Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Bernegosiasi!


__ADS_3

"Devin darah daging ku!" jawab Fin tegas.


Karina terdiam. Kemudian dia mengangguk pelan.


"Ya, Devin anak kita!" jawab Karina pada akhirnya.


Karina tidak ingin membuat suaminya marah dengan mengatakan kalau Ayah kandung Devin tidak jelas asal-usulnya. Fin selalu terlihat sedih dan marah saat Karina membahas tentang Devin yang tidak mempunyai sosok seorang Ayah.


Maka dari itu, Karina mencari aman dengan meng iya kan saja apa yang Fin ucapkan agar tidak ada pertengkaran saat pulang ke rumah nanti.


'Serius ekspresi Mommy hanya sebatas itu?' bingung Fin.


'Mommy paham kan apa yang Daddy maksud?' tanyanya pada diri sendiri.


"Karina, kenapa tidak di makan?" tanya Nisa.


"Apa kamu tidak kasihan dengan kita yang sudah sangat kelaparan?" tanya Rina menambahkan.


"Mommy, makanan itu benar-benar aman untuk ibu hamil kan?" tanya Fin sekali lagi. Pasalnya, dia mengurungkan niat awalnya untuk menghubungi Dokter kandungan Karina.


Karina tidak menjawab. Dia hanya menatap suaminya dengan tatapan tajam.


"Oke, oke..." Fin mengangkat kedua tangannya ke udara. Dia takut melihat kemarahan di mata istrinya.


Ketiga sahabat Karina menahan tawa mereka melihat bagaimana bos yang terkenal dengan kekejamannya itu ketakutan di hadapan istrinya.


Fin tidak banyak berkomentar kembali. Dia hanya diam sambil memperhatikan istrinya makan dengan begitu lahapnya.


Dalam hatinya saat ini, Fin tengah berucap beribu syukur atas apa yang sudah Tuhan anugerah kan padanya. Dia bersyukur dapat membersamai Karina pada kehamilan kedua ini.


Namun, dalam hati kecilnya ada rasa bersalah yang bersarang dalam relung hati terdalam Fin pada anak pertamanya, yaitu Devin. Dia menyesali ketidak hadiran dirinya di setiap momen dimana sang anak tumbuh dan berkembang.


Fin mengambil telepon genggam miliknya, kemudian menghubungi seseorang, di tengah-tengah mengisi waktu menunggu istrinya menyelesaikan makan siangnya.


"Abang..." Fin menjauhkan telepon genggamnya, saat panggilan seseorang itu begitu memekakkan telinga nya.


Karina menghentikan makan siangnya kemudian melirik sang suami yang saat ini tengah duduk di samping kirinya.


"Kiara?" tanya Karina penasaran.


Fin mengangguk membenarkan pertanyaan istrinya. Ya, saat ini Fin tengah menghubungi adiknya yang ada di Singapura.


"Tumben Abang Vidio call aku?" tanya Kiara keheranan. Pasalnya, Fin bukan tipe Kakak yang mau repot-repot menghubungi dia hanya untuk menanyakan sebuah kabar.


Fin lebih memilih menerima kabar dari seseorang yang dia tugaskan untuk menjaga Kiara ketimbang secara langsung menelepon dan bertanya kepada Adiknya.


"Devin mana?" tanya Fin to the point.

__ADS_1


"Sudah aku duga. Mustahil Abang menghubungi aku hanya untuk bilang kalau Abang rindu aku." cerocos Kiara membuat Fin memutar bola matanya jengah.


"Ckk..." decak Fin.


"Devin mana?" tanya Fin kembali.


"Ya ampun Abang... Kakak Devin gak ke mana-mana kalaupun Abang tanya kabar aku dulu!"


"Kiara..." kesal Fin mendengar ocehan adik satu-satunya itu.


Karina menghentikan aktivitasnya. Dia diam-diam menguping pembicaraan suami dan adik iparnya.


'Seberarti itu kah Devin dimata, Daddy?' tanya Karina dalam hati.


'Mommy rela, ingatan masa lalu Mommy tidak kembali. Mommy sudah sangat bahagia dengan ini semua. Tuhan... jangan biarkan memori masa lalu merusak kebahagiaan kami saat ini,' Karina berdo'a di sela-sela makan siangnya.


"Oke... Oke..." jawab Kiara pada akhirnya.


"Siapa?" tanya seseorang di balik telepon genggam Kiara.


"Abang." jawab Kiara pada seseorang itu sambil menyerahkan handphone miliknya. Kamera depan dari telepon genggam milik Kiara mengarah pada pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu.


"Kakek, sebentar. Aku panggil Kakak Devin dulu," ijin Kiara pada Kakeknya.


"Kenapa siang-siang menghubungi adikmu? Tidak bekerja?" tanya Bram dingin.


Mereka menahan nafasnya saat suara Bram terdengar dari balik panggilan Fin. Dengan refleks, ketiganya merapikan pakaian mereka dan mengubah posisi menjadi keadaan siap.


