
Karina dan Fin pamit pulang pada Queen. Queen memberengut. Dia tidak mau di tinggalkan sendirian di dalam kamar tempat sang Ibu terbaring koma.
Tangan kekar berotot itu membelit pinggang ramping Karina secara posesif. Mereka berjalan menuju pintu keluar kamar Nada.
"Abang.... " panggil Queen mendayu.
Queen berjalan mendekati Karina dan Fin. Namun saat beberapa langkah lagi sampai di belakang Fin.
"Stop Queen!" ucap Fin sambil menutup hidungnya.
Indera penciumannya dapat mengendus bau Queen, sehingga rasa mual itu datang kembali.
"Abang kenapa sih? Yang lain baik-baik saja dekat sama aku!" rengek Queen dengan nada kesalnya.
Seakan tau dengan maksud Queen menghentikan kepergiannya, Fin maju beberapa langkah kemudian membalikan tubuhnya untuk menatap Queen.
"Abang sudah meminta beberapa suster untuk menjaga Tante Nada dan menemani kamu disini! Jadi, kamu bisa langsung meminta tolong seandainya ada sesuatu yang terjadi dengan, Tante!" jelas Fin pada Queen.
"Abang sedang tidak enak badan!" lanjutnya menjelaskan.
Karina hanya menyimak semua yang suaminya sampaikan. Karina bahkan dapat melihat raut kekesalan dari wajah Queen.
"Abang pergi dulu! Abang benar-benar mual sekarang!" ucap Fin sambil membawa istrinya menjauh dari Queen dan keluar dari ruangan Tante Nada.
Queen melihat kepergian mereka berdua dengan kesal. Kakinya dia hentakan ke atas lantai dengan kencang.
"Kurang ajar! Kemana perginya Abang yang selama ini selalu manjain aku? Mual? Abang bilang mual kalau dekat sama aku?" Kedua tangan Queen terlipat di atas pinggangnya.
Queen tertawa sumbang.
"Wah... benar-benar tidak bisa di percaya!" gumamnya.
"Gara-gara wanita kurang ajar dan anaknya itu, Abang sekarang sama sekali nggak merhatiin aku!" gerutu Queen sambil berjalan menuju kursi, ruang rawat inap sang Mama.
"Lihat saja Karina, aku bakal bongkar semua masa lalu Abang dengan membuat kamu melek, kalau yang Abang cintai bukan kamu!" Queen tersenyum sinis di tengah kicauannya.
"Aku harus cari tahu tentang wanita masa lalu Abang, untuk menunjukan pada janda bekas orang itu, kalau dia tidak ada apa-apanya di mata, Abang!" Queen mulai mencari cara untuk menghancurkan kehidupan Karina.
"Kalau aku nggak bisa dapetin Abang, kamu pun tidak berhak hidup bersama, Abang!" janjinya pada diri sendiri.
Sementara itu, Fin dan Karina mereka berdua berjalan menelusuri lorong rumah sakit untuk pergi menuju tempat parkir mobil yang Karina kendarai saat berangkat tadi pagi.
Tangan Fin merangkul posesif, membuat iri orang-orang yang melihatnya. Mereka saling berbisik membicarakan sang Grahatama yang keluar dari rumah sakit bersama seorang perempuan.
Fin memasang wajah sedingin es. Dia tidak menghiraukan orang-orang yang terus membicarakannya. Karina sendiri berjalan dengan santainya di samping sang suami tanpa takut identitasnya diketahui oleh orang lain.
Mereka sampai di tempat mobil sport yang Karina bawa terparkir. Fin masuk ke dalam mobil dan duduk disebelah kemudi.
"Mommy, yang bawa mobil?" tanya Karina pada suaminya saat melihat Fin duduk di tempat yang selalu menjadi tempatnya saat berpergian bersama Fin.
Fin mengangguk dengan tangan yang sibuk memasang sabuk pengaman. Fin bahkan tidak membukakan pintu untuk istrinya masuk, saking sudah tidak kuatnya menahan kantuk. Ya, saat ini Fin mengantuk dan lemas tanpa alasan.
