Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Pria lain!


__ADS_3

"Baby" panggil Fin saat masuk ke dalam rumah Karina. Sudah empat hari berturut-turut Fin mengunjungi rumah mantan istrinya. Sejak pulang dari Swiss, Fin berniat memenangkan kembali hati Devin.


Devin masih belum luluh dia masih acuh dengan Fin. Devin tampak menoleh sesaat kemudian kembali fokus pada bukunya.


"Mommy kemana?" tanya Fin saat tak mendapati Karina di sana.


Devin menggedikan bahu sebagai jawaban. Dia masih tetap fokus dengan buku yang di bacanya.


"Baby, mau ikut ke zoo?" Fin mulai melancarkan aksinya. Dia membujuk Devin dengan mengajaknya jalan-jalan. Namun, Fin lupa anaknya berbeda dengan anak-anak lain seusianya.


Devin masih membisu. Dia hanya menjawab ajakan Fin dengan gelengan kepala.


Fin menarik nafas. Dia sudah kehilangan akalnya. Segala cara yang Renal sarankan sudah Fin coba. Namun, sang anak masih tidak bergeming. Dia masih tidak tertarik dengan segala hal yang Daddy nya tawarkan.


Fin menyandarkan tubuh ke badan kursi dengan kedua tangan yang dia buka lebar. Tanpa Fin sadari, Devin menatapnya menggunakan sudut mata.


Sebenarnya, secara diam-diam Devin selalu memperhatikan apa yang Fin lakukan. Namun, dia terlalu gengsi untuk mengakuinya.


Karina datang dari arah belakang rumah dengan penampilannya yang sudah rapi. Dia menggunakan sebuah dress panjang yang dikombinasikannya dengan cardigan rajut. Rambutnya dia gulung ke atas menampakkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Sudah beberapa bulan terakhir semenjak menyandang gelar janda, leher Karina benar-benar bersih dari bekas sedotan sang mantan suami.


Karina sibuk menata isi goodie bag tanpa memperhatikan sekitarnya. Dia terus berjalan menuju pintu keluar.


"Baby, Mommy harus ke rumah Nenek dulu! Baby tungg..."


"Pagi-pagi buta harus pergi??" tanya Fin sinis. Dia bangkit dari tempat duduk dan berjalan menghampiri Karina.


Karina yang awalnya fokus pada goodie bag, seketika mengalihkan perhatiannya mencari sumber suara.


"Kak Fin! Kapan datang?" tanya Karina ramah menyambut kedatangan Fin yang berdiri di hadapannya.


'Kurang ajar...' umpat Fin dalam hati saat melihat leher jenjang Karina. Fin benar-benar rindu mengecup leher mulus milik mantan istrinya tersebut. Apalagi saat melihat tato sayap kupu-kupu yang ada di belakang leher Karina. Rasa-rasanya, Fin ingin menerjang tubuh Karina dan membawanya naik ke atas tempat tidur.


"Kak!" panggil Karina sambil menggerakkan tangannya di depan wajah Fin.


"Khemm..." Fin berdehem untuk menyingkirkan pikiran liar dari otaknya.


"Kenapa tidak suruh maid saja yang kesana?" Fin kembali melayangkan pertanyaannya tanpa menjawab pertanyaan dari Karina.


Karina menarik nafasnya. Sang mantan suami masih saja sinis terhadapnya. Sejak di Swiss, Fin terus bersikap dingin kepadanya. Bahkan kecil harapan Karina untuk bisa kembali bersama Fin, jika dilihat dari sikap Fin kepada Karina.


"Gak bisa! Ada sesuatu yang harus aku sampaikan pada Bibi!!" kesal Karina.


"Ini masih terlalu pagi, Karinaaaa!! Kamu Jangan seenaknya pergi, apalagi dengan kondisi..." Karina berjinjit kemudian, Cup...


Karina membungkam mulut mantan suaminya itu dengan kecupan singkat. Walaupun hanya kecupan namun cara tersebut berhasil membuat Fin diam. Dia mematung menatap kepergian Karina.


"Maaf..." teriak Karina dengan ceria. Dia berlari kecil dan pergi menaiki mobil yang terparkir di halaman rumahnya.


"Jangan lari! Kamu sedang hamil!" ucap Fin pelan. Tentu saja itu hanya bisa di dengar oleh Fin sendiri. Fin terlalu gengsi untuk memperlihatkan kekhawatirannya.


