Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Canggung!


__ADS_3

"I got u!" ucap Eca saat matanya menangkap sosok Renal yang tengah duduk di depan meja bar, bersama seorang perempuan di atas pangkuannya.


Eca tersenyum sinis.


"Kita lihat seperti apa selera seorang, Renal!" ucapnya tersenyum sinis.


Setelah mengetahui posisi suaminya, Eca turun menuju lantai disco dan mulai berbaur bersama para lelaki yang mulai mendekatinya.


Eca tidak menghawatirkan keselamatannya sama sekali. Berurusan dengan pria-pria mabuk merupakan hal sepele baginya.


Eca sudah di bekali ilmu bela diri sejak dia masih remaja. Kalaupun ada yang ingin macam-macam tentu saja Eca tidak akan membiarkannya.


Eca mulai berlenggak-lenggok menggerakkan badannya mengikuti irama musik yang menggema di dalam sana.


Rencananya untuk menjadi pusat perhatian, berhasil. Saat ini semua mata tertuju pada Eca yang dengan luwes menikmati setiap alunan musik yang di sajikan oleh disc jockey.


Eca tengah di kelilingi para pria yang berebut untuk bisa berkenalan dengannya.


Renal yang tengah duduk di atas kursi depan meja bar, mulai menaruh perhatiannya pada wanita yang tiba-tiba menjadi primadona di klub tersebut.


"Orang baru?" tanya Renal pada perempuan yang tengah bergelayut manja di atas pangkuannya.


"Sepertinya!" jawabnya singkat sambil mengecup bibir Renal beberapa kali. Renal hanya diam, matanya sibuk mengamati perempuan yang hanya tampak bagian belakangnya saja dari tempat Renal duduk.


"Whhoooo... lihatlah bagaimana tubuh wanita itu! Wajah bule, kulit putih, dadanya... Sudahlah!" seru bartender yang duduk di hadapan Renal.


"Sepertinya para buaya itu mulai berebut untuk mengajaknya tidur!" lanjutnya lagi.


"Ckk," decak perempuan yang bersama Renal. Dia tidak suka mendengar pujian yang di layangkan untuk perempuan lain.


Renal yang penasaran mendengar pernyataan dari bartender tersebut, berbalik untuk melihat seperti apa rupa wanita yang tengah di kerubungi banyak lelaki itu.


Mata Renal melebar, wajahnya memerah dengan kedua tangan terkepal erat siap untuk melayangkan tinjunya pada pria-pria yang saat ini tengah menatap lapar setiap lekuk tubuh dari istrinya.


"Kurang ajar!" seru Renal sambil bangkit dari bangkunya. Perempuan yang duduk di atas pangkuan Renal langsung terjungkal saking kencangnya Renal membantingnya.


"Kakak! Kenapa sih?" tanyanya merengek.


Renal tidak menghiraukan pertanyaan dari perempuan itu. Dia berjalan dengan langkah lebarnya, menghampiri istrinya yang saat ini masih asik berjoged dengan seorang pria yang tengah memeluknya dari belakang


"ECA!" pekik Renal kencang membuat orang-orang mengalihkan perhatiannya pada tempat Renal datang.


Raut wajah Eca datar seolah tidak terjadi apa apa. Eca hanya memberi Renal sebuah senyuman kecil.


"Kak Renal, disini juga?" tanyanya pura-pura tidak mengetahui keberadaan Renal.


Eca masih memegang tangan pria yang tengah melilit pada perut polosnya itu. Kepala Eca sendiri dia sandarkan pada dada berototnya.


Renal semakin geram melihat pemandangan yang menurutnya menjijikan itu. Dia maju beberapa langkah untuk semakin mendekat dengan istrinya.


Renal tarik tangan Eca dengan kencang agar tubuhnya terlepas dari pelukan pria yang merupakan saingan Renal di klub tersebut.


"Whooo... Santai, Bro!" ucap pria yang tadi memeluk Eca.


