
Karina tengah terduduk di atas lantai ruang walk in closet kamarnya. Di hadapannya tersimpan sebuah koper yang tengah terbuka lebar meminta untuk di isi.
Karina berkemas untuk perjalanannya menuju Singapura besok siang. Karina mulai memasukan beberapa potong pakaian ke dalam koper.
Rencananya, Kiara akan menjemput Karina dan Devin di bandara untuk selanjutnya membawa mereka bertemu dengan Ara dan memperkenalkan Karina pada mertuanya.
Karina merupakan keluarga Kiara satu-satunya, selain sang Kakak dan sang Kakek. Oleh karena itu, saat Karina dan Devin sampai di Singapura, Kiara berencana memperkenalkan mereka kepada keluarga besar dari suaminya.
"Mom.. " panggil Fin yang baru saja masuk ke dalam walk in closet. Handuk masih melilit di atas pinggangnya. Rambut basahnya pun, belum Fin keringkan.
Karina memalingkan kepalanya ke tempat sang suami datang.
"Ckk," decak Karina sambil bangkit dari duduknya.
Karina berjalan kehadapan Fin, kemudian meraih handuk yang Fin sampirkan di atas bahunya.
Karina mengeringkan rambut Fin.
"Sebelum keluar dari kamar mandi, rambutnya di keringkan dulu, Dad. Lihatlah, air berceceran di lantai!" omel Karina pada suaminya.
Omelan nya, seperti omelan khas ibu-ibu pada umumnya.
Fin merendahkan tubuhnya untuk memudahkan sang istri dalam mengeringkan rambutnya. Kedua tangan Fin sendiri melilit pada pinggang Karina.
Setelah di rasa cukup kering, Karina berjalan mendekati lemari pakaian Fin dan membawakan setelan piyama biru dongker untuk suaminya pakai.
"Nih, Daddy pakai baju dulu. Nanti Mommy keringkan rambut Daddy menggunakan hair dryer. Kalau tidak kering, takutnya Daddy masuk angin." ucap Karina sambil menyerahkan piyama tidur pada suaminya.
Karina berlalu masuk ke dalam kamarnya untuk menyiapkan hair dryer.
"Duduk sini," pinta Karina sambil menepuk kursi kosong depan meja rias.
Fin menurut. Dia duduk di tempat yang istrinya sebutkan tadi.
"Yank," panggil Fin.
"Mmmm," jawab Karina dengan tangan yang terus bergerak mengeringkan rambut suaminya.
"Apa gak bisa, kalau besok di cancel saja ke Singapura nya?" tanya Fin hati-hati. Dia takut istrinya marah, karena akhir-akhir ini istrinya sering sekali marah bahkan menangis hanya karena hal sepele.
"Gak bisa, Dad! Devin akan kecewa kalau tiba tiba, perjalanannya ke Singapura di batalkan,"
Fin merenung. Dia melihat sendiri bagaimana bahagianya Devin saat Kiara bilang, kalau dia akan menjemput Devin untuk bertemu dengan Ara.
Fin juga dapat melihat binar di kedua mata anaknya, dengan senyum yang tersimpul dari bibir mungilnya.
'Daddy harus bagaimana? Andai Daddy bisa membagi keresahan ini sama kamu, Nak.' batin Fin.
"Selesai. Yuk, bobo." ajak Karina pada suaminya.
Karina naik ke atas tempat tidur di ikuti Fin dari belakang.
"Mom, beneran mau langsung bobo?" tanya Fin pada istrinya.
"Iya lah Mommy lelah, Daddy..." ucapnya pelan dengan mata yang sudah terlihat sayu, Karina menarik selimut menutupi tubuhnya.
Fin sendiri berbaring di sebelah istrinya. Fin merentangkan lengannya agar Karina berbaring di atasnya. Karina menurut. Dia membaringkan kepalanya di atas lengan Fin dengan tangan yang dia lilitkan di atas dada suaminya. Kaki Karina sendiri membelit paha Fin.
