
Karina tidak berkutik. Dia kehilangan kata katanya.
"Ya sudah, kalian boleh menunggu sampai saya naik ke atas pesawat. Ingat, jangan sampai Bapak tau!! Ini, kejutan untuknya!!!" ancam Karina berdusta.
"Baik Bu," jawab mereka kompak.
Karina tersenyum sinis sambil berjalan pergi meninggalkan para bodyguard nya. Dia bersiap untuk naik ke atas pesawat dan terbang menuju Semarang. Setelah sampai di atas pesawat dan menempati kursinya, Karina menepuk dada sambil sesekali mengembuskan nafas leganya. Dia sudah tidak di ikuti para pengawal bayangan yang selalu membuntutinya kemanapun Karina pergi.
Pengawal bayangan suruhan suaminya itu hanya mengantar sampai gate. Mereka memastikan kalau sang Nyonya sudah benar-benar aman di dalam pesawat. Sesuai instruksi dari Karina mereka kembali ke kediaman Fin dan menunggu kabar selanjutnya dari Renal.
Saat di dalam taksi tadi, Karina sengaja memesan dua tiket untuk penerbangannya ke Semarang dan ke Singapura. Karina sengaja memilih berangkat ke Semarang terlebih dahulu demi mengelabui pengawal-pengawal nya itu.
Saat tiba di bandara Ahmad Yani pun, Karina bergegas pergi mencari tempat teraman dari potretan paparazi yang mengenalinya sebagai seorang Nyonya Grahatama.
Karina menutupi dirinya dengan masker dan kacamata besar. Dia harus menunggu dua jam lamanya sebelum akhirnya terbang ke Singapura. Saat tiba di atas pesawat pun, Karina langsung terlelap dan di bangunkan dua jam kemudian setelah pesawatnya mendarat di Changi airport.
Karina bergegas mencari taksi yang akan mengantarkannya ke kediaman orang tua Raiden tempat sang anak tinggal saat ini.
Dia sudah menyiapkan segala sesuatunya termasuk mentalnya sendiri. Karina sudah menyusun berbagai kalimat yang akan dia sampaikan kepada Kakek Bram sebagai Kakek dari Fin.
Saat ini, Karina tengah berada di depan pintu kediaman Raiden. Wajahnya lelah dengan perut keroncongan. Dia baru makan satu kali, itu pun masakan yang di buat suaminya saat pagi. Karina melewatkan makan siang dan sekarang sudah memasuki sore hari.
Karina berdiri dengan ragu.
"Tuhan... apa tindakan ku saat ini benar?" gumamnya pelan.
"Baby, kamu lapar?" tanya Karina saat mendengar perutnya beberapa kali mengeluarkan suara. Karina juga mengusap lembut perut rampingnya.
"Apa kita makan dulu, baru bertemu Kakak Devin?" tanya Karina kembali.
"Oke baby, lebih baik kita mengisi perut dulu." ajak Karina sambil berjalan meninggalkan teras rumah keluarga Raiden.
"Mommy," panggil seseorang, berhasil menghentikan langkah Karina.
"Mommy" panggil nya kembali.
Degh... Mata Karina berembun mendengar seseorang memanggil namanya. Suara dan panggilan tersebut benar-benar Karina rindukan. Dia berbalik menghadap sumber suara.
"Sayang..." panggil Karina sambil merentangkan kedua tangannya, kakinya di tekuk, berjongkok mensejajarkan tinggi badan sang anak.
Ya saat ini Karina sudah bertemu dengan Devin, sang anak. Air mata rindunya tidak dapat dia tahan lagi. Segala rasa berkecamuk dalam dadanya. Bagaimana dia harus menjelaskan perpisahan Mommy dan Daddy nya pada anak sekecil Devin? Berpisah? Karina terhenyak dengan pikirannya sendiri.
Devin berlari masuk ke dalam pelukan sang Mommy. Dari arah belakang Devin tampak sang adik ipar tengah melongo, terkejut dengan kedatangan Karina yang tiba-tiba. Setelah puas melampiaskan kerinduannya, Karina melepaskan Devin kemudian menghujani wajah anaknya itu dengan kecupan sampai Devin tergelak kegelian.
"Kakak ipar!! aku tidak salah lihat kan?" tanyanya sambil berjalan mendekati Karina yang tengah memeluk Devin. Karina tersentak mendengar pekikan adik iparnya itu.
"Kiara," sapa Karina kemudian bangkit dari tempatnya.
"Kenapa tidak bilang dulu kalau mau kesini, heh?" tanya Kiara sedikit kesal.