"Kamu siapa berani bawa dia dari aku, hem? aku yang pertama kali mendapatkannya!" seru nya kembali. Dia tidak terima dengan perlakuan Renal yang semena-mena membawa partner ranjangnya.


Eca hanya diam. Tanpa melerai ataupun melawan.

__ADS_1


Renal membuka kemeja yang tengah di pakainya, kemudian memasangkannya pada Eca. Dia rela bertelanjang dada demi menutupi tubuh seksi istrinya dari mata-mata lapar pria-pria yang ada di klub tersebut.


"Kalian tanya siapa aku? Yakin kalian ingin tau?" tanya Renal sombong.


"Siapa?" tanya Eca sengaja memancing amarah Renal.


Renal melebarkan matanya mendengar pertanyaan dari Eca.


"Siapa kamu bilang? "pekiknya tidak terima dengannpertanyaan istrinya.


Eca hanya menyunggingkan senyum sinisnya.


"Aku, suaminya!" ucap Renal sambil mengangkat tangannya dan tangan Eca, untuk menunjukkan cincin pernikahan mereka.


Ha... ha... ha...


Tawa menggema dari para pria yang ada di sana.


"Chh" pria yang tadi bersama Eca berdecih tidak percaya.


"Jadi maksud kamu, Nona manis ini adalah istri kamu, begitu?" tanya nya.


Renal mengangguk sambil mengangkat kepalanya sombong.


"Heh," tanya pria saingan Renal pada pria yang berdiri di sebelahnya.


"Kalau kamu punya istri sesempurna dia di rumah, apa mau kamu mencari perempuan model begitu di tempat lain?" lanjutnya menyindir Renal.


"Hanya orang bodoh yang melakukan hal tersebut!" ucap pria itu lagi.


Renal hanya diam. Dia tidak melawan ataupun mencela. Dia sadar, apa yang saingannya ucapkan itu merupakan sebuah fakta. Fakta bahwa Renal bodoh.


Dia terus mencari celah dari ketidaksediaan Eca menyerahkan segalanya, dengan mendatangi klub kemudian check in dengan perempuan penghuni klub tersebut.


Renal menarik tangan Eca dan menyeretnya keluar dari dalam klub. Eca berbalik menatap pria yang dia anggap sebagai guardian Angel nya itu karena sudah menolongnya untuk memanas-manasi, Renal.


Eca angkat tangannya kemudian melambai.


"Sampai bertemu kembali, Baby!" ucap Eca sebelum akhirnya mengikuti Renal keluar, dan masuk ke dalam mobil.


Renal masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Eca. Dadanya naik turun dengan nafas yang memburu. Kedua tangannya terkepal di atas paha. Matanya terpejam mencoba meredam segala amarah yang sudah sampai di ujung ubun-ubun nya.


Eca sendiri acuh dan tidak menghiraukan kemarahan Renal. Dia mengutak-atik handphone miliknya dan tidak menganggap Renal ada di sampingnya.


"Apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu?" Renal mencoba membuka percakapannya.


"Hem?" tanya Eca dengan wajah menyebalkan menurut Renal.


"Jangan pura-pura tidak mengerti, ECA! Apa maksud kamu datang ke tempat seperti ini dengan penampilan kamu yang seperti itu?" tanya Renal dengan suara yang mulai meninggi karena kesal. Tangannya menunjuk baju minim yang di kenakan oleh Eca.


"Ckk! Tentu saja untuk bersenang-senang, Renal! Memangnya apa lagi tujuan orang-orang mendatangi tempat seperti ini kalau bukan untuk having fun? Hem? Mau ibadah?" Eca menyunggingkan sebelah bibirnya mengejek.


Setelah sekian lama menyembunyikan sifat asli di balik penampilannya yang kalem, akhirnya jiwa bebas dan liarnya keluar dengan sendirinya disaat dia harus tegas dengan suaminya.


"Bagian mana yang lelaki kurang ajar itu sentuh, heh?" tanya Renal sambil tangannya membuka kemeja yang tadi di pasangkanya pada Eca.


