Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Lebih hancur dari tiga tahun lalu..


__ADS_3

Fin tersenyum. Ingatannya dia tarik kembali pada saat awal pertama Devin dan Fin bertemu. Devin masih memanggilnya dengan sebutan Om. Yang Devin tulis, tampaknya saat mereka makan di Mall. Fin terus membuka lembar demi lembar dari buku diary sang anak.


Dengan membaca isinya betapa Fin tau seberapa besarnya kasih sayang sang anak terhadapnya. Devin selalu menuliskan kata i love u, dad di setiap akhir tulisannya.


Sampailah di bagian terakhir dari buku harian Devin. Sebuah bagian paling menyakiti hati Fin. Bagian yang seumur hidup akan Fin ingat dan Fin sesali.


"Devin happy, birthday Devin sama dengan Daddy. Devin sama Mommy buat surprise. Mommy bilang Daddy akan happy. Tapi, Mommy bohong. Daddy tak happy. Daddy benci cake, Daddy benci Devin. Cake Devin hancul. Tidak ada yang sayang Devin, Devin benci Daddy. Mommy nangis gala-gala Daddy. Devin besal, Devin tinju Daddy!"


Fin mematung membaca isi hati dari anak tiga tahunnya itu. Fin sadar seberapa dalam dia melukai hati anaknya. Hati Fin sakit saat sang anak bilang dia membencinya.


Fin menutup mata sambil menarik nafasnya. Ini tidak bisa Fin diamkan atau kebencian dalam hati anaknya akan tumbuh semakin besar dan dalam.


"Tunggu Daddy, Nak. Daddy akan menyelesaikan kesalahpahaman ini," ucap Fin pelan.


Fin bangkit dan keluar dari kamar sang anak. Di luar pintu tampak Bu Linda yang akan masuk ke dalam kamar Devin dengan membawa baju yang baru selesai dia lipat.


"Pak, Aden... " ucap Bu Linda. Gurat kesedihan terlukis di wajah wanita paruh baya itu. Senyum Bu Linda tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.


Fin menepuk punggung Bu Linda.


"Saya akan membawa mereka kembali secepatnya!" yakin Fin.


Bu Linda mengangguk dengan senyum kecil menghiasi bibirnya. Devin sudah seperti cucunya sendiri. Saat Karina pamit pergi dari kediaman Fin, diam-diam Bu Linda menangis sambil mencium baju Devin. Bu Linda bahkan tidak kuasa mengantar kepergian mereka.


Walaupun Bu Linda bekerja belum genap satu tahun namun kebaikan Karina membuat dia nyaman. Karina selalu memperlakukan semua pegawainya dengan baik. Dia selalu menganggap mereka yang bekerja bersamanya sebagai keluarga. Begitu juga dengan Devin. Devin berbeda dengan anak kecil lain yang pernah Bu Linda asuh sebelumnya. Dia anak mandiri yang tidak pernah menyusahkan Bu Linda. Maka, saat Devin dan Karina pamit pergi, Bu Linda benar-benar terpukul.


Fin membawa jaket dari dalam kamarnya. Dia juga mengeluarkan helm yang sudah lama tidak pernah di pakainya lagi. Fin berencana pergi menuju rumah Bi Vina dengan menggunakan motor sport nya. Fin yakin kalau saat ini Karina dan Devin tengah berada di rumah Bi Vina. Karina tidak memiliki keluarga lain selain sang Bibi.


Fin menjalankan motornya dengan kecepatan penuh. Perusahaan sendiri di urus oleh Raiden dan Renal. Fin pamit pulang setelah rapatnya selesai. Keadaan jalanan cukup lenggang. Belum waktunya jam pulang kerja. Anak sekolah dan karyawan masih berkutat dengan kesibukan mereka.


Kurang dari setengah jam, Fin sampai di kediaman Bi Vina. Keadaan di sana cukup sepi. Fin jadi ragu untuk masuk. Apa anak dan istrinya sudah pergi dari sana? Pikir Fin.


Dengan cepat, Fin mengetuk pintu rumah Bi Vina, berharap sang istri lah yang membukanya. Namun, harapan Fin kandas saat yang keluar bukanlah istrinya melainkan orang lain.


"Cari siapa, Pak?" tanyanya pada Fin.


Fin masih celingukan melihat ke arah dalam berharap sang istri ada di sana.


"Pak." panggilnya kembali.

__ADS_1


"Bi Vina nya ada?" tanya Fin.


"Oh cari Bu Vina. Bu Vina baru saja pergi. Dia di bawa pergi keponakannya. Saya di suruh nempatin rumah Bu Vina untuk sementara waktu," jelasnya pada Fin.


"Pergi??!! Pergi kemana?" bentak Fin refleks.


"Apa keponakan yang ibu maksud yang membawa anak kecil?" tanya Fin memastikan.


"I...iya, Pak. Mereka bilang akan ke desanya Bu Vina."


"Desa?" tanya Fin pada dirinya sendiri.


"Bu Vina belum lama pergi. Mungkin Bapak masih bisa menyusulnya," terang tetangga yang menempati rumah Bi Vina.


Mata Fin berbinar mendengar kalau mereka belum lama pergi. Fin langsung berangkat untuk menyusul anak dan istrinya sesuai petunjuk dari tetangga Bi Vina.