"Kemarin, Abang bilang akan ke Singapura nya saat weekend nanti. Dimana dia sekarang?? Apa kalian sengaja ingin memberi kejutan untuk kami?" tanya Kiara kembali sambil kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan kakak nya.
"Ehh... Ki... Kiara, Abang kamu masih harus rapat ke luar kota jadi aku kesini sendirian," dusta Karina.
"Serius?? Abang mengijinkan kakak ipar ke sini sendirian?" heran Kiara. Dia sedikit tidak percaya. Kiara tau betul bagaimana keposesifan sang kakak.
"Se... serius Kiara! Aku sudah terlalu rindu dengan bayi kecil ini," ucapnya sambil mencubit pipi bulat Devin.
__ADS_1
"Dan tentunyaaaa... dengan bayi mungil ini juga," lanjut Karina kemudian menghujani Ara dengan beberapa kecupan di dahi dan kepalanya.
Ara tergelak sambil mengangkat kedua tangannya meminta untuk di gendong. Tanpa menunggu lama Karina langsung membawa Ara ke dalam gendongannya.
"Serius??" tanya Kiara kembali dengan wajah yang masih berkerut tidak percaya.
"Ckk.. ya ampunnn" decak Karina mulai kesal.
"Apa aku harus pulang lagi ke Indonesia dan kembali ke sini pas weekend nanti?" Karina menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya menggemaskan. Dia pura-pura akan pergi meninggalkan rumah Kiara.
"Mommy..." panggil Devin sedih.
"Ya ampun, Kak! aku hanya menggoda saja. Ayo masuk Kakak pasti capek," ajak Kiara. Karina hanya tersenyum sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Karina menarik nafasnya lega saat Kiara berjalan di depan untuk membimbingnya masuk ke dalam rumah. Karina sempat takut kalau-kalau Kiara menghubungi Kakaknya dan memberitahukan keberadaannya.
Bisa-bisa dia tidak dapat membawa Devin pergi. Rencananya, malam nanti Karina akan membawa Devin pergi secara diam-diam dan menghilang dari kehidupan keluarga Grahatama.
Karina sudah dapat membayangkan bagaimana keadaan di rumahnya saat ini. Bi Surti pasti sedang panik mencarinya. Pikir Karina.
##########
Dugaan Karina benar. Di rumahnya saat ini tengah panik mencari keberadaan Karina. Fin sendiri sudah ada di sana. Fin masih berada di helipad yang ada di halaman belakang rumahnya. Dia kembali menggunakan helikopter setelah mendapat kabar dari Bi Surti kalau istrinya belum pulang ke rumah dan nomornya tidak bisa di hubungi. Fin pulang di tengah rapatnya. Dia juga membatalkan beberapa meeting yang masih harus di hadirinya.
Fin berjalan masuk dengan wajah dinginnya yang misterius. Jasnya sudah dia tanggalkan. Kedua lengan kemejanya dia lipat sebatas sikut dengan kancing yang hampir setengahnya terbuka.
Semua bodyguard bayangan yang Fin tempatkan untuk menjaga istrinya sudah berjejer menunggu hukuman dari sang majikan.
Fin berhenti tepat di hadapan mereka. Kedua tangannya bertolak pinggang dengan gigi yang gemerutuk menahan amarahnya.
Plak...
Plak...
Tamparan ke dua pun mendarat di pipi Bodyguardnya yang lain. Begitupun seterusnya sampai semua bodyguard bayangan yang menjaga Karina menerima hukuman yang sama.
"Dimana istri saya? Kenapa tidak ada satupun dari kalian yang menghubungi saya, hah?" tanya Fin dingin.
"Nyonya pergi ke Semarang, Tuan," jawab seorang bodyguard.
"Semarang kalian bilang? Kalian membiarkan Nyonya pergi sendirian, hah??" tanya Fin menggelegar.
"Nyonya bilang sudah menghubungi Pak Renal dan di jemput bodyguard lain di sana. Kami di larang menghubungi Tuan karena kata Nyonya, ini semua kejutan untuk, Tuan," jawab Bodyguardnya kembali. Tidak ada yang mereka tutup-tutupi.
"Kejutan? Heh, ya ini benar benar kejutan untuk saya!!" Fin tertawa sumbang. Namun tawa itu sangat mengerikan bagi anak buah Fin.
"Renal" panggil Fin kencang.
Renal yang tengah menerima panggilan dari klien yang meeting nya Fin batalkan secara sepihak tersentak kaget mendengar panggilan Fin yang penuh emosi. Renal mengumpat kasar.