Sementara itu, Karina memainkan cara lain untuk memikat Fin. Menunggu Fin bertindak lebih dulu, rasanya mustahil. Dia terus mempertahankan harga dirinya. Oleh karena itu, Karina yang akan agresif mulai sekarang. Masa bodoh dengan image lugunya. Kebahagiaan anak-anaknya lebih penting dari pada ego nya sendiri.


Karina pikir keluarga utuh akan membuat anak-anaknya tumbuh dengan jauh lebih baik. Untuk saat ini itu yang Karina percayai. Padahal sebenarnya selain alasan di atas, Karina pun jauh lebih membutuhkan Fin. Apalagi dengan kondisi saat ini.


Dengan refleks Fin tersenyum kecil mengingat keberanian Karina. Dia kembali ke ruang tengah sambil memegangi bibirnya.


"Aden kenapa??" tanya Bi Surti yang baru keluar dari dapur.


"Khemm..." Fin kembali memasang wajah datarnya. Dia memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans.


"Kenapa salah satu dari maid di sini tidak ada yang menemani Karina pergi?" Tanya Fin to the point.


"Apa dengan memperkerjakan empat maid masih kurang?" tanya Fin kembali.


"Neng Karina nya yang minta pergi sendiri!"jawab Bi Surti santai.


"Kenapa??!" tanya Fin nge gas.


Bi Surti mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Ya mana Bibi tau atuh Den!" jawab Bi Surti dengan aksen sunda nya yang khas.


"Cckk..." decak Fin kesal.


"Atau kenapa tidak Aden saja yang ikut sama Neng Karina?" tanya balik Bi Surti.


"Ckk..." lagi-lagi Fin berdecak.


"Gengsi terussss... sampai Neng Karina punya suami baru!!" sindir Bi Surti sambil berlalu pergi meninggalkan Fin yang tengah memelototinya.


Bi Surti tau Fin tidak mungkin memecatnya. Maka dari itu dia berani menyindirnya secara terang-terangan. Bi Surti terlalu gemas dengan Fin. Dia tau keduanya masih memiliki rasa satu sama lain. Namun, lagi-lagi ego dan gengsi yang menahan mereka untuk bersatu kembali.


Devin terkikik sambil menutup wajahnya dengan buku. Dia puas melihat Daddy nya di marahi Bi Surti.


"Baby, mau sarapan sekarang?" tanya Fin yang datang menghampiri Devin.


Devin menormalkan kembali ekspresi wajahnya. Apa yang Devin lakukan persis seperti yang Fin lakukan pada Karina. Jual mahal.


Devin menggeleng.


"Nanti!" jawabnya singkat.


Fin mengangguk.


"Oke! Daddy kasih kamu waktu setengah jam! Setelah itu, tidak ada penolakan untuk menunda sarapan!" tegas Fin. Devin mengangguk tanpa menoleh. Dia melanjutkan bacaannya.


Fin duduk di atas kursi yang sama dengan Devin. Tubuhnya dia sandarkan pada punggung sofa dengan kaki yang saling bertumpuk satu sama lain.


Wajah Fin berkerut, dia tengah berpikir keras.


"Ada masalah apa pagi-pagi buta harus ke rumah Bik Vina?" tanya Fin pada dirinya sendiri.


"Siapa?" tanya Renal yang tiba-tiba datang dari ruang tamu rumah Karina.


Fin mendelik tajam saat mendapati Renal sudah ada di tempat yang sama dengannya.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Fin sinis.


"Kamu lupa ya kalau hari ini ada acara?" tanya Renal kesal.


"Kenapa gak telpon saja?" tanya Fin kembali dengan wajah kesalnya.


"Ya ampun bos laknat!! Syukur-syukur aku samperin kamu ke sini, malah ngedume!!! Duda labil!!" sindir Renal.


"Language, Renal!!" Fin memeloroti Renal.


Renal hanya merespon dengan cengiran.


"Boy, mau ikut?" tanya Renal.


Devin menggeleng sambil terus fokus membaca buku.


"Dua orang kaku! Karina... untuk ke depannya cari suami humoris. Hidup dengan pria-pria seperti mereka membosankan!" celetuk Renal tiba-tiba.


Fin menatap Renal dengan tajam. Begitu juga dengan Devin. Keduanya menampilkan ekspresi yang sama persis.


"Renal!!!" marah Fin.


"Kenapa marah? Memang apa salahnya kalau si Karina nikah dengan pria humoris?" tanya Renal dengan wajahnya yang menyebalkan.


Fin tidak menjawab. Dia kesal mendengar Renal menyebutkan pria lain.


