
Karina bergegas kembali menuju kamar pribadinya. Dia tidak ingin ketahuan suaminya, kalau dia sempat ke bawah untuk menguping
Sesaat setelah sampai di dalam kamar, Karina menyandarkan punggungnya di balik pintu kamar yang baru saja dia tutup. Nafas Karina berhembus kencang dengan rongga dada yang naik turun. Pikirannya menerawang, melihat masa depannya.
"Siapa perempuan itu?" tanya Karina.
"Sepenting apa dia di hidup, Daddy?" gumam Karina kembali.
"Tidak penting dia siapa. Yang jelas, kamulah istrinya sekarang! Kamu yang berhak atas suami kamu bukan perempuan dari masa lalunya," yakin Karina sambil menganggukkan kepalanya.
Karina menguatkan dirinya sendiri. Dia sudah terlanjur mencintai suaminya. Dia hanya perlu menutup mata dan telinganya, agar semuanya terlihat baik-baik saja.
Karina berjalan dan naik ke atas tempat tidur. Dia memejamkan matanya sesaat setelah mendengar suaminya membuka pintu kamar.
Karina pura-pura tertidur agar sang suami tidak mencurigai nya. Kenyataannya, Karina menyimak semua percakapan antara Queen dan suaminya itu, sejak awal.
Karina merasakan sebuah usapan lembut pada kepalanya.
"Mommy, bangun," suara serta perlakuan lembut suaminya, membuat Karina melupakan sejenak kecurigaannya.
Karina membuka mata. Di tatapnya mata sang suami yang saat ini tengah memandanginya.
"Sudah?" tanya Karina pura-pura tidak tahu.
Fin mengangguk, kemudian membantu istrinya untuk duduk. Dia mengambil sesuatu dari atas nakes samping tempat tidurnya.
"Nih. Habiskan!" perintah Fin sambil memberikan segelas susu yang sengaja Fin buat khusus untuk istrinya.
Karina tidak langsung mengambilnya. Dia menatap gelas berisi susu stroberi yang biasa dia minum setiap malam itu dengan wajah meringis tidak suka.
"Kenapa?" tanya Fin heran.
"Daddy lihat, sudah beberapa malam terakhir ini, Mommy tidak minum susu," heran Fin.
Karina mengangguk membenarkan pernyataan suaminya. Sudah beberapa hari dia tidak bisa meminum susunya.
"Sepertinya... Mommy gak bisa minum susu lagi, Dad," ucapnya lirih.
"Hem? Kenapa? Bosan? Mau ganti rasa?" tanya Fin.
Karina menggeleng.
"Mommy mual tiap kali meminumnya," jawab Karina dengan ringisan.
"Ya sudah, besok kita ganti rasa baru saja Mungkin Mommy bosan dengan rasa stroberi. Kita bisa beli rasa coklat atau vanilla," saran Fin pada istrinya.
Karina mengangguk menyetujui saran suaminya. Mungkin saja apa yang suaminya katakan itu benar. Dia memang sudah bosan dengan susu stroberinya.
"Ya sudah, Daddy simpan ke dapur lagi kalau gitu," ucapnya sambil beranjak dari atas tempat tidur. Sebelum Fin benar-benar meninggalkan kamar, Karina menahannya.
"Daddy! Sebentar!" panggilnya. Fin berbalik menatap ke arah istrinya dengan bingung.
"Gak usah di simpan. Sini, Mommy habiskan saja!" Karina melambaikan tangannya meminta suaminya itu untuk mendekat.
Fin menurut. Dia mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur. Sebenarnya, rasa mual itu masih ada. Namun, Karina tidak tega dengan usaha suaminya yang dengan susah payah sudah membuatkannya susu.
Sementara, seperti itulah yang Karina yakini. Dia lupa saja, kalau suaminya itu, sudah di didik mandiri, sejak dari remaja. Jangankan hanya menyeduh susu, memasak pun bukan hal yang sulit untuk seorang Fin Grahatama.
Fin memberikan susu yang ada di dalam genggamannya, pada sang istri. Karina memandanginya beberapa saat sebelum akhirnya meneguk susu stroberi itu sampai habis tak bersisa.
Baru beberapa saat melewati tenggorokannya, rasa mual itu datang kembali seperti biasanya.
Karina menyerahkan gelas kosong kepada suaminya. Sementara itu, dia berlari menuju kamar mandi dan mengeluarkan segala isi dalam perutnya.
"Uuuoo ..."
