Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Yang kabur dari masalah siapa?


__ADS_3

Karina mencoba bangkit. Dia berpegangan pada ujung kloset. Kondisi perut Karina yang semakin membesar membuat dia kesusahan bahkan hanya untuk berdiri.


Fin masih mematung. Dia memperhatikan Karina secara diam-diam.


Kurang ajar!!" pekiknya dalam hati.


Nuraninya tergerak melihat Karina yang untuk bangun saja sulit. Fin sadar semua ulahnya. Dialah penyebab utama dari membesarnya perut Karina.


Dengan tiba-tiba Fin menggendong tubuh Karina dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Aaaaaa..." pekik Karina terkejut.


Fin tidak menghiraukan teriakan Karina. Dia terus berjalan dengan wajah datarnya. Fin menurunkan Karina di atas tempat tidur.


"Terima kasih," cicit Karina pelan. Dia terus memegangi handuk yang melilit pada tubuhnya itu. Wajah Karina merona dalam sesaat.


Fin berdiri di hadapan Karina sambil bertolak pinggang. Wajahnya masih datar dengan mata tajamnya yang menakutkan.


"Buka!!" perintahnya pada Karina.


"A... apa??" gugup Karina sambil memegang erat handuknya.


"Buka" perintahnya kembali.


"Ja... jangan. Kita kan sudah..." Fin mengangkat tangannya sambil menunjukkan salep yang tengah dia pegang.


"Oooohhhh..." ucap Karina menahan malu. Karina pikir, Fin meminta untuk di layani.


Tidak ingin membuat Fin marah, Karina bergegas berbalik memunggungi Fin. Secara perlahan dia turunkan handuk yang melilit pada tubuhnya.

__ADS_1


Luka bekas jahitan tampak pada punggung Karina. Tidak hanya satu, luka itu ada lebih dari tiga yang tersebar di seluruh punggungnya. Fin meringis saat melihat luka-luka tersebut.


Fin berjongkok kemudian mulai memperhatikan luka-luka itu secara seksama. Dia membuka salep dan mengoleskannya pada setiap luka secara hati-hati.


"Ssssttt...." desis Karina menahan perih. Walaupun kecelakaannya sudah cukup lama, namun luka-luka itu masih meninggalkan pedih bagi Karina.


Punggung Karina terasa sejuk saat Fin meniup setiap salep yang baru saja di olesnya. Karina masih diam tak bergerak. Kepalanya menunduk dengan kedua tangan memainkan handuk yang tertelungkup menutup bagian bawah dari tubuh Karina.


Fin sendiri menahan nafasnya saat melihat punggung polos Karina. Ingin rasanya Fin kecup setiap luka itu untuk meredakan sakit yang Karina rasakan. Namun, gengsi menguasai dirinya.


'Kurang ajar!!' umpat Fin dalam hati saat matanya menangkap bayangan dari bagian depan tubuh Karina yang tidak tertutupi handuk. Bayangan itu terpantul dari kaca jendela kamar. Bagian dada dan perut Karina yang menonjol terlihat begitu seksi di mata Fin.


Fin menggelengkan kepalanya. Dia menutup salep dan menyimpannya di atas nakes samping tempat tidur.


"Sudah!" ucap Fin sambil bergerak pergi menuju sudut lain kamar Karina.


"Terima kasih!" tulus Karina. Dia memakai kembali handuknya kemudian bergerak secara perlahan untuk turun dari atas tempat tidurnya. Lagi-lagi perut besar Karina membatasinya untuk bergerak.


Karina menerima pakaian yang Fin serahkan seraya mengecek kembali pakaian yang akan di pakainya itu.


"**********?" tanya Karina pelan saat tidak mendapati pakaian dalamnya.


"Lebih baik tidak memakainya demi kenyamanan kamu!" jawab Fin sinis sambil berlalu pergi dari dalam kamar Karina.


Karina mengerucutkan bibirnya kesal.


"Jangan memakainya demi kenyamanan kamul!" ulang Karina sambil mengikuti cara berbicara Fin. Bibir Karina terlipat mengejek Fin.


"Tadi saja panggilannya masih Mommy. Sekarang sudah ganti jadi kamu!! Huh!" umpat Karina masih kesal dengan perubahan mendadak dari mantan suaminya. Tangan Karina bergerak memakai pakaian yang mantan suaminya pilihkan.

__ADS_1


Fin sendiri langsung pergi menuju ruang tengah untuk mencari Renal. Namun, Fin hanya mendapati Eca yang tengah menonton siaran televisi sambil menyesap coklat panasnya.


"Suami kamu dimana?" tanya Fin dingin. Dia masih kesal pada ketiganya.


Eca yang tengah fokus pada televisi membalikkan tubuh saat mendengar seseorang bertanya padanya.


"Kak Renal ada di halaman belakang. Dia sedang merokok!" jawab Eca.


Tanpa mengucapkan terima kasih, Fin pergi begitu saja menuju tempat yang Eca tunjukan. Ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan Renal.


Eca tidak pernah sakit hati dengan apa yang Fin lakukan. Dia sudah tahu watak Fin sejak dari dulu. Sejak SMP Eca sudah sering bertemu dengan Fin dan Renal. Jadi, Eca sudah benar-benar mengetahui karakter dari keduanya baik Fin maupun Renal.


Di halaman belakang tampak Renal yang tengah menikmati pemandangan sambil menghisap rokok yang tinggal setengahnya itu.


"Kenapa tidak bilang kalau Karina kecelakaan?" tanya Fin to the point. Dia bertanya dengan nada yang sedikit kesal.


Renal mengernyitkan dahinya kesal. Dia berbalik untuk menatap lawan bicaranya tersebut. Setelahnya, Renal tersenyum sinis sambil menjatuhkan rokok kemudian menginjaknya.


"Ha...ha..." Renal tertawa sambil memasukan kedua tangan ke dalam saku Coat yang di pakainya.


"Gak salah kamu nanya gitu ke aku?" tanya Renal sinis.


"Yang kabur dari masalah siapa???" Renal berjalan mendekati Fin.


"Terus, aku mau hubungin kamu pake apa??" tanya Renal kembali.


Fin mematung. Dia lupa tidak ada yang tau kemana dia pergi. Bahkan telepon genggam miliknya tidak dia bawa. Fin tidak menyanggah. Apa yang Renal katakan semuanya memang benar. Fin terlalu emosi saat melihat perempuan kesayangannya itu terluka dengan begitu parahnya. Dia lupa sebenarnya posisi dia lah yang lebih layak untuk di salahkan.


"Apa kamu tau seberapa menderitanya man-tan is-tri mu?" tanya Renal dengan sengaja menekankan kata 'mantan istri' pada pertanyaannya.

__ADS_1


Ada rasa tidak rela saat Fin mendengar kata 'mantan Istri. Namun dia tidak memiliki hak untuk marah. Semuanya sudah terlambat. Andai saja dulu Fin berani mengambil resiko dan menyampaikan fakta yang sebenarnya mungkin saja kondisinya tidak akan seperti sekaraang. Dia terlalu pengecut dengan lari dari masalah. Lihatlah sekarang. Fin bahkan menyalahkan Karina untuk perpisahannya.


__ADS_2