
Fin dan yang lainnya melanjutkan kembali sarapan mereka. Sementara Renal sudah melesat pergi entah kemana.
"Dad, memang Eca mau nikah?" tanya Karina pada suaminya. Karina sempat terkejut saat suaminya menuturkan kalau asisten pribadinya itu akan menikah.
Karina hanya khawatir jika Eca harus menikah karena sebuah perjodohan. Cukup dia saja yang menikah mendadak karena di paksa oleh keadaan.
Karina masih beruntung karena menikahi lelaki sebaik Fin. Dia tidak dapat membayangkan jika lelaki itu bukan suaminya yang sekarang.
"Nggak," jawabnya acuh. Tangannya terangkat untuk menghapus sudut bibirnya menggunakan serbet yang tersimpan di atas pahanya. Gerakannya anggun dengan tangan yang dia lipat kembali setelahnya.
"Hem?" bingung Karina dengan alis yang berkerut.
"Enggak! Itu rencana Tuan Alexander! Dia hanya ingin memastikan sesuatu saja." lanjut Fin.
"Memastikan?" tanya Karina kembali.
Fin sudah menyelesaikan sarapannya. Dia menatap anaknya yang tengah makan dengan fokus.
"Mom, sebaiknya Mommy habiskan dulu sarapannya. Kita masih memiliki banyak waktu untuk berbincang." ucap suaminya sambil matanya menatap Devin seolah memberi isyarat pada sang istri. Fin memperingatkan Karina dengan lembut. Karina tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Semenjak menikah dengan Fin, dia menjadi pribadi yang lebih banyak bicara. Secara tidak langsung, Fin telah mengembalikan sifat asli Karina yang tiga tahun terakhir terkubur di dalam penderitaan nya.
Bi Vina tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya pelan sambil menepuk pelan punggung keponakannya itu.
Karina dan Bi Vina selesai dengan sarapan mereka. Sekarang tinggal sang Tuan muda lah yang masih berusaha menghabiskan sarapannya.
Devin makan dengan tenang. Dia terus menyendok nasi yang di campur dengan sup ayam kesukaannya sampai habis tak bersisa.
Setelah selesai, Devin rapikan kembali alat makannya kemudian membersihkan mulutnya dengan menggunakan serbet yang terpasang pada dadanya persis seperti yang Daddy nya lakukan.
Fin tersenyum. Entah kenapa hanya dengan menatap putra tampannya bisa membuat hatinya menghangat.
Dia usap kepala sang anak, kemudian menggendongnya untuk pergi menuju lantai dua tempat bermain serta perpustakaan mini yang di desain khusus untuk anaknya.
Fin selalu menyempatkan waktu untuk bercengkrama dengan sang anak walaupun hanya beberapa menit saja.
"Mommy siap-siap dulu! Nanti berangkat ke kantornya bareng sama, Daddy!" perintahnya sebelum akhirnya masuk ke dalam lift.
Karina melongo mencerna pernyataan suaminya.
"Apa katanya? Ke kantor bersama? nggak salah dengar kan?" tanya Karina pada dirinya sendiri.
"Nggak salah, kok. Bibi saksinya." sahut Bi Vina yang masih duduk di sebelah Karina.
Karina membalikan tubuhnya menatap sang Bibi. Dia lupa kalau Bibinya masih duduk di depan meja makan. Karina nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ayo, aku bantu bibi untuk berkemas." ajak Karina pada sang Bibi.
"Nggak ada yang harus di kemas, sayang. Bibi tinggal berangkat saja. Semua barang dari rumah sakit kemarin tidak Bibi keluarkan dari dalam mobil." jelasnya pada sang keponakan.
__ADS_1
"Oh, oke! Sebentar, Bibi tunggu dulu disini!" pintanya pada sang Bibi.
Karina berlalu menuju dapur untuk membawa teh jahe buatannya yang sudah Karina masukan ke dalam tumbler.
Dia kemudian pergi menuju ruang keluarga, tempat tas nya tersimpan. Karina sampirkan tas tersebut pada bahunya. Selanjutnya Karina ambil sebuah map coklat yang cukup tebal dari dalam tasnya dan membawanya ke ruang makan dimana sang Bibi masih menunggu.
Karina menempatkan amplop coklat berisi uang yang cukup banyak itu di dalam goodie bag bersamaan dengan Tumbler berisi teh jahe buatannya.
Karina yakin kalau dia memberikan amplop berisi segepok uang itu secara langsung, Bi Vina tidak akan mau menerimanya. Oleh karena itu, Karina mengakalinya dengan menyimpan uang tersebut di dalam goodie bag.
"Ayo, aku bantu bibi untuk naik ke dalam mobil." Karina memapah Bibinya dan berjalan menuju tempat mobil terparkir.
"Mommy, sebentar!" Tiba-tiba Fin datang dari arah belakang Karina.
Dia menurunkan Devin dari gendongannya.
"Daddy harus bantu Nenek! Devin turun dulu, nggak apa-apa?" tanya Fin sebelum menurunkan anaknya.
Devin mengangguk tanda setuju. Fin mengusap kepala anaknya sambil menciumnya sesaat.
Selanjutnya Fin berjalan ke arah sang istri dan mengambil alih Bi Vina untuk dia papah sampai masuk ke dalam mobil.
"Bi, nanti di sana akan ada satu orang suster yang merawat Bibi, dan satu orang asisten rumah tangga yang akan mempersiapkan segala kebutuhan Bibi." ucap Fin menjelaskan.
"Maaf, Bibi sudah sangat merepotkan kalian!" ucap Bi Vina tulus.
Di belakang Fin berdiri Karina, Bu Linda serta Devin yang sudah siap dengan tas Dinosaurus nya.
