Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Syarat untuk kalian.


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu...


"Nggak! Pokoknya aku nggak akan nikah sama kamu!"


Devin menegapkan tubuhnya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana.


"Kenapa?" tanyanya kemudian.


"Aku tidak merasa ada yang di rugikan dengan pernikahan ini," ujarnya.


Renika melebarkan kedua matanya dengan rahang yang mengetat keras begitu mendengar pernyataan Devin. Sesaat kemudian dia berkata.


"Dengar ya, Tuan Devin Grahatama yang terhormat. Saya punya banyak alasan kenapa pernikahan itu tidak boleh sampai terjadi!"


Jari telunjuk Renika terangkat mengisyaratkan angka 'satu'.


"Pertama, pernikahan kita bisa menjadi skandal, apalagi kalau sampai foto-foto itu tersebar ke media massa! Dan tebak siapa yang paling di rugikan dalam hal ini? Ya, tentu saja saya!" seru Renika sedikit berteriak.


"Kedua, popularitas saya pun akan semakin turun karena tidak lagi lajang!" imbuhnya.


"Bagian paling buruknya adalah, semua brand yang bekerja sama dengan saya akan mencabut kontrak mereka. Saya harus membayar ganti rugi dengan denda ratusan juta rupiah hanya karena skandal tidak berdasar itu!" Renika menggertakkan gigi.


"Anda masih berani bilang kalau saya tidak akan rugi apa pun?!"


Bibir Devin terbuka untuk berbicara tapi Renika kembali bersuara membuat pria itu menutup mulutnya lagi.


"Oh iya. Saya yakin Anda belum lupa dengan kejadian beberapa hari lalu?" Renika memulai.


"Saya putus dengan mantan pacar saya dengan mempermalukan dia di depan publik. Kalau saya tiba-tiba menikah dengan Anda yang juga terjepret kamera apa yang akan di pikirkan publik?? Mereka akan berbalik menyerang dan menuduh sayalah yang berselingkuh! Saya yang telah merencanakan skenario itu. Kemudian, image saya sebagai wanita baik-baik akan hancur!" lanjut Renika berapi-api.


Tak ada satupun alasan yang luput dari ucapan Renika. Dia membeberkan segala skenario buruk yang mungkin akan terjadi kepadanya kalau sampai tiba-tiba dia menikah dengan Devin.


Namun, setelah semua penjelasan panjang lebar yang di lontarkan Renika kepadanya, Devin masih saja terlihat tenang. Bahkan, pria itu kini terlihat melipat kedua tangannya di depan dada seakan tidak terlalu peduli dengan semua dampak buruk yang mungkin akan terjadi pada Renika.


Devin kemudian kembali duduk di kursinya dan berkata sembari menatap Renika lurus.

__ADS_1


"Pertama, foto-foto itu tidak akan berguna kalau di sebarkan setelah kita menikah. Suami istri berdua di Hotel, apa yang salah?" Pria itu lanjut berkata.


"Sebaliknya, kita bisa menuntut balik siapa pun yang menyebarkannya lantaran telah merusak nama baik kita."


"Devin, kamu tahu pelakunya bisa menyebar tanggal foto, kan?" balas Renika sembari memutar bola mata.


"Terkecuali pelaku penjebakan kita muncul secara langsung, aku cukup berkata bahwa tanggal itu hanyalah rekayasa," jawab Devin singkat.


"Kedua, menikah dengan ku akan meningkatkan ketenaran mu, bukan sebaliknya." Pria itu menambahkan.


"Ketiga, bahkan kalau perusahaan lain mencabut kontraknya dan memaksamu membayar ratusan juta, aku bisa menanggungnya dan menjadi sponsor tunggal mu di Indonesia."


Renika ternganga. Semua Devin tidak bisa dia tepis. Selama sesaat, dia lupa bahwa pria di hadapannya ini adalah CEO salah satu perusahaan terbesar di Negaranya. Demikian, permasalahan reputasi dan uang, seharusnya tidak sedikit pun Renika khawatirkan hal itu. Akan tetapi...


