Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Akhiri perasaan kamu!


__ADS_3

Fin menyeret Karina ke tempat sunyi, yang sepi dari lalu lalang orang-orang. Di sebuah sudut ruangan ballroom mereka sekarang berada.


"Daddy, mau kemana?" tanya Karina pada suaminya.


"Shuut," desis Fin menyimpan telunjuk di depan mulutnya, menyuruh sang istri berhenti bertanya.


Karina mengatupkan kembali mulutnya. Dia hanya mengikuti kemana sang suami akan membawanya.


"Daddy," panggilnya kembali, saat mereka berhenti di sebuah pojok yang minim akan pencahayaan. Selain itu, tempat tersebut sangat sepi dari lalu lalang orang-orang.


Fin menatap mata sang istri. Dia rengkuh tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya.


"Oh, God. Mahkota ini benar-benar mengacaukan momen yang seharusnya romantis, ini." keluh Fin saat mahkota yang di pakai istrinya menghalangi wajahnya.


Karina tergelak mendengar suaminya mendumel. Biasanya Fin hanya akan diam dan sangat jarang mengomentari apa yang di pakainya kecuali apa yang di pakainya tersebut bersifat terbuka.


Fin sedang benar-benar di buat kesal oleh sebuah mahkota yang menghalangi nya untuk mengecup puncak kepala sang istri yang menjadi favorit nya.


"Daddy tidak suka Mommy memakai pakaian adat ini?" tanya Karina pada suaminya.


"Apapun yang Mommy pakai semuanya tampak indah di tubuh Mommy," ucap Fin dengan wajah datar nya.


Karina yang dipuji seperti itu tiba-tiba pipinya merona. Dia yang malu berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepalanya.


"Tapi, Daddy lebih menyukai saat Mommy tidak memakai apa-apa di hadapan, Daddy," lanjutnya menyelesaikan pujian yang terkesan mesum itu. Saat mengatakan nya matanya mengerling genit.


Plak.....


Sebuah geplakan mendarat di lengan Fin.


"Daddy, bagaimana kalau ada yang mendengar?" pekik Karina.


Fin hanya menggedikkan bahunya tidak perduli.


"Ya kalau Mommy bicaranya sekencang itu, siapa juga yang tidak mendengar, Mom?" tanya Fin kembali.


Karina menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Dia refleks memekik kencang, saat mendengar sang suami melontarkan godaannya menggunakan kata-kata mesum yang bahkan Karina sendiri saja malu mendengarnya.


"Apa Eca akan baik-baik saja?" tanya Karina pada suaminya. Karina tengah menyandar pada tembok dengan tubuh nya yang berhadapan dengan sang suami. Karina merapikan ikat kepala yang Fin pakai.


"Daddy tidak bisa menjamin. Berdoa saja semoga Renal tahan banting," jawab Fin ambigu membuat Karina mengerutkan kening nya bingung, namun dia menyimpan kebingungan nya itu sendiri.


Salah satu bodyguard yang memang selalu mengikuti Fin dari belakang datang menghampiri nya.


Dia menundukan pandangan nya bahkan dari sebelum sampai di hadapan bos nya. Entah itu etika atau memang dia canggung berhadapan dengan istri dari bos nya tersebut.

__ADS_1


"Maaf Tuan, sekarang waktunya Anda kembali ke tempat acara sebelum orang lain menyadari kepergian, Anda." ucapnya mengingatkan. Dia langsung kembali menjauh setelah menyampaikan pesan dari Raiden, adik ipar Fin.


"Daddy masuk duluan saja, nanti setelah Daddy di dalam, baru giliran Mommy yang masuk." usul Karina pada suaminya.


Fin menatap mata coklat istri nya. Dia usap lembut pipi dan bibir candu dari sang istri. Dia condongkan kepalanya untuk mengecup beberapa saat bibir manis dari istrinya itu.


Tidak ada belit membelit ataupun isap menghisap. Hanya mengecup namun dengan kecupan yang dalam dan syarat akan makna.


Makna dari sebuah kerinduan. Ya, Fin sedang benar-benar merindukan istrinya. Hanya perlu bertahan beberapa jam lagi sampai acaranya selesai. Setelah itu, weekend nya akan benar-benar dia habiskan bersama anak dan istrinya.


"Mommy masuk duluan," perintahnya pada Karina sambil mengusap pipi nya.


"Ya sudah, Mommy masuk sekarang, ya!" izinnya pada Fin.


Fin mengangguk sambil tersenyum hangat pada sang istri. Dia menatap punggung sang istri yang mulai beranjak untuk kembali bergabung bersama karyawan yang lain.


Baru beberapa langkah meninggalkan suaminya, tiba-tiba Karina menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap sang suami, Fin mengerutkan kening nya bingung.


"Kenapa?" tanyanya pada sang istri yang masih mematung di tempat nya.


Karina menggeleng sambil tersenyum. Dia melangkahkan kembali langkah nya, namun mendekat ke arah suaminya dan berhenti tepat di hadapannya.


"Kenapa?" tanya Fin kembali.