"Mommy tidak apa-apa?" tanya Fin yang kemudian bergegas menyusul istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
Karina masih tersungkur di atas wastafel dengan kedua tangan bertumpu pada sisi kiri dan kanan dari wastafel itu sendiri.
Fin semakin merapat. Dia bawa semua rambut Karina yang terurai ke bawah menyentuh wastafel, kemudian menggulungnya ke belakang.
"Mommy baik-baik saja?" tanya Fin kembali.
Karina mencoba bangkit, setelah mencuci mulutnya.
"Daddy pergi sana! Mommy bersihkan dulu bekas muntahannya, ini bau, tau!" gerutu Karina sambil mendorong tubuh suaminya agar menjauh.
Fin tetaplah Fin. Dia tidak menghiraukan imbauan istrinya. Dengan santainya, Fin bawa tubuh istrinya kemudian mendudukkannya di atas wastafel pinggir kran.
"Aaaaaa...." pekik Karina kaget, saat tangan Fin mengangkat tubuhnya.
"Daddy turun!" rengek nya kembali.
Fin membilas bekas muntahan istrinya, kemudian menyalakan pewangi ruangan otomatis. Karena secantik apapun perempuan, muntahnya tetap saja bau.
__ADS_1
Setelah selesai, dia kembali ke hadapan istrinya. Fin bawa sebuah handuk kecil dari dalam laci wastafel. Dengan telaten, dia mengeringkan wajah istrinya.
"Maaf," lirih Karina pelan. Matanya berkaca-kaca.
"Maaf untuk apa?" tanya suaminya lembut. Tangannya melilit pada pinggang Karina dengan kepala yang dia sandarkan di atas kepala istrinya.
"Mommy sudah sangat merepotkan, Daddy," jawab Karina, membalas pelukan suaminya.
"Itu, hal yang wajar dilakukan oleh sepasang suami istri. Saling membantu satu sama lain," jawab Fin.
"Ayo masuk," Fin menggendong tubuh ramping istrinya, untuk masuk kembali ke dalam kamar. Fin baringkan istrinya di atas tempat tidur, kemudian menyelimutinya. Fin berjalan menuju pintu keluar kamar.
"Sebentar, Daddy buatkan dulu teh hangat untuk Mommy," ijin Fin.
Karina mengangguk masih dengan haru yang menyelimuti dadanya. Bagaimana bisa dia memiliki pikiran buruk tentang suaminya, disaat sang suami memperlakukannya bak putri raja. Perlakuan yang tidak pernah Karina dapatkan sebelum-sebelumnya dari orang lain.
Fin tengah berjalan menuruni tangga dengan tangan yang sibuk mengetik sesuatu pada layar handphonenya. Dia meminta Renal menghubungi pihak rumah sakit dan mengabarkan kalau besok siang, dia dan istrinya akan datang untuk memeriksakan kondisi Karina.
Fin berjalan ke arah dapur dan mulai membuat teh hangat untuk istrinya. Dia bergegas kembali, saat teh dan beberapa camilan sudah siap di atas nampan yang dibawanya.
Dia menaiki lift untuk mempersingkat waktu. Fin khawatir, istrinya terlelap sebelum mengisi kembali perut kosongnya dengan camilan.
Saat pintu lift akan tertutup, tiba-tiba tangan seseorang menghentikannya. Fin menatap seseorang di balik pintu lift itu.
"Apa aku boleh ikut masuk?" tanya Queen pada Fin. Tangan Queen sibuk memainkan bagian bawah baju tidurnya.
"Mau kemana?" tanya Fin dingin. Tidak ada ekspresi pada wajah Fin saat bertanya demikian.
'Kurang ajar! Apa aku kurang menarik di mata Abang? Apa ini kurang seksi?' batin Queen kesal. Dia sudah mati-matian berdandan demi memikat Fin.
Saat Queen akan pergi ke dapur, dia melihat Fin tengah membuat sesuatu di sana. Hingga akhirnya, sebuah ide gila muncul demi menggoda pria yang di cintainya dari dulu itu.
Dia berpakaian dengan sangat seksi. Panjang baju tidur berbahan satin itu hanya setinggi paha atas dengan belahan pinggir mencapai pinggul. Bagian dadanya pun, amat sangat rendah dan hanya menutupi bagian yang penting nya saja.
"Kamu mau ke atas?" tanya Fin kembali mengembalikan lamunan Queen.
"Eeh... i... iya, bang," jawabnya.
"Boleh aku naik?" tanyanya dengan wajah dibuat semanis mungkin.
"Masuk!" jawabnya dingin.