"Renika," panggil Devin membuat Renika tersentak.


"Jangan menolak lagi. Alih-alih jalan buntu bagi mu menikah dengan ku adalah jalan keluar." Dia menjelaskan.


"Bukan hanya perihal reputasi dan karir, tapi orang tua mu tidak akan lagi mempermasalahkan hal ini lebih lanjut."


Mendengar penjelasan Devin, Renika diam tak berkutik. Otaknya berputar mempertanyakan apakah dia sungguh tidak memiliki pilihan lain selain menikah dengan Devin.


"Aku tahu kamu dengan keras menolak karena tidak ingin terjerat pernikahan tanpa cinta, terlebih setelah permasalahan dengan pria kurang ajar itu." Pria itu jelas merujuk kepada Naufal.


"Oleh karena itu, satu tahun hanya selama itu kita perlu menikah."


Renika yang termenung sontak menatap Devin dengan kedua alisnya yang saling bertautan.


"Maksudmu?"


Devin menjelaskan, menatap netra cokelat terang Renika dalam-dalam.


"Kita menikah kontrak."


###########

__ADS_1


"Jadi, kalian berdua setuju untuk menikah?"


Kedua orang tua Renika dan Devin terlihat begitu senang dan lega ketika mendengar jawaban dari kedua anaknya itu.


Renika lantas mengangguk dengan senyuman canggungnya sementara Devin hanya tetap duduk di sampingnya membiarkan Renika yang menjelaskan semuanya kepada orang tua mereka.


"Tapi sebelum itu, ada beberapa syarat yang ingin kami ajukan," ujar Renika kemudian.


"Syarat apa?" tanya ibunda Devin, lalu beralih menatap sang suami dan kedua sahabatnya itu bergantian.


Renika hanya balas tersenyum kikuk kemudian menarik napas dan mulai bersuara.


"Kami mau, pernikahan kami ini di rahasiakan dari publik. Kami juga tidak ingin mengadakan acara pernikahan yang terlalu mewah, cukup di hadiri orang-orang terdekat saja," tutur Renika.


"Setelah menikah, kami akan tinggal di rumah pribadi ku," tambah Devin.


Mendengar persyaratan itu, para orang tua pun terlihat saling bertukar pandang, mereka terlihat sedikit keberatan dengan syarat yang di berikan Renika dan Devin, terutama di bagian 'tidak boleh di ketahui publik'.


Bagaimanapun juga, keluarga kedua belah pihak sama-sama berasal dari keluarga terpandang, jadi rasanya akan sulit untuk menutupi pernikahan itu dari publik.


"Kalau boleh tahu, kenapa kalian ingin merahasiakan pernikahan ini? Kalian berdua tidak sedang merencanakan sesuatu yang aneh di belakang kami, kan?" tanya ibunda Devin dengan nada curiga.


Untuk sesaat, Renika merasa panik. Jantungnya berdebar kencang dan lidahnya pun mendadak kelu, tak bisa mengatakan apapun.


"Renika memiliki beberapa perjanjian dengan brand yang mensponsorinya, kalau dia harus mempertahankan image nya saat ini," ucap Devin kemudian.


Renika yang mendengarnya pun sontak menoleh padanya, tidak menduga kebohongan itu akan keluar dengan begitu mulusnya dari seorang Devin yang sejak tadi hanya duduk diam di samping Renika.


Kedua orang tua mereka mengangguk, menyetujui persyaratan dari Renika dan Devin.


"Tapi..."


Renika yang sudah bersorak dalam hati karena rencana mereka berjalan dengan mulus, terpaksa menahan senyumannya kala Ayahanda Devin menjeda ucapannya.


"Kami juga memiliki sebuah syarat untuk kalian."

__ADS_1


Rasa cemas segera meliputi hati Renika, terlebih karena melihat senyuman di wajah kedua orang tua mereka.


"Berikan kami cucu dalam waktu satu tahun."


__ADS_2