Sebelum Fin masuk ke perusahaan, Bram menggembleng mereka setiap hari dengan kedisiplinan. Dari mulai penampilan, sikap, waktu, hingga hal-hal terkecil sekalipun.


Bram tidak ingin perusahaan yang dia bangun dengan susah payah suatu saat akan hancur karena ulah dari orang-orang di dalam perusahaan yang tidak tau aturan saat bekerja di perusahaannya.


"Kamu di luar? Apa sedang meeting?" tanya Bram kembali saat melihat sekeliling Fin.


"Ya ampun, Kek! Abang bukan anak kecil. Abang tau aturan perusahaan." kesal Fin dengan Kakeknya yang seolah tidak percaya dengan Fin.


"Daddy..." panggil Karina lembut. Alisnya terangkat memberi kode. Karina juga mengelus paha Fin untuk menenangkannya. Dia meminta Fin untuk menurunkan nada bicaranya.


"Apa Karina ada di sana juga?" tanya Bram saat mendengar suara menantu kesayangannya.


Fin tidak menjawab pertanyaan Kakeknya. Dia langsung menyerahkan telepon genggamnya pada sang istri.


Karina menyeka mulutnya terlebih dahulu sebelum mulai berbincang dengan Kakek Bram.


"Siang Kakek," sapa Karina sedikit menunduk hormat. Walaupun Karina tengah berkomunikasi dengan sang Kakek melalui telepon seluler, namun dia tetap menerapkan tata krama yang selalu mendiang Ibunya ajarkan.


"Di sini sudah sore, Nak. Kamu tidak jadi ke Singapura?" tanya Bram pada Karina.

__ADS_1


Karina menatap suaminya sebelum menjawab pertanyaan dari Kakek Bram.


"Kenapa? Apa bocah tengik itu melarang kamu untuk ke sini?" tebak Bram.


Fin melebarkan matanya. Dia kesal dengan panggilan Kakeknya yang memanggilnya dengan sebutan 'bocah tengik'.


Ketiga sahabat Karina, segera menyelesaikan makan siangnya kemudian pamit ke kantor duluan untuk memberi ruang kepada Karina dan bos mereka.


"Bukan begitu Kakek, masih ada hal yang harus aku urus di sini," cicit Karina.


"Kakek buyut, boleh Kakak bicara sama Mommy dan Daddy?" ijin Devin yang baru saja datang dari arah belakang


"Sure," jawab Bram mempersilahkan. Tidak lupa Bram mengusap kepala Devin.


"Telima kasih," ucap tulus Devin sambil mendudukkan tubuhnya di samping Bram.


Devin mengambil alih panggilan. Wajah tampan Devin memenuhi layar handphone Fin.


"Baby, I miss you," ucap Karina meluapkan rasa rindunya.


"Miss you too," jawab Devin.


"Selama di rumah aunty, Devin jadi anak baik, kan?" tanya Karina.


"Oh tentu saja saking baiknya keponakan aunty yang satu ini, bahkan tidak seperti bocah-bocah lainnya" teriak Kiara yang ada di sebrang Devin dan tengah menyusui Ara.


"Anak lain di kompleks ini bermain sambil berlari ke sana kemari, naik perosotan, dan mengotori pakaian mereka dengan tanah. Kakak Devin persis seperti Daddy nya yang hanya tertarik pada buku. Ada kotoran yang menempel di bajunya pun langsung minta Bu Linda untuk ganti yang baru. Ckk... ckk... ckk...." lanjut Kiara yang mendapat protes dari kedua lelaki yang di sebutkan nya tadi.


"Aunty..."


"Kiara!!" ucap kedua generasi Grahatama itu secara bersamaan.


Karina hanya terkikik pelan mentertawakan apa yang adik iparnya itu ucapkan. Seperti itu lah Devin. Karina bahkan khawatir saat besar nanti, Devin akan susah bersosialisasi dan banyak di musuhi orang karena sifatnya itu.


"Kasihan sekali kamu, Kak Karina... hidup lama dengan dua orang yang membosankan seperti mereka" teriak Kiara kembali belum puas menggoda Kakak dan keponakannya.


"Kiara!! Language!" ucap Fin memperingatkan. Sementara Bram hanya tersenyum bahagia melihat cucu dan cicitnya saat ini. Andai saja istri dan kedua orang tua Fin masih ada, pasti kebahagiaan saat ini akan terasa jauh lebih sempurna.


"Ckk..." kesal Kiara.


Fin mengambil alih telepon genggam yang istrinya pegang.


"Devin kapan pulang?" tanya Fin pada anaknya.


"Lama di sini, boleh? Ceminggu," izin Devin pada sang Daddy.


Oh, lihatlah. Bagaimana bisa anak yang baru mau menginjak usia tiga tahun mencoba bernegosiasi dengan Ayahnya? Sepertinya anak seusia Devin hanya bisa menangis saat tiba-tiba di minta pulang oleh orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2