Karina mengecup pipi Fin yang berhasil memunculkan garis senyum pada bibirnya. Dia berbalik kembali dan pergi begitu saja meninggalkan Fin yang masih mengusap bekas kecupan sang istri.


Karina sudah berada di dalam ballroom kembali. Dia mulai membaur bersama rekan-rekannya yang lain.


"Model itu, dari tadi di kelilingi pria-pria tampan. Tapi, dari seluruh pria yang mendekati nya tidak ada seorang pun yang dia terima ajakan nya untuk berdansa." bisik seorang wanita yang kebetulan berdiri di sebelah Karina. Mereka sedang membicarakan Queen.


"Ya kali dia kaya kita. Ada yang ngajakin dansa aja sudah sangat bersyukur." sahut teman nya yang lain. Kemudian mereka terkikik mentertawakan yang sedang mereka bahas.


Seketika kepercayaan diri Karina hilang. Dia kembali mempertanyakan alasan sang suami menikahi nya. Terlebih dengan status Karina yang telah mempunyai Devin.


"Karina," panggil seseorang. Karina tidak merespon, dia masih mematung di tempatnya.


"Karina," panggilnya kembali sambil menepuk lengan Karina pelan.


Karina mengerjap berusaha mengembalikan kesadarannya.


"Lah, Pak!" jawabnya.


Yang saat ini berdiri berhadapan dengan Karina adalah Robert, atasan yang pernah melamar Karina dan tidak mempercayai kalau dia sudah menikah.


Robert mengulurkan tangan mengajak Karina untuk berdansa dengan nya. Robert menunggu Karina menyambut uluran tangannya tersebut, namun Karina hanya memainkan kuku di kedua tangannya. Dia bingung harus bagaimana.

__ADS_1


Setelah memikirkan nya beberapa saat, akhirnya Karina memutuskan untuk menerima uluran tangan Robert.


Saat tangan Karina terulur ke depan, bukan tangan Robert yang meraih tangan nya. Justru sebuah tangan lain dari seseorang yang sangat di kenalnya lah yang justru menarik dan mengajaknya maju menuju lantai dansa.


Semua orang yang menyaksikan adegan dramatis itu memelototkan matanya tidak percaya, Robert sendiri mematung di tempatnya. Apa yang di prediksikan nya dari awal benar-benar terjadi.


"Pada akhirnya, sang CEO lah pemenang nya." bisik Nisa.


"Yah, kamu benar, Lisa!" jawab Robert malas.


Fin dan Karina berdansa dengan tarian yang indah. Tidak sedikit dari tamu dan karyawan mengakui kecocokan dan keserasian mereka saat sedang bersama seperti sekarang.


Orang-orang yang tidak menyukai Karina saling berbisik dan mulai membicarakan nya. Mereka mulai menyebar gosip tentang Fin dan Karina dari mulut ke mulut.


Sementara itu, Queen yang menyaksikan segalanya dari awal di buat meradang. Dia kesal karena Fin tidak kunjung mengajak nya maju ke lantai dansa dan malah Karina lah yang di pilih nya.


Queen meraih minuman beralkohol dan mulai meminum nya beberapa tenggak untuk melampiaskan kekesalan nya.


Karina dan Fin mengakhiri tarian mereka dengan tepukan gemuruh dari tamu dan karyawan yang menyaksikan nya.


Fin kembali dengan wajah datar dan dingin nya. Sementara Karina kembali bergabung bersama sahabat nya.


Queen berjalan sedikit terseok-seok. Dia menghampiri Fin.


"Abang, bisa antar aku pulang?" tanya Queen yang saat ini tengah menyandarkan kepalanya pada bahu Fin dan melilitkan tangan nya pada lengan Fin.


"Kamu kenapa? Kamu minum?" tanya Fin.


"Aku pusing, Bang!" lirihnya dengan manja.


Fin membopong tubuh Queen untuk di bawanya pulang. Fin sendiri tidak bisa meminta izin pada istrinya karena posisi Karina sendiri sedang bersama dengan orang lain.


Orang-orang mulai berbisik membicarakan hubungan antara sang CEO dan model itu.


Bagaimana seorang Fin yang biasanya dingin dan masa bodoh langsung meninggalkan tamu pentingnya untuk mengantarkan Queen pulang.


"Tadi saat berpidato, memuji-muji istrinya," gerutu Mila.


"Terus, dengan polosnya merebut pasangan dansa, Pak Robert," lanjutnya.


"Dan sekarang, dia malah pergi begitu saja sama si model itu. Nggak kebayang yang jadi istrinya si bos, harus punya stok sabar berapa banyak dia?" melanjutkan gerutuan nya.


Karina sendiri hanya diam tanpa sedikit pun menanggapi apa yang sahabat nya lontarkan. Saat ini perasaan nya sedang tidak karuan.


'Sudah cukup, Karina! Akhiri perasaan kamu sekarang juga. Jangan sampai rasa itu semakin dalam dan melukai hati kamu, yang pada akhirnya akan menghancurkan apa yang sudah kamu bangun dengan kuat selama ini.' lirih Karina dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2