kalau masih ingat!" lanjut Fin.
########
Mereka semua mengelilingi kebun binatang hingga pukul dua siang. Saat ini Devin tengah tertidur pulas di atas stroller nya. Fin meraih tubuh sang anak kemudian dia bawa ke dalam gendongannya.
Stroller yang di pakai Devin merupakan tipe stroller travel. Fin tidak tega melihat posisi tidur anaknya sehingga berinisiatif untuk menggendongnya.
Mereka semua berjalan menuju pintu keluar kebun binatang. Walaupun sudah siang antusiasme orang-orang yang berada di lokasi untuk melihat Fin dan keluarganya tidak berkurang.
Bahkan beberapa dari mereka ada yang mengabadikannya dengan telepon genggam milik mereka.
"Wah, apa itu istrinya?" bisik para pengunjung di dekat pintu keluar.
"Sayang sekali wajahnya tidak kelihatan," ucap pengunjung lain.
"Lihatlah, wajah tampan anaknya! Wajah ibunya pasti cantik juga. Perpaduan yang indah dari keduanya menghasilkan anak setampan Tuan Muda Grahatama." jawab seseorang lain.
Karina dan Fin dapat mendengar desas-desus yang di ucapkan orang lain. Fin tersenyum dalam hati. Dia puas dengan tebakan orang-orang mengenai keluarganya. Namun, beda halnya dengan Karina. Dia merasa tidak nyaman dan sangat terganggu dengan apa yang di dengarnya. Fakta bahwa orang-orang menyebut kalau Devin mirip dengan Fin dan merupakan pewaris dari kerajaan Grahatama Group yang hartanya tidak akan habis walau tujuh turunan itu membuat Karina tidak nyaman.
Karina takut untuk menganggap semuanya akan baik-baik saja untuk ke depannya. Pertemuan singkat, pernikahan kilat, tanpa tau tujuan pernikahan itu sendiri membuat Karina membangun tembok tinggi agar hatinya tidak terluka di kemudian hari.
__ADS_1
Karina selalu mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak masuk ke dalam pesona suaminya. Tapi naluri seorang istrinya selalu mengkhianati hatinya. Tanpa disadari saat kedatangan Queen pun nalurinya langsung bekerja memerintah otaknya untuk berpikir bagaimana cara mengamankan miliknya.
Pada akhirnya Karina hanya bisa pasrah, kemana takdir akan membawanya. Cukup siapkan hati saja untuk kemungkinan terburuk dalam pernikahannya. Karena, 'Ada wanita dari tiga tahun lalu yang Fin harapkan kedatangannya.' hati Karina mengingatkan.
#########
Saat ini Fin dan yang lainnya tengah berada di salah satu restoran mewah yang menyediakan ruangan private.
Devin duduk di atas kursi khusus balitanya. Karina tengah menyuapi Devin. Saat Bu Linda akan menyuapinya Karina mengambil alih makanan Devin kemudian mulai menyuapinya dengan penuh kesabaran.
Saat ini mereka tengah menunggu menu makan siang di hidangkan. Untuk makanan Devin sendiri, Karina menyiapkannya dari rumah.
"Eca," panggil Fin memecah keheningan.
Semua orang memusatkan perhatiannya pada Eca dan Fin.
"Papi kamu menghubungi saya," lanjutnya.
Eca menyimak kata demi kata yang bosnya katakan dengan perasaan berdebar.
"Dia meminta kamu untuk pulang."
"Pulang?" tanya Eca.
"Kenapa? Apa Papi saya sakit? Kenapa Papi tiba-tiba meminta saya untuk pulang?" panik Eca, karena permintaan Papinya di luar kebiasaannya.
"Sepertinya bukan sakit." jawab Fin kembali.
Eca menghembuskan nafas leganya.
"Kalau tidak salah, kamu diminta bertemu dengan anaknya Tuan Albert." lanjut Fin.
"Jadi Papi tidak membatalkan perjodohannya?!" gumam Eca pelan.
Brakkk!
Renal menggebrak meja makan.
"Apa? Perjodohan? Zaman sekarang masih ada orang bodoh yang menerima perjodohan?" tanya Renal penuh emosi.
Semua orang tersentak kaget mendengar Renal menggebrak meja. Mereka juga mengerutkan dahinya melihat reaksi berlebihan dari Renal.
"Renal!" bentak Fin mengingatkan.
Renal kelepasan. Tiba-tiba hatinya memanas saat mendengar Eca mengatakan kalau dia akan di jodohkan oleh Papinya.
__ADS_1
"Bodoh kalau kamu menerima perjodohan itu!" bisik Renal pada telinga Eca.
'Lebih bodoh lagi, kalau saya harus berakhir dengan pria seperti anda!' jawab Eca dalam hati.