Fin menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak memikirkan keselamatannya yang penting secepatnya dapat bertemu dengan anak dan istrinya. Taksi yang Bi Vina dan Karina naiki ternyata belum pergi terlalu jauh. Fin bahkan dengan cepat dapat menyusul dan menahannya. Motor yang Fin naiki berhenti tepat di depan taksi.


Karina dan Bi Vina mengerutkan keningnya bingung dengan siapa yang menghentikannya. Karina tidak berpikir kalau itu suaminya. Karina meyakini kalau Fin saat ini masih di kantor dan belum mengetahui kepergiannya.


Saat helm yang di pakai Fin terbuka, Karina melebarkan matanya. Dengan refleks dia memeluk sang anak.


"Daddy," lirih Devin pelan.


"Kamu temui dulu dia, bicarakan dengan baik-baik," pesan Bi Vina.


"Enggak, Bi. Aku sudah menjelaskan segalanya. Tidak ada yang harus di jelaskan kembali" kekeh Karina.


Sementara itu, Fin sudah berada di samping kaca tempat Karina duduk dan mengetuk kaca jendela beberapa kali berharap Karina keluar dari dalam mobil.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya Karina menyerah. Dia keluar menghampiri Fin seorang diri. Devin tidak Karina ijinkan untuk keluar dari dalam mobil.


Mata Fin sedikit bengkak. Dia segera mendekat saat Karina keluar dari dalam mobil. Namun Karina menahan Fin agar tidak mendekatinya. Karina mengangkat tangannya untuk memberi jarak antara dia dan suaminya itu.


"Anda sudah membaca surat yang saya tinggalkan, kan?" tanya Karina dengan panggilan formalnya.


Degh... Dada Fin sakit saat mendengarnya.


"Mom.." jawab Fin tidak suka.

__ADS_1


"Saya sudah menandatangani surat cerai. Saya harap anda tidak mempersulituya!" ucapnya dengan tidak berperasaan.


"MOM!!!!" teriak Fin kembali. Dia menyugar dan sedikit menjambak rambutnya. Sementara itu di dalam mobil Bi Vina menutup telinga sang cucu agar tidak mendengar pertengkaran orang tuanya.


"Kenapa harus seperti ini???!!"


"Semuanya sudah jelas dari awal. Tidak ada lagi yang harus saya jelaskan pada anda,"


"Ini hanya salah paham, Mommy!!"


"Kalau hanya melihat adegan saat kalian di perpustakaan bisa jadi itu hanya kesalahanpahaman. Tapi, dengan kalian berciuman di dalam kamar..." Karina tersenyum. Dia tidak dapat melanjutkan lagi perkataannya.


"Saya tidak meminta banyak, cukup permudah proses perceraian kita." ucapnya dingin. Wajahnya mengeras dengan suara yang sedikit bergetar menahan tangis.


"Sampai kapanpun, Daddy tidak akan menceraikan, Mommy!!"


"Oke kalau begitu. Saya akan benar-benar menghilang. Jangan harap anda dapat bertemu kembali dengan saya, Devin dan anak ini!" ancam Karina sambil menunjuk perutnya.


Karina bergegas pergi meninggalkan Fin untuk naik kembali ke dalam mobil. Namun, Fin menahan tangan Karina.


"Oke!! Daddy menyerah. Mommy jangan pergi. Daddy akan mengabulkan apapun permintaan, Mommy. Tapi please, jangan menghilang dari hadapan Daddy," mohon Fin sambil berlutut di hadapan Karina. Fin menangis kembali.


Karina menarik nafas menguatkan hatinya. Melihat Fin berlutut dan menangis di hadapannya, bukan hal yang mudah bagi Karina. Dia bisa goyah kalau saja tidak berpegang teguh pada prinsipnya.


"Kita lihat saja nanti. Apa omongan anda bisa saya pegang?" tanya Karina masih dengan panggilan formalnya.


"Apa boleh Daddy bertemu dengan Devin?"


"Sebentar. Hanya sebentar!" ucapnya meyakinkan Karina yang terlihat ragu.


Karina membuka pintu mobil agar sang anak keluar dan menemui Fin. Devin keluar namun dia hanya diam sambil melihat ke arah Fin.


Dengan cepat Fin membawa masuk sang anak ke dalam pelukannya. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia curahkan segala penyesalannya.


"Maafkan Daddy, Nak. Daddy salah. Daddy minta maaf," ucapnya sambil terisak.


"Daddy tidak akan memaafkan diri Daddy seumur hidup Daddy," lirihnya sambil mengecup seluruh wajah Devin.


Devin tidak merespon. Tidak juga membalas pelukan Daddy nya. Dia hanya diam mematung tanpa ekspresi. Karina sendiri mencoba menyembunyikan tangisnya dengan berbalik membelakangi Fin dan Devin. Dia sakit melihat anaknya yang berubah dingin kepada Fin. Karina tau seberapa sayang dan kagumnya Devin terhadap Fin. Hanya karena satu hal yang menyakitinya, Devin berbalik membenci Fin. Hanya dalam satu malam, Fin merubah kepribadian Devin untuk selamanya.

__ADS_1


Karina dan Devin kembali masuk ke dalam taksi. Mereka akan kembali ke rumah Bi Vina sesuai kesepakatan Karina dan Fin.


Fin menatap kepergian mobil yang di naiki anak dan istrinya itu dengan pilu. Dunianya kiamat dalam sesaat. Segalanya hancur. Bahkan lebih hancur dari tiga tahun lalu.


__ADS_2