Fin memangku sang anak dan mendudukkannya di samping Bi Vina. Fin juga memasangkan sabuk pengamannya.
"Baby, nurut sama, Nenek! Oke?" pesannya pada sang anak sebelum akhirnya menutup pintu mobil.
Bu Linda naik di kursi depan samping kemudi dengan Pak Deni yang menjadi sopirnya.
"Ayo, pamit sama Mommy dan Daddy." Bi Vina membuka jendela mobil sambil mengangkat tangan Devin untuk melambai pada Fin dan Karina yang masih berdiri menatap mobil yang anaknya tumpangi.
Devin menatap kedua orang tuanya kemudian melambaikan tangannya untuk pamit pergi ke rumah sang Nenek.
Mobil yang Devin naiki akhirnya berangkat menuju rumah Bi Vina. Perjalanan yang akan mereka tempuh cukup jauh kurang lebih empat puluh lima menit kalau jalanan tidak macet.
Setelah mobil menjauh dari pandangannya, Karina masuk ke dalam rumah untuk membawa tas kerja suaminya. Sementara Fin mulai masuk ke dalam garasi mobil dan mengeluarkan salah satu koleksi mobil mewah nya yang akan mengantar sepasang suami istri itu untuk berangkat ke kantor.
Fin melajukan mobilnya dan berhenti tepat di depan rumah dimana Karina tengah berdiri menunggu mobil yang suaminya kendarai datang.
Fin jarang memakai sopir pribadi kecuali dalam keadaan yang mengharuskannya pergi dengan menggunakan sopir pengganti. Dia lebih menyukai berkendara sendiri dan menikmati performa dari mobil yang menjadi koleksinya itu.
Istrinya tampak cantik dengan rambut panjang yang terurai. Penampilannya pun di permanis dengan poni tipis di depannya.
Pagi ini, Karina memakai kemeja merah yang dua kancing teratasnya terbuka. Warna dari kemejanya sangat kontras dengan warna kulit Karina.
__ADS_1
Satu kata untuk menggambarkan sosok Karina pagi ini. Hot! Apalagi di tunjang dengan lipstik merah yang mempertegas penampilan nya.
Fin membuka pintu mobilnya untuk turun dan mempersilahkan sang istri masuk. Namun, sebelum kakinya menyentuh tanah, tangan Karina terangkat untuk menghentikan suaminya.
Karina membuka pintunya sendiri kemudian duduk di kursi sebelah suaminya sambil memasang sabuk pengaman.
"Yuk!" ajak Karina pada suaminya. Fin mengerjap kemudian menutup pintunya dan mulai melajukan mobilnya menuju perusahaan tempat dia dan istrinya bekerja.
Di jalan menuju perusahaan tangan Fin meraih jari jemari Karina kemudian membawanya ke dalam pangkuan untuk dia genggam sementara tangan yang lain fokus memutar setir.
"Dad, nggak mau jelasin perihal Eca yang mau menikah?" tanya Karina menagih janji.
"Nggak ada pernikahan, Mommy!" jelasnya.
"Itu semua hanya akal-akalan Tuan Alexander untuk memastikan perasaan Renal pada Eca" lanjutnya.
"Hem? Maksud, Daddy?" Karina bingung.
"Tuan Alexander menginginkan Renal untuk jadi menantunya karena sebelumnya dia melihat ada cinta di mata Renal!"
"Selain itu, Tuan Alexander tau kalau Renal orang yang baik dan tulus. Tuan Alexander sendiri sudah mengenal Renal dan Daddy sejak kita masih SMA. Jadi untuk memastikan perasaan Renal yang sesungguhnya, Tuan Alexander membuat rencana ini dan meminta Daddy untuk membantunya." Fin menjelaskan segalanya pada Karina.
Karina mengangguk setuju dengan rencana Tuan Alexander.
"Kenapa Daddy bisa mengenal Tuan Alexander?" tanya kembali Karina.
Fin menghentikan mobilnya tepat di lampu merah. Dia menyerongkan tubuhnya menatap sang istri. Dia arahkan kedua tangannya ke depan dada Karina.
"Da... Daddy mau apa?" tanya Karina sambil menutup dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya.
Fin menyingkirkan kedua tangan Karina kemudian. Hap! dia meraih kedua sisi kemeja istrinya dan mengancingkan nya sampai atas.
"Daddy nggak suka Mommy memakai pakaian terbuka seperti tadi." bisiknya tepat di telinga Karina. Karina memejamkan matanya merasakan embusan nafas dari suaminya.
Tangan Fin terulur masuk ke dalam sela rambut dan meraih tengkuk sang istri. Dia tarik tengkuk tersebut sampai bibir Karina menempel dengan bibir milik Fin.
"Mmmppht" desis Karina saat bibir Fin terus mencium bibir bagian luarnya.
Fin melepaskan bibirnya saat sang istri menepuk dadanya karena kehabisan oksigen.
"Daddy, ih!" pekik Karina kesal.
Fin menatap dalam netra istrinya, kemudian mengarahkan tangannya untuk mengusap bibir istrinya.
"Ini terakhir kali Mommy memakai lipstik merah saat pergi ke kantor. Kalau Daddy melihatnya lagi tidak perduli itu di depan karyawan Daddy atau atasan Mommy, Daddy akan melakukan hal yang sama untuk menghapusnya!" ucapnya dengan suara serak dan beratnya. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
Karina memegang dadanya terkejut dengan apa yang suaminya lakukan hanya gara-gara perkara sebuah lipstik.
'Good bye, koleksi lipstik merah ku!' lirih Karina dalam hati.
__ADS_1