Queen masuk dan berdiri di depan Fin. Queen sengaja memilih berdiri membelakangi Fin agar Fin melihat bagian belakang punggungnya yang polos dan hanya terhalang seutas tali.
Rambutnya dia sanggul ke atas, memperlihatkan lehernya yang putih mulus. Andai saja itu bukan Fin, begitu lift tertutup, sudah pasti Queen habis di gerayanginya.
Namun, sampai tiba di lantai dua, tidak ada satupun hal yang dibayangkan Queen sebelumnya itu terjadi. Fin hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya berdiri menyandarkan punggungnya pada dinding lift.
"Kamu tidak akan keluar?" tanya Fin dengan suara seraknya yang berat.
"I... iya... he... he... he... sudah sampai ya?" gugup Queen. Ya dia gugup. Mungkin karena niat jahatnya, makanya dia gugup.
Queen keluar, kemudian berhenti tepat di depan lift. Dia bingung dengan tujuannya sendiri.
Fin sendiri, langsung pergi meninggalkan Queen yang masih mematung di depan lift. Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamarnya, Fin mengatakan sesuatu dengan posisinya yang masih membelakangi Queen.
"Jangan samakan budaya kamu saat di luar, dengan budaya di sini. Berpakaian yang baik, jangan berkeliaran dengan pakaian minim seperti itu, di rumah saya! Apalagi saat ada anak saya!" ucapnya tegas, membuat Queen mengeratkan rahangnya.
Setelah berkata demikian, Fin berlalu dan masuk ke dalam kamarnya. Sementara itu, Queen tengah menggeram kesal.
"Kurang ajar!! Apa aku harus campur obat ke dalam minuman Abang?" tanyanya pada diri sendiri. Dia memikirkan rencana yang jauh lebih jahat dan nekat daripada yang sebelum-sebelumnya.
"Abang terlalu meremehkan, aku. Lihat saja, apa Abang masih bisa menolak kalau sudah berada di atas ranjang?" Dari wajahnya terukir sebuah senyum misterius.
Pada akhirnya, Queen masuk kembali ke dalam lift dan turun menuju lantai satu.
#######
Jam menunjukan pukul setengah tujuh pagi. Fin sudah siap dengan setelan jas kerjanya. Dia akan terbang menuju luar kota dan kembali sebelum siang untuk memeriksakan kondisi istrinya ke rumah sakit.
Queen keluar dari dalam lift dengan rambut basahnya dan hanya memakai handuk kimono nya yang minim. Karina meyakini kalau Queen baru selesai berenang. Sepertinya Queen mengira kalau Fin akan pergi ke gym di lantai tiga seperti biasanya. Padahal pagi ini, dia tidak berolahraga karena sibuk mempersiapkan bahan untuk meeting pagi ini.
Fin pamit pada istrinya dengan kecupan perpisahan dan sebuah pelukan seperti biasanya. Queen menatap tidak suka dengan mendelikan matanya.
Setelah mobil Fin meninggalkan halaman rumah, Karina masuk kembali dan berencana pergi untuk menjenguk Eca yang masih sakit akibat kakinya yang terkilir.
Karina menghentikan langkahnya, saat melihat Queen tengah duduk di atas meja makan, dan tengah menikmati sarapan paginya.
"Ckk... ckk... ckk..." decaknya sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Kedua tangannya terlipat di atas dada.
Queen menghentikan kegiatannya, kemudian balas menatap Karina dengan tatapan tidak suka.
"Apa?" tanyanya nyalang
Karina tersenyum sinis.
__ADS_1
"Jadi, niat kamu pindah ke sini tuh untuk menggoda suami aku?" tanyanya dengan nada manja.
"Kamu..." tunjuk Queen, sambil menggeram.
"Suami aku, gak bakal lirik kamu. Percaya deh! Aku kasihan saja sih sama kamu" lanjutnya yang kemudian melangkah semakin mendekati Queen.
"Dengan kamu bugil di hadapannya pun, dia gak bakal minat sama tubuh kamu." desisnya sambil menunjuk tubuh Queen.
"Kamu..."
"Sssstttt...." Karina menyimpan jari di atas bibir Queen dan memintanya untuk diam.
Karina mundur dua langkah, kemudian dia melepaskan pakaian yang tengah dipakainya, dihadapan Queen begitu saja. Karina hanya memakai dalaman brukat berwarna merah yang kontras dengan warna kulitnya.
Queen melebarkan matanya, melihat aksi bar-bar dari rivalnya itu.
"Gila!" bentaknya.
