Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Sia-sia!


__ADS_3

Karina bangun pagi seperti biasanya. Karina juga memulai paginya dengan segala kesibukannya sebagai ibu rumah tangga seperti ibu-ibu lainnya.


"Selamat pagi, Bibi!" sapanya pada maid yang tengah mempersiapkan bahan makanan untuk Karina olah.


"Pagi, Bu!" jawab maid tersebut dengan tangan yang terus bekerja.


Karina belum sadar kalau suaminya tidak ada di rumah pagi ini. Karina pikir Fin tengah berolahraga di lantai tiga rumahnya, seperti pagi-pagi biasanya.


Karina memakai celemek dan mulai berkutat dengan alat-alat perangnya. Pagi ini Karina memasak sedikit lebih banyak. Rencananya dia akan mengirim makanan tersebut pada sang bibi yang saat ini tinggal bersama satu orang yang menemaninya di rumah.


Suster yang Fin tempatkan di rumah Bik Vina sendiri, sudah kembali karena kondisi Bik Vina yang sudah sangat membaik dan tinggal pemulihan saja.


Setelah selesai membuat sarapan, Karina seperti biasanya menyiapkan jus buah yang akan di minum sang suami saat turun nanti.


Jam menunjukan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Namun Fin tak kunjung turun dari lantai tiga rumahnya. Karina mengkerutkan dahinya heran dengan keterlambatan suaminya yang tidak pernah terjadi sebelumnya itu. Biasanya Fin akan turun saat jam menunjukan pukul setengah tujuh.


"Bik.... Bibi...!" panggil Karina dengan teriakan kencangnya, namun tetap terdengar sopan karena bukan sebuah bentakan.


Salah satu maid berjalan dengan tergesa dan segera menghampiri sang Nyonya yang terlihat tengah gelisah.


"Iya, Bu!" jawabnya sopan.


"Apa Bibi melihat, Bapak?" tanya Karina pada maid yang usianya jauh diatas Karina.


"Bapak?" tanya Maid tersebut heran.


"Ya! Apa Bapak masih di lantai tiga?" tanya Karina kembali.


"Tidak ada, Bu! Saya tidak melihat Bapak di lantai tiga!" jawabnya kembali.


"Heuh?!" pekik nya kaget.


"Bapak tidak ada di lantai tiga??" tanya Karina meyakinkan kembali apa yang di dengarnya tidak salah.


"Ya, saya tidak melihat beliau disana!" jawab maid tersebut penuh keyakinan.


"Ya, sudah, bibi bisa kembali bekerja! Terima kasih, Bi!" ucap Karina yang saat ini sudah mulai kehilangan fokusnya.


Karina segera beranjak menuju lantai tiga rumahnya. Tangannya saling meremas cemas.


"Sebenarnya Daddy kemana?" lirih Karina saat menunggu lift yang dinaikinya sampai di lantai tiga.


"Dad!! Daddy!!" panggil Karina sambil berkeliling ke setiap ruangan yang ada di lantai tiga untuk mencari keberadaan suaminya.


Saat dilantai tiga sang suami tidak ditemukannya, Karina turun kembali. Sekarang yang menjadi sasaran Karina adalah lantai dua. Di lantai dua tersebut, Karina pergi mencari ke kamar sang anak terlebih dahulu.


Tampak Devin masih terlelap di atas tempat tidurnya. Ada juga Bu Linda yang tengah membereskan pakaian Devin dan memasukannya ke dalam lemari.


Karina berjalan menghampiri Bu Linda secara perlahan, takut membangunkan anaknya.


"Bu, apa Bapak tadi kesini?" tanya Karina pelan.


"Tidak, Bu! Kebetulan saya belum keluar kamar sama sekali." jawab Bu Linda.


Karina mengangguk mengerti. Dia langsung pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


"Apa Daddy langsung ke kamar?" tanya Karina pada dirinya sendiri.