"Memangnya, dia bisa lepas dari bayangan ku? Pria mana yang bisa mengalahkan pesona dari seorang Fin Grahatama?" tanya Fin sombong.


Fin tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya.


"Tidak mungkin!! Ketampanan, kekayaan dan karisma seorang pria idaman, semua ada dalam diri ku!! Jadi, jangan mimpi bisa mendapatkan pria yang lebih dari ku!!" sewot Fin menyombongkan dirinya sendiri.


"Benar benar duda labil yang sombong!!" gumam Renal pelan.

__ADS_1


"Acara kita jam berapa? Pagi ini, kita mau ke zoo! Benar kan, baby?" tanya Fin pada Devin.


Devin menggeleng.


"Gak! aku gak mau ke zoo!" jawab Devin tegas. Renal tersenyum miring.


"Umurnya saja tiga tahun tapi otaknya sudah delapan tahun! Anak kecil mana yang tidak suka kebun binatang?" heran Renal pada Devin.


"Kalian gak bisa pergi sekarang! Pagi ini ada pembukaan perpustakaan bersama walikota, kamu lupa?" tanya Renal pada Fin.


"Kurang ajar!! aku lupa!!" pekik Fin pelan.


"Baby, ayo sarapan! Sesuai perjanjian setelah setengah jam, selesai gak selesai, kamu simpan buku dan mulai makan!!" tegas Fin pada anaknya.


Devin tidak membantah. Dia menutup buku dan mulai beranjak menuju meja makan. Fin mengikutinya dari belakang. Begitu juga dengan Renal.


"Kamu mau kemana?" tanya Fin pada Renal.


"Sarapan lah!" jawab Renal dengan santainya.


"Datang pagi-pagi cuma numpang sarapan?" tanya Fin sinis.


"Hey... !!! kamu ngomongin diri sendiri??" tanya Renal dengan senyum lebarnya.


"Kurang ajar..." double kurang ajar. Dalam sesaat, Fin lupa dengan statusnya. Perasaan Fin, dia masih menjadi tuan rumah di sana.


Renal, Fin dan Devin, duduk di depan meja makan. Seorang maid datang untuk melayani mereka.


Fin mengangkat tangannya ke atas.


"Saya sarapan nanti saja!" tolak Fin saat maid akan menuang nasi ke atas piring Fin.


"Si Karina kemana?" tanya Renal yang tidak mendapati Karina di sana.


"Keluar!" jawab Fin singkat.


"Kalian makan duluan saja!" perintahnya.


Renal mengangguk. Dia paham kenapa Fin menolak untuk sarapan. Ternyata dia menunggu Karina untuk sarapan bersama.


"Fin! kamu ke sana mau pakai jeans?" tanya Renal saat melihat penampilan kasual dari Fin.


"Sssstttt..." Devin berdesis menempatkan jarinya di atas bibir. Matanya mendelik tajam.


"Makan jangan sambil bicala!" ucap Devin membuat Renal tercengang mendengar nasihat dari anak tiga tahun tersebut.


Fin tersenyum miring mentertawakan Renal.


"Duh... tua banget kamu boy!! Oke, uncle makan dulu baru ngobrol!" ucapnya sambil mengusap kepala Devin.


Devin mengusap bekas usapan Renal sambil melanjutkan sarapannya.


"Cckk..." decak Renal saat melihat Devin menghapus jejak usapannya.


"Kalau anak uncle Renal perempuan, uncle tidak akan mengijinkan dia untuk menikah dengan kamu, boy!! Takut tertekan kaya Mommy Karina saat menikah sama Daddy Fin!" celetuk Renal di akhiri dengan gelak tawa.


Fin menatap Renal dengan tajam.


"Renal!!!" ucap Fin dingin.


"Wah... pantesan rame... rupanya ada Kak Renal!" ucap Karina yang baru saja datang dari rumah Bi Vina.


"Hai!! Biasanya membosankan, ya?" Renal menyunggingkan bibirnya untuk mengejek Fin dan Devin.


"Hahahaha..." Karina tidak menjawab. Dia hanya tertawa canggung.


"Wah... Wah... Wah ... siapa yang kamu bawa?" tanya Renal pada Karina.


Fin yang semula mengabaikan kehadiran Karina langsung berbalik melihat siapa yang Renal maksud. Mata Fin terbelalak dengan rahang yang mengeras menahan amarahnya.

__ADS_1


"Kamu!!!" ucap Fin dingin dengan tangan terangkat menunjuk wajah pria yang datang bersama Karina.


__ADS_2