"Ha... ha... ha... Kamu lihat ini?" tanya Karina sambil berputar bak model yang tengah memamerkan tubuhnya.
"Suami aku," ucapnya perlahan sambil menyentuh dua benda kenyalnya yang padat berisi. Di bagian tubuh Karina terdapat beberapa kiss mark, bukti keganasan suaminya.
"Dia, sudah sangat puas dengan tubuh istrinya ini. Jadi, dia tidak mungkin pergi hanya demi sepotong tulang!" ucap Karina mengejek tubuh Queen yang memang jauh lebih kurus dari pada tubuh Karina.
"Gila! Sinting!" hardik Queen sambil bangkit dari tempat duduknya.
Dia berdiri tepat di hadapan Karina dengan tangan yang terangkat ke udara.
"Pukul saja! Biar suami aku, langsung usir kamu!" Jawab Karina sambil tangannya menunjuk CCTV.
"Aaarrrghhh...." teriak Queen dengan marah. Matanya berkilat, dengan wajah yang sudah sangat merah. Dia pergi ke dalam kamarnya dan mulai menghancurkan segala hal yang ada di sana.
Setelah kepergian Queen, Karina bergegas memakai pakaiannya kembali.
"Bagus Karina! Apa yang kamu lakukan sudah benar. Kamu hanya perlu bertindak tegas pada siapapun, yang coba menyakitimu." pujinya pada diri sendiri.
"Andai saja saat Ayah ketahuan selingkuh dengan Eliz, kemudian aku melakukan hal sama, seperti yang aku lakukan saat ini, mungkin saja Mama masih ada," lirihnya berandai-andai.
"Ayah... aku kangen Ayah," lirihnya mengingat sang Ayah.
###########
Siang ini, Karina tengah berada di rumah sakit Medistra. Dia tengah menunggu kedatangan suaminya.
Fin sudah telat setengah jam dari jadwal yang dia janjikan. Saat akan menghubungi suaminya, di saat yang bersamaan, Fin menghubunginya terlebih dahulu.
"Daddy dimana?" tanya Karina to the point.
"Maaf Mom, Daddy masih ada meeting ternyata." jelasnya pada sang istri.
"Ya sudah, Daddy rapat saja. Mommy bisa sendiri, kok." jawab Karina.
"Kalau pemeriksaannya di undur, bagaimana?" tawar Fin.
"Daddy, ini hanya pemeriksaan biasa. Kalaupun tidak dengan Daddy, Mommy akan baik-baik saja!" jelas Karina.
"Tapi..."
"Ini hanya cek up rutin, Dad, bukan operasi Caesar! Jadi, Daddy fokus saja pada pekerjaan Daddy!" tegas Karina tidak ingin di bantah.
"Sudah ya, Mommy masuk sekarang!" pamit Karina sambil mematikan panggilannya.
Karina yang sudah mendapatkan kepastian kalau sang suami tidak akan datang, akhirnya masuk sendiri untuk melakukan pemeriksaan.
Di dalam sudah ada Dokter Maya, seorang Dokter perempuan yang Fin minta secara khusus. Dia tidak ingin, istri cantiknya di periksa oleh Dokter pria.
Setelah melakukan bincang singkat dan anamnesa kepada Karina, Dokter Maya mengatakan sesuatu hal yang membuat Karina terkejut.
"Bu, jika dilihat dari kondisi yang ibu ceritakan kepada saya, saya hanya bisa merujuk ibu..."
"Di rujuk Dok? Tanpa diperiksa, saya langsung Dokter rujuk?" bingung Karina. Karina bingung, separah apa kondisinya sampai-sampai dia harus di rujuk.
"Sebentar, Bu! Saya belum selesai menjelaskan,"
"Oh, maaf," cicit Karina.
"Begini, maksud saya tadi saya akan merujuk ibu, ke poli kandungan. Saya rasa... semua gejala yang ibu keluhkan merupakan tanda-tanda kehamilan,"
"Hamil??!!" pekik Karina.
"Sepertinya, Bu,"
"Sa... saya hamil???" tanya Karina kembali.
"Ayo, saya antar ibu ke poli kandungan!" ajak Dokter Maya.
__ADS_1
Mereka berdua pergi menuju poli kandungan. Sepanjang perjalanan, Karina tidak berhenti mengembangkan senyumnya. Dengan refleks, dia mengusap perutnya beberapa kali.
'Oke baby, ini akan jadi hadiah untuk ulang tahun Daddy di bulan depan,' ucap Karina dalam hati.