Namun sebelum tangan Renal menyentuh Eca, Eca menghentikannya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Stop! Jangan sentuh aku dengan tangan kotor kamu!" ucap Eca sinis.


Eca membuka kemeja yang Renal pakaikan padanya, kemudian menyerahkannya pada Renal.


"Aku nggak suka bau parfum cewek lain nempel di badan, ku!" ucapnya kemudian keluar dari dalam mobil Renal dan naik ke dalam mobil yang Eca bawa tadi.


Renal melongo dengan mata yang tidak bisa lepas dari tubuh Eca. Dia berjalan dengan elegan dan masuk ke dalam mobilnya. Mobil istrinya melaju meninggalkan parkiran klub mewah yang selalu Renal datangi hampir setiap malam itu.


"Bodoh! Kamu memang bodoh, Renal! Harusnya kamu habiskan waktu kamu dengan mencari cara untuk menaklukkan istri kamu yang keras kepala itu." Renal membentur-benturkan kepalanya ke atas setir mobil.


"Kalau sampai ketahuan Tuan Alexander, mampus kamu, Renal!" ucapnya kemudian mulai menyusul Eca.


#########


Pagi-pagi di Yogyakarta, Karina, Fin dan Devin sudah siap untuk berkunjung ke tempat pembuatan Bakpia yang terkenal di kota tersebut. Karina ingin memakan Bakpia langsung dari sumbernya.


Tempat yang Fin datangi benar-benar sepi. Sehari sebelumnya Renal sudah menyewa tempat itu untuk dua jam ke depan.


Eca dan Renal sendiri baru sampai di bandara. Mereka hanya menunggu di bandara karena Fin dan Karina pun tidak akan lama berada di sana. Hanya sampai keinginan Karina terpenuhi.


Tidak seperti perjalanannya yang penuh perjuangan, disana Karina hanya mencicipi tiga buah bakpia. Fin hanya bisa menghela nafas tanpa berani menegur istrinya. Karina yang sensitif, kadang akan menangis walau hanya dengan sebuah teguran kecil.


Para karyawan toko membawa beberapa goodie bag dan memasukannya ke dalam mobil. Karina membungkus beberapa bakpia berbagai rasa itu untuk di bagikan kepada sahabat dan Bibinya.


"Mommy sudah puas?" tanya Fin sambil mengelus sayang kepala istrinya.


Karina mengangguk kemudian mengecup pipi Fin.


"Thank you, Daddy!" tulus Karina.


"Daddy, gendong!" Devin menarik pakaian Fin.


"Oh, Son! Daddy tidak melihat kamu!" ucap Fin sambil membawa Devin ke dalam gendongannya.


Mereka semua naik ke dalam mobil yang akan membawa mereka langsung menuju bandara.


"Sekarang pulangnya naik pesawat ya, Son!" Fin memberi tahu Devin tentang transportasi yang akan di naiknya.


Mereka semua sampai di bandara. Tampak Renal dan Eca yang sedang menunggu kedatangan sang Grahatama. Eca menghampiri Karina dan segera mengambil alih barang bawaannya.


"Maaf, pasti lama nunggu kita datang, ya?" sesal Karina tidak enak.


"Nggak masalah, Kakak!" jawab Eca yang semakin luwes memanggil Karina dengan panggilan Kakak.


"Kalian kenapa?" tanya Karina saat melihat ada yang berbeda di antara keduanya.


"Kenapa?" tanya Renal kembali.


"Kalian bertengkar?" tanya Karina kembali.


"Sok tau, kamu!" ucapnya di akhiri dengan tawa garing dari Renal.


"Ckk, sudahlah, Mom! Ayo naik!" ajak Fin pada istrinya yang kepo.


Saat mata Eca dan Renal bertemu, mereka segera membuang pandangannya ke segala arah, demi menghindari kecanggungan.


Ya, mereka canggung setelah semalam menghabiskan malam pertama dengan panas. Malam pertama mereka di awali dengan pertengkaran terlebih dahulu, di tambah Eca yang mabuk membuat kondisi semakin panas.

__ADS_1


__ADS_2