Karina masuk ke dalam kamarnya. Dia mulai mencari keberadaan sang suami. Namun nihil, Karina kembali tidak dapat menemukan suaminya.


"Daddyyyyyy... !!!" teriak Karina di dalam kamarnya. Matanya mulai mengkristal. Karina dudukan tubuhnya di atas kursi depan meja rias.


"Kok kesal? Kenapa dada Mommy sakit, saat tau kalau Daddy pergi tanpa meminta izin pada, Mommy?" lirih Karina sambil memukul dadanya yang sesak.


"Jangan cengeng Karina! Memangnya masalah besar apa yang sedang kamu hadapi, heh? Apa kamu di usir kembali dari rumah? Atau... kamu diasingkan kembali? Hanya masalah sepele! Kenapa harus menangis?" tanya Karina sambil menatap pantulan wajahnya pada cermin meja rias. Dia mengasihani dirinya sendiri yang terlalu mendramatisir hilangnya sang suami.


Karina mengusap air matanya dengan punggung tangan. Tiba-tiba perhatian Karina teralihkan pada dua benda pipih yang tergeletak di atas meja riasnya.


Karina mengerutkan kening saat melihatnya. Setelahnya, Karina masukan benda tersebut ke dalam laci.


Saat Karina akan beranjak pergi menuju kamar mandi, tiba-tiba telepon genggam miliknya berdenting menampilkan nama Queen di layar iPhone nya.


Karina mengerutkan kening.


"Si rubah ngirim foto apaan?" tanya Karina saat melihat Queen mengiriminya sebuah gambar.


Karina buka pesan yang Queen kirimkan.


Degh!


Karina melebarkan matanya. Tiba-tiba dadanya berdetak kencang, hatinya tersayat, saat melihat isi dari pesan yang Queen kirimkan.


"Jangan cari suami kamu, dia masih bobo nyenyak sekarang! Dia kelelahan!" Isi dari pesan tersebut


Dalam foto yang Queen kirim, Fin tengah tertidur pulas dengan selimut yang menutupi sampai dadanya.


Karina tidak dapat melihat dimana lokasi suaminya tidur. Karena foto yang Queen kirimkan hanya menampilkan bagian dada sampai kepala dari Fin tanpa memotret lokasi sekelilingnya.


Tidak ada tangis seperti saat pertama dia tidak menemukan suaminya. Karina hanya diam dengan segala rencana yang sedang dia susun di dalam otaknya.


"Oke Karina, hal pertama yang harus kamu lakukan saat ini adalah mandi!" ucapnya tenang, kemudian pergi menuju kamar mandi dengan kedua tangan terangkat untuk mengikat rambutnya ke atas.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Karina mandi dan bersiap. Karina sekarang sudah rapi dengan penampilan badasnya. Rambut dia ikat kuncir kuda. Bibirnya dibuat merah dengan lipstik maroon nya. Riasan matanya pun dia buat dengan gaya smoky eyes.


Karina bercermin untuk memastikan kembali penampilannya. Dia pun memakai kacamata sebagai pelengkap style nya hari ini.


"Perfect!" ucap Karina pada cermin dihadapannya.


"Sekarang kamu bukan Karina yang dulu lagi! Sudah terlalu baik kamu membiarkan si rubah itu berulah. Sekarang giliran kamu yang bertindak, membangunkan dia dari mimpi yang akan membawanya pada hal yang lebih gila lagi!" lanjut Karina sebelum akhirnya pergi menaiki mobil yang dikendarainya sendiri.


Setelah berkendara cukup lama, akhirnya Karina sampai di tempat tujuannya.


Karina turun dari atas mobil sport suaminya. Sebelum pergi ke tempat yang akan dia tuju, Karina merapikan kembali penampilannya serta memasang masker untuk menutupi identitasnya.


Karina masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju lantai teratas gedung yang dia datangi. Tangannya meremas tas yang sedang di jinjingnya.