__ADS_1
"Mom... kakinya sengaja ya?" protes Fin.
"Dad, bisa besok saja protesnya? Itu sih, Daddy saja yang terlalu sensitif. Masa iya ke sentuh sedikit, punya Daddy langsung bangun," Mata Karina terpejam saat mengucapkan itu.
Fin menarik nafasnya. Dia tidak akan menang saat harus berdebat dengan istrinya. Pandangan Fin sendiri menerawang ke langit-langit kamarnya.
Suara deru nafas yang teratur dari istrinya berhasil mengalihkan perhatian Fin. Fin menyamping menghadap tubuh istrinya yang sudah terlelap.
Fin pandangi wajah damai sang istri yang tengah tertidur di sampingnya. Tangan Fin terangkat mengelus kepala Karina.
"Mom, apa tidak ada satu kenangan pun yang Mommy ingat tentang, kita?" bisik Fin.
"Apa menurut Mommy kenangan dari tiga tahun lalu itu sesuatu yang tidak penting? Kenapa hanya memori tentang kita yang Mommy lupakan? Apa Mommy menyesal sudah bertemu dengan, Daddy?" lirih Fin meluapkan perasaannya.
Fin termenung. Dia mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi ke depannya.
"Bagaimana kalau memang Mommy menyesali pertemuan kita? Apa yang harus Daddy lakukan?" panik Fin mengingat berbagai kemungkinan yang terjadi ke depannya.
Fin raih tubuh ramping istrinya, kemudian dia bawa masuk ke dalam pelukannya. Fin memeluk tubuh Karina dengan erat. Dia bahkan mengecup puncak kepala istrinya itu beberapa kali.
Pada akhirnya Fin terlelap dengan harapan yang selalu sama setiap malamnya. Yaitu, sang istri dapat mengingatnya, saat bangun keesokan paginya.
########
Fin sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Pagi ini, Fin akan mengadakan rapat sehingga tidak bisa mengantar istri dan anaknya ke bandara.
Karina tengah berdiri mengemas makan siang yang akan suaminya bawa ke kantor. Fin sendiri baru selesai memasukan beberapa dokumen ke dalam tas kerjanya.
Fin berdiri tepat di belakang Karina, kemudian melilitkan kedua tangannya pada perut sang istri. Kepala Fin, dia simpan di atas bahu Karina dengan kaki yang sedikit di buka lebar untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan sang istri.
"Dad... cepat berangkat," perintah Karina sambil mengelus punggung tangan suaminya.
"Ckk... ckk... Boy, lihat kelakuan Bapak, kamu. Padahal hanya Singapura, tapi laga nya kaya mau di tinggal ke Eropa." sindir Renal yang baru datang bersama Eca di sampingnya,
"Kak Renal!" Eca menatap Renal dengan tatapan tajam.
Devin sendiri berlari ke arah Renal datang dengan kedua tangan yang terangkat.
Renal berjongkok sambil tersenyum cerah, melihat sang keponakan datang ingin di gendong. Kedua tangannya terlentang siap menyambut tubuh mungil Devin.
"Aunty..." pekik Devin. Dia memeluk kedua kaki Eca yang kemudian Eca bawa tubuh Devin itu ke dalam pelukannya.
Renal sendiri hanya memeluk angin dengan kesal saat Devin berlari ke dalam pelukan istrinya.
"Ternyata belum berubah. Sama-sama menyebalkan, seperti Bapaknya!" gerutu Renal.
"Fin buru! Kita ada rapat! Apa semalam kamu gak di kasih jatah, jam segini masih nempel?" kesal Renal pada sahabat sekaligus atasannya itu.
"Language please!" Fin melepaskan pelukannya.
"Ckk, gak bakal ngerti juga kali." elak Renal.