"Kurang ajar!! Aku lagi ngurusin meeting yang kamu batalin seenaknya." gerutu Renal sambil berjalan mendekati Fin. Namun umpatan itu cukup pelan sehingga tidak terdengar oleh Fin. Kalau saja Fin mendengarnya sudah pasti saat ini akan terjadi adu jotos di antara keduanya.
"Sekarang apa lagi, Finnnn??? Kenapa???" tanya Renal kesal.
"Kata mereka, kamu tau kalau Karina akan ke Semarang! Kenapa kamu bilang seperti itu?" bentak Fin.
Renal masih diam, dia tersenyum miring kemudian menatap Fin yang tengah terbakar emosi.
__ADS_1
"Apa sejak di sana kamu lihat aku menghubungi seseorang?" tanya Renal puas.
"Bukannya sejak pagi aku duduk di samping mu?" tanyanya lagi.
Fin terdiam. Dia merasa, apa yang di katakan Renal memang benar. Sejak pagi, Renal tidak pernah jauh darinya. Dia selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Saat menghubungi Karina untuk menyiapkan hardisk pun yang menghubungi istrinya itu, dia sendiri.
"Apa kalian yakin kalau Nyonya pergi ke Semarang?" tanya Fin kembali.
"Yakin Pak. Kami sendiri yang mengantar Nyonya sampai pesawat take off," jawab mereka penuh percaya diri.
Fin terdiam. Dahinya berkerut tengah berpikir keras.
"Bi, apa Karina membawa banyak barang saat pergi dari rumah?" tanya Fin pada Bi Surti.
Bi Surti menjawab dengan ketakutan.
"T... tidak, Den. Nyonya hanya membawa tas kecil saja. Dia ijin pada Bibi untuk keluar sebentar," jelas Bi Surti gemetaran.
Fin menarik nafas dengan mata yang tertutup. Tangannya terangkat mengurut kepalanya yang sakit.
"Renal, hubungi pihak bandara dan cari ke mana tujuan Karina pergi. Dia saat ini tengah hamil muda. Jangan sampai ada hal buruk terjadi padanya!!" perintah Fin dengan tegas. Semua orang terkejut mendengar kabar kalau Karina tengah hamil. Para bodyguard menarik nafasnya dalam, menghawatirkan keselamatan sang Nyonya dan jabang bayinya. Keselamatan Karina, merupakan keselamatan mereka juga.
"Hamil??" tanya Renal terkejut.
"Ya. Cepat!!" perintah Fin.
Renal tidak tinggal diam. Dia langsung bergerak mencari keberadaan istri dari sahabatnya itu. Dia tahu bagaimana kekhawatiran Fin saat ini.
Sementara itu, para bodyguard nya pun langsung berangkat menggunakan helikopter dan pergi ke Semarang untuk menyebar mencari keberadaan Karina.
Fin berjalan lunglai, kemudian masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan Karina untuk kedua kalinya.
Fin terlentang di atas kasur dengan lengan yang menutupi matanya.
"Mommy kemana? Kenapa membuat Daddy cemas?" lirih Fin.
Fin tersentak kaget. Dia langsung bangkit dan duduk di atas tempat tidur. Ingatannya tertarik pada peristiwa kemarin malam di ruang perpustakaan.
"Apa Mommy menyaksikan saat Daddy mendekati Queen?" gumamnya.
Fin khawatir kalau Karina melihat adegan saat dia tengah mendekatkan tubuhnya yang bertelanjang dada pada tubuh Queen yang seksi, kemudian Karina pergi begitu saja tanpa menyaksikannya sampai akhir. Fin takut Karina salah paham.
Namun setelahnya, pikiran itu Fin tepis. Kalau benar, Karina tidak mungkin mengirimkannya sebuah potret dengan ucapan terima kasih atas sarapan yang Fin buat.
"Terus, alasannya apa?" tanya Fin pada dirinya sendiri.
Fin kembali menghubungi nomor istrinya dan nomor itu masih belum bisa di hubungi Fin benar-benar buntu saat ini.
Saat akan menghubungi Renal, tiba-tiba Renal datang dari arah luar dan masuk begitu saja ke dalam kamar Fin tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kamu..." tunjuk Fin yang kesal dengan Renal. Sebelum Fin menyelesaikan umpatannya, Renal memotongnya.
"Aku tau dimana istri mu sekarang!!" ucap Renal membuat Fin mengurungkan niatnya untuk mengumpat.
"Dimana??" tanyanya tidak sabaran.
"Singapura. Dia terbang ke Singapura siang tadi," jawab Renal penuh keyakinan.
__ADS_1
Fin terdiam sesaat.
"Anak nakal! Lihat saja nanti!" ancam Fin tanpa tau alasan kepergian Karina yang sesungguhnya.