"Lihat saja kalau Daddy sampai mengecewakan Mommy! Tidak ada kesempatan kedua untuk seorang pengkhianat!" ucap Karina sebelum keluar dari dalam lift.


Saat ini Karina tengah berdiri di depan pintu ruangan yang akan dia masuki, Karina menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia mengetuk pintu tersebut.


Ceklek....

__ADS_1


Pintu itu terbuka menampilkan Queen yang masih dengan piyama tidurnya.


"Siapa?" tanya Queen bingung melihat penampilan seseorang yang tidak dikenalinya.


Karina membuka kacamata serta masker yang tengah digunakannya. Karina menatap tajam Queen yang saat ini tengah terkejut dengan mulut yang menganga lebar.


"Ka... kamu?!" pekik Queen saat mendapati Karina sudah berdiri di hadapannya.


Karina tersenyum sinis dengan bibir tersungging sebelah.


"Kenapa, Hem?" tanya Karina tenang.


"Ke... kenapa kamu tau dia disini?" tanya Queen kesal.


"Kamu pikir?" tanya Karina kembali.


Karina menerobos masuk ke dalam ruangan yang Karina yakini tempat dimana suaminya berada. Dan benar saja dia mendapati suaminya tengah tertidur pulas.


"Daddy!" panggil Karina lembut.


Fin membuka matanya secara perlahan.


"Mommy?" bingung Fin dengan kedua tangan sibuk menggosok matanya.


"Ya ini Mommy!" ucap Karina sambil berjalan mendekati Fin.


Fin memandangi Karina dari atas sampai bawah. Keningnya berkerut melihat penampilan istrinya yang sangat berbeda pagi ini.


Fin mendudukan tubuhnya kemudian menarik tangan Karina agar duduk diatas pangkuannya.


"Apa Mommy lupa, tentang peringatan Daddy perihal warna lipstik?" tanya Fin sambil melesakan wajahnya masuk ke dalam leher Karina dan menghirup aroma sang istri yang selalu menjadi favoritnya.


Queen menghentak-hentakan kakinya kesal saat melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya. Queen bahkan menutup pintu ruangannya dengan sedikit kencang.


"Mommy membaca pesan yang Daddy simpan di atas laci meja rias?" tanya Fin pelan.


Karina mengangguk pelan. Sementara Queen yang mendengar apa yang Fin tanyakan pada Karina hanya melotot tidak percaya.


"Jadi, percuma dong aku memanas-manasi si Karina! Bukannya Abang bilang nggak izin dulu?" tanya Queen dalam hatinya.


Karina bangkit dari atas pangkuan suaminya.


"Bagaimana keadaan Tante Nada?" tanya Karina pada suaminya.


"Tante sudah melewati masa kritisnya. Tapi, tante sekarang masih koma!" jawab Fin menjelaskan pada istrinya.


Jadi Fin sebenarnya pergi tengah malam karena Queen menelepon dan meminta Fin menemaninya saat Tante Nada kritis.


Fin yang tidak tega membangunkan istrinya akhirnya menulis pesan yang dia simpan di atas meja rias.


"Mommy, Daddy harus ke rumah sakit! Tante Nada kritis! Love you!" isi dari pesan yang Fin tinggalkan.


"Abang...!" panggil Queen mendayu.


Fin mengangkat tangannya ke udara meminta Queen agar tidak mendekat.

__ADS_1


"Stop Queen! Dari semalam Abang minta kamu jauh-jauh dari, Abang. Abang mual, Queen!" ucap Fin yang mendapat senyum kemenangan dari Karina.


"Kak Queen, mending kamu makan dulu! aku bawa makanan buat Kakak makan pagi ini! Tenang, makanan sehat yang aku buat khusus untuk Kakak!" ucap Karina yang mendapatkan delikan tidak suka dari Queen.


__ADS_2