
Sarapan paginya pun habis tak bersisa apalagi saat dia tau kalau yang membuatkannya sarapan pagi adalah suaminya.
"Terima kasih, Daddy sarapan paginya. Kita berdua sudah kenyang sekarang," ketiknya pada layar telepon genggam miliknya. Kemudian Karina kirimkan pesan tersebut beserta sebuah foto selfi cantik kepada suaminya yang saat ini tengah terbang ke luar kota.
Karina turun menuju lantai satu rumahnya sambil membawa tray, bekas sarapan paginya. Keadaan rumah sangat sepi. Hanya ada beberapa maid yang tengah membereskan rumah.
"Bu, Bapak berangkat ke kantor jam berapa?" tanya Karina pada Bi Surti. Bi Surti yang tengah fokus merapikan dapur terkejut dengan kedatangan sang Nyonya yang tiba-tiba.
"Ibu, kenapa tidak menelepon Bibi saja untuk membawa ini ke dapur?" tanya Bi Surti sambil mengambil alih tray yang Karina bawa.
Pertanyaan Karina sendiri belum Bi Surti jawab.
"Aden berpesan sama Bibi jangan membiarkan Ibu melakukan hal berat apapun,"
"Apa itu berat?" tanya Karina sambil menunjuk tray yang berisi piring dan sebuah gelas kosong.
"Mmm..., tapi kan..."
"Sudahlah, Bi. Suami aku saja yang terlalu berlebihan. Aku hanya hamil bukan sakit!" sanggah Karina sambil mengibaskan tangannya ke udara.
"Bapak ke kantor jam berapa?" Karina mengulang pertanyaannya. Bi Surti sedikit berpikir mencoba mengingat.
__ADS_1
"Sekitar satu jam yang lalu, Bu," jawab Bi Surti.
"Apa... Kak Queen ikut sama Bapak?" tanya Karina ragu namun penuh curiga.
"Tidak. Aden berangkat sama Den Renal,"
Karina mengerutkan keningnya, kemudian mengarahkan perhatiannya keseluruh penjuru ruangan untuk mencari keberadaan Queen.
"Apa Kak Queen masih tidur?" tanya Karina penasaran.
"Tidak Bu. Sejak pagi, Bibi sudah tidak melihat Neng Queen. Bibi juga diminta Bapak untuk membersihkan dan mengganti sprei yang ada di kamar tamu. Katanya, Neng Queen tidak akan ke sini lagi," jelas Bi Surti.
"Sejak kapan Kak Queen meninggalkan rumah?" tanya Karina kembali. Dia masih penasaran dengan alasan Queen pergi dari rumahnya. Pasalnya, Queen bukan tipe orang yang mau menyerah pada ambisinya
"Sepertinya semalam, Bu. Sejak subuh Bibi tidak melihat Neng Queen keluar dari kamarnya," jawab Bi Surti.
"Oh... terima kasih informasinya, Bi" tulus Karina. Mood Karina sedang benar-benar baik pagi ini. Karina tersenyum di sepanjang jalan menuju taman tempat bunga dengan berbagai jenis itu tumbuh.
Karina ingin membuat buket untuk dia berikan pada Bibinya. Sudah cukup lama Karina tidak berkunjung ke kediaman Bi Vina. Kesibukan akhir-akhir ini membuat Karina melupakan orang-orang terdekatnya.
Selain itu, dia juga ingin memberitahukan kabar bahagia tentang kehamilannya pada sang Bibi. Karina sudah tidak mungkin untuk berbagi kebahagiannya itu pada sang Ayah apalagi Ibu tirinya.
__ADS_1
Saat Karina tengah fokus merangkai bunga, tiba-tiba seorang maid datang menghampiri Karina.
"Bu, di depan ada yang datang mencari, Ibu," lapornya pada Karina.
Karina menyimpan bunga yang tengah di rangkai nya.
"Hem?" tanyanya bingung.
"Kalau tidak salah....beliau dari perusahaan, Bapak," jelas nya kembali.
"Oh, oke. Saya ke sana sekarang. Kamu persilahkan dia masuk dan tunggu di ruang tamu," perintah Karina pada maid nya itu.
Karina beranjak dari tempatnya. Dia penasaran dengan seseorang yang mencari dirinya itu.
"Mba Vera," sapa Karina saat sampai di ruang tamu. Vera berdiri kemudian sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menyapa istri dari bos nya itu dengan hormat.
"Bu," sapanya.
"Duduk, Mba," Karina mempersilahkan Vera untuk duduk."
"Mba Vera gak ikut ke luar kota?" tanya Karina, pada sekertaris suaminya itu.
__ADS_1