"Lagi pula, Indonesia - Singapura itu dekat, Fin... hanya perlu beberapa jam saja untuk sampai di sana. Dan aku yakin saat pulang kerja nanti, kamu merengek dan minta di siapkan jet pribadi untuk terbang ke sana." tebak Renal yang sudah sangat hafal dengan kelakuan sahabatnya.
"Dan kalau kamu mau ikut, sorry aku tolak." balas Fin yang kesal dengan tebakan sahabatnya yang kurang ajarnya sangat tepat itu.
Renal mengatupkan bibirnya. Dia sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Fin. Hanya saja, Renal terlalu gengsi untuk mengakui kebucinan nya.
__ADS_1
"Ayo, Daddy berangkat." Karina meraih tangan suaminya, kemudian membawanya ke luar tempat mobil terparkir.
Karina menyerahkan tas dan bekal makan siang suaminya.
"Mommy mungkin berangkat agak siang. Kiara bilang, dia akan menunggu di bandara. Jadi, Daddy jangan khawatir."
Fin raih tubuh istrinya kemudian memeluknya kembali.
"Mommy hati-hati. Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi Daddy," ucapnya di sela-sela pelukannya. Fin mengecup istrinya beberapa kali sebelum berpindah pada sang anak.
Fin mengambil Devin dari gendongan Eca. Fin peluk beberapa saat sambil berbisik tepat di telinga sang anak.
"Daddy titip Mommy, ya. Saat Daddy tidak di samping Mommy yang harus menjaga Mommy adalah Devin. Devin tau kalau Daddy sangat mencintai kalian kan?" tanya Fin masih berbisik.
Devin mengangguk kemudian mengecup pipi Daddy nya.
###########
Eca, Devin dan Karina saat ini baru sampai di bandara dan tengah menunggu kedatangan Kiara.
Kiara berkeras datang ke bandara Soekarno Hatta untuk secara langsung menjemput keponakannya itu.
"Eca, apa Kiara tidak jadi datang?" tanya Karina pada bodyguard nya.
"Coba Kakak hubungi Bu Kiara lagi. Mungkin saja delay." saran Eca.
Karina mengeluarkan telepon genggamnya dari dalam tas miliknya. Alis Karina berkerut bingung, saat melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Renal dan suaminya.
"Eca, apa Kak Renal juga menghubungi kamu?" tanya Karina penasaran.
"Handphone saya ada di dalam tas itu, Kak." tunjuknya pada tas yang tersimpan agak jauh dari Eca.
"Kenapa?" tanya Eca penasaran.
"Sebentar," Karina mengangkat telepon yang kembali berdering.
"Hallo, kak Renal. Kenapa?" tanya Karina ragu dan takut. Jantung Karina berdetak cepat, saat dia mendengar tangis seorang perempuan dari balik panggilan tersebut.
"Ke... kenapa?" tanya Karina kembali.
Eca sendiri berdiri di samping Karina sambil memegang stroller, Devin.
"Syukurlah. Kamu masih di Bandara?" tanya Renal.
"Iya, Kak"
"Bisa kamu kembali saja?"
"Ke... kenapa Kak? Ada apa? Da... daddy tidak apa-apa kan?" panik Karina dengan lutut yang sudah lemas.
"Bukan Fin, tapi Tante Nada. Bisa kamu datang ke rumah sakit? Beliau meninggal," ucap Renal membuat Karina melebarkan matanya tidak percaya.
"Tante Nada?" pekik Karina.
"Baik Kak, aku ke sana sekarang."
Karina mematikan panggilannya berbarengan dengan kedatangan Kiara.
__ADS_1
"Kiara, sepertinya kita tidak bisa ikut ke Singapura. Tante Nada meninggal dunia." lirih Karina sambil menahan tangis di hadapan sang anak.
Karina sudah terlanjur dekat dengan sang Tante. Tau Nada pergi membuat Karina seperti kehilangan sosok terdekatnya.