Karina masuk dan mulai membuka maskernya. Karina menatap sang suami yang saat ini tengah terkulai tidak berdaya.
"Daddy tidak apa-apa?" tanya Karina cemas melihat keadaan sang suami.
Fin hanya menggeleng dengan mata sayu yang fokus menatap wajah cantik istrinya.
__ADS_1
Saat Karina akan memasang sabuk pengamannya, tiba-tiba tangan Fin terulur meraih tengkuk Karina dan mendekatkannya pada wajah Fin.
Fin membuka kembali sabuk pengaman yang sudah di pasangkannya, kemudian mencondongkan tubuhnya dan mulai menempelkan bibir tebalnya dengan bibir tipis milik sang istri.
Decapan dan decapan terdengar saat bibir Fin mulai mengecup bibir bagian bawah istrinya. Selanjutnya Fin menghisap kedua bibir bagian luar istrinya itu secara bergantian. Lidahnya menjulur membuka akses untuk lidah tersebut bisa masuk ke dalam mulut sang istri.
Karina yang sudah paham dengan kode-kode yang suaminya berikan segera memberi akses dan mulai membuka mulutnya juga, menyambut belaian manja dari lihainya lidah sang suami memanjakan bibirnya.
Kedua tangan Karina meremas tali safety belt yang tengah dia pegang. Matanya terpejam menikmati setiap belitan dan belaian manja dari lidah suaminya.
"Mmmppht..." gumam kenikmatan menggema dari dalam mobil.
Karina mendorong dada Fin saat akses oksigennya mulai menipis. Wajah Karina memerah menahan hasrat yang suaminya ciptakan.
"Daddy, ini tempat parkir!" Karina memperingatkannya.
"Kalau begitu, kita cari hotel saja!" saran suaminya dengan alis yang terangkat menggoda.
Kemana perginya Fin yang tadi tengah terkulai lemas tidak berdaya? Kalau urusan kasur saja, sudah pasti dia juaranya. Tidak ada kata sakit untuk mencapai sebuah kenikmatan.
"Daddy, Mommy belum selesai!" ucap Karina pelan sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
"Kenapa lama sekali? Bukannya ini sudah lebih dari satu Minggu?" tanya Fin heran.
"Mana Mommy tau! Seminggu ini pun hanya flek saja yang keluar." ucap Karina menjelaskan.
"Hussh" Fin menghembuskan nafas frustasinya.
"Daddy, marah?" tanya Karina takut.
Fin tidak menyahut. Matanya terfokus memperhatikan istrinya. Karina yang di tatap seperti itu menjadi salah tingkah. Dia bingung menterjemahkan ekspresi suaminya. Karena wajah yang Fin tampilkan saat ini hanya ekspresi datar.
"Da... Daddy marah?" cicit Karina pelan.
Tangan Fin terulur ke depan meraih bibir merah istrinya yang saat ini mulai membengkak karena ulah dirinya.
Dia usapkan jempol tangan miliknya dengan sedikit menekan kedua bibir Karina.
"Ya, Daddy marah!" jawabnya tegas.
"Daddy sudah pernah bilang sebelumnya, jangan pernah memakai lipstik berwarna merah kecuali di depan, Daddy!" Fin mengingatkan istrinya kembali.
Karina yang takut mendengar peringatan suaminya, langsung mengangguk dan mulai menghapus lipstiknya menggunakan tisu yang ada dinatas dashboard mobilnya.
"Maaf..." ucapnya dengan nada yang sedikit bergetar.
Fin mengusap pipi Karina sebelum kembali pada posisinya. Karina sendiri langsung memakai sabuk pengaman yang tadi sempat terinterupsi karena ulah dari suaminya.
Karina menancap gas nya dan mulai melajukan kendaraan yang akan membawa mobil sport tersebut menjauh dari lingkungan rumah sakit.
Suasana di dalam mobil hening. Baik Karina ataupun Fin tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Mereka terjatuh dengan pemikirannya masing- masing. Saat mobil yang dikendarai Karina sudah setengah jalan.
"Hiks... hiks..." Fin mendengar suara isak tangis. Fin palingkan wajahnya untuk melihat sumber tangisan tersebut. Dan benar saja, saat ini Karina tengah terisak dengan air mata yang mulai merembes membasahi pipinya.
Fin mengkerutkan keningnya bingung melihat sang istri menangis dengan tiba-tiba. Fin bukan Renal yang dengan mudahnya dapat menebak alasan perempuan menangis tanpa harus bertanya pada yang bersangkutan.
Fin hanya pria awam yang tidak memiliki kepekaan tinggi, serta bukan pria yang tahu banyak tentang perasaan serta hati seorang wanita.
__ADS_1
Selama ini, Fin hanya menggunakan kepekaannya itu untuk menggaet calon investor yang menurutnya menghasilkan.
Karina menghapus air matanya yang jatuh, menggunakan punggung tangannya.
"Mommy kenapa?" tanya Fin pelan.
"Nggak!" jawabnya singkat dengan mata yang tetap fokus pada jalanan.
'Renal, mulai besok kamu akan aku kasih tugas untuk mencari kamus lengkap tentang perempuan!' gumam Fin dalam hatinya.
'Lihatlah, bagaimana bisa dia bilang tidak apa-apa, padahal jelas-jelas dia menangis!' lanjut Fin bertanya pada dirinya sendiri.
"Mommy kenapa nangis?" Fin mencoba bertanya kembali.
"Mommy bilang nggak apa-apa, Daddy!" jawab Karina kembali dengan nada sedikit kesal.
"Oke, kalau Mommy memang nggak kenapa-napa!" final Fin yang memilih mengiyakan apa yang istrinya bilang. Dia tidak ingin berdebat.
'Dia bilang oke?! Daddy nggak mau bujuk Mommy? Kenapa sih laki-laki nggak pernah peka? Sepertinya si Daddy pura-pura nggak sadar kalau dia sudah memarahi Mommy!' Dalam hatinya Karina terus mendumel kesal dengan ketidakpekaan suaminya.
Karina kembali fokus mengemudikan mobilnya. Fin pun hanya diam memperhatikan wajah cemberut dari istrinya.
Tiba-tiba, Karina menghentikan mobilnya di bahu jalan. Dahi Fin berkerut bingung.
"Kenapa, Mom?" tanya Fin pada istrinya.
"Apa mobilnya bermasalah?" tanyanya kembali.
Karina menggeleng sambil menyerongkan tubuhnya untuk menatap netra sang suami.
"Kenapa? Mau Daddy yang bawa mobil?" tawarnya pada sang istri. Karina kembali menggeleng.
"Mommy mau bakpia!"
"Heh?" tanya Fin takut salah dengar.
"Mommy mau bakpia, Daddy!" ulang Karina.
"Tiba-tiba?" tanya Fin kembali.
"Ya nggak tau, Dad! Tiba-tiba saja bakpia terlintas di pikiran, Mommy!"
"Ya sudah, kita mampir ke toko oleh-oleh dulu. Biasanya di sana banyak menjual makanan khas daerah!"
"Nggak mau!" tolak Karina.
"Nggak jadi?" tanya Fin kembali.
"Bukan! Mommy mau bakpia langsung dari Jogjakarta! Bakpia yang dibuat secara langsung dan di makan saat masih hangat!" jawab Karina yang membuat suaminya tercengang.
"Mommy bercanda kan?" tanya Fin tergelak memikirkan pemintaan konyol istrinya.
Karina mengerutkan keningnya kesal melihat Fin mentertawakan keinginannya.
"Kenapa tertawa? Mommy serius! Dan Mommy, mau sekarang!" jawabnya tanpa ingin di bantah.
"Satu lagi, Mommy maunya naik kereta!" lanjut Karina yang membuat Fin membulatkan matanya tidak